*KHUSUS PEMBACA UMUR 17+*
Pertemuan mereka berdua membuat roda takdir berputar.
Hari – hari indahnya bermula saat Dion bersama dengannya, mengawali dan menutup hari dengan mengucap namanya yang sudah terukir didalam hati. Tak ada yang bisa memisahkan mereka berdua dari kebahagian itu, hingga suatu saat....
“Lebih baik aku tidak pernah bertemu denganmu.” Gumam Dion
Di malam hari, gelap, tanpa cahaya aku berdiri dan kembali menyesali perbuatanku. Awan besar menutupi rembulan, aku tak dapat berkata – kata lagi tanpa kusadari air mata telah mengalir.
“maafkan aku teman – teman....”
Disini, dikelas ini, diantara jasad seluruh sahabat2ku, aku menangis.
Dengan tatapan kosong dan tubuh bermandikan darah.
“anak iblis”
“Pembunuh”
“Penjahat”
Satu persatu sebutan itu terdengar ditelingaku hingga sampai membuatku lupa akan identitasku sendiri. 1 minggu kemudian Aku terbangun disebuah rumah sakit jiwa tanpa mengingat apapun dan langsung pindah ke kota Lando dan berseklah di SMA Violet
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahroni nurhafid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 - Rui & Jay
Ribuan tetesan
air hujan jatuh dari langit menusuk tubuhku, dingin dan juga menyakitkan. Itu begitu
pula dengan wajahmu didepanku saat ini, dengan wajah penuh amarah serta tatapan
dendam yang langsung menuju ke arahku itu begitu menusuk jauh kedalam jiwaku.
Canda tawa serta
seluruh waktu bersama kita bagaikan sebuah ilusi. Persahabatan yang begitu
kokoh dan indah tak kusangka akan menjadi seperti ini.
Yang ku inginkan
hanyalah terus bersama denganmu dan menikmati waktu – waktu yang terbuang
dengan penuh warna.
Sudah lama sekali
kita tidak bertatap muka seperti ini, sejak 1 tahun yang lalu.
Kita adalah
sahabat tak terpisahkan sejak TK, SD bahkan SMP kita tak pernah terpisahkan dan
selalu dipertemukan oleh takdir tak pernah sekalipun aku ataupun Jay membuat
janji akan melanjutkan sekolah dimana, kita berdua merahasiakannya dan bertekad
mengejar apa yang kita minati masing – masing, dan keajaiban pun terjadi. kita
selalu dipertemukan disekolah dan kelas yang sama.
Sampai akhirnya
di SMP, aku bergabung dengan ekskul sepak bola dan aku pun langsung diterima
dikarenakan tinggi badan, fisik serta stamina yang bagus semua berjalan begitu
mulus tak ada kendala sama sekali ataupun perjuangan lagi untuk masuk ke ekskul
sepak bola itu.
Diwaktu yang sama
dihari yang sama, Jay juga mendaftar di ekskul yang sama denganku namun aku
sama sekali tidak kaget akan keberadaannya disini karena tujuanku masuk ekskul
ini adalah agar bisa menghabiskan waktu bersama lebih lama dengan Jay dan tentu
saja aku merahasiakan ini darinya karena jika ia mengetahui maksudku yang
sebenarnya ia pasti akan menolak rencana ini dan menyuruhku untuk berjuang
menggapai apa yang kuinginkan.
Bagi anak tingkat
SMP yang masih polos dan normalnya masih berfikir tentang bermain serta
kesenangan saja aku sama sekali tak paham akan perkataan Jay, ia benar – benar
berbeda denganku yang selalu hidup bagaikan air yang mengalir melewati arus
yang ada, ia benar – benar punya tujuan kuat ia memiliki sesuatu yang benar –
benar ia dambakan sampai – sampai memperjuangkannya sejak kita pertama kali
bertemu saat TK hingga saat ini.
Semangat itu,
pendirian kuat itu, tatapan mata yang selalu berfokus ke satu titik jauh ke
depan itu membuatku menghormatinya. Dengan kepribadiannya yang penuh akan api
semangat yang berkobar, tak kenal kata takut, putus asa, gagal ia hidup dengan
sisi positif seperti itu benar – benar keren menurutku.
Jika aku
bersamanya mungkin aku bisa seperti dirinya.
Itulah yang
pertama kali kupikirkan saat mengenal Jay saat masih di bangku TK, dan
disitulah kisah kami berdua bermula.
Jadi tak heran
aku bisa mengetahui Jay akan mendaftar ke ekskul ini walaupun ia tak
memberitauku. Walau keputusan penerimaanku sudah jelas dari senior namun aku
tetap hadir dan melihat hasil pengumuman resmi penerimaannya, aku berfikir
mungkin bisa mengejutkan Jay kalau kita akan satu ekskul juga selama masa SMP
ini.
Namun ternyata
aku salah,
Aku terlalu naif,
Dilembar
pengumuman di mading, seluruh pendaftar berhasil di terima ke ekskul sepak
bola, benar semuanya kecuali satu orang.
Yaitu Jay,
Ditengah
keramaian penuh kegembiraan itu, terlihat seorang anak kecil yang pendek
berjalan meninggalkan kerumunan penuh sorakan bahagia tersebut.
Seluruh
perjuangannya sejak kecil berlatih sepak bola sampai tiba – tiba perjuangannya
ditolak mentah – mentah oleh orang lain, pasti perasaannya sangat hancur,
bahkan untuk ukuran Jay kejadian ini sangatlah menyakitkan baginya.
Jika aku
menghiburnya saat ini pasti hanya akan berdampak sebaliknya oleh karena itu
kuputuskan untuk mengawasinya dahulu selama 3 hari ini sampai ia sedikit lebih
tenang.
Sejak hari
pengumuman itu kulihat Jay selalu pergi kelapangan dan berlatih seorang diri
tanpa kenal istirahat, saat pagi pagi buta ia sudah berlatih, saat sepulang
sekolah pun ia juga berlatih di tempat lain, saat sore pun juga ia berlatih,
mungkin itu adalah caranya menghibur diri jadi kubiarkan saja dan membantunya
sebisaku dengan cara meninggalkan sebotol air putih dan makanan didekatnya
tanpa sepengetahuannya.
Aku tau, walau
aku melakukannya secara diam – diam pasti jay tau kalau itu adalah ulahku namun
aku tak berharap untuk mendapatkan ucapan terima kasih atau balasan apapun
darinya aku hanya ingin mendukung dan mengatakan bahwa aku akan selalu ada
untukmu sebagai sahabat dekatmu.
3 hari kemudian,
Saat aku hendak
berbicara dengan ketua ekskul tentang permohonanku keluar dari ekskul ini tiba
– tiba Jay datang menghampiri kami dan dengan lantang ia menantang ketua. Jay
bertaruh jika ia menang ia harus dimasukkan ke ekskul tersebut sedangkan jika
ia kalah ia rela menjadi kacung dari senior itu.
Sebuah
pertandingan mempertaruhkan harga diri, aku tak tau seberapa besar dan
keinginan Jay untuk menggapai cita – citanya, aku tidak pernah tau alasan
dibalik itu semua. Namun saat kudengar deklarasi itu tepat didepanku, dengan
tatapan tajam penuh keyakinan, tanpa ragu atau takut ia berdiri tegak menantang
seorang seniornya yang bahkan sudah kelas 3 atau lebih tepatnya orang yang
paling handal di Ekskul ini.
Permainan dimulai
1 lawan 1 dengan ketua ekskul sebagai kiper, jika Jay bisa memasukkan 1 bola
saja maka ia akan menang tak ada jangka waktu pertandingan semua akan berakhir
jika Jay memasukkan bola atau jika dia menyerah.
Pertandingan
dimulai di pagi hari pukul 8, seluruh anggota ekskul menonton sekaligus menjadi
saksi jika ada pelanggaran ataupun pihak yang berbuat curang, setidaknya aku
bisa lega karena tak ada kecurangan ataupun kelicikan dari pertandingan ini.
sebelum saat
pertangingannya dimulai tadi sebenarnya aku sudah bisa menebak bakal terjadi
seperti apa pertandingan ini.
1 jam berlalu,
pertandingan masih berlanjut. Dan jika pertandingan ini masih berlanjut bisa
dikatakan bahwa Jay masih belum juga memasukkan 1 bola pun.
2 jam berlalu,
masih tetap tak ada perubahan, ketua berkali – kali menyebutkan bahwa mustahil
untuk Jay memenangkan pertandingan ini bahkan senior bersedia melupakan syarat
jika Jay kalah.
Dengan tegas Jay
menolak semua perkataan ketua,
“PERJANJIAN
ADALAH PERJANJIAN!! PERTANDINGAN ADALAH PERTANDINGAN!! LAWAN AKU DENGAN SEGALA
YANG KAU PUNYA!!”
Mendengar
perkataan dari Jay membuat seluruh orang yang menonton menjadi kagum, karena
kami semua tau termasuk ketua pasti sudah menyadarinya bahwa fisik Jay sudah
hampir mencapai batasnya, nafasnya yang terengah – engah itu, tubuh bermandikan
keringat itu, kaki yang sudah gemetaran dan mencoba bertahan untuk berdiri
itu,wajahnya yang mulai memucat, Jay benar – benar bersungguh – sungguh dalam
pertandingan ini.
3 jam pun
berlalu, kondisi Jay semakin lemah namun ia tetap berdiri dengan kedua kakinya
yang gemetaran itu.
“Kau sungguh luar
biasa. Siapa namamu?”
“J-Jay!”
“Jay, ya....”
Jay mengayunkan
kakinya dengan seluruh tenaga yang tersisa, namun tendangannya salah arah dan
hanya mengenai pucuk bola.
Bola
menggelinding pelan ke arah gawang, sedangkan Jay terjatuh pingsan.
Ketua menutup
matanya berjalan ke arah Jay dan membiarkan bola itu menggelinding melewatinya,
Ketua melepas
jaket almamater ekskul dan menaruhnya di atas Jay yang pingsan tersebut,
“Selamat datang,
Jay!”
Ucap ketua dan
diikuti oleh sorakan seluruh anggota ekskul.
ISTRI MUDAKU MAFIA
kalo seru saya supor
kalo enda seru saya like