NovelToon NovelToon
Zenion : Gray In The Land Of Ruin

Zenion : Gray In The Land Of Ruin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Sistem
Popularitas:769
Nilai: 5
Nama Author: Laabki

Walaupun lima belas tahun telah berlalu, namun nyatanya Zenion masih belum mampu melupakan malam kelam yang menghancurkan seluruh hidupnya.

​Kala itu, sebuah tragedi berdarah pecah di kerajaan tempat Zen tinggal, meninggalkan luka dan trauma yang membekas seumur hidup. Di kepalanya masih teringat jelas bagaimana sang ibu dihabisi dengan brutal di tengah kobaran api kastil yang melalap habis tempat tinggal mereka.

—————————

"Jangan sakiti mereka. Aku mohon!"

​Suara napas yang tersengal hebat, deru langkah kaki yang memburu, dan suasana mencekam menyelimuti samar-samar kenangan pahit yang melintas tak beraturan dalam gelapnya dunia mimpi.

​"Zen... Lucy... lari dari sini! Cepat lari!"

Seruan panik seorang wanita muda terdengar jelas. Tubuhnya terbelenggu dalam cengkeraman enam pria bertubuh besar, sementara suaranya terdengar serak dan penuh keputusasaan.

​"Lepaskan ibuku! Lepaskan!" teriak bocah laki-laki itu dengan suara parau.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laabki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1: awal

...-PROLOG-...

...******************...

​"Jangan sakiti mereka. Aku mohon!"

​Suara napas yang tersengal hebat, deru langkah kaki yang memburu, dan suasana mencekam menyelimuti samar-samar kenangan pahit yang melintas tak beraturan dalam gelapnya dunia mimpi.

​"Zen... Lucy... lari dari sini! Cepat lari!"

Seruan panik seorang wanita muda terdengar jelas. Tubuhnya terbelenggu dalam cengkeraman enam pria bertubuh besar, sementara suaranya terdengar serak dan penuh keputusasaan.

​"Lepaskan ibuku! Lepaskan!" teriak bocah laki-laki itu dengan suara parau.

Tubuh kecilnya yang tak berdaya dicengkeram dengan kasar oleh seorang pria bertubuh besar. Tangannya meronta, berusaha menggapai ujung gaun milik sang ibu yang berada tak jauh di depannya.

​"Aaaaa!" suara rintihan wanita itu terdengar lagi.

​"IBU!"

Bocah itu menangis semakin kencang saat menyaksikan sosok ibunya ambruk setelah dihujani tebasan pedang secara membabi buta oleh enam pria tersebut.

​"Jangan berisik, bocah kurang ajar!"

Salah seorang dari keenam pria itu menjambak rambut hitam sang bocah dengan kasar. Anak itu langsung meringis kesakitan. Di tengah rasa sakitnya, ia masih sempat melihat Lucy yang terbaring tak sadarkan diri di dekat sang ibu.

​Kemudian—

​BUGH!

Sebuah pukulan keras mendarat tepat di tengkuk bocah itu, membuat tubuh kecilnya langsung lunglai. Dunia anak itu mendadak jungkir balik. Pandangannya menggelap secara perlahan, sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri. Menelan jeritan terakhir ibunya ke dalam kesunyian yang abadi.

​Zenion tersentak bangun.

​Mata biru samuderanya terbuka lebar, napasnya memburu hebat. Peluh dingin membasahi sekujur tubuhnya saat ia menatap langit-langit kamar yang gelap dengan pandangan kosong. Jantungnya berdegup tak beraturan, seolah baru saja lolos dari kejaran maut.

​Zen meraba tengkuknya perlahan. Ternyata itu hanya mimpi buruk. Namun entah kenapa, rasa sakit dari hantaman lima belas tahun lalu itu masih terasa begitu nyata di kulitnya.

​Ia menarik napas panjang dalam-dalam, kemudian mengusap wajahnya pelan. Berusaha keras menenangkan detak jantungnya sendiri dari cengkeraman luka abadi yang tidak akan pernah bisa disembuhkan oleh apa pun.

​"Zen... ada apa?" suara seorang wanita terdengar lirih dari sampingnya.

Zen menoleh pelan. Dalam remang kamar khusus para ksatria elit yang terletak di belakang istana, ia melihat seorang wanita berambut pirang sedang duduk di kursi samping ranjangnya. Tatapan wanita itu dipenuhi kecemasan.

​"Amanda..."

...*****************************************...

...LAABKI...

...•...

...•...

...—BAB 1 : CASTLEWOOD—...

​​"Zen, kau mau ke mana?"

​Suara Amanda memecah keheningan kamar yang masih diselimuti remang pagi hari. Zen, yang sudah berdiri di dekat pintu, berhenti sejenak lalu berbalik untuk menatap Amanda.

​"Berkeliling istana," jawabnya singkat. Nadanya datar, seolah sedang menekan sesuatu di dalam dadanya.

​Amanda bangkit dari duduknya di tepi ranjang, menatap punggung tegap pria itu. "Bukankah ini masih terlalu pagi? Di luar sana bahkan masih gelap."

​"Memastikan istana tetap aman adalah tugasku, Amanda. Kudengar akhir-akhir ini kasus pencurian di wilayah penduduk mulai meningkat. Aku harus tetap bersiaga," sahut Zen. Tangannya meraba hulu pedang yang menggantung di pinggangnya, sebuah gerakan refleks yang selalu ia lakukan setiap kali merasa ada ancaman.

​Amanda menghela napas panjang. Ia menyingkap anak rambutnya yang berantakan dengan jemari yang lentik. "Kau selalu saja seperti ini. Istana adalah tempat yang paling aman di Castlewood, Zen. Para pencuri tidak akan sebodoh itu untuk masuk ke tempat ini."

​"Tidak ada tempat yang benar-benar aman, Amanda. Sesuatu yang kita sebut aman bisa hancur hanya dalam satu malam."

​Amanda langsung terdiam. Ia tahu Zen sedang membicarakan masa lalu mereka yang kelam. Wanita itu melangkah mendekat, menyentuh lengan kokoh milik Zen yang dipenuhi bekas luka samar, luka-luka yang menjadi saksi bisu dari kehidupan keras pria itu sejak kecil.

​"Mimpi itu lagi?" lirih Amanda.

​Zen melepaskan tangan Amanda secara halus. "Aku hanya butuh udara segar." Ia menatap Amanda sekilas. "Kau mau ikut?"

​Amanda menggeleng pelan. "Tidak. Pagi ini aku harus mengawal Putri Cassia ke panti asuhan."

​Mendengar nama itu, Zen tersenyum tipis. "Putri itu memang tidak pernah bisa diam."

​Amanda terkekeh kecil. "Kalau Raja Arthur tahu putrinya diam seharian di kamar, mungkin beliau malah curiga."

​Zen kembali mengukir senyum tipis kemudian mengangguk. Ia berjalan pergi meninggalkan Amanda yang masih menatapnya, membuat langkah sepatu zirahnya berdenting samar di atas lantai batu.

​Udara pagi yang dingin langsung menyambut Zen begitu ia melangkah keluar menuju selasar atas dinding benteng Area Pusat. Langit masih berwarna kelabu gelap, menambah kesan suasana istana yang masih sepi. Namun, semburat jingga tipis mulai muncul di ufuk timur, seolah menandakan bahwa kehidupan perlahan kembali terbangun.

​Dari tempatnya berdiri di atas ketinggian benteng dalam, Zen dapat melihat bagaimana megahnya ibu kota Castlewood yang dibangun teratur dalam lingkaran benteng raksasa yang berlapis. Di balik tembok pembatas istana, deretan rumah batu mewah di Distrik Utama terhampar rapi, disusul oleh rapatnya atap-atap rumah di Distrik Tengah yang masih diterangi cahaya obor yang belum sepenuhnya padam. Kabut tipis menggantung di antara jalanan kota yang melingkar, sementara di ujung terdalam yang samar, sayup-sayup aktivitas dari arah Distrik Bawah dekat dermaga mulai berdentang, beradu dengan suara lonceng menara yang terdengar sayup dari kejauhan.

​Castlewood adalah salah satu kerajaan terbesar di benua Ergarth. Kerajaan itu dikenal sebagai pusat perdagangan, militer, dan ilmu pengetahuan. Tembok raksasa yang mengelilingi ibu kota menjadi simbol kejayaan Castlewood, kerajaan besar yang telah berdiri selama lebih dari lima abad.

​Kerajaan Castlewood saat ini berada di bawah kepemimpinan Raja Arthur Charless Wood Meeraall, seorang penguasa berusia lima puluh enam tahun yang dikenal bijaksana dan penuh belas kasih. Di mata rakyatnya, Arthur bukan hanya seorang raja, melainkan figur pelindung yang selalu mengutamakan kepentingan kerajaan di atas segalanya.

​Namun, di balik kejayaan dan kemegahan Castlewood, kerajaan itu menyimpan sebuah luka abadi yang tak pernah sembuh. Tujuh tahun silam, Ratu Esmeralda tewas secara tragis setelah sebuah anak panah menghujam tepat di kepalanya. Kematian sang Ratu mengguncang seluruh penjuru kerajaan. Bukan hanya di Castlewood, berita kematian Esmeralda juga menggemparkan seluruh Ergarth. Namun ironisnya, hingga kini pelaku pembunuhan itu tak pernah ditemukan.

​Penyelidikan besar-besaran yang dilakukan pihak istana berakhir tanpa hasil, tanpa tersangka, dan tanpa jawaban yang pasti. Pada akhirnya, kasus itu pun perlahan ditutup, meninggalkan duka mendalam dan misteri yang masih menghantui keluarga kerajaan Castlewood sampai sekarang. Pihak kerajaan hanya mampu menarik kesimpulan bahwa pembunuh Ratu adalah seseorang yang sangat ahli.

​Zen melanjutkan langkahnya, menuruni tangga batu menuju lorong taman belakang istana yang dipenuhi embun pagi. Di sepanjang jalan, para pelayan yang mulai sibuk bekerja langsung menundukkan kepala dengan hormat saat melihat dirinya.

​Nama Zenion sendiri bukanlah nama yang asing di Castlewood. Ia dikenal sebagai ksatria muda paling berbakat yang dimiliki kerajaan. Di usianya yang masih dua puluh lima tahun, Zen telah memenangkan banyak peperangan besar untuk Castlewood. Kehebatannya di medan perang membuat namanya begitu disegani, bukan hanya di dalam kerajaan, tetapi juga di berbagai wilayah Ergarth.

​Saat sedang berjalan melewati taman belakang istana, langkah Zen mendadak terhenti ketika pandangannya menangkap sosok yang sudah ia kenal dengan baik. Di bawah pohon ceri putih yang kelopaknya berguguran dengan anggun, seorang gadis terlihat tengah duduk di atas pagar batu yang cukup tinggi sambil memakan apel dengan santai. Kelopak-kelopak bunga berwarna putih itu melayang pelan tertiup angin pagi, jatuh menyentuh bahunya dan menumpuk samar di atas permukaan pagar batu.

​Gaun putih sederhana yang ia kenakan berkibar pelan diterpa angin pagi, sesekali menjadi tempat hinggap kelopak bunga ceri putih yang jatuh dari dahan. Rambut panjang berwarna cokelat keemasannya tampak sedikit berantakan, sebuah tanda jelas bahwa ia telah menyelinap keluar bahkan sebelum para pelayan istana sempat menyentuh sisir untuk merapikannya.

​Zen menghela napas panjang. Entah kenapa, hanya dengan melihat gadis itu saja selalu mampu membuat suasana hatinya sedikit lebih ringan.

​"Putri Cassia..." gumamnya pelan.

​Mendengar namanya disebut, gadis itu langsung menoleh cepat. Mata ungu cerahnya seketika berbinar begitu menangkap sosok Zen yang berdiri tidak jauh darinya.

​"ZEN!"

​Tanpa memedulikan etika sebagai putri kerajaan, gadis berusia delapan belas tahun itu langsung melompat turun dari pagar batu dan berlari kecil menghampiri Zen dengan wajah penuh semangat, membiarkan kelopak bunga ceri yang menempel di pakaiannya jatuh berserakan.

​"Selamat pagi, Zen!"

​Cassia berhenti tepat di depan Zen dengan senyum lebar yang merekah. Napasnya sedikit tersengal akibat lari kecilnya tadi, sementara apel di tangannya masih menyisakan bekas gigitan kecil yang belum sempat ia habiskan sepenuhnya.

​Zen menatap sang Putri selama beberapa detik, memperhatikan kelopak bunga ceri yang masih tersangkut di rambut berantakan gadis itu, sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang yang sarat akan rasa maklum.

​"Putri, seharusnya Anda tidak duduk di atas pagar batu seperti itu."

​Bibir Cassia langsung mengerucut cemberut. "Kita baru bertemu, kau sudah mulai mengomel."

​"Itu tugas hamba."

​"Bohong!" Cassia menunjuk wajah Zen sembarangan. "Kau itu hanya terlalu kaku. Kau selalu saja serius."

​Zen mengabaikan komentar tersebut. Tatapannya justru jatuh pada ujung gaun putih Cassia yang kini sedikit kotor oleh noda tanah dan serpihan rumput taman yang menempel.

​"Anda keluar tanpa pengawal lagi?"

​"Ada kok," Cassia menunjuk asal ke belakang.

​Zen menoleh. Ia melihat dua pengawal kerajaan tampak berdiri cukup jauh dengan wajah pasrah, seolah sudah lelah menghadapi tingkah ajaib sang Putri.

​"Jika terjadi sesuatu, mereka bahkan tidak akan sempat melindungi Anda dari jarak sejauh itu."

​Cassia malah tertawa kecil. "Kalau mereka dekat-dekat terus, aku susah kabur, tahu!"

​Zen memijat pelipisnya pelan. Entah kenapa, menghadapi ribuan prajurit di medan perang terasa jauh lebih mudah dibanding menghadapi gadis keras kepala di depannya ini.

​Angin pagi kembali berembus lembut, membelai dan menggoyangkan rambut panjang Cassia. Gadis itu memandang Zen selama beberapa saat dengan tatapan yang sulit diartikan, hingga akhirnya senyum lebar di wajahnya perlahan-lahan memudar.

​"Kau terlihat tidak baik-baik saja hari ini."

​Zen terdiam. "Hamba baik-baik saja."

​Tatapan mata ungu milik Cassia memang selalu sulit untuk dimengerti, seolah-olah sepasang manik itu mampu menembus jauh ke dalam diri seseorang dan melihat segala hal yang berusaha disembunyikan.

​"Kau bohong," ucapnya datar. Suaranya kini terdengar jauh lebih serius dari sebelumnya.

​"Hamba tidak berbohong."

​Cassia menyipitkan matanya, menatap Zen dengan penuh selidik. "Kau sedang bertengkar dengan Amanda, ya?"

​Pertanyaan yang tiba-tiba itu membuat dahi Zen mengernyit selama sepersekian detik, sebuah reaksi refleks yang tak mampu ia sembunyikan sepenuhnya. Cassia langsung menarik sudut bibirnya, membentuk senyum kecil penuh kemenangan saat menangkap perubahan ekspresi ksatria di depannya.

​"Nah, benar kan? Kalian pasti sedang bertengkar."

​"Kami tidak bertengkar, Putri," jawab Zen datar, berusaha mengembalikan raut wajahnya menjadi sedingin es. "Hamba dan Amanda baik-baik saja. Tidak ada masalah apa pun di antara kami."

​"Serius?" Cassia memastikan, matanya masih menatap Zen dengan sisa-sisa kecurigaan.

​Zen mengangguk, memberikan jawaban bisu yang tegas agar pembicaraan ini tidak berlanjut lebih jauh.

​Cassia akhirnya mengembuskan napas lega. "Syukurlah kalau begitu. Jika dua ksatria terhebat Castlewood sampai bermasalah, suasana istana ini pasti akan terasa jauh lebih membosankan dari biasanya."

​Zen memilih untuk tidak menanggapi gurauan tersebut. Ia segera mengalihkan pandangannya ke arah hamparan taman istana yang luas, mencoba mengganti topik pembicaraan. "Bukankah hari ini Anda memiliki jadwal untuk berkunjung ke panti asuhan?"

"Benar. Tadi aku mencari Amanda ke kompleks kamar ksatria elit, dan kebetulan aku melihat dia ada di kamarmu karena gordennya terbuka." Cassia mengangkat bahu santai. "Aku cuma mengintip sedikit kok. Makanya aku duduk di atas pagar itu dari tadi, menunggu dia selesai berduaan dengan ksatria galak."

​"Hamba tidak galak."

​Cassia menatap Zen beberapa detik sebelum tertawa kecil. "Kalau begitu coba tersenyum."

​Zen terdiam. Cassia menunggu dengan antusias.

​Namun, hingga beberapa detik berlalu, Zen tetap bergeming dengan wajah datarnya yang sedingin es itu.

​Akhirnya, gadis itu menggelengkan kepala dengan ekspresi putus asa. "Lihat? Kau benar-benar menakutkan. Aku yakin, dengan raut wajah seperti itu, tidak akan ada wanita yang menyukaimu."

​"Hamba tidak peduli dengan hal semacam itu, Putri," jawab Zen acuh tak acuh.

​"Dasar ksatria kaku!" Cassia tergelak melihat ketegaran wajah Zen yang tak tergoyahkan, lalu ia menyodorkan apel yang baru saja digigitnya ke arah pria itu. "Cepat makan ini, agar wajahmu sedikit melunak. Aku harus pergi sekarang sebelum Amanda mencariku!"

​Cassia kemudian berlari menjauh setelah Zen menerima apel tersebut, meninggalkan sang ksatria di antara guguran kelopak bunga ceri putih yang beterbangan. Gaun putihnya berkibar ringan saat ia melintasi taman.

​"Jangan lupa habiskan apelnya, Zen!" teriaknya sembari melambaikan tangan dari kejauhan.

​Suara cerianya perlahan memudar saat ia menghilang di balik lorong taman istana. Zen hanya terdiam, tatapannya terus mengikuti sosok sang Putri hingga benar-benar lenyap dari pandangan.

​Setelah beberapa saat, ia menunduk, memperhatikan apel setengah tergigit yang kini berada di genggamannya. Sebuah senyum pun terukir samar di bibir pria itu. Sangat tipis, hingga nyaris tak terlihat oleh siapa pun.

...—T.B.C—...

1
archenis
Lumayan juga ini. 👍
Laabki: makasih banyak kak, semoga menghibur ya ceritanya🙏
total 1 replies
Laabki
🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!