spin-off dari novel Menjadi Istri Tuan Muda.
Karena menunggu di kamar seseorang yang menjadi Nyonya Mudanya. Bunga Florencia harus mengalami kejadian yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dia harus kehilangan kesucian yang dia jaga selama ini.
Maxime Anderson pulang dalam keadaan mabuk dan masuk ke dalam kamar orang yang dicintainya, dan berpikir untuk memilikinya seutuhnya. Tapi tidak pernah dia duga jika gadis yang menghabiskan malam bersamanya adalah gadis lain yang dia ketahui sebagai pelayan pribadi Kakak iparnya.
Karena kejadian itu mereka akhirnya menikah, Akankah keduanya akan sama-sama membuka hati dan membuat cinta akan bersemi diantara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1PM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Bunga kini tengah bersiap-siap untuk pergi memeriksa kandungannya. Sepertinya janjinya semalam kini Liora juga sudah siap dan menunggu Bunga di ruang keluarga sambil menonton televisi.
Dengan menggunakan kaos putih kebesaran dan celana panjang warna hitam, Bunga kini sudah siap dan melangkah keluar dari kamar yang biasa ditempati jika menginap, selagi bekerja pada Jasmine.
"Sudah siap Kak?" Tanya Liora yang mengalihkan pandangan dari ponselnya dan kini menatap Bunga.
"Sudah, ayo kita berangkat sekarang!" Ajak Bunga.
Mereka pun kemudian bersama-sama keluar rumah. Dan tepat di depan pintu utama Jason sudah bersandar pada mobil, menunggu mereka.
"Jason kenapa kau ada disini?" Tanya Bunga pada asisten Kakak Iparnya itu.
"Aku di suruh Nyonya Muda untuk mengantarkan kalian. Kalian akan ke dokter kandungan kan?" Tanya Jason menjelaskan tentang Jasmine yang menyuruhnya mengantarkan ke rumah sakit, karena dia dan suaminya akan pergi ke rumah orang tua Jasmine, sekaligus ke butik Ibunya untuk mengambil pakaian yang akan dipakainya nanti malam.
"Iya," jawab Bunga.
"Kak, Ayo!" Suara Liora membuyarkan akan apa yang tadi Bunga pikirkan. Dia kemudian merangkul bahu Kakak iparnya, dan kemudian masuk ke dalam mobil bagian belakang.
Tak lama mobil mereka pun sampai di pelataran rumah sakit tempat Tiffa, Ibu Mertuanya juga dirawat.
Liora menggandeng Bunga menuju ke poli kandungan. Kemudian setelah sudah berada disana, Liora meminta Bunga untuk duduk di ruang tunggu sementara dirinya menemui petugas yang ada disana menanyakan sudah nomor antrian berapa.
Setelah tahu, Liora kemudian kembali menghampiri Bunga dan duduk di sebelahnya.
"Sudah antrian ke berapa?" Tanya Bunga pada adik iparnya yang kini duduk di sebelahnya.
"Dua orang lagi kita bisa masuk Kak," kata Liora tersenyum. "Mmm Kak, aku mau ke toilet dulu ya, Kakak tidak apa-apa kan aku tinggal sebentar?" Tanya Liora merasa tidak enak karena setelah orang yang di dalam keluar giliran Bunga yang akan diperiksa
"Tidak apa-apa pergilah, nanti jika kamu kembali dan Kakak di dalam kamu langsung masuk saja," kata Bunga dengan tersenyum.
Liora kemudian meninggalkan Bunga sendirian. Bukan menuju toilet tapi dia menuju ke ruang rawat Maminya. Tadi dia mengirim pesan kepada Max, menanyakan dimana keberadaan kakaknya itu. Dan saat mendapat balasan dari Kakaknya dia masih berada di rumah sakit dan akan segera berangkat sebentar lagi setelah Maminya selesai sarapan, Liora langsung mengirim pesan kepada Max untuk menunggunya sebentar dan di iyakan oleh Kakaknya, karena Max pikir, Liora yang akan menggantikan dirinya menjaga Maminya tanpa Max tahu jika Liora menelepon Bibi Arum untuk menjaga Maminya nanti.
Sesampainya di ruang rawat Maminya, Liora langsung saja menerobos masuk, membuat Tiffa dan Max langsung menoleh.
"Sayang kamu mengagetkan saja," kata Tiffa.
"Hehe, maaf Mi, soalnya Liora buru-buru."
"Buru-buru mau kemana kamu?" Tanya Max menatap adiknya dengan tatapan menyelidik.
"Kita tidak punya banyak waktu, ayo Kak Max sekarang ikut denganku!" Liora kemudian menarik tangan Max keluar.
Sebelum benar-benar keluar Liora menoleh pada Maminya dan berkata, "Nanti Bibi Arum akan kemari Mi sebentar lagi, beliau sudah ada di jalan."
Tiffa hanya mengangguk dan hanya melihat kepergian anak-anaknya dengan penuh tanda tanya.
Sementara Bunga yang kini sudah berada di dalam ruangan dokter kandungan sudah berbaring di atas ranjang untuk melakukan USG.
"Apa Ibu kemari sendiri lagi? Kemana kali ini suaminya, pergi keluar kota lagi?" Tanya dokter yang diketahui bernama Jane dari tanda pengenal yang dipakainya.
Bunga hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dokter dan selalu itulah yang Bunga katakan.
. . .
"Liora kita mau kemana?" Tanya Max yang ditarik oleh adiknya.
"Kakak diam dan ikut saja!" jawab Liora.
"Dengan cara ini aku bisa membuat Kakak menemani istri Kakak," ucap Liora dalam hati.
"Liora Kakak harus berangkat kerja sekarang, Kakak tidak bisa menemanimu bermain-main," ucap Max marah dan menghempaskan tangan Liora yang sejak tadi menarik tangannya hingga tak lama pandangannya terarah pada tulisan yang ada di sana 'poli kandungan'.
"Kenapa kamu mengajakku ke tempat ini? Liora kamu sedang tidak ha.."
Liora memotong ucapan yang akan Max katakan, "Kakak jangan bicara sembarangan, Ayo ikut!" Ajak Liora kembali menarik Max menuju di mana tempat pemeriksaan.
"Cepat Kakak masuk sekarang!" Perintah Liora kemudian. "Apa Kakak tidak ingin melihat janin yang ada di perut istri Kakak. Apa Kakak tidak mau tahu perkembangan anak Kakak?" Tanya Liora menggenggam tangan Kakaknya.
Max terdiam, kemudian tak berselang lama dia pun membuka pintu itu. Dilihatnya dokter sedang mengoleskan gel pada perut istrinya.
Dokter dan Bunga yang melihat pintu ruangan tiba-tiba dibuka, langsung menoleh bersamaan. Dilihatnya seseorang yang memang Bunga harapkan kehadirannya. Tak terasa air matanya pun menetes. Bunga yang menyadari itu pun langsung menghapus air matanya, dan hal itu bisa Max lihat dengan jelas.
"Maaf Anda ini sia…? Tanya dokter yang terputus karena seperti melihatnya tapi entah dimana dia lupa.
"Bukankah Anda Tuan Maxime Anderson? Maaf Tuan adakah yang bisa saya bantu, apa Anda tersesat hingga sampai disini?" Tanya dokter setelah dia mengingat siapa orang yang kini ada di hadapannya.
"Apa pemeriksaannya sudah selesai dokter?" Tanya Max tanpa menjawab pertanyaan dokter tadi.
"Belum Tuan, saya akan segera menyelesaikannya," jawab dokter bingung.
"Syukurlah," Max menarik nafas lega.
"Maaf aku terlambat," kata Max kepada Bunga.
"Tuan ini, dia.."
"Saya suaminya pasien yang sedang Anda periksa sekarang dokter." Kata Max.
"Oh, maaf Tuan saya tidak tahu, pantas saja Nyonya Bunga selalu sendiri memeriksakan kandungannya, jelas saja pengusaha seperti Anda pasti memang sangat sibuk," kata dokter memaklumi.
"Silahkan Tuan jika Anda ingin melihat anak kalian," tambah dokter mempersilahkan Max untuk mendekat melihat pada monitor. Dokter menjelaskan perkembangan bayinya pada mereka berdua. Sementara Max menatap monitor yang menampilkan anaknya tanpa berkedip sedikitpun. Ada perasaan haru dan hangat yang menyusup dalam hatinya melihat itu.
"Maafkan Papi, Nak karena baru pertama kalinya melihatmu, Papi janji akan lebih memperhatikanmu," ucap Max dalam hati.
Setelah selesai dokter pun membersihkan gel pada perut Bunga dan memberikan resep beberapa vitamin yang bisa mereka tebus. Kemudian sepasang suami istri pun akhirnya keluar dari dalam ruangan kemudian menuju ke apotik yang tersedia.
"Kamu duduk di situ dulu, biarkan aku saja yang menebus vitaminnya," kata Max pada istrinya sambil menunjuk sebuah bagku kosong yang memang di sediakan untuk menunggu. Bunga hanya menurut tanpa banyak berkata. Dia rasanya masih belum percaya, jika saat ini suaminya menemaninya. Dia pandangi Max yang sedang mengantri untuk mengambil obatnya. Bunga tersenyum, hanya hal sesederhana itu tapi sudah membuat perasaannya bahagia.
, , .
,
,