Zhe Zhe Zinanda, berdiri lima jam di altar pernikahan. Hari ini pengantin pria yang seharusnya menemaninya mengucap janji suci pernikahan, tidak datang. Hingga semua tamu undangan yang hadir satu persatu pergi dan meninggalkan tempat resepsi.
Zhoe Khaman, pergi ke luar negeri di hari pernikahannya. Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa Zhoe pergi meninggalkan pernikahannya?
Saksikan kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sekar Laveina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Tidur seranjang
Makan malam hari ini, Zhe Zhe sangat bahagia karena dia kembali merasakan hangatnya kasih sayang seorang ibu.
“Zhe, makan ini biar tetap sehat. Ibu masakin ini buat kamu, ayo makan yang banyak!” ucap Erin memberikan semangkuk sup ayam jahe.
“Ah, aku sudah tak dipedulikan lagi karena Zhe Zhe,” ucap Ocha pura-pura sedih dan mendapat pukulan pelan dari Erin. "Aww .…" Ocha menjerit pelan. Mereka tertawa penuh kebahagiaan.
“Em, Bu, setelah makan Zhe Zhe pamit keluar,” ucap Zhe Zhe.
"Mau kemana?" tanya Ocha.
"Menukar mobilku," jawab Zhe Zhe.
“Eh, kok ditukar? Memang mobilnya kenapa?” tanya Erin.
“Tukeran sama teman tadi pagi, Bu,” jawab Zhe Zhe. Ocha hanya cengengesan mendengar jawaban Zhe Zhe.
Selesai makan malam Zhe Zhe mengganti bajunya dengan dress tanpa lengan berbahan kaos sebatas paha berwarna navy dan celana legging hitam. Zhe Zhe memakai jaket jeans hitam sebagai lapisan luar. Zhe Zhe keluar dari kamarnya dengan dandanan minimalis dan menggerai rambut hitamnya. “Bu, Zy, Zhe Zhe pergi dulu.” Zhe Zhe pamit pada ibunya dan Ocha.
“Hati hati sayang!” ucap Erin. Zhe Zhe mengangguk dan tersenyum.
Zhe Zhe mengendarai mobilnya dengan senyum bahagia. Dia bahagia karena bukan hanya mendapatkan seorang ibu tapi juga seorang kakak. Zhe Zhe sampai di parkiran halaman gedung ZK. Seorang satpam yang melihat mobil Zhoe memasuki parkiran itu menatap heran.
“Itu mobilnya Pak Zhoe, tapi kok dibawa sama orang lain?” satpam itu bertanya-tanya sendiri. Zhe Zhe masuk ke lobby gedung ZK dan menyapa satpam itu.
“Selamat malam, Pak," sapa Zhe Zhe.
"Malam, Mbak. Mau ketemu Pak Zhoe ya?" tanya satpam.
“Iya. Ada kan pak Zhoe di atas?” Zhe Zhe bertanya balik.
“Ada. Mbak ini tunangan Pak Zhoe ya?” tanya satpam kembali. Zhe Zhe hanya menjawab dengan senyuman lalu masuk ke dalam lift dan menekan tombol angka lantai 11.
Sampai di lantai 11 Zhe Zhe mengetuk ruangan tempat tinggal Zhoe.
Zhoe membuka pintu dan melihat Zhe Zhe di depan pintu lalu tersenyum. “Aku tahu kau pasti akan datang, masuklah!” ucap Zhoe membuka pintu lebar-lebar.
“Terima kasih, Pak Zhoe. Saya cuma ingin menukar mobil. Ini kunci mobil Anda, mana kunci mobil saya?” Zhe Zhe menyerahkan kunci mobil Zhoe. Zhoe mengambilnya dari tangan Zhe Zhe.
“Ambil sendiri kuncimu, tuh di meja” Zhoe menunjuk kunci yang tergeletak di meja.
Zhe Zhe masuk tanpa curiga, saat Zhe Zhe melangkah masuk, Zhoe menutup pintu dan menguncinya. Dia mengambil kuncinya dan menyimpannya di saku piyama tidurnya.
"Aku sudah mengambil kunci mobilku. Tolong buka pintunya!” ucap Zhe Zhe. Zhoe berjalan menghampiri Zhe Zhe, Zhe Zhe mundur perlahan. “Jangan macam macam, Pak Zhoe! Aku akan teriak kalau kamu berani menyentuhku lagi!” ancam Zhe Zhe.
"Bisakah kau tidur disini, Zhe?” ucap Zhoe.
“Jangan gila kamu, Zhoe. Aku tidak akan pernah mau berbuat gila denganmu. Aku mau pulang, buka pintunya!” Zhe Zhe berteriak kesal.
“Selama tiga tahun aku mengalami insomnia, tapi kemarin setelah menciummu aku bisa tertidur nyenyak.” Zhoe mendekati Zhe Zhe yang sudah terpojok ketepian sofa. Karena Zhoe yang terus maju mendekatinya membuat Zhe Zhe mencondongkan tubuhnya ke belakang hingga akhirnya dia terduduk di sofa. Zhoe lalu duduk di samping Zhe Zhe dan langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Zhe Zhe dan memejamkan matanya.
“Zhoe, aku mau pulang, bangunlah!” Zhe Zhe menarik tangan Zhoe agar bangun tapi Zhoe tidak mau bangun.
“Kuncinya ada di saku piyamaku. Pulanglah saat aku tertidur! Biarkan aku tidur di pangkuanmu, Zhe," ucap Zhoe dengan mata terpejam dan tangan bersedekap. Zhe Zhe tidak bisa lagi berkata-kata, bagaimanapun juga yang menjadi korban bukan hanya Zhe Zhe tapi juga Zhoe. Zhe Zhe merasa kasihan memikirkan bagaimana Zhoe selama tiga tahun ini, ketergantungan obat penenang dan juga obat tidur. Zhe Zhe memperhatikan wajah lelah Zhoe.
"Apakah aku masih mencintaimu Zhoe? Aku sendiri bingung. Separuh hatiku mengajakku berlari mendekat tapi separuh hati yang lain mengajak berlari menjauhimu," gumam hati Zhe Zhe sambil menatap Zhoe dalam pangkuannya. Setelah yakin Zhoe tertidur, Zhe Zhe merogoh saku piyama Zhoe dan mengambil kuncinya. Zhe Zhe perlahan-lahan menggeser pahanya dan menggantinya dengan bantal sofa. Baru dua langkah Zhe Zhe berjalan, tiba-tiba Zhoe terisak dalam tidurnya dan memanggil nama Zhe Zhe.
“Zhe … kumohon jangan pergi Zhe, jangan tinggalkan aku!” gumam Zhoe dalam tidurnya. Zhe Zhe berhenti dan menoleh, dia melihat wajah Zhoe yang berkeringat banyak sekali, padahal jelas-jelas ruangan itu ber-AC. Zhe Zhe menghampiri Zhoe, dia mengambil tisu yang selalu tersedia di dalam tasnya. Zhe Zhe bersimpuh di lantai dan mengelap keringat di wajah Zhoe dengan tisu. Karena Zhoe terus gelisah dalam tidurnya, Zhe Zhe mengirim pesan pada Ocha jika dia akan menginap. Zhe Zhe menggenggam tangan Zhoe dan ajaib karena Zhoe langsung kembali tenang setelah tangannya digenggam Zhe Zhe.
Zhe Zhe duduk bersimpuh di lantai hingga akhirnya dia tertidur. Tengah malam Zhoe terbangun dan melihat Zhe Zhe yang tertidur bersimpuh di lantai dengan tangan yang menggenggam tangan Zhoe. Dia menggendong Zhe Zhe ke dalam kamarnya dan menidurkannya di ranjang lalu dia berbaring di samping Zhe Zhe dan menyelimuti tubuh mereka. Zhoe memeluk pinggang Zhe Zhe, tapi tanpa dugaan Zhe Zhe berbalik menghadap Zhoe dengan mata terpejam lalu memeluknya. Mereka akhirnya tidur berpelukan. Zhoe tertidur lelap tanpa meminum obatnya. Dia hanya memeluk Zhe Zhe dan tidurnya bisa begitu nyenyak hingga pagi.
Zhe Zhe terbangun jam 6 pagi dan kaget mendapati dirinya tidur di ranjang dalam dekapan Zhoe. Zhe Zhe melepaskan tangan Zhoe yang melingkar di pinggangnya dan turun dari ranjang perlahan-lahan. Zhe Zhe menyiapkan saràpan terlebih dulu untuk Zhoe sebelum dia pulang. Zhe Zhe membuat omelet sayuran dan segelas jus apel kesukaan Zhoe. Saat Zhe Zhe keluar dari lift dia bertemu kembali dengan satpam yang berjaga semalam.
“Pagi, Mbak,” sapa satpam.
“Pagi juga, Pak. Belum tukar shift?” tanya Zhe Zhe.
“Belum, Mbak. Jam tujuh biasanya,” jawab satpam.
“Oh.” Zhe Zhe pun pergi menaiki mobil miliknya dan kembali ke apartemen. Erin sudah bangun dan menyiapkan sarapan nasi goreng. Zhe Zhe sampai di apartemennya dan langsung masuk. Dia melihat ibunya sedang menyiapkan piring di meja makan.
“Selamat pagi, Bu," sapa Zhe Zhe.
“Selamat pagi, sayang. Baru pulang?” tanya Erin.
“Iya, Bu. Teman Zhe Zhe sakit soalnya,” jawab Zhe Zhe.
“Oh. Ya, sudah, mandi sana! Setelah itu kita sarapan,” ucap Erin.
"Iya, Bu," jawab Zhe Zhe lalu dia masuk ke kamarnya dan segera membasuh tubuhnya. Zhe Zhe merasa kebenciannya pada Zhoe sedikit demi sedikit memudar.
Zhe Zhe sampai lupa untuk menanyakan masalah taruhan Zhoe, Sultan dan Steve. Padahal saat melihat berita itu Zhe Zhe sangat marah, tapi saat melihat Zhoe, dia melupakan segalanya. Zhe Zhe belum bisa menjawab pertanyaan batinnya sendiri. Pertanyaan, apakah dia bisa menerima kembali Zhoe dihatinya.
------------------------------
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu (END)
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
I Love you, readers ♥️♥️♥️
sukses thor
semangat
semangat