NovelToon NovelToon
MATA TAKDIR

MATA TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kultivasi Modern / Komedi
Popularitas:671
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.

Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.

Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!

Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?

#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern

#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa

#ZeroToHero #BenciJadiCinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Likuidasi Lapangan dan Sidang Meja Hijau Gaib

Suara ketukan tongkat kayu berujung besi itu kembali terdengar dari balik pintu kaca kantor yang buram. Tok. Tok. Tok. Setiap ketukan terasa seperti hantaman palu godam tak kasat mata yang langsung memukul ulu hati Lina. Udara di dalam ruangan kantor cabang Tomang yang mati lampu itu mendadak turun drastis. Uap putih tipis mulai keluar dari mulut Lina setiap kali dia mengembuskan napas, sementara embun es mulai merambat cepat di permukaan kaca-kaca kubikal karyawan.

Pak Bambang dan teman-teman sekantor lainnya masih mematung di posisi masing-masing. Mereka tidak pingsan, tapi tubuh mereka seperti dikunci oleh pembekuan waktu birokrasi. Hanya mata mereka yang bergerak-gerak panik, menatap pintu depan yang kini perlahan-lahan mulai memancarkan pendar hitam keunguan dari sela-sela engselnya.

"Lin... itu... itu siapa sih di depan?" Dika berbisik sembari berusaha merangkak turun dari kursinya. Tangannya masih memegangi pinggang belakang dengan muka sekusut cucian belum disetrika tiga minggu. "Kok hawanya mirip freezer tukang daging di pasar ya?"

"Musuh lu yang sesungguhnya, Dik," Lina menyambar patahan pulpen butut dua ribu rupiah yang tadi dia pakai buat nge-koreksi data. Meskipun tintanya sudah meleleh habis, plastik pulpen itu masih menyisakan sisa kehangatan dari energi Jurnal Pembalik Takdir. "Tujuh dukun Gunung Lawu. Pendiri firma The Seven Actuaries. Lu baru aja bikin perusahaan energi mereka bangkrut total, dan sekarang mereka ke sini buat nagih ganti rugi secara fisik."

"Hah?! Perusahaan energi apaan? Gue kan cuma magang input jurnal umum, Lin!" Dika panik, wajah manusianya yang lempeng dan penakut kembali seratus persen. Tapi di bawah kulit lengannya, gumpalan cahaya emas tipis samar-samar mulai bergerak dinamis, merespons ancaman besar yang sedang mendekat. Jiwa purba Akuntan Langit di dalam dirinya menolak untuk tunduk begitu saja.

KREEEEK.

Pintu kaca depan kantor yang harusnya terkunci magnet karena mati lampu, mendadak retak seribu sebelum akhirnya pecah berantakan menjadi serpihan kristal kecil. Tujuh sosok orang tua berjalan masuk melewati pecahan kaca dengan langkah yang sangat teratur.

Mereka semua mengenakan jubah hitam tenunan tradisional, namun di balik jubah itu, mereka memakai kemeja sutra mahal dengan dasi sutra bermotif grafik saham. Wajah-wajah mereka keriput, kulitnya sepucat mayat yang diawetkan, dengan mata yang tidak memiliki bagian putih sama sekali—hanya ada pusaran warna hitam pekat yang memancarkan kebencian mutlak. Masing-masing dari mereka membawa benda pusaka yang aneh: ada yang memegang sempoa dari tulang manusia, ada yang membawa keris bergagang pulpen premium, dan yang paling depan—sang pemimpin—memegang tongkat kayu berujung besi.

"Dika Pradipta... Sang Penjaga Buku Besar," suara orang tua yang paling depan terdengar seperti gesekan dua batu kuburan. Sangat parau, namun bergetar dengan energi mistis yang membuat monitor-monitor kantor yang sudah mati mendadak mengeluarkan percikan api. "Kamu pikir... dengan pulpen butut dua ribu rupiah itu, kamu bisa menghapus utang darah yang sudah kami pupuk selama dua puluh tahun di lereng Lawu?"

Dika refleks mundur sampai pantatnya menabrak meja kerja. "Mbah... kalau soal utang, mending bicarain baik-baik sama bagian finance, Mbah. Saya cuma anak magang, gak punya wewenang buat approve diskon utang..."

"Diam kau, Arwah Terkutuk!" dukun kedua di barisan belakang membentak, menghentakkan sempoa tulangnya ke udara. Klak-klak-klak. Bunyi biji sempoa itu memicu gelombang ultrasonik yang membuat sisa-sisa kertas dokumen di ruangan kantor beterbangan, lalu menempel di dinding-dinding kubikal membentuk pola baris pengadilan.

Seketika itu juga, tata ruang kantor cabang Tomang berubah total secara metafisika. Meja-meja kubikal bergeser sendiri dengan cepat, menyusun sebuah lingkaran besar yang menyerupai ruang sidang pengadilan niaga, namun dengan nuansa distopia mistis. Tujuh dukun Gunung Lawu itu mendadak duduk di atas kursi hakim yang tinggi menjulang dari lantai marmer hitam yang tumbuh dari bawah karpet.

Dika dan Lina berdiri di tengah-tengah lingkaran tersebut, terisolasi sebagai terdakwa dalam Sidang Meja Hijau Gaib.

"Sidang Likuidasi Lapangan atas nama Terdakwa Dika Pradipta secara resmi dibuka," ucap sang pemimpin dukun, mengetukkan tongkat besinya ke lantai. Brak! "Dakwaan pertama: Sabotase Aset Likuiditas Wijaya Corporindo. Dakwaan kedua: Manipulasi Jurnal Kausalitas Makro PT Lawu Nusantara Energy. Total kerugian firma: Sembilan Juta Soul Units."

"Kalian yang manipulasi duluan!" Lina berteriak, maju satu langkah di depan Dika dengan berani. "Kalian pakai panti asuhan tempat Dika tumbuh besar sebagai ladang ternak energi doa anak yatim! Kalian rampas jatah umur pekerja magang demi grafik saham! Kalau ada yang harus dilikuidasi di sini, itu adalah firma kalian yang busuk!"

Dukun wanita di barisan hakim tertawa melengking, sebuah suara yang bikin telinga Lina berdenging sampai mengeluarkan darah tipis di sudut lubang telinganya. "Gadis kecil yang bodoh... hukum alam tidak mengenal moralitas baik atau buruk. Hukum alam hanya mengenal keseimbangan angka. Siapa yang berkuasa, dialah yang menulis standar akuntansinya. Dan hari ini, karena Dika telah menihilkan aset kami di Gunung Lawu, maka seluruh sisa umur biologis dari kalian berdua dan seluruh manusia di dalam gedung ini... akan disita sebagai jaminan pengganti!"

Dukun itu mengangkat tangannya. Keris bergagang pulpen premium miliknya dicabut dari warangka. Bilah keris itu tidak lurus, melainkan meliuk-liuk membentuk grafik candlestick bursa saham yang sedang anjlok drastis. Dari ujung keris tersebut, keluar puluhan rantai hitam yang melesat cepat ke arah Pak Bambang dan karyawan lainnya yang masih mematung.

Rantai-rantai itu mulai menancap di dada para karyawan, perlahan-lahan menarik keluar pendar cahaya kehidupan berwarna putih keperakan dari tubuh mereka. Pak Bambang mulai batuk-batuk darah, kulit wajahnya mendadak keriput dalam hitungan detik.

"Gak bisa dibiarin..." Dika melihat pemandangan itu, dan sesuatu di dalam dadanya mendadak meledak. Rasa takut manusianya lenyap, digantikan oleh kemarahan suci yang luar biasa.

Gue emang cuma Dika yang miskin dan encokan, pikirnya. Tapi gue gak akan pernah biarin orang-orang yang gak bersalah mati cuma gara-gara angka sialan ini!

Pendar emas purba keluar dari pori-pori kulit Dika, menelan habis sisa-sisa energi biru keperakan milik The Seven Actuaries. Sepatu sandal jepit hijaunya mendadak hancur berkeping-keping, digantikan oleh pijakan kaki telanjang yang memancarkan riak cahaya keemasan setebal sepuluh senti di atas lantai marmer hitam sidang.

"Mbah-mbah sekalian..." Suara Dika berubah lagi. Berat, bergaung, dan beresonansi langsung dengan fondasi bumi. Dua jiwa di dalam tubuhnya akhirnya menyatu sepenuhnya, bukan karena paksaan sistem, melainkan karena kesamaan kehendak untuk menegakkan keadilan yang jujur. "Kalian terlalu lama bermain dengan angka sampai lupa... kalau buku besar yang asli itu bukan milik firma kalian."

Dika mengangkat tangan kanannya ke udara. Patahan pulpen butut yang dipegang Lina mendadak terlepas dari tangan gadis itu, melayang ke genggaman Dika. Di tangan Dika, patahan plastik murah itu meleleh, bertransformasi menjadi sebuah ganjur atau pena kuas besar kuno yang terbuat dari jalinan cahaya emas padat—Pena Audit Langit.

"Aku, sebagai Kurator Utama Karma Purba..." Dika mengayunkan kuas emasnya di udara, menuliskan sebuah aksara kuno berukuran raksasa yang berarti 'Nihil'. "...dengan ini menyatakan seluruh dakwaan kalian tidak sah demi hukum alam! Kalian telah melakukan insider trading terhadap takdir manusia!"

Wuuussss!

Gelombang cahaya emas berbentuk lingkaran riak air menyebar dari tebasan kuas Dika. Begitu cahaya itu mengenai rantai-rantai hitam yang mengikat Pak Bambang dan karyawan lainnya, rantai tersebut rontok dan hancur menjadi abu putih seketika. Cahaya kehidupan yang sempat tertarik keluar langsung tersedot balik ke dalam dada para karyawan, membuat mereka terengah-engah mencari oksigen namun selamat dari kematian.

"Kurang ajar! Hancurkan wadah manusianya!" raung pemimpin dukun Gunung Lawu.

Tujuh hakim dukun itu serentak melompat dari kursi tinggi mereka. Mereka melepaskan seluruh kultivasi hitam mereka, mengubah ruang kantor cabang Tomang menjadi badai pusaran energi kelam yang dipenuhi oleh wajah-wajah distopia penuh jeritan—manifestasi dari jutaan jiwa yang pernah mereka jadikan tumbal bisnis selama dua dekade.

Tujuh senjata pusaka gaib melesat serentak dari segala arah, mengincar titik meridian utama di tubuh Dika. Kecepatannya begitu tinggi hingga menciptakan robekan hampa udara di dimensi astral ruang sidang.

Lina berteriak histeris, mencoba berlari untuk melindungi Dika, namun tekanan energi hitam itu begitu kuat hingga menahan tubuhnya tetap menempel di lantai. "Dikaaaaa!!!"

Dika tidak menghindar. Dia justru memejamkan matanya, membiarkan tujuh senjata pusaka itu tinggal berjarak beberapa senti dari kulit tubuhnya. Di detik-detik krusial itu, Dika menghentakkan tumit kanannya ke lantai dengan kekuatan penuh.

“BUMMMM!!!”

Bukan suara ledakan hancur, melainkan suara ketukan palu sidang raksasa yang bergaung dari langit-langit runtuh dimensi gaib tersebut. Ruang sidang marmer hitam itu mendadak retak, dan dari balik retakan tersebut, muncul miliaran lembar kertas kuitansi dan dokumen kuno yang melayang statis di udara, membentuk perisai raksasa yang melingkari tubuh Dika.

Itu adalah Perisai Rekonsiliasi Fiskal. Setiap lembar kertasnya berisi catatan kebaikan kecil dari manusia-manusia biasa yang pernah Dika bantu selama hidupnya—catatan jujur yang tidak bisa dimanipulasi oleh sistem komersial The Seven Actuaries.

Tujuh senjata pusaka milik para dukun menghantam perisai kertas tersebut, dan alih-alih menembusnya, senjata-senjata itu langsung tumpul, berkarat, dan hancur menjadi serpihan logam tak berguna dalam hitungan fraksi detik. Energi hitam para dukun terserap habis, dinetralkan oleh kemurnian catatan kebaikan yang tulus.

"S-tidak mungkin... kekuatan apa ini?!" pemimpin dukun terhuyung mundur, memegangi tongkat kayunya yang kini patah menjadi dua. Wajah keriputnya mendadak mengelupas, menampilkan wujud aslinya yang sangat rapuh dan ringsek oleh beban karma buruk yang berbalik menghantam dirinya sendiri.

Dika membuka matanya. Pendar emas di sepasang maniknya begitu pekat hingga menerangi seluruh sudut kantor Tomang yang gelap. Dia mengarahkan kuas emasnya tepat ke arah tujuh dukun yang kini sudah lemas tak berdaya di atas lantai.

"Sidang ini selesai," ucap Dika dingin, suaranya mutlak bagai ketetapan takdir. "Berdasarkan pasal akuntansi alam semesta, firma kalian resmi di-Likuidasi Paksa. Seluruh sisa umur dan kejayaan yang kalian curi akan dikembalikan ke bumi. Dan jiwa kalian... akan diserahkan ke bagian pemeriksaan akhir di dasar neraka."

Dika menjentikkan jarinya. Tik.

Sebuah lubang hitam metafisika berbentuk pusaran angka nol raksasa terbuka tepat di bawah kaki tujuh dukun Gunung Lawu. Tanpa sempat berteriak lagi, ketujuh sosok penguasa kapitalisme mistis itu langsung tersedot masuk ke dalam lubang tersebut, lenyap sepenuhnya dari dunia fana bersama dengan seluruh sisa-sisa ruang sidang gaib mereka.

Brak.

Lampu-lampu neon di kantor cabang Tomang mendadak menyala kembali dengan normal. Suara bising mesin printer yang macet dan keluhan Pak Bambang soal data perpajakan kembali terdengar, seolah-olah waktu yang sempat membeku tadi baru saja dilepaskan tombol play-nya.

"Aduh... pusing banget ya hari ini," Pak Bambang memegangi kepalanya, kelihatan agak bingung tapi kembali mengetik di komputernya. Mereka semua sama sekali tidak ingat kalau beberapa menit lalu nyawa mereka hampir saja disita sebagai jaminan utang.

Lina perlahan berdiri, tubuhnya masih lemas. Dia melihat ke arah kubikal Dika.

Pena kuas emas raksasa itu sudah hilang. Dika kini sedang duduk lesehan di lantai karpet dengan tampang super melas, melihat kedua jempol kakinya yang telanjang karena sandal jepit hijaunya bener-bener hancur jadi abu di lantai.

"Lin..." Dika menoleh ke arah Lina dengan mata berkaca-kaca, suaranya kembali cempreng dua oktaf. "Sandal jepit kesayangan gue hancur, Lin. Mana dompet gue tinggal isi dua puluh ribu lagi. Ini gue balik kosan musti nyeker apa gimana ya?"

Lina menatap Dika selama beberapa detik, sebelum akhirnya meledak dalam tawa yang sangat lepas. "Udah ah, cup-cup-cup, ntar gue beliin sandal baru yang ada gambar kartunnya biar lu seneng. Yang penting sekarang... lu beneran udah bebas kan, Dik?"

Dika tersenyum tulus, mengangguk pelan. Dia merasakan dadanya kini terasa sangat ringan. ID card biru tua milik The Seven Actuaries sudah musnah tanpa sisa. Dua jiwa di dalam dirinya kini sudah beristirahat dengan damai, membaur menjadi satu kepribadian Dika yang utuh: seorang manusia biasa yang punya kompas moral penegak keadilan langit.

Namun, tepat ketika Lina hendak membantu Dika berdiri, ponsel butut Dika yang layarnya retak seribu di atas meja mendadak bergetar hebat. Bzzzzt... bzzzzt...

Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal. Dika meraih ponselnya, membuka pesan tersebut, dan sedetik kemudian, wajahnya kembali pucat pasi melebihi wajah para dukun tadi.

Lina ikut melongok ke layar ponsel Dika. Pesan itu berisi sebuah foto slip transfer bank resmi dengan nominal yang bikin mata mereka berdua mau copot, dikuti oleh sebuah teks pendek:

"Halo, Rekan Dika. Pengosongan posisi di Menara Ketujuh akibat likuidasi mandiri Anda baru saja memicu sistem suksesi otomatis. Selamat, berdasarkan algoritma regulasi terbaru, Anda kini secara resmi dipromosikan menjadi CEO Tunggal Global dari The Seven Actuaries. Dana operasional awal sebesar 50 Triliun Rupiah sudah ditransfer ke rekening pribadi Anda. Orientasi kerja direksi menanti Anda besok pagi di Singapura."

Dika menatap Lina dengan pandangan kosong. "Lin... kalau gue jadi CEO firma hantu... gue masih dapet jatah uang makan harian gak ya?"

1
SANG
Semangat ya thor💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Mantap, mantap banget💪👍
SANG
Cerita baru semangat baru ya dek💪👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!