Seorang santri perempuan yang menetap di sebuah pesantren yang terletak di sebuah kampung kecil.
Dia mondok di pesantren sejak usia sebelas tahun.
Pesantren itu di khususkan untuk wanita saja,karena guru guru di pesantren itu juga wanita yang di sebut ustadzah.Namun,ada satu orang guru laki laki yang di sebut Ustadz.
Ustadz itu masih muda.Dia baru pulang dari pesantren.Namun dia di cegah oleh ibunya yang menjadi pimpinan pesantren itu agar tidak berangkat ke pesantren lagi supaya bisa membantu mengajar di pesantren yang di pimpin ibunya itu.
Hampir semua santri wanita mengagumi Ustadz muda itu.Namun hanya satu orang yang di pilih Ustadz muda itu.
Siapa yang di pilih Ustadz muda tampan itu? dia adalah pemeran utama wanita di novel ini....
Bagai mana ceritanya?
Ikuti alur ceritanya!
Salam hangat dari Author....
Ig/fb :AuthorSyiba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syiba', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19 proposal
Setelah sampai di pesantren,Hana langsung membantu bu Ani dan bu Tia di dapur umum pesantren memasak untuk makan malam.
Di pesantren itu hanya makan dua kali,siang dan malam,tidak ada sarapan.Tapi,jika ingin sarapan,para santri boleh membeli makanan apapun itu yang ada di kantin.Namun,tidak boleh keluar dari lingkungan pesantren.
Kang Hatim melanjutkan pekerjaannya yang sebenarnya belum selesai.Yaitu membuat proposal.
"Assalamualaikum!" kata teh Alvi dan langsung masuk ke ruangan di mana kang Hatim berdiri.
"Waalaikumusalam!" jawab kang Hatim dan mencium tangan teh Alvi.
"Belum selesai?" tanya teh Alvi.
"Belum!"
"Kok lama,biasanya kamu kerja cepat!"
"Aku di suruh ke pasar beli bahan makanan oleh teh Zahra!"
"Emangnya kamu tahu ke pasar mana?"
"Aku ke sana ngajak Hana,jadi aku tahu!"
"Cie,gimana? bahagia bisa berduaan?"
"Biasa aja!"
"Kamu kapan sih mau beritahu dia?"
"Sudah ku katakan,aku mau mengetesnya dulu!"
"Kalau saran teteh sih ya,lebih baik kamu cepat cepat beri tahu Hana,takutnya,jika terlalu lama,Hana mencintai pria lain!"
"Itu yang aku takutkan,aku takut dia sekarang sedang mencintai pria lain,tapi siapa? kan dia tidak pernah kenal sama laki laki!"
"Siapa tahu dia ke pasar,atau saat jarah berjumpa dengan seseorang!"
"Tidak mungkin,aku akan berusaha agar aku bisa sering bersamanya!"
"Ya sudah terserah kamu saja,kamu senang gak pergi ke pasar?"
"Aku kapok kak,lain kali aku tidak akan mau jika di suruh ke pasar,kak Dawa sekalipun yang nyuruh,aku tidak mau!"
"Kenapa? bukankah jika kamu pergi ke pasar lagi kamu bisa pergi berdua dengan Hana?"
"Iya sih,tapi di sana itu banyak yang membuat aku berdosa kak,ada yang gak pakai hijab,ada yang pakai rok mini,ada yang seperti tidak pakai baju,wah rupa rupa pokoknya!"
"Kamu melihatnya?"
"Makanya aku tahu!"
"Kamu terus menatapnya?"
"Jelas tidak,aku berjalan sambil menunduk,aku hanya melihat langkah kaki Hana!"
"Biasanya kamu pakai kaca mata!"
"Aku lupa bawa!"
"Ya sudah,mana proposal yang aslinya?" Kang Hatim memberikan proposal yang dia buat.
"Mau di ajukan ke mana?"
"Ke desa,ke kecamatan,ke kabupaten kalau bisa!"
"Aku akan mencoba ke pak Bima!"
"Pak Bima mana?"
"Ayah mertuaku!"
"Nah,bagus tuh!"
"Kita minta juga sama para santri,mau itu santri wanita atau pria,lumayan walau hanya sepuluh ribu!"
"Iya,teteh juga bermaksud seperti itu!"
"Heem!"
"Ya sudah,teteh pergi dulu ya,terima kasih!"
"Iya sama sama!"
"Assalamualaikum" teh Alvi pun pergi dari ruangan kang Hatim.
"Waalaikumusalam!"
"Assalamualaikum!" kata Hana di luar ruangan kang Hatim.
"Waalaikumusalam,masuk!" kata kang Hatim sambil menunjukan wajah dingin.Tapi,hatinya sangat bahagia.
"Maaf ganggu kang!" kata Hana sambil mencium tangan suami yang belum dia tahu itu.
"Ada apa?"
"Saya mau membayar uang yang di pakai beli kalam kang!" kata Hana menyodorkan uang.
"Simpan saja uang mu itu untuk kebutuhan yang lain,dan jangan meminta uang pada ayahmu,jika kamu sudah kehabisan uang,bicara pada saya.Itu kewajiban saya harus memenuhi semua kebutuhanmu!"
"Apa? kenapa begitu kang?"
"Emh,karena ayah kamu sudah menitipkan uang pada saya untuk kamu!"
"Ooh iya kang!"
Biasanya ayah tidak mudah percaya sama orang lain,apalagi yang baru ia kenal.Apa karena kang Hatim ustadz?
seharusnya di bayar lebih baju nya...