NovelToon NovelToon
SUPERBIA

SUPERBIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cintamanis / Patahhati / Balas Dendam / Peningkatan diri-Perubahan dan Mengubah Takdir / Berubah manjadi cantik
Popularitas:52.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jika Laudia

Di dunia ini banyak orang gagal mencintai dirinya sendiri, termasuk Nafla. Sehingga, saat seorang pria hadir dan menawarkan cinta, dengan terlalu antusias Nafla menerimanya. Sayangnya, hubungan yang ia idamkan selama ini hanya bertahan sehari saja karena setelahnya Nafla diteriaki pelakor oleh istri sah sang pacar baru.

"Mas?"

"Saya udah berkali-kali bilang sama kamu, saya udah punya istri. Nggak paham-paham juga kamu, ha?!"

Tatapan jijik yang dilayangkan semua orang, membuat Nafla terus menundukkan kepala. Tragedi itu membuatnya teringat kembali pada sosok ayah yang juga menghianati dan meninggalkannya. Luka yang selamanya tidak akan pernah sembuh itu kembali menganga.

Kepercyaan dirinya seketika hancur. Rasa terbuang, tidak diharapkan, kembali pelan-pelan menikam hatinya. Hingga, saat sebuah mobil menyambar tubuhnya, Nafla merasa biasa saja. Namun, saat ia terjaga ...

"Anda baik-baik saja Nona Bianca?"

Nafla memandang perawat pria di hadapannya dengan ketakutan. Ia berlari ke kamar mandi, lantas berteriak saat melihat wajah barunya di cermin. Wajah adik kandungnya yang selama ini sangat ia benci.

Karya ini dibuat untuk mengikuti kontes Mengubah Takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jika Laudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali

Nafla membuka kelopak matanya pelan. Entah kenapa, ia merasa sekujur tubuhnya sangat lemah. Saat menolehkan pelan kepalanya, ia mendapati papa sudah duduk di sampingnya.

Ia jadi teringat dengan kejadian di rumah sakit tadi. Papa juga duduk di samping tubuhnya. Seketika air mata Nafla kembali menetes.

"Ada apa, Bia?" Papa mengusap air mata di sudut mata Nafla, lalu melanjutkan, "Kita ke rumah sakit sekarang, ya?"

Nafla menggelengkan kepalanya. Kerongkongannya terasa pedih untuk menjawab.

"Kamu masih marah dengan Papa?" tanya papa lembut.

Sekali lagi Nafla menggeleng. Namun, kali ini ia memaksa dirinya untuk bicara. "Nggak."

Papa meraih tangan Nafla, lalu menggenggamnya. Kemudian, menatap salah satu alasannya masih bertahan hidup hingga kini itu dengan pandangan dalam.

"Papa juga udah nggak marah sama kamu, tapi Papa nggak akan minta maaf. Jadi, jangan ulangi lagi!" ujar papa pura-pura marah, hingga membuat Nafla tersenyum dan mengangguk.

Papa juga ikut tersenyum. Ia mengusap pelan pipi Nafla. Namun, perhatiannya teralihkan saat mendengar ponselnya berdering.

"Sebentar," ucap papa setelah memastikan identitas si penelpon. Tampaknya penting.

Papa bahkan beranjak dari duduknya, lalu memilih sedikit menjauh dari Nafla. Meski sayup-sayup, Nafla masih bisa mendengar suara papa yang sedang berbicara dengan seseorang. Suaranya cukup pelan, tetapi nadanya meninggi saat memastikan. "Nafla sadar?"

Tidak hanya papa yang tampak terkejut karena Nafla lebih terkejut lagi. Ia melebarkan matanya, lalu memeriksa tubuhnya sendiri. Ia yakin, ia masih berada di tubuh Bianca, lalu ... siapa yang sadar?

Tanpa mengulur waktu lagi, papa langsung bergegas ke rumah sakit. Sebenarnya, ia sudah berulang kali menolak, tetapi karena Nafla memaksa, akhirnya gadis yang baru siuman dari pingsannya itu ikut juga bersamanya. Lagi pula mau sampai kapan ia menyembunyikan kondisi Nafla pada sang adik?

"Kamu yakin baik-baik aja?" tanya papa masih khawatir.

Nafla langsung menganggukkan kepalanya yakin. Ia sangat penasaran, makhluk apa yang menyusup di tubuhnya?

Papa mengetukkan jari telunjuknya ke lutut. Jelas sekali ia sudah tidak sabar ingin cepat sampai ke rumah sakit. Nafla yang memperhatikan semua itu, diam-diam mengulas senyum. Ia bahagia dengan hanya melihat sang papa khawatir padanya.

Saat tiba di rumah sakit, mereka langsung menuju ruang ICU. Rupanya di sana sudah ada Daniel. Ayah dari Jia itu langsung keluar dan mempersilakan papa masuk.

"Silakan, Tuan Tirta," ucapnya sopan saat tiba di depan pintu.

Papa mengangguk, lalu melangkahkan kakinya mendekati Nafla. Sedangkan, Daniel sendiri memilih menunggu di luar kamar.

Nafla tampak terperangah. Ia memandang kepergian Daniel dan sekali lagi, ia merasa bahagia karena ada banyak orang yang mengkhawatirkan dirinya.

"Nafla?" Papa tampak tidak berani menyentuh Nafla. Ia hanya menatap senang gadis yang kini sudah bisa duduk bersandar tersebut. Sedangkan, gadis yang dimaksud masih tampak kebingungan. Ia sedang menatap dirinya sendiri dari cermin yang ia minta pada perawat. Gadis itu tampak meraba-raba wajahnya sendiri dengan mata terbeliak.

"Bagaimana kondisi putri saya, Dok?" Papa bertanya pada Dokter. Namun, Nafla yang mendengarnya merasakan hatinya berdesir.

Putri saya? Sekali lagi Nafla tersenyum, meski kali ini matanya mulai berembun.

Dokter yang berada di sana, tampak telah selesai melakukan observasi. Namun, ia berniat menyampaikan hasilnya nanti secara pribadi saja bersama Tirta. "Temui saya nanti di ruangan. Akan saya jelaskan semuanya."

Papa mengangguk. Namun, tiba-tiba seseorang menarik tangannya, hingga papa menurunkan pandangannya.

"Papa ...." Nafla yang berada di atas ranjanglah pelakunya. Kini ia sudah meletakkan cerminnya dan menatap papa yang berdiri di sampingnya.

Tentu saja papa merasa sangat bahagia. Ia duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan putrinya yang baru sadar tersebut penuh haru. "Gimana keadaanmu, Nafla?"

Gadis di atas ranjang itu tidak menjawab. Ia justru mengedarkan pandang ke arah lain dan matanya dibuat melebar saat melihat sosok Bianca yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka.

Jari telunjuknya perlahan terangkat, lalu mengarah tepat ke arah wajah Bianca tersebut. "Siapa dia?"

Nafla melebarkan matanya waspada. Ia mencengkram erat ujung baju yang dikenakannya, tidak tahu harus berbuat apa.

"Bianca, adikmu." Papa mengambil alih menjawab, hingga pandangan gadis di atas ranjang tersebut kembali menatap papa.

Bibir gadis di atas ranjang itu tampak bergerak pelan. Tatapannya kembali bingung. "Lalu aku?"

"Nafla Afanin Tirta," balas Papa lagi.

Gadis itu menggeleng pelan. "Aku ... Bianca Zehra Tirta."

Mata Nafla membulat saking kagetnya. Tanpa sadar ia melangkahkan kakinya mundur, ketakutan.

***

Wkwkwk

Baru nyadar, kalau aku bikin novel suka bikin pembaca mikir. Pada hal niat baca buat hiburan, ya? Malah aku suruh mikir. Sungkem.

Lain kali aku bikin novel lempeng, deh, khusus buat mak-emak terlope.

1
betters
pinisirin jd nya
betters
love sekebon buat upnya
betters
hemmmm
betters
ih nyesek
betters
syalllllaalalla
betters
cumunguts upnya
betters
super mantap up nya thor
betters
hadeuuuuh seru beud
betters
bagus....bagus
betters
seru seeeeruuuu
betters
kifarat bkn y?
betters
hey hey.....
betters
yups nagih bgt
betters
wuiiiih beda nih ...
betters
lanjuttttt
fara
panas hati
fara
kukira superbia itu superhiro
buk e irul
loh loh kok ngunu 😂
buk e irul
luar biasa luar biasa 😘😘😘
buk e irul
baru tau saya 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!