NovelToon NovelToon
Panggil Aku , Ibu !!!

Panggil Aku , Ibu !!!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Ibu Tiri
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Setelah sosok mobil putih Samantha benar-benar hilang dari pandangan di tikungan jalan, Samuel perlahan memutar tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam mobil mewahnya. Begitu pintu tertutup rapat, suasana di dalam kabin yang biasanya terasa kaku dan hening kini terasa berbeda.

Sopir pribadinya, Pak Joko, melirik sekilas melalui kaca spion tengah. Ia hendak menyalakan mesin, namun tangannya terhenti sejenak. Matanya terbelalak tak percaya melihat pantulan wajah tuannya.

Samuel duduk bersandar di jok belakang, menatap keluar jendela dengan pandangan yang terlihat melamun namun penuh kehangatan. Yang paling membuat Pak Joko terkejut adalah sudut bibir Samuel kini terus-menerus mengukir senyum tipis yang tulus, senyum yang sangat jarang sekali ia lihat sejak kepergian mendiang Ibu Ruri.

Selama bertahun-tahun, Pak Joko terbiasa melihat wajah Samuel yang selalu datar, dingin, penuh beban, atau serius memikirkan pekerjaan. Hampir tidak pernah ada senyum yang sampai ke matanya seperti ini. Ia pun memberanikan diri berbicara dengan nada heran namun senang.

"Maafkan saya, Tuan... melihat Bapak tersenyum begitu, rasanya sudah sangat lama sekali saya tidak melihatnya," ucap Pak Joko pelan sambil tersenyum tipis. "Sejak kepergian Ibu Ruri, Bapak selalu terlihat menutup diri dan jarang sekali memperlihatkan kebahagiaan seperti ini. Sepertinya ada kabar gembira yang luar biasa ya, Tuan?"

Samuel tersadar dari lamunannya, lalu menoleh ke arah Pak Joko. Ia tidak merasa tersinggung, justru senyumnya semakin melebar sedikit.

"Iya, Pak Joko. Hari ini memang hari yang sangat berarti bagiku," jawabnya lembut, suaranya pun terdengar jauh lebih ringan dan hangat dari biasanya. "Ada seseorang yang sangat berharga bagiku, yang selama ini aku kira sudah hilang dari hidupku... kini kembali lagi. Rasanya beban di dadaku terangkat semua."

Pak Joko mengangguk penuh pengertian, matanya ikut berkaca-kaca karena turut bahagia. "Syukurlah kalau begitu, Tuan. Saya senang sekali melihat Bapak kembali ceria seperti dulu. Semoga kebahagiaan ini bertahan lama ya."

Mobil pun mulai melaju perlahan menuju kantor, membawa Samuel yang hatinya kini penuh dengan harapan baru.

Sementara itu, di dalam mobil Samantha, suasana hati wanita itu pun tak kalah indahnya. Ia menyetir dengan tenang, namun pipinya merona merah, dan senyum bahagia tak lepas dari wajahnya. Perasaannya melayang-layang mengingat kembali setiap kata dan tatapan Samuel tadi.

Selama ini, banyak orang yang mendekat dan berusaha memenangkan hatinya, namun tak satu pun yang berhasil. Ia selalu menolak atau menjaga jarak, karena di sudut terdalam hatinya, masih tersimpan nama Samuel pria yang ia kagumi dan cintai dalam diam sejak masa sekolah dulu. Tak ada tempat bagi orang lain, karena hatinya sudah penuh oleh bayangan pria itu.

"Jadi ternyata... perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan," gumamnya pelan pada diri sendiri, matanya berkaca-kaca namun penuh kebahagiaan. "Selama ini aku menjaga hatiku hanya untukmu, Samuel. Dan ternyata takdir masih menyatukan kita. Aku tidak akan pernah melupakan momen ini."

Ia merasa seolah dunia di sekelilingnya kini berwarna lebih cerah, dan jalan di depannya terasa lebih terang dari sebelumnya.

Samantha melajukan mobilnya menuju apartemen yang sudah ia siapkan untuk Bu Lastri dan Suci tempat yang aman, nyaman, dan jauh lebih layak dibandingkan rumah tempat mereka tinggal sebelumnya. Sesampainya di depan pintu unit, ia mengetuk pelan.

Tak lama kemudian, pintu terbuka dari dalam. Suci tampak dengan pakaian santai yang rapi, namun senyumnya langsung terhenti sejenak saat melihat wajah sahabatnya itu. Matanya menyipit sedikit, menatap lekat-lekat wajah Samantha dengan tatapan penuh keheranan sekaligus kekaguman.

"Wah, Sam... apa yang terjadi?" tanya Suci tak mampu menahan rasa penasarannya. "Wajahmu hari ini terlihat sangat berbeda! Kulitmu tampak bercahaya, matamu berbinar cerah sekali, dan senyummu tak lepas dari bibir. Kamu terlihat sangat berseri-seri, seolah baru saja mendapatkan hal paling berharga di dunia ini."

Samantha tersenyum malu-malu namun tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia langsung melangkah masuk ke dalam apartemen yang tertata rapi itu.

"Benar juga, Nak Samantha," sapa Bu Lastri yang sudah berdiri menyambut mereka di ruang tengah. Ibu itu pun mengenakan pakaian yang sopan dan rapi, wajahnya terlihat jauh lebih tenang dan damai dibandingkan hari-hari sebelumnya. "Ibu juga melihatnya. Wajahmu terlihat sangat bahagia hari ini. Apakah ada kabar gembira yang ingin kamu bagikan?"

Samantha mengangguk pelan, lalu duduk di samping mereka. Hatinya terasa penuh, dan ia ingin sekali berbagi sedikit kebahagiaan itu dengan dua orang yang sangat berharga baginya.

"Ada sedikit hal yang membuat hati saya sangat tenang dan bahagia pagi ini, Bu, Suci," jawab Samantha lembut. "Saya baru saja bertemu kembali dengan seseorang yang sangat saya kenal dan saya hargai sejak lama. Pertemuan itu membuat saya menyadari bahwa perasaan yang selama ini saya simpan ternyata tidak bertepuk sebelah tangan."

Mendengar itu, Suci langsung bertepuk tangan pelan dengan wajah antusias. "Wah, pasti itu orang yang sangat istimewa ya! Senang sekali mendengarnya, Sam. Akhirnya senyum tulus itu kembali terlihat di wajahmu."

Bu Lastri pun tersenyum tulus, lalu menepuk punggung tangan Samantha dengan kasih sayang. "Syukurlah, Nak. Kebahagiaanmu juga menjadi kebahagiaan bagi kami. Semoga semesta selalu menyertai langkahmu."

Suasana di ruangan itu pun terasa semakin hangat, dipenuhi harapan dan kebaikan yang perlahan menyelimuti kehidupan mereka bertiga.

Setelah mengobrol dan berbagi kebahagiaan sebentar, Samantha berdiri dari duduknya dan menatap Bu Lastri serta Suci dengan senyum penuh harapan.

"Bu, Suci... ada satu hal lagi yang ingin saya tunjukkan pada kalian hari ini," ucap Samantha lembut namun tegas. " Ayo , kita berangkat sekarang. Saya sudah menyiapkan sebuah rumah yang layak untuk kalian tempati secara permanen, bukan lagi sekadar tempat singgah sementara."

Mata Bu Lastri dan Suci seketika melebar tak percaya. Mereka saling berpandangan, lalu kembali menatap Samantha dengan bibir yang bergetar.

"Rumah... rumah untuk kami?" tanya Bu Lastri pelan, seolah belum yakin dengan apa yang didengarnya. "Sungguhkah ini, Nak Samantha? Kami tak pernah menyangka akan menerima kebaikan sebesar ini darimu."

Samantha mengangguk mantap sambil menggenggam tangan mereka berdua. "Sungguh, Bu. Anggap saja ini rumah baru kalian. Tempat yang aman, tenang, dan jauh dari segala kenangan buruk. Ayo kita lihat sendiri bagaimana bentuknya."

Tanpa menunggu lama, mereka pun segera bersiap dan berjalan keluar menuju mobil. Sepanjang perjalanan, jantung Suci dan Bu Lastri berdegup kencang, dipenuhi rasa syukur dan harapan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Di dalam mobil yang melaju perlahan menuju tujuan baru itu, suasana terasa hangat sekaligus penuh haru. Bu Lastri dan Suci sama sekali tidak bisa menahan rasa syukur yang meluap di dada mereka.

"Nak Samantha... entah bagaimana kami harus mengucapkannya lagi," ucap Bu Lastri dengan suara lemah namun penuh perasaan, matanya berkaca-kaca menatap Samantha. "Kamu sudah menyelamatkan kami dari penderitaan, memberi kami tempat berlindung, dan sekarang kamu bahkan memberikan rumah sendiri... terima kasih banyak, Nak. Terima kasih yang tak terhingga."

Belum selesai Bu Lastri bicara, Suci pun menimpali sambil menggenggam lengan sahabatnya erat-erat.

"Benar sekali, Sam. Aku sama sekali tak sanggup membalas kebaikanmu. Rasanya seperti mimpi saja dari rumah yang rapuh dan menakutkan, kini kau bawa kami ke tempat yang layak dan aman. Terima kasih ya, Sam... terima kasih sudah tidak pernah meninggalkan kami."

Tak berhenti di situ, berkali-kali kalimat terima kasih terucap dari bibir mereka berdua, diselingi doa tulus agar Tuhan senantiasa melindungi dan membalas segala kebaikan Samantha.

Samantha tersenyum haru, lalu menepuk lembut punggung tangan mereka.

"Sudahlah, Bu, Suci. Jangan berterima kasih terus-menerus seperti ini," jawabnya dengan nada lembut. "Saya melakukan ini semua dengan ikhlas dan senang hati. Melihat kalian bahagia, tenang, dan bisa memulai hidup baru dengan damai adalah balasan paling berharga bagi saya. Sekarang nikmati saja perjalanan ini, sebentar lagi kita sampai."

Meskipun begitu, rasa haru dan syukur itu tetap memenuhi hati Bu Lastri dan Suci, membuat perjalanan menuju rumah baru mereka terasa begitu bermakna.

Bersambung...

1
Anna Setyo
semangat up thor yg banyak👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!