Di tengah pusaran takdir yang gelap, Kai terjebak di antara kutukan membara dan bisikan mistis Sang Naga Merah. Namun, bahaya terbesar justru datang dari keanggunan empat wanita penuh misteri di sekelilingnya:
Yuki, dengan topeng kitsune penutup niat aslinya.
Rei, si rambut perak penyimpan rahasia terdalam.
Hana, yang menyimpan kelembutan sedingin es.
Mai, dengan tatapan penjerat jiwa yang mematikan.
Ketika cinta, darah, dan ambisi berjalin menjadi satu, setiap senyuman manis bisa menjadi jebakan yang mematikan. Siapakah di antara mereka yang akan menjadi penyelamat Kai, dan siapa yang justru menjadi duri yang menghancurkannya?
"Satu bisikan naga, satu pemuda, dan empat takdir wanita. Siapa yang akan bertahan saat rahasia terungkap?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tautan Dua Jiwa
Pendar perisai emas yang diciptakan oleh darah Hana mulai meredup, bergetar hebat setiap kali jarum es Yuki dan tebasan belati Mai menghantam dinding magis itu dari luar. Di dalam lingkaran perlindungan yang kian menyempit, keheningan yang ganjil mendadak tercipta di antara Kai dan Hana. Suara gemuruh amarah di aula seolah menjauh, digantikan oleh suara tetesan darah Hana yang jatuh satu demi satu ke atas puing batu yang dingin.
Kai menatap telapak tangan Hana yang terluka, lalu beralih pada wajah pucat gadis itu. Rasa panas yang membakar darahnya perlahan-lahan melunak, berubah menjadi aliran energi yang hangat namun tidak lagi menyiksa.
"Kenapa sampai sejauh ini, Hana?" bisik Kai, suaranya kembali memeluk nada manusianya, kehilangan geraman monster yang tadi sempat mengambil alih. "Kau mempertaruhkan segalanya nyawamu, klanmu, bahkan sumpah perguruanmu hanya untuk bajingan terkutuk sepertiku?"
Hana perlahan memutar tubuhnya, menghadap Kai sepenuhnya tanpa memedulikan retakan pada dinding perisai di belakangnya. Ia menatap Kai dengan sepasang mata bening yang tidak lagi menyembunyikan apa pun. Tidak ada ketakutan, tidak ada kepalsuan, tidak ada lagi dinding politik klan selatan yang selama ini dibenci Kai.
"Kau pikir ini semua hanya tentang politik perbatasan, Kai?" Hana tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang sarat akan kepedihan sekaligus keikhlasan. "Sejak pertama kali aku dikirim ke benteng ini, saat semua orang melihatmu sebagai ancaman yang harus dikurung atau dihancurkan... aku melihat hal yang berbeda. Aku melihat seorang pemuda yang berjuang sendirian memikul beban yang tidak pernah ia minta."
Hana melangkah mendekat, membiarkan tangan kirinya yang terluka terangkat perlahan. Tanpa ragu, ia menyentuh dada Kai tepat di atas jantung pemuda itu yang masih berdegup kencang.
"Aku bertahan di sini... karena aku telah jatuh hati padamu, Kai. Bukan pada gelar Tuan Muda, bukan pada kekuatan yang kau miliki, tapi pada jiwamu yang menolak untuk menyerah pada kegelapan," ucap Hana lurus, suaranya bergetar oleh emosi yang akhirnya tumpah setelah sekian lama ia sembunyikan di balik topeng gadis suci.
Seketika tangan Hana menyentuh dadanya, sesuatu yang luar biasa terjadi di dalam tubuh Kai.
Naga Merah, entitas kuno yang selama bertahun-tahun selalu mengamuk, mencakar, dan menuntut darah setiap kali disentuh oleh Yuki atau diprovokasi oleh Mai mendadak mendengus pelan. Namun, desisan kali ini sama sekali tidak membawa hawa membara yang merusak. Naga di dalam diri Kai mendadak menjadi tenang, seolah menemukan tempat bernaung yang ia cari selama berabad-abad. Makhluk agung itu melebarkan sayap batinnya, memancarkan rasa hangat yang penuh dengan kelembutan dan... rasa suka yang teramat sangat terhadap kehadiran Hana.
Kutukan itu tidak lagi menolak; ia justru menyambut Hana dengan suka cita. Jiwa sang naga dan perasaan Kai mengalir selaras, mengakui bahwa wanita di hadapan mereka adalah satu-satunya oasis di tengah gurun pengkhianatan ini.
"Dia... dia menyukaimu," gumam Kai terperangah, merasakan sendiri bagaimana emosi sang naga melebur dengan detak jantungnya yang kini melambat, selaras dengan denyut nadi Hana.
Hana menatap sepasang mata Kai yang warna merah darahnya kini melunak menjadi warna merah delima yang jernih dan indah. "Dan aku menyukaimu, Kai. Seluruh dirimu, termasuk naga yang kau takuti itu."
PRANG!
Dinding perisai emas di belakang mereka akhirnya pecah berkeping-keping di bawah hantaman bersama dari Mai dan Yuki. Serpihan cahaya keemasan menguap di udara, menyisakan Mai yang berdiri dengan belati terhunus dan senyum kejam, serta Yuki yang matanya berkilat penuh amarah melihat tangan Hana yang masih menempel di dada Kai.
"Momen yang sangat mengharukan," cemooh Mai, melangkah maju melewati puing-puing dengan tatapan haus darah. "Sayang sekali, cinta tidak akan bisa menyelamatkan leher kalian malam ini."
Kai tidak lagi merasa takut ataupun tersudut. Dengan perlahan, ia menggenggam tangan Hana yang berada di dadanya, menyatukan jemari mereka, membiarkan darah Hana berbaur dengan hawa panas dari kulitnya. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh Kai, memberikannya kekuatan baru yang jauh lebih murni dan terkendali dari sebelumnya.
Ia berbalik menghadap ketiga wanita yang mengepung mereka, menarik Hana sedikit ke belakang punggungnya. Kali ini, Kai tidak lagi berdiri sebagai pemuda yang ketakutan akan kutukannya sendiri.
"Kalian salah," ucap Kai tenang, namun auranya membuat udara di seluruh aula bergetar hebat dalam kepatuhan yang mutlak. "Cinta ini... justru yang baru saja menjinakkan naga ini untuk menghancurkan kalian."