Warning!! sebelum membaca usahakan untuk membaca terlebih dahulu "ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH"
supaya kalian tau alur ceritanya.
🌹🌹🌹🌹
Erlon yang mabuk berat membuat dirinya kehilangan kendali, sehingga tanpa sadar ia melakukan pelecehan terhadap Briana. Yang membuat Kenzo sang daddy harus rela melihatnya menikah dengan anak dari musuhnya, dari situlah kisah perjalanan cinta mereka akan dimulai.
Siapakah yang akan terlebih dahulu jauh cinta? Apakah Erlon atau Briana?
🍃🍃🍃🍃
Eeetsss!! disini juga bakal ada kisah cinta Erlan dan juga Aurora lho, penasaran seperti apa kisah mereka. Cus dibaca saja bestie. Tapi sebelum kalian baca usahakan berikan Ayuza yang mental patungan ini dukungan ya ... .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apakah Akan Berakhir
"Kita kembali ke mansion," kata Erlon yang sudah hampir sampai di rumah Erlan. Karena ia tadi sempat berpapasan dengan mobil Erlan. "Tidak usah bertanya, mereka berdua akan baik-baik saja."
"Dari mana Anda tahu tuan? Sedangkan kita belum sampai di sana." Ana tidak mau percaya dengan Erlon begitu saja. "Atau jangan-jangan, Anda sedang membohongi saya," ucapan Ana membuat Erlon menginjak pedal rem.
"Jika aku katakan, kalau aku telah membunuh banyak orang apa kau percaya?" Erlon memperlihatkan Ana sebuah video dirinya yang sedang membunuh orang dengan sangat brutal. "Apa kau masih tidak percaya, dengan setiap ucapanku?" Erlon mengedipkan sebelah matanya.
Ana hampir saja muntah, karena melihat video yang diputar Erlon terlihat sangat menjijikan. Ia sekarang semakin yakin Erlon mewarisi sifat Kenzo. "Tu-tuan, apa tidak sebaiknya kita be-bercerai saja." Ana sebenarnya takut mengatakan itu. "Saya tidak apa-apa diceraikan sekarang, meski perjanjian kita masih tinggal lima bulan lagi."
Erlon memejamkan matanya sambil bersandar di headrest. "Apa kau benar-benar ingin aku ceraikan?" Erlon masih memejamkan matanya. Hembusan nafasnya yang beraroma mint masuk ke indra penciuman Ana. "Kenapa diam, katakan! Supaya aku bisa membuang mu di sini."
Ana menyerngit tak mengerti, kenapa Erlon ingin membuangnya di jalan yang sangat sepi. Dan begitu gelap hanya ada penerangan lampu dari mobil Erlon saja.
Apa tuan Erlon, akan melakukan hal yang sama … membunuhku di tempat yang sepi seperti ini, setelah nanti aku keluar dari mobil ini. Semoga itu tidak terjadi, Tuhan semoga tebakanku keliru, gumam Ana di dalam hatinya yang melihat Erlon masih memejamkan matanya.
"Turun, aku tidak mau semobil dengan wanita yang begitu lancang!" Erlon membuka matanya ia bisa melihat jelas keringat dingin membanjiri dahi Ana. "Sana keluar, jika kau ingin terus bercerai!" ketus Erlon yang membuka sabuk pengaman Ana. "Dan katakan kepada daddy, kalau rencananya untuk memisahkan kita akan berhasil. Jikalau kau sampai di sana dengan selamat."
"Dengan selamat, apa mungkin tuan Erlon akan membunuhku?"
"Untuk yang pertama kalinya, kau menjadi pintar setelah lama tinggal bersama ku," kata Erlon sambil terkekeh. "Kau turunlah sekarang, para pembunuh bayaran sudah lama menunggu di ujung jalan sana." Erlon menunjuk lurus ke depan, melalui kaca dalam mobil. "Jangan takut, mereka teman-teman ku, malah mereka membunuh jauh lebih sadis daripada aku."
"Apa Anda sedang bercanda? Jika bukan candaan … kenapa Anda begitu tega dan tidak memiliki belas kasihan." Ana benar-benar dibuat kebingungan oleh sifat Erlon kadang baik kadang kumat sifat psycho-nya. "Tidak memiliki hati nurani."
Erlon mendekatkan bibirnya di telinga Ana. "Pakaian seperti ini akan membuat mereka suka, ditambah kau masih Virgin, 'kan." Erlon menjilat pipi mulus Ana. "Mereka akan menjadikan kau budak s*x, lalu setelah bosan akan membuat kau jadi sup kuah, atau memajang tubuh mungil ini di kastil tua sebagai manakin … ."
"Tu-tuan, sa–"
"Belum selesai, dengar dulu. Mereka juga suka mengambil organ tubuh untuk dijual. Maka turunlah supaya tubuh kau ini dapat menghasilkan uang."
Kenapa hanya ingin bebas dari tuan Erlon, harus ada tantangan seperti ini.
"Apa kau sudah memikirkannya dengan matang-matang, jika sudah … aku akan membuka pintu mobil ini untuk istri ku yang benar-benar luar biasa."
"Kita pu-pulang," jawab Ana meski ia ragu.
"Dengan syarat," kata Erlon.
"Kenapa harus ada syarat lagi tuan, bukannya Anda yang ingin kita lebih baik kembali." Ana mendorong kepala Erlon supaya lidah Erlon berhenti menjilat pipinya. "Kenapa harus bertaruh nyawa, hidup dengan Anda tuan," celoteh Ana. Yang sudah merasa kupingnya panas mendengar setiap omongan Erlon, yang menjurus pada adegan kekerasan serta pembunuhan. "Kita pulang, saya sudah percaya pada Anda dan ucapanku yang tadi lupakan saja itu hanya omong kosong." Ana kembali memakai sabuk pengaman.
"Ternyata nyalimu hanya secuil, sama seperti badanmu yang mungil," kata Erlon yang tidak sadar menyebut Ana mu tidak dengan kau.
"Mu … kemana kaunya?" tanya Ana langsung karena tidak biasanya Erlon bicara typo.
"Latihan, supaya kita terbiasa di kantor," jawab Erlon tanpa ragu.
*
*
Zizi tidak bisa membendung air matanya di saat ia tahu Ana sudah tidak ada di atas bed, untung saja Kenzo datang dengan cepat memenangkan dirinya. "Mas, kemana kira-kira Erlon membawa Ana?" tanya Zizi.
"Tunggu sebentar sayang, Reza masih melacak dimana lokasi mereka," jawab Kenzo yang melipat kedua tangannya di depan dada, sambil melirik jam yang melingkar di pergelangannya. "Anak itu benar-benar. Apa dia tidak ada kapok-kapoknya."
"Bagaimana kalau Erlon … ." Zizi tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena pikirannya sudah menerawang jauh.
"Tidak akan terjadi, seperti yang kamu pikirkan sayang." Kenzo tahu saat ini Zizi sangat mencemaskan Ana bukan Erlon.
"Sudah ketemu tuan," kata Reza yang menemukan keberadaan Erlon dan Ana. "Sepertinya mereka ada di … ." Apa aku harus mengatakan bahwa mereka ada di mansion. Reza membatin.
"Dimana?" tanya Zizi dan Kenzo bersamaan.
"Di … di, ma-mansion," jawab Reza ragu.
Tubuh Zizi terkulai lemas. "Kenapa mereka bisa ada di sana? Bukankah mansion itu sudah rusak dan terbengkalai?" Zizi mengingat kejadian dua puluh tahun silam. "Jangan biarkan Erlon membunuh Ana, Mas. Ayo kita harus menemui mereka."
"Erlon, kenapa anak itu sangat berbeda. Coba cek lagi Reza, mungkin kamu salah." Kenzo belum yakin.
"Mereka ada di sana tuan, tidak mungkin saya salah, bukankah Anda sendiri yang telah menanam GPS di telapak kaki tuan Erlon," ucap Reza yang tahu Kenzo sudah menanam GPS di telapak kaki Erlon, di saat Erlon pingsan waktu itu.
Zizi menatap Kenzo, ia ingin meminta penjelasannya. "Mas, kamu tega menanam itu di telapak kaki putra kita."
"Jangan membahas itu sekarang sayang, kita lebih baik kesana, lain waktu biar aku jelaskan apa maksudku melakukan itu."
Air mata Zizi kembali menggenang di pelupuk matanya. "Kenapa harus menanamnya Mas, tidak adakah cara lain?"
Kenzo meletakkan telunjuknya di bibir Zizi. "Kita berangkat. Jangan pikirkan itu dulu."
Hening, Reza berdehem. "Hemz … apa kita akan jadi pergi?"
Saat mereka masih di dalam rumah, seseorang sudah memutus rem serta menanam bom di dalam mobil Kenzo. (Sudah beres tuan, di saat mereka sudah masuk dan menjalankan mobil, Anda bisa menekan tombol merah), ucap seseorang itu, yang kini terlihat menjauh dari mobil Kenzo karena ia melihat Kenzo keluar memapah Zizi. (Mereka sudah terlihat keluar tuan, dan sekarang mereka menuju mobil).
Sedangkan Kenzo menggenggam tangan Zizi dengan erat, seolah-olah mereka tidak ingin berpisah.