"Mungkin aku memang pemain wanita, tapi aku tidak akan menelantarkanmu karena kamu sedang mengandung anakku." Adrian.
"Jika aku tidak mengandung anakmu, apakah kamu tetap akan bertanggung jawab padaku?" Amira.
Sebuah kecerobohan yang dilakukan Amira membuatnya harus kehilangan kesuciannya dan mengandung benih dari Adrian, pria yang terkenal dengan julukan casanova. Amira harus menjadi selir rahasia dari Adrian sampai ia melahirkan bayinya.
Follow ig : Siran_rhmwtii6
facebook : Siran Ran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konspirasi Tasya
"Terima kasih sudah tepat waktu!" Ucap wanita dengan dress selutut berwarna biru sambil memberikan sebuah amplop berwarna coklat lumayan tebal.
Wanita lain yang duduk berhadapan dengannya menerima amplop tersebut, kemudian tersenyum bahagia.
"Kedepannya kamu akan tinggal bersamaku, agar nanti saat waktunya tiba aku tidak akan kesulitan. Anak itu untukku, 1 Milyar untukmu." Tasya mengulurkan tangannya, mengajak wanita di hadapannya bersalaman.
Wanita itu membalas uluran tangan Tasya, keduanya sepakat dengan apa yang Tasya ucapkan.
"Saat kandunganmu mulai membesar, aku akan menjemputmu! Jangan lupa katakan pada Tante Sera bahwa aku akan mengirimnya nanti!" Wanita itu hanya mengangguk, kemudian menatap amplop yang berada di tangannya. Dengan isi sejumlah uang miliknya sendiri, tanpa harus dibagi seperti uang yang ia dapatkan di tiap malam saat menjadi kupu-kupu malam.
"Sekarang pergilah, sebelum suamiku melihatmu!"
Tasya merebahkan dirinya di atas sofa, punggungnya bersandar pada sofa yang lembut tersebut. Ia menghela napas lega, pikirannya mengingat apa yang tadi terjadi.
"Hampir saja aku celaka, jika tidak ada wanita j*lang itu." Gumamnya sambil memejamkan matanya.
Saat baru beberapa detik matanya terpejam, sebuah pijatan ringan mendarat di pelipisnya. Terasa nyaman, namun membuat Tasya terkejut juga. Sebab ia tidak tahu pemilik tangan yang kini memijat pelipisnga tersebut.
Perlahan Tasya membuka matanya, meraih tangan yang masih memijat pelipisnya. Memperhatikan garis tangan itu baik-baik, ia mengenal betul itu tangan siapa.
"Adrian."
Pemilik tangan itu tersenyum, kemudian memutar posisi dan duduk di sebelah Tasya.
"Maafkan aku karena mencurigaimu." Adrian melingkarkan tangannya di pinggang Tasya, menempelkan dagunya di bahu Tasya, membuat Tasya merasakan hembusan napas Adrian yang berhembus di lehernya.
"Curiga apa?" Tasya memulai dramanya yang sempat tertunda.
"Ya, aku pikir kau... Berbohong tentang kehamilanmu."
"Adrian, mana mungkin aku berbohong. Bukankah kamu sangat ingin memiliki anak? Jadi aku tidak mau mengecewakanmu." Tasya terus mengucapkan kebohongan yang membuat hati Adrian meluluh bagaikan besi yang di panaskan.
Sekeras-kerasnya besi, akan mencair jika terus di panaskan. Kamu hanya milikku Adrian, tidak akan pernah bisa kamu meninggalkanku!
Tasya tersenyum bangga, kini laki-laki yang menjadi sarang uangnya telah kembali.
...****************...
Hari mulai menjelang sore, Mira masih berada di luar kamarnya yang terdapat balkon yang bisa melihat luasnya halaman apartemen yang kini ia tempati.
"Huft, kenapa dia tidak mengunjungiku?" Ia bergumam sendirian.
Dari bawah, seorang pria mendengar gumaman Mira yang cukup keras.
"Hei, cantik! Ayo jalan-jalan!" Teriak Damian dari bawah.
Mira menundukan kepalanya, melihat sosok pemilik suara itu. Ia tersenyum tipis melihat sosok Damian.
"Apa boleh aku berkunjung ke kediamanmu?!" Teriak Damian yang digelengi oleh Mira.
"Kenapa?"
"Suamiku akan datang!" Mira menjawab, kemudian bergegas masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dengan cukup keras.
"Jadi kalau suaminya tidak ada, aku boleh berkunjung ya?" Gumam Damian sambil menjentikan jarinya.
Damian tersenyum jenaka, kemudian ikut melakukan apa yang Mira lakukan, ia masuk ke dalam kamarnya. Namun ia tak diam di kamar, melainkan turun menuju lantai paling bawah di apartemen.
Ia menuruni apartemen dengan lift, tepat pada saat lift sudah mencapai dasar apartemen dan terbuka, ia berpapasan dengan Adrian yang sedang menunduk dengan ponsel di tangannya.
Damian juga tidak melihat Adrian, hingga keduanya saling bertabrakan.
Bruk
"Ah, maaf, maaf, Pak! Aku tidak melihat jalanan tadi!" Damian membantu Adrian berdiri.
"Ya, tidak apa-apa." Suara dingin Adrian yang kini tengah memungut ponselnya.
Damian membersihkan pakaian Adrian yang kotor terkena lantai yang kotor, setelah selesai ia menundukan kepalanya sebentar.
"Sekali lagi aku minta maaf, Pak!"
"Sudahlah, tidak apa-apa." Adrian menepuk bahu Damian pelan, setelah itu ia berlalu memasuki lift.
Adrian berhenti tepat di depan pintu kamar Mira. Ia membuka pintu tanpa mengetuknya lebih dulu. Sehingga Mira yang sedang berada di dapur tidak menyadari kedatangannya.
"Apa kau tidak pernah keluar apartemen?"
Mira hampir saja meloncat karena terkejut.
"Tidak. Eh, kapan kau datang, Tuan?" Mira sedikit mundur dari depan kompor.
"Apa kau tidak bosan? Setidaknya keluarlah! Aku memberimu uang dalam kartu itu, pergilah berjalan-jalan!" Adrian tak menjawab pertanyaan Mira. Justru ia langsung menegur Mira.
Mira tersenyum malu-malu. Ia juga tidak terpikirkan harus jalan-jalan kemana.
"Apa boleh aku jalan-jalan dengan laki-laki?" Mira menutup mulutnya sendiri dengan tangannya. Pertanyaan bodoh yang ia lontarkan, terlalu berani tanpa memikirkan konsekuensi pertanyaannya.
Adrian menatap tajam Mira. Ia mendekati Mira.
Braak...
Gebrakan meja terdengar keras.
"Kau sedang mengandung anakku, aku tidak mau darah anakku bercampur darah pria lain!" Suara Adrian terdengar menyeramkan, begitu juga dengan ekspresi wajahnya.
Tangan Mira gemetar. Tubuhnya melemas. Hatinya sangat ketakutan.
"Ma-maaf, Tu-tuan!" Ucap Mira terbata-bata.
"Ingat baik-baik, kau tidak akan hidup jika berani bersentuhan sedikit saja dengan keadaanmu saat ini!" Adrian menyentuh kedua bahu Mira.
Tatapannya sudah seperti Singa yang akan menerkam musuhnya hingga tiada.
"Ya, Tu-tuan!"
Tiiiitttt...
Sebuah bunyi mengalihkan perhatian Adrian. Bunyi yang berasal dari mesin pemanggang.
Adrian mematikannya, kemudian mengeluarkan isi alat pemanggang. Sebuah pizza istimewa kini berada di tangannya.
"Makanlah!" Perintah Adrian sambil meletakannya di atas meja. Kemudian meninggalkan Mira yang masih terpaku di dapur.
Sebuah aroma kembali mengalihkan perhatian Mira, aroma gosong masakan yang ia lupakan karena rasa takut akan berhadapan dengan Adrian.
Ia mengusap dadanya yang terasa perih dan sakit, bagai di tikam ribuan jarum yang sangat tajam. Apakah nasibnya harus selalu seperti ini?
Pertama ibunya tiada, kemudian ayahnya menikah dengan wanita yang hanya pura-pura baik. Setelah ayahnya tiada, bahkan Mira harus terusir dari rumah miliknya sendiri.
Sekarang apalagi? Mira terbelenggu oleh benih seorang CEO pemain wanita yang tumbuh di rahimnya. Lalu esok apalagi? Mira cukup takut memandang hari esok.
Namun ia tak berhenti berpikir jauh ke depan, karena ia tahu setelah anaknya lahir maka ia harus memulai hidup baru. Mira bahkan telah merencanakan hal-hal untuk masa depan dari sekarang.
Ia menyudahi lamunannya, menatap Pizza istimewa yang dibuatnya sendiri.
"Mira, kau kuat!" Mira menegarkan diri.
...****************...
"Tante tidak usah khawatir, aku akan membantu Tante menemukan orang yang akan membesarkan kembali bisnis Tante!" Tasya terlihat sibuk berbisik pada telepon pada waktu yang telah menunjukan pukul 1 dini hari.
Adrian yang baru pulang tentu saja menghela napas panjang sambil menghampiri Tasya dan merebut ponsel yang menempel di telinga Tasya.
Adrian mematikan telepon itu.
"Pukul 1 malam, kau masih terbangung dan berbicara dengan seseorang di telepon? Kau sedang hamil, Tasya!" Tegur Adrian sambil melihat history panggilan Tasya.
Terlihat nama Tante di panggilan terakhir Tasya.
"Tante Sera?"
Deg...
"Tasya?!"
Bersambung...
apa bedanya dengan Adrian yang celup sana sini, alias Casanova 🤦🏻♀️
g punya kaca X Adrian 🤣🤣🤣🤣
mira.....liat apa an?????