Velicia, seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan, dipermalukan dan disiksa oleh suaminya sendiri. Michael adalah Bos Mafia yang lebih mempercayai wanita lain bernama Sania, dibanding istrinya sendiri.
Dituduh tanpa bukti dan dipaksa berlutut di depan wanita yang membencinya, Velicia akhirnya menyadari bahwa cinta yang ia perjuangkan selama dua tahun hanyalah ilusi.
Namun Michael tidak tahu satu hal, Velicia bukan wanita biasa. Di balik diam dan lukanya, ia menyimpan identitas tersembunyi sebagai bagian dari dunia mafia yang jauh lebih gelap dari keluarga Kensington.
Saat Michael akhirnya menyesal, akankah Velicia memaafkannya dan kembali padanya? Atau memilih pria lain yang datang di waktu yang tepat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 9.
Beberapa minggu setelah Michael mulai meragukan kehamilan Sania, penyelidikannya belum menghasilkan jawaban pasti. Apalagi, saat ini organisasinya sedang berada di ambang kehancuran terus menguras waktu dan pikirannya, membuatnya sulit memusatkan perhatian pada hal lain. Namun satu hal sudah berubah, dia tidak lagi melihat Sania dengan keyakinan yang sama seperti sebelumnya. Keraguan pada wanita itu telah muncul dalam hatinya. Dan sekali keraguan tumbuh, sulit untuk dihilangkan.
Pagi itu Michael sedang menghadiri rapat ketika ponselnya bergetar, ia hampir mengabaikannya. Namun nama yang muncul di layar membuatnya mengangkat panggilan.
"Ada apa?"
"Tuan... kami akhirnya mendapat informasi tentang Nyonya Velicia." Suara bawahannya terdengar gugup.
Michael langsung berdiri dari kursinya, para petinggi organisasi yang sedang rapat langsung terdiam.
"Katakan!"
"Nyonya berada di rumah sakit tadi malam."
Michael merasakan dadanya menegang, rumah sakit. Untuk sesaat, pikiran buruk langsung muncul.
"Apa yang terjadi?"
"Nyonya telah melahirkan."
Michael sontak membeku, ia terdiam seolah otaknya terlambat memproses informasi itu. Velicia telah melahirkan anak mereka berdua.
Beberapa waktu kemudian, Michael sudah berada di dalam mobil. Ia tidak peduli rapat yang ditinggalkannya, pikirannya dipenuhi Velicia dan anaknya, darah dagingnya sendiri. Ia menatap keluar jendela mobil, saat ini ada perasaan asing yang muncul di dalam dirinya.
Ada penyesalan kecil, tapi cukup mengganggunya. Karena saat Velicia pergi dari mansion, dia bahkan tidak pernah memastikan kondisi wanita itu. Ia hanya fokus pada Sania, pada tuduhan-tuduhannya dan pada kemarahannya sendiri. Dan sekarang anaknya telah lahir ke dunia, tanpa dirinya berada di sana.
Sementara itu...
Di sebuah rumah sakit swasta yang sangat tertutup, Velicia sedang beristirahat. Di samping tempat tidurnya terdapat seorang bayi laki-laki yang masih tertidur lelap.
Seorang wanita paruh baya masuk ke dalam ruangan. "Nona."
"Bagaimana kondisiku?"
"Anda baik-baik saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tuan muda kecil juga sehat."
Velicia menoleh pada bayinya, tatapan dingin yang selama ini ia tunjukkan pada dunia perlahan melunak. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan mansion Kensington, hatinya terasa damai. Anaknya adalah alasan terbesarnya untuk bertahan, dan juga alasan terbesarnya untuk tidak pernah kembali pada Michael.
Satu jam kemudian, Michael akhirnya datang ke rumah sakit. Namun saat ia tiba, semuanya sudah terlambat. Kamar yang ditempati Velicia telah kosong, dan tidak ada jejak sedikit pun. Seolah wanita itu tidak pernah berada di sana.
Michael berdiri di depan kamar yang kosong dengan wajah dingin.
"Ke mana dia pergi?"
Petugas rumah sakit menggeleng. "Kami tidak bisa memberikan informasi pasien."
"Kapan dia keluar?"
"Tak lama setelah melahirkan."
Ternyata... dia terlambat. Michael mengepalkan tangannya kuat-kuat, rahangnya mengatup rapat. Sorot matanya dipenuhi amarah yang begitu pekat, seakan ia ingin membunuh seseorang saat itu juga.
Di mansion Kensington.
Sania sedang duduk di ruang tamu ketika Michael pulang, wanita itu langsung berdiri.
"Kau dari mana?"
Michael tidak menjawab, ia melewati Sania begitu saja. Sikap itu membuat Sania terdiam, belakangan ini Michael semakin sulit ditebak.
"Michael."
Pria itu akhirnya berhenti. "Ada apa?"
"Aku mendengar, tadi kau keluar mendadak saat rapat berlangsung. Apa terjadi sesuatu?"
Michael membalikkan tubuhnya, dia menatap Sania tanpa ekspresi. "Velicia melahirkan."
Sania membeku, jantungnya langsung berdetak lebih cepat. Ia tidak menyangka kabar itu datang secepat ini.
"Melahirkan?"
"Ya."
Michael kembali berbalik dan berjalan menuju tangga, tapi langkahnya terhenti ketika Sania berbicara.
“Baguslah, itu kabar baik untukmu. Kalau begitu, selamat. Kau sudah menjadi seorang ayah. Kau pasti bahagia, kan?”
Michael tidak menjawab, karena bahkan dirinya sendiri tidak tahu apa yang ia rasakan. Bahagia, marah. Atau justru kecewa pada dirinya sendiri.
Malam itu di kamar kerjanya, Michael duduk sendirian dengan tatapan kosong. Ia teringat bagaimana Velicia selalu menunggunya pulang, selalu menyiapkan makan malam meskipun banyak pelayan. Wanita itu selalu diam saat disalahkan dan selalu mengalah, bahkan ketika dirinya lebih memilih mempercayai Sania.
Michael memejamkan mata sesaat, sebuah ingatan menghantamnya tanpa ampun. Ingatan saat Velicia dipaksa berlutut di atas lantai marmer yang dingin. Wajah wanita itu pucat, dengan tubuh yang gemetar. Sementara satu tangan wanita itu memegangi perut yang saat itu tengah mengandung anak mereka.
"Michael... tolong..."
Suara wanita itu kembali bergema di dalam kepalanya. Penuh rasa sakit dan keputusasaan. Ia masih ingat bagaimana Velicia memohon kepadanya saat itu. Memohon agar dipercaya, dan memohon agar ditolong olehnya.
Namun apa yang ia lakukan? Ia mengabaikan istrinya dan memilih meragukan Velicia. Bahkan ketika wanita itu meringkuk kesakitan di bawah kakinya, ia tetap berdiri dingin tanpa sedikit pun memberikan kepercayaan dan pengampunan.
Rahang Michael mengeras, dadanya terasa sesak seolah ada tangan tak kasatmata yang meremas jantungnya tanpa belas kasihan. Ingatan itu tidak lagi terasa seperti potongan masa lalu yang bisa diabaikan, semua itu berubah menjadi pisau yang perlahan mengoyak hati nuraninya. Jika saat itu yang dikatakan Velicia adalah kebenaran, maka wanita itu telah menanggung penderitaan seorang diri saat dirinya justru menjadi orang yang paling melukainya.
Michael mengepalkan kedua tangannya erat, urat-urat di punggung tangannya menonjol. Perasaan tidak nyaman yang selama ini hanya berupa bayangan samar kini berubah menjadi gelombang penyesalan yang menghantam tanpa ampun. Dan kali ini... rasa penyesalan jauh lebih menyakitkan.
Perlahan, sebuah kesadaran yang menyakitkan menghantam Michael. Mungkin orang yang paling menghancurkan hidup Velicia bukanlah orang lain. Melainkan dirinya yang berkali-kali memilih untuk meragukan, mengabaikan, dan menyakiti istrinya itu.
...*****...
Di sisi lain kota, Velicia sedang menggendong putranya. Bayi itu tertidur di pelukannya dengan wajah damai.
Pintu ruangan terbuka, pria kepercayaannya masuk membawa laporan terbaru.
"Nona, Anda benar. Michael datang ke rumah sakit, tak lama setelah Anda keluar."
Velicia menerima tablet tersebut, Ia membaca beberapa baris informasi dan tersenyum tipis. Ia sama sekali tidak terlihat terkejut, karena ia memang sengaja ingin Michael tahu dirinya telah melahirkan. Bukan karena ingin ditemukan, tetapi karena ia ingin Michael mengerti satu hal. Jika anaknya telah lahir, dan pria itu telah kehilangan momen berharga yang tidak akan pernah bisa diulang kembali.
"Apakah Anda ingin bertemu dengannya suatu hari nanti?"
Velicia menatap bayi dalam gendongannya dengan mata yang menghangat. Ia kemudian menunduk dan mengecup kening mungil itu penuh kasih.
"Itu tergantung pada Michael."
"Maksud Anda?"
Velicia mengusap pipi kecil putranya. "Apakah dia layak mendapat kesempatan itu."
Perkataan Velicia tidak mengandung kebencian ataupun kemarahan. Yang ada hanyalah ketidakpedulian. Dan bagi pria seperti Michael yang selama ini hidup dengan ego yang tinggi, itulah hukuman yang paling kejam. Saat penyesalan akhirnya datang dan pria itu ingin Velicia kembali ke sisinya, tetapi wanita itu sudah tidak menginginkannya lagi.
apa g nyesek tuh Michael 🤣🤣🤣🤣🤣🤣