Novel ini adalah cerita tentang perjalanan si kembar Kean dan Lean dalam mencari partner terbaik mereka. Saudara kembar itu mempunyai prinsip jika sudah cinta dengan seorang wanita ingin langsung menikah bukan untuk pacaran.
"Kamu itu bagaikan alkohol yang bercampur dengan ganja, begitu memabukkan dan membuatku candu! Bagaikan langit yang sulit untuk kugapai." Adinda Larasati
"Kamu adalah gadis ceroboh yang bisa membuatku jatuh cinta padamu." Muhammad Keane Ar-rayyan
"Andai aku bisa mendapatkan cintamu, aku ingin segera menikah denganmu." Muhammad Leanne Ar-rayyan
"Dari awal aku tak pernah mencintaimu. Jadi jangan paksa aku untuk bisa mencintaimu!" Leandra Monroe.
" Setelah mencintaimu, hidupku menjadi berubah penuh warna." Nala Avrelia Prayoga
Ikuti kisah mereka hanya di My Best Partner .
Follow ig author : Novi_Rahajeng08
Saran baca novel pendahulunya. Anak Genius: Papa Bucin Yang posesif
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi rahajeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari tempat tinggal (Dinda)
Setelah merasa kenyang, Dinda mengelus perutnya yang sedikit membuncit dan bersendawa.
"Nih, baru makanan yang bisa membuat perut dan hati gue bahagia!" ujarnya yang kembali meminum es teh manis.
Dion geleng-geleng kepala melihat tingkah Dinda yang tidak ada feminimnya.
"Din, Lo tuh cewek tulen apa cewek jadi-jadian sih?"
Dinda melotot saat mendengar pertanyaan Dion.
"Kurang ajar! Lo kira gue apaan? Banci!" seru Dinda yang melempar tusuk gigi ke arah Dion.
"Ya habisnya, Lo tuh gak ada jaim atau feminimnya kayak cewek gitu, heran gue!"
"Lagian, buat apa jaim di depan Lo! Kalau gue jaim bisa-bisa kelaparan," jelas Dinda.
"Oh ya, Gue sampai lupa. Lo kenapa bawa tas besar seperti itu? Kabur ya dari rumah?"
Dinda memperbaiki posisi duduknya. "Bukan kabur sih, lebih tepatnya pergi atau di usir juga bisa karena orang tua gue tahu."
"Sebentar, nih yang bener pergi atau di usir?" Dion semakin serius ingin mendengarkan cerita Dinda.
"Di usir sama bokap, dan Gue sendiri juga udah gak tahan tinggal di rumah itu!" ungkap Dinda.
"Terus nyokap, gak ngelarang gitu Lo pergi dari rumah? Dan__kenapa Lo bisa di usir?" entah begitu banyak yang ingin Dion tanyakan karena dia belum paham dengan ucapan Dinda.
"Lo jadi laki kepo juga, ya?" goda Dinda jadi tersenyum.
"Yaelah, Gue seriusan mau tahu. Siapa tahu gue bisa bantu apa gitu?" jelas Dion.
"Sudah, gak perlu. Cukup Gue simpan sendiri! Kalau Lo mau bantuin, lebih baik bantu cariin kos kosan buat tempat tinggal Gue."
Dinda tidak mau lebih banyak orang tahu tentang masalah bapaknya, dia tidak suka dikasihani. Di lihat dan dibantu oleh Kean langsung saja sudah membuat dia merasa malu, apalagi kalau dion sampai tahu.
Selama ini, Dinda memang lebih tertutup tentang masalah keluarganya. Yang dia ceritakan kepada Dion hanya ketika ada masalah kampus, pekerjaan, atau keuangan saja.
Dion hanya tahu kalau Dinda bukanlah orang kaya, sehingga dia harus bekerja lebih keras dari orang lain. Uang bagi Dinda sangatlah berarti, jadi harus bisa menghemat penghasilannya.
"Lo mau cari kos kosan yang seperti apa?"
"Yang jelas jangan mahal, deket angkutan umum, aman kalau bisa deket kantor magang gue."
Dion terlihat sedikit berpikir, di mana dia harus mencarikan tempat kos kosan seperti itu. Kalau dekat kantor tempat Dinda magang, tidak mungkin ada yang murah karena di sana kawasan apartemen dan perumahan Elit. Kalaupun kos kosan juga, harganya cukup mahal.
"Kalau misalnya rumah yang mempunyai kamar banyak dan khusus wanita, Lo mau?"
"Nah itu boleh juga! Di mana?"
"Kebetulan tante Gue punya, tapi lumayan jauh dari kantor tempat Lo magang. Kalau Lo mau cari di sana, susah cari yang murah."
Dinda berpikir kembali, apa yang di ucapkan Dion benar juga. "Yaudah deh gapapa, tapi cari angkutan umum gampang, kan?"
"Cukup gampang, Tapi, yang punya kos kosan cerewet dan galak!" ungkap Dion.
Dinda tersenyum. "Kalau masalah cerewet gue udah kebal! Kalau gitu kita langsung ke sana saja," ajak Dinda.
Setelah itu, Dinda membayar makanannya dan pergi menuju kos kosan yang di maksud oleh Dion. Sekitar perjalanan setengah jam, mereka sampai juga di tempat kos kosan tante Dion.
Di sana, terlihat seorang wanita gemuk, dengan daster serta lipstik merah menyala, sedang duduk di depan teras sambil memegang kipas. Saat melihat siapa yang datang, Dia langsung tersenyum dan menghampiri Dion.
"Astaga ... Tante kira tadi siapa, ternyata brondong tampan," sapa Tante Mirna sambil mencubit pipi Dion.
Dion hanya tersenyum sambil menahan rasa sakit pipinya karena di cubit cukup keras. Melihat Dion tak datang sendiri, membuat Tante Mirna melirik ke arah Dinda dengan tatapan tak suka.
" Dia siapa? "tanya tante Mirna seraya membuka kipas tangannya.
" Dia temen Dion, Tan. Sedang cari kos kosan, apa masih ada yang kosong? "tanya Dion sopan.
" Oh... Teman, kirain pacar kamu? " cetus tante Mirna.
" Bukan kok Tan, saya hanya temennya Dion, "sahut Dinda.
Di karenakan tak enak bicara di teras, Tante mirna mengajak Dinda dan Dion masuk ke dalam rumah. Setelah mereka duduk di sebuah sofa, Dinda menanyakan kembali perihal kamar kosnya apakah masih ada apa tidak.
" Ada sih satu, tapi kamu yakin sanggup dengan syarat dan peraturan tinggal di sini?" Tante Mirna menatap Dinda dari atas sampai ujung kaki.
Sadar kalau sedang di nilai, membuat Dinda melihat ke penampilannya.
" Memang syarat peraturannya apa, Tan? "tanya Dinda dengan sopan. Sebenarnya dia paling tidak suka ada yang menilai penampilannya, tapi karena dia sedang butuh tempat tinggal ini, terpaksa dia menahan emosinya.
" Jangan pernah bawa laki-laki masuk, tidak boleh telat bayar uang sewa, harus rukun, tidak boleh pulang lewat jam 12 malam ____" Tante Mirna terus mengatakan apa saja yang harus Dinda patuhi.
Dinda. Mendengarkan dengan seksama apa yang di ucapkan oleh Tante mirna tentang persyaratan tinggal di kos kosannya, dan kebetulan Dinda tidak merasa keberatan dengan aturan itu.
" Baiklah, kalau begitu kamu boleh tinggal di sini, tapi bayar uang muka dua bulan," jelas Tante Mirna.
"Kalau misalnya transfer bisa nggak, Tan. Soalnya saya tidak punya uang cash banyak," ungkap Dinda.
Tante Mirna mengangguk, dan setelah itu Dinda membayar uang yang sudah di janjikan. Untung saja Dinda selalu menabung uang hasil kerjanya. Jadi, untuk beberapa minggu ke depan masih aman.
Setelah itu, Dion pamit untuk pulang dulu. Sedangkan Tante Mirna mengantar Dinda menunjukan kamarnya.
Kamar itu cukup luas di banding kamarnya dulu, dan bersih juga. Sepertinya Tante Mirna suka kebersihan, seperti ibunya.
"Oh ya, Kalau tinggal di sini harus jaga kebersihan karena saya tidak suka sesuatu yang berantakan dan kotor!"
"Iya, Tan."
Setelah itu, Tante Mirna pergi meninggalkan Dinda. Dinda meletakkan tasnya, dan merebahkan tubuh di atas kasur. Tubuh dan pikirannya benar-benar terasa lelah.
Dinda menghembuskan nafas panjangnya, dia masih terus kepikiran dengan bagaimana kabar Ibu dan adiknya. Apalagi saat pergi, keadaan rumahnya sedang tak baik-baik saja.
Dia ingin sekali membawa Ibu dan adiknya pergi dari rumah itu, tapi entah kenapa Ibunya masih mau bertahan tinggal bersama pria itu.
Apa mungkin ada sesuatu yang Ibu sembunyikan? Semoga bukan sesuatu yang buruk, batin Dinda.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ternyata sebuah pesan singkat dari ibunya.
Ibu : Kamu dimana sekarang, Din? Apakah sudah mendapatkan tempat tinggal. Jika tidak, pulanglah Nak.
Dinda : Dinda sudah menemukan tempat tinggal, Bu. Jika ada pria itu tidak ada di rumah, Dinda akan ke sana untuk menjenguk Ibu dan Devan. Tapi, untuk kembali tidak. Andai Ibu berubah pikiran ingin pergi juga dari rumah itu, beri tahu Dinda. Dinda akan datang menjemput Ibu dan Devan.
Setelah beberapa menit, tetap tidak ada balasan pesan dari Ibunya. Membuat Dinda tertidur, menyelam dalam alam mimpi.
...****************...
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya yang banyak ya...
😊