Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.
Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Upaya Penyelamatan
Setelah membuntuti cukup jauh, mobil van itu akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan tua yang terletak di pinggiran kota, tempatnya sepi dan jarang dilewati orang. Pengawas itu turun dan mulai menggiring kelima anak yang dibawanya masuk ke dalam gudang. Eric dan Anqi yang mengikuti dari jarak aman sengaja memarkirkan mobil mereka agak jauh, lalu turun dan berjalan kaki mendekati lokasi secara sembunyi-sembunyi agar tidak dicurigai.
Mereka mengintai dari celah jendela dan lubang ventilasi yang rusak. Pemandangan di dalam sana membuat darah mereka mendidih. Di lantai gudang yang kotor dan berdebu itu, sudah ada sekitar lima belas anak lain yang duduk berjejer dengan wajah lesu dan penuh ketakutan.
Beberapa di antaranya terlihat penuh luka, bahkan ada yang kakinya pincang akibat disiksa. Mereka jelas dipaksa bekerja dan hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Melihat pemandangan yang menyayat hati itu, tangan Anqi mengepal erat, napasnya memburu karena amarah. Ia tidak sanggup lagi berdiri diam. Tubuhnya bersiap melangkah maju untuk menghabisi semua orang jahat di dalam sana.
Namun, Eric dengan sigap menahan lengan Anqi, menggelengkan kepalanya pelan.
“Tahan, Jangan gegabah. Pengawas yang ini hanya anak buah. Bos utamanya belum muncul. Kalau kita bertindak sekarang, otak dari kejahatan ini bisa kabur dan lolos. Tunggu sebentar lagi,” bisik Eric dengan suara rendah namun tegas, berusaha menahan amarah gadis itu.
Anqi menghela napas kasar, berusaha menahan diri, meski hatinya terasa perih melihat penderitaan anak-anak itu.
Dua puluh menit berlalu...
Akhirnya, sebuah mobil berhenti di depan gudang. Seorang pria bertubuh kekar dengan wajah bengis dan penuh bekas luka masuk dengan langkah angkuh. Dialah sang bos besar yang mereka tunggu. Melihat momen itu, Eric segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi kepolisian.
“Hallo, ini Eric Tan dari LPPA. Kami sudah menemukan lokasi jaringan eksploitasi anak di Gudang Tua kawasan Industri Barat. Kirimkan bantuan segera, situasinya kritis dan banyak pelaku bersenjata!” bisik Eric cepat ke telepon.
Namun, waktu terasa berjalan sangat lambat. Di dalam gudang, sang bos tampak sedang memarahi salah satu anak yang kurus kering karena dianggap tidak membawa uang cukup hari ini. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, siap melayangkan pukulan keras yang bisa saja merenggut nyawa anak kecil itu.
Melihat itu, kesabaran Anqi habis. Tanpa peduli polisi yang belum datang, ia melompat masuk dari jendela, mendarat tepat di antara mereka. Tangan Anqi bergerak cepat, menahan pergelangan tangan sang bos tepat sebelum pukulan itu menghantam wajah anak kecil yang gemetar ketakutan.
“Cukup!” bentak Anqi dengan suara dingin dan menggelegar.
Sang bos tertegun kaget, menatap gadis muda itu dengan tatapan tak percaya. “Siapa kau?! Berani sekali mencampuri urusanku?!”
Mendengar keributan itu, Eric tidak bisa lagi bersembunyi. Ia segera melompat masuk, berdiri di samping Anqi untuk memberinya bantuan.
“Kami tidak akan membiarkanmu melakukan kejahatan ini lagi!” seru Eric tegas.
“Kurang ajar! Habisi mereka!” perintah sang bos kepada empat orang anak buahnya yang langsung mencabut pisau tajam dari pinggang mereka.
Pertarungan sengit pun tak terelakkan. Empat orang penjahat itu menyerang secara bersamaan dengan pisau yang berkilauan. Namun, di mata Anqi, gerakan mereka terlihat sangat lambat.
“Jangan biarkan mereka mendekati anak-anak!” teriak Eric sambil menendang pisau salah satu penjahat.
“Tenang saja, mereka tidak akan bisa menyentuh sehelai rambut pun.” jawab Anqi dingin.
Dengan kelincahannya, Anqi menghindari tusukan pisau yang mengarah padanya. Ia menangkap lengan penyerangnya, memutarnya hingga terdengar bunyi patah tulang, lalu menghempaskan tubuh pria itu ke tanah. Satu per satu penjahat itu dihajarnya dengan pukulan telak dan tendangan mematikan. Wajah Anqi kini terlihat mengerikan bagi para penjahat itu, penuh amarah dan aura membunuh.
Sementara itu, Eric juga bertarung dengan gagah berani, melumpuhkan dua orang lainnya dengan teknik bela diri yang terlatih. Sang bos besar mencoba melarikan diri, namun Anqi melompat tinggi dan mendaratkan tendangan keras tepat di punggungnya, membuat pria raksasa itu tersungkur ke lantai.
Belum lama pertarungan usai, suara sirine polisi terdengar mendekat. Tak lama kemudian, pintu gudang didobrak dari luar. Sejumlah petugas kepolisian bersenjata lengkap masuk dan segera memborgol semua penjahat yang sudah tergeletak tak berdaya, termasuk sang bos besar yang masih mengerang kesakitan.
“Semua penjahat sudah diamankan!” lapor salah satu petugas.
Anqi segera berlari menghampiri anak-anak yang ketakutan itu dan tersenyum untuk menenangkan mereka. “Sekarang kalian semua sudah aman, tidak ada lagi yang akan menyakiti kalian.”
Eric berdiri tegak, napasnya terengah-engah karena pertarungan tadi, namun wajahnya memancarkan rasa lega dan bangga. Operasi penyelamatan ini berhasil berkat keberanian dan kekuatan luar biasa yang dimiliki Anqi.
Setelah situasi benar-benar terkendali dan seluruh penjahat dibawa ke mobil tahanan, Komandan Pasukan Polisi segera menghampiri Eric dan Anqi. Wajah sang komandan dipenuhi rasa hormat dan kekaguman. Ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
“Terima kasih banyak atas bantuan kalian berdua. Tanpa bantuan dan keberanian luar biasa dari kalian, kami tidak tahu berapa lama lagi anak-anak malang ini harus menderita, dan betapa sulitnya kami membongkar jaringan kejam ini,” ucap Komandan itu dengan tulus. “Kalian telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, menyelamatkan nyawa banyak orang.”
Eric menjabat tangan komandan itu sambil tersenyum tenang. “Sama-sama, Komandan. Itu sudah menjadi tugas kami bersama untuk melindungi warga, terutama anak-anak yang tidak berdaya. Sisanya kami serahkan kepada pihak kepolisian untuk proses hukum selanjutnya.”
Sementara itu, Anqi berdiri sedikit terpisah. Anak-anak yang tadi ketakutan kini perlahan mendekat. Meskipun tubuh mereka kurus dan penuh luka, mata mereka memancarkan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan selama ini. Tiba-tiba, seorang anak laki-laki paling kecil yang kakinya sedikit pincang berjalan terhuyung-huyung mendekati Anqi. Tanpa ragu, anak itu memeluk erat pinggang Anqi, membenamkan wajahnya di pakaian gadis itu.
"Terima kasih, Kak... Terima kasih sudah menyelamatkan kami," isak anak itu, suaranya penuh haru dan rasa syukur. "Kakak adalah pahlawan kami. Aku pikir kami tidak akan pernah keluar dari tempat ini."
Hati Anqi yang biasanya dingin dan teguh seketika meleleh melihat ketulusan anak kecil itu. Ia merasakan rasa sakit dan penderitaan yang selama ini mereka tanggung. Perlahan, tangan Anqi terangkat dan dengan lembut mengelus kepala anak itu, menyisir rambutnya yang kusam dan berantakan dengan penuh kasih sayang.
“Sudah... jangan menangis lagi,” ucap Anqi dengan suara lembut yang jarang ia tunjukkan. “Semua hal buruk itu sudah berakhir. Tidak ada lagi yang akan menyakiti kalian mulai sekarang. Kalian sudah aman.”
Anak-anak lainnya pun ikut mendekat, memeluk kaki dan tubuh Anqi seolah ia adalah malaikat pelindung yang dikirim Tuhan untuk menyelamatkan mereka. Anqi membiarkan mereka memeluknya.
“Kalian anak-anak yang hebat dan kuat,” tambah Anqi pelan, matanya menatap satu per satu wajah polos di hadapannya. “Sekarang petugas medis dan orang-orang baik akan merawat kalian. Kalian akan sembuh, dan kalian akan mendapatkan kehidupan yang layak dan bahagia.”
Setelah memastikan anak-anak itu berada di bawah pengawasan petugas sosial dan tim medis yang datang untuk memberikan pertolongan pertama, Anqi perlahan melepaskan pelukan mereka. Ia melangkah mundur, lalu berbalik menghampiri Eric yang sedang menunggunya di dekat mobil.
“Kita pergi,” ucap Anqi singkat.
Eric mengangguk, menatap gadis di sampingnya itu dengan pandangan kagum.
Mereka pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan lokasi gudang tua itu. Di belakang mereka, suara tangis haru dan ucapan terima kasih anak-anak masih terdengar samar, menjadi bukti nyata keberhasilan misi penyelamatan yang berani dan heroik ini.