"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28.
Luis tiba-tiba mendekati mereka saat membully Laura.
Mata Luis yang tajam terus menatap semua orang disana satu persatu penuh perhitungan.
Luis langsung menggendong Laura dengan pelukan yang begitu erat, seolah takut kehilangan sesaat pun.
Bibirnya bergetar, memanggil nama Laura berulang kali dengan suara yang nyaris pecah karena panik, "Laura, bangunlah! Kau dengar aku, Laura?"
Sorot matanya berubah menjadi cemas, wajahnya memerah menahan ketakutan yang membuncah di dada.
Luis memandang sekeliling dengan amarah membara, suaranya meninggi penuh peringatan, "Siapa yang berani menyakitinya? Kalian semua harus bertanggung jawab! Dan bersiap untuk menghadapi" Ekspresinya keras, tapi di balik itu semua, jelas terlihat betapa dalamnya rasa sayang yang di sembunyikan Luis rapat-rapat.
Emma yang mendengar cerita Ivy tahu betul, bahwa meski Luis mengaku membenci Laura, perasaan itu hanyalah topeng.
Di matanya, Luis tidak sekadar khawatir, melainkan mencintai Laura dengan sepenuh jiwa—perasaan yang bahkan lebih besar dari yang bisa diungkapkannya.
Gelora cinta itu terpancar jelas dari setiap gerak tubuh dan nada suaranya yang penuh emosi.
Luis bukan hanya takut kehilangan Laura, tapi juga takut harus menghadapi dunia tanpa kehadirannya.
Mengingat hal itu, hati Emma bertambah sakit.
Saat sedang menangis, tatapannya tidak dengan menatap ke arah map yang ada di atas meja.
Ia yang penasaran, mengambilnya dan membuka map itu perlahan.
Kedua bola matanya membulat sempurna. "Laura Ana Gerard, anak dari pasangan Steven Gerrard dan juga Grace Ana."
Jantung Emma berdebar kencang, ia tidak menyangka jika Laura adalah cucu satu-satunya keluarga konglomerat Gerrard dan juga keluarga Ana.
Akhirnya ia menyadari, "Apakah mungkin ini alasannya Nigel mengejar Laura?"
Ia kembali membaca kertas demi kertas yang ada didalam map itu.
Tanpa sadar kedua tangan Emma terkepal, "Apakah Luis salah paham dengan Laura?" Gumam, ia teringat saat Luis mengatakan kalau Laura anak ayahnya dari pelakor.
Padahal faktanya dimap itu, Laura bukanlah anak ayah Luis. Melainkan anak pasangan konglomerat dan cucu tinggal keluarga Gerard dan Ana yang sudah lama banyak dicari orang.
Melihat map yang sebelumnya masih tersegel sebelum dibukanya, Emma menduga Luis belum membaca isinya. Ia menggeleng pelan, "Aku nggak bisa membiarkan Luis tahu jati diri Laura. Kalau sampai tahu, kebencian Luis bisa berubah jadi cinta."
Akhirnya Emma mengerti alasan Luis selama ini selalu menyakiti Laura, bahkan sampai mengatakan pada semua orang bahwa Laura adalah anak pelayan rumahnya.
Mengingat SMA Bintang adalah sekolah elite, orang miskin yang bersekolah di sana pasti akan mudah diinjak-injak.
Ternyata Luis salah paham tentang identitas asli Laura, yang bukan anak kandung ayahnya dari pelakor.
Bagaimana jika Luis yang selama ini salah paham itu sampai mengetahui kebenaran?
"Pasti Luis akan dihantui rasa bersalah, berusaha mendekat dan minta maaf. Nggak... Aku nggak bisa biarkan semua itu terjadi. Luis hanya boleh mencintaiku," ujar Emma sambil membuang map berisi informasi rinci tentang Laura.
"Apapun yang terjadi, aku harus membuat Luis menjauh dari Laura. Bahkan kalau perlu, harus membuat Luis semakin membenci Laura." Gumam Emma penuh tekad.
**
Malam harinya, ruang perawatan rumah sakit terasa sunyi, hanya suara detak jarum jam yang pelan menyelinap di antara bisikan mesin monitor.
Laura terbaring lemah di ranjang, wajahnya yang dulu cerah kini berubah menjadi pucat pasi, tulang-tulangnya tampak menonjol di balik selimut tipis.
Matanya yang sayu menatap kosong ke arah pintu saat suara langkah kaki mendekat.
Ada rasa takut, kalau sampai orang yang datang adalah Luis.
Walaupun tubuhnya lemah, rasa kantuk menyergap. Tapi matanya sama sekali tidak bisa terpejam, bayang-bayang Luis dan orang yang membullynya masih terngiang.
Saat Nigel melangkah masuk ruangannya.
Ekspresi wajah Laura langsung berubah lebih baik.