Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.
Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.
Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.
Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.
Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.
Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Memasuki Wilayah Udara Beku
Tiga hari sejak keberangkatan Kapten Alden, lanskap di luar jendela The Sky Leviathan berubah drastis. Samudra Langit yang semula biru jernih kini berganti menjadi hamparan putih abu-abu yang suram.
Awan-awan di bawah lambung kapal tidak lagi bergulung lembut seperti kapas, melainkan membeku menjadi gumpalan es melayang yang tajam layaknya pecahan kristal raksasa. Suhu di dalam kapal merosot tajam, memaksa seluruh kru untuk mengenakan jubah wol tebal berlapis bulu beruang langit.
Clara berdiri di ruang kemudi utama, memandangi kompas sihir yang jarumnya mulai bergetar tidak stabil akibat distorsi medan magnet utara. Di tangan kanannya, ia memegang tongkat komando elang perak pemberian Alden.
Sarung tangan Sutra Laba-laba Salju di tangannya memancarkan pendaran cahaya perak yang redup, bereaksi terhadap hawa dingin ekstrem yang mulai mengepung dinding luar kapal.
"Melaporkan, Kapten Clara." Suara Bernet memecah kesunyian dari arah belakang. Kepala pelayan itu kini mengenakan pakaian pelaut musim dingin yang tebal. "Kita telah resmi memasuki perbatasan wilayah udara terlarang sektor utara. Suhu di luar mencapai minus empat puluh derajat. Lapisan es mulai terbentuk di sepanjang dek depan."
"Bagaimana kondisi ruang mesin, Bernet?" tanya Clara tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela besar di depannya.
"Pembakaran kristal api tingkat kedua berjalan maksimal, Nyonya. Namun, tekanan udara dingin dari luar membuat turbin sihir belakang bekerja dua kali lebih keras. Jika kita tidak segera menemukan jalur angin hangat yang tersembunyi di balik barisan awan ini, perisai energi kapal bisa membeku dalam waktu dua belas jam," lapor wakil komandan dek yang berdiri di samping meja peta dengan wajah tegang.
Clara menarik napas dalam-dalam, menghembuskan uap putih tipis dari mulutnya. Pengetahuannya sebagai mantan Penyembuh Agung tentang geografi magis dunia langit kini menjadi satu-satunya pemandu arah mereka. Ia melangkah mendekati meja peta marmer, mengamati garis-garis topografi Pulau Melayang Frostfire yang semakin dekat.
"Jangan paksa kapal untuk menerobos inti badai salju di depan," perintah Clara tenang namun penuh ketegasan seorang pemimpin. "Pulau Frostfire dikelilingi oleh cincin arus angin dingin yang berputar berlawanan arah jarum jam. Jika kita meluncur lurus, lambung kapal bisa hancur terkena benturan batu es melayang. Kita harus mencari The Dragon's Breath, jalur celah udara hangat yang tercipta akibat aktivitas magma di dasar pulau melayang tersebut."
"Tetapi Kapten Clara, jalur celah itu tidak terdeteksi oleh kompas sihir navigasi kita," bantah salah satu perwira navigasi muda dengan ragu.
"Kompas sihir biasa tidak akan mempan di sini karena medan magnet es," jawab Clara dengan seulas senyum tipis yang menguatkan. "Gunakan pemindai thermal bertenaga kristal api. Cari titik di mana awan kabut di depan kita memiliki kerapatan yang paling rendah. Di sanalah letak celah hangat itu berada."
Tepat saat para perwira kemudi mulai melaksanakan perintah Clara, pintu kayu ruang kemudi bergeser terbuka. Leo dan Rin melangkah masuk dengan pakaian musim dingin mereka yang tebal. Leo tampak memegangi tangan adiknya dengan erat. Wajah kedua anak itu memancarkan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan.
"Ibu," panggil Leo pelan, suaranya sedikit gemetar bukan karena dingin, melainkan karena hal lain. "Kutukan di dalam tubuh Rin... mulai bereaksi lagi dengan hawa dingin ini."
Clara segera berlutut di depan kedua anak tirinya. Ia menyentuh leher Rin yang terbalut syal wol tebal. Begitu syal itu dibuka sedikit, Clara membelalakkan matanya sesaat. Segel perak kuno di leher Rin tampak dilapisi oleh lapisan es hitam tipis yang berdenyut lambat.
Hawa dingin ekstrem dari luar ternyata memicu energi kutukan Sirene di dalam tubuh Rin untuk membekukan aliran darahnya sendiri sebagai bentuk pertahanan diri yang salah.
Rin menatap Clara dengan sepasang mata indigo yang sayu, jemari kecilnya bergerak lemah membentuk isyarat tangan, 'Ibu, dadaku terasa sangat dingin dan sesak.'
Hati Clara berdenyut nyeri melihat penderitaan putrinya. Ia tahu, jika dibiarkan, kutukan es hitam itu bisa membekukan jantung Rin sebelum mereka sempat mencapai mata air magis di Pulau Frostfire.
Clara menoleh ke arah Leo, sebuah ide taktis mendadak terlintas di kepalanya.
"Leo, ingat apa yang Ibu katakan di meja makan kemarin? Apimu adalah berkah, sebuah kehangatan yang luar biasa," kata Clara, menggenggam tangan hangat Leo dengan tangan kanannya yang menggunakan sarung tangan Sutra Laba-laba Salju. "Saat ini, adikmu sedang membutuhkan kehangatan itu. Ibu ingin kau memfokuskan energi Phoenix-mu, bukan untuk mengamuk atau menciptakan ledakan besar, melainkan untuk mengalirkan kehangatan kecil melalui telapak tanganmu ke arah punggung Rin."
Leo tertegun, matanya membelalak lebar karena ragu. "Tapi Ibu... aku takut apiku akan membakar Rin. Aku belum pernah mengendalikan suhunya sekecil itu."
"Kau bisa, Leo. Ibu akan membantumu mengontrol alirannya," yakin Clara dengan tatapan mata jernih yang penuh dengan rasa percaya yang mendalam. "Pegang tangan kiri Ibu dengan tanganmu yang lain. Gunakan sarung tangan perak Ibu sebagai pengatur suhu cadangan. Mari kita selamatkan Rin bersama-sama."
Melihat keyakinan yang begitu besar di mata Clara, rasa ragu di hati Leo sirna sepenuhnya. Anak sulung berusia dua belas tahun itu mengangguk kuat-kuat. Ia mengambil posisi di belakang Rin, lalu menempelkan kedua telapak tangan kecilnya di atas punggung adiknya.
Di saat yang sama, tangan kirinya mencengkeram erat pergelangan tangan Clara yang terbalut sutra mistis.
"Tarik napas dalam-dalam, Leo. Bayangkan matahari pagi yang hangat di Valenica, bukan kobaran api perang," bisik Clara lembut, menjadi jangkar emosional bagi putranya.
Leo memejamkan matanya, memfokuskan seluruh konsentrasinya. Perlahan-lahan, pendaran cahaya jingga yang lembut, bukan kobaran api liar yang menghancurkan, mulai mengalir dari telapak tangan Leo, menembus jubah tebal Rin dan langsung menuju ke arah pusat kutukan di dadanya.
Sarung tangan Sutra Laba-laba Salju Clara bertindak sebagai filter magis, menyerap setiap percikan energi berlebih dari tubuh Leo agar tidak melukai Rin.
Sssss...
Suara desisan halus terdengar saat lapisan es hitam di leher Rin mulai mencair perlahan-lahan. Guratan kutukan yang semula berdenyut menakutkan kini mereda kembali di balik segel peraknya.
Rin mengembuskan napas panjang yang hangat, rona merah alami kembali muncul di pipinya yang semula pucat pasi. Ia membalikkan tubuhnya dan langsung memeluk Leo dengan erat, sementara Leo tersenyum lebar dengan air mata kebahagiaan yang mengalir di pipinya karena berhasil menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan, bukan menghancurkan.
"Nyonya Clara! Lihat ke depan!" seru perwira navigasi dengan nada suara yang dipenuhi rasa takjub.
Clara bangkit berdiri bersama anak-anak, menatap ke arah jendela depan kapal. Melalui pemindai thermal kristal api yang diperintahkan Clara tadi, sebuah celah awan berwarna kemerahan tipis mendadak terbuka di tengah barisan badai salju raksasa di depan mereka.
Angin hangat yang membawa aroma belerang purba berembus keluar dari celah tersebut, mencairkan lapisan es yang sempat menempel di dek depan The Sky Leviathan.
Jalur The Dragon's Breath telah berhasil ditemukan.
"Bernet, arahkan kapal masuk ke dalam celah itu dengan kecepatan penuh!" perintah Clara tegap, mengangkat tongkat komando elang peraknya tinggi-tinggi. "Pertahankan posisi pelindung energi. Kita akan menembus cincin badai es ini sekarang juga!"
"Perintah dilaksanakan, Kapten Clara!" sahut seluruh kru kemudi secara serempak dengan semangat yang kembali membara.
The Sky Leviathan meluncur dengan megah, membelah kabut es abadi dan masuk ke dalam jalur celah udara hangat yang aman menuju jantung Pulau Melayang Frostfire.
Ujian pertama di wilayah udara beku telah berhasil dilalui oleh Clara berkat kombinasi pengetahuan kunonya dan kerja sama emosional bersama anak-anak tirinya.
Dari kejauhan, siluet gunung es raksasa yang menyembunyikan mata air penawar kutukan kini mulai terlihat membubung tinggi menembus awan, menandai bahwa klimaks perjuangan mereka sudah berada di depan mata.