Syakira Anandita. Gadis cantik berusia dua puluh tiga tahun, rela bekerja menjadi apa saja demi menghidupi diri dan adiknya-Jonathan.
Sepuluh tahun lalu, ibu yang menjadi sandaran satu-satunya harus menghadap Sang Ilahi setelah melahirkan Jonathan, sedangkan sang ayah entah di mana rimbanya.
Hadirnya dua lelaki merubah perjalanan hidup Syakira. Sedih, tangis dan tawa mewarnai hari-harinya.
"Aku memang tak pandai mengungkapkan rasa cinta, tetapi izinkan aku menjagamu semampu dan sepanjang usiaku." Edric Michael Anderson.
"Bertemu denganmu adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihanku, tetapi jatuh cinta padamu di luar kendaliku." Alex Gavin Diaz.
Namun, Syakira, Edric dan Alex harus sama-sama menelan pil pahit karena sebuah kenyataan yang membuat mereka enggan mengenal cinta kembali.
Apa yang sebenarnya terjadi dan siapakah yang menjadi pelabuhan terakhir cinta Syakira?
Daripada penasaran, simak ceritaku, yuk!😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suci Komala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syakira Masuk Rumah Sakit
Akhir cinta pertama tak seindah awalnya ia datang. Mungkin bagi orang-orang di luaran sana indah, bahkan memiliki cerita dan kenangan manis.
Edric tidak menyangka nasib cinta pertamanya berakhir mengenaskan ketika hari pertunangan dan segala halnya sudah ia rancang. Akan tetapi, walaupun begitu ia merasa beruntung karena semua terbongkar lebih awal.
Tiba di tanah air, Edric segera menghubungi orang kepercayaannya untuk membatalkan semua yang sudah di sewa.
***
Di kantor, Syakira sedang disibukan dengan beberapa dokumen penting yang harus selesai sore ini juga. Alex dengan senang hati membantu sang kekasih.
Namun, tiba-tiba saja dering ponsel membuyarkan konsentrasi mereka.
Rupanya ponsel Alex. Gegas ia merogoh benda pipih itu dalam saku jasnya.
"Halo, Ma." Ternyata Rachel yang menelepon.
"Sayang, Papa dan Mama sebentar lagi sampai di bandara. Bisa jemput kami?"
"Bandara? Maksud Mama, di Jakarta?"
"Iya, Nak. Cepat ya, kami tidak mau menunggu lama."
Rachel memutus sambungan telepon sepihak.
"Siapa, Kak?" tanya Syakira.
"Mama, minta dijemput di bandara, Sayang."
"Wah, orang tua Kakak datang ke sini?"
Alex mengangguk kemudian ia menekan nomor extension ruangannya.
"Christine, ke ruangan CEO, sekarang," titah Alex.
Syakira menatap mata Alex seolah meminta penjelasan.
"Christine itu sekretaris Kakak yang baru. Ia sudah berpengalaman dan pasti bisa bantu kamu selama Kakak jemput papa mama di bandara."
Tidak berselang lama, Christine datang.
"Chris, tolong bantu pacarku menyelesaikan dokumen ini," pinta Alex sembari menunjuk, "dokumen ini ditunggu sampai jam lima."
Christine tersenyum dan mengangguk tanda setuju.
Alex berpamitan kepada keduanya.
Syakira dan Christine saling berkenalan bahkan mereka terlihat akrab. Usia Christine yang memang sama dengan Alex sehingga mampu mengimbangi Syakira.
"Kamu kekasihnya Tuan Alex?" tanya Christine.
"Iya, Kak. Tadinya aku yang jadi sekretarisnya, eeeh ... Tuan Edric malah memilihku," sahut Syakira dengan bibir mengerucut.
Christine hanya menanggapinya dengan tersenyum.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, semua dokumen penting berhasil mereka selesaikan sebelum waktu yang telah ditentukan.
"Dengar dari Tuan Alex, besok kita akan kedatangan pemilik perusahaan ini," tutur Christine.
"Iya, benar. Tepatnya ayah dari Tuan Edric, Kak."
"Ooh. Lalu, kapan kita seperti mereka?" canda Christine.
Mereka pun tertawa.
Obrolan hangat terjadi diantara keduanya. Canda tawa keluar dari mulut manis dua wanita berbeda usia itu. Namun, tiba-tiba saja suara pintu membuat mereka menyudahi obrolan.
"Aku pamit," ucap Christine kemudian pergi sambil menyapa.
Rupanya dari bandara, Edric memilih datang ke kantor daripada pulang ke rumah.
"Selamat sore, Tuan," sapa Syakira sembari beranjak dari kursi Edric.
Edric tidak menjawab sapaan Syakira. Ia langsung duduk di kursi kebesarannya dan menyalakan laptop.
"Dokumen sudah selesai semua. Silahkan di cek ji-"
"DIAM!" bentak Edric.
Syakira seketika diam mematung karena bentakan bosnya. Tak mau ambil pusing, gadis itu berbalik badan dan baru saja satu langkah, Edric berteriak kembali.
"SURUH SIAPA PERGI!"
Sekretaris baru itu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan perlahan kemudian berbalik menghadap Edric kembali.
Sabar Syakira. Dasar orang aneh! Sikapnya berubah-ubah, kadang baik kadang juga seperti ini. Orang g*la! Batin Syakira mencaci.
Sepuluh menit, dua puluh menit, bahkan sampai satu jam Syakira diam mematung di hadapan Edric.
"Tuan, sebenarnya apa maumu? Sudah satu jam saya berdiri di sini," tutur Syakira kesal.
Edric tiba-tiba saja berdiri dan menghampiri Syakira. Gadis itu terperangah karena Edric menatapnya sinis penuh amarah.
Satu tangan kekar itu membingkai pipi Syakira dan menekannya kuat. Edric mendorongnya hingga terpojok ke tembok.
"Diam gadis bodoh! Aku mempekerjakan dirimu bukan untuk protes. Tidak bisakah kau lihat jika aku sedang fokus bekerja? Apa ibumu tidak mengajari sopan santun?" ucapnya kesal, "Cih! Tentu saja tidak, orang miskin seperti kalian hanya tau uang dan uang!" sambungnya menghina.
Kedua tangan Syakira mengepal. Dengan napas memburu dan mata yang sudah basah, gadis itu memberontak seraya berkata, "Kau boleh menghinaku, tapi jangan pernah kau menghina ibuku! Kami memang miskin, tapi kami punya harga diri yang tidak bisa kau injak!"
Syakira meninggalkan ruangan Edric dengan kesal.
"Pergi gadis bodoh! Jangan sampai kau kembali lagi!" teriak Edric.
Edric merasa lega karena amarah yang ia tahan sedari tadi akhirnya terlampiaskan. Namun, tanpa ia sadari sudah membuat hati Syakira terluka.
Syakira yang mendengar kata 'jangan kembali lagi' mulai membereskan dokumen dan peralatan kerjanya, mengambil tas lalu ke ruangan Alex.
"Kak Chris, tolong bilang sama Kak Alex, aku pulang," tutur Syakira kemudian pergi.
Christine hanya terbengong saat Syakira tiba-tiba saja bicara seperti itu.
"Ada apa dengan anak itu?" gumamnya, "tapi ... sepertinya dia menangis. Oh tidak, ada apa dengannya?"
Christine mengejar Syakira.
Setibanya ia di loby berbarengan dengan sura benturan keras dan teriakan dari orang-orang.
"Ya, Tuhan. Apa yang terjadi?" ucap Christine sembari berlari ke jalan raya.
Christine melihat security dan beberapa warga sedang berkerumun.
"Ada ap-" Christine tidak melanjutkan ucapannya. Dengan mata membulat dan mulut menganga ia melihat siapa yang tergeletak di aspal bersimbah darah.
"Syakira!" teriak Christine histeris.
"Panggilkan ambulance, cepat!" sambungnya berteriak kepada orang-orang di sana.
***
Di bandara, Alex masih menunggu kedua orang tuanya di pintu kedatangan penumpang. Sudah hampir satu jam ia menunggu, tetapi mereka belum menampakkan batang hidungnya.
Hatinya menjadi gelisah, takut sesuatu terjadi dengan kedua orang tuanya.
"Apa pesawatnya ...," Alex terdiam, "ah, tidak! Kenapa aku berpikiran yang macam-macam," sambungnya menenangkan diri.
Selang sepuluh menit, akhirnya orang yang ditunggu-tunggu datang juga. Gegas mereka menaiki mobil Alex menuju apartemen.
Ditengah perjalanan ponselnya berdering.
"Syakira?" gumamnya saat tahu siapa yang menelepon.
"Ada apa, Sayang?"
"Maaf Tuan, saya Christine. Syakira kecelakaan sekarang ada di rumah sakit," terangnya di sambungan telepon.
Christine menyebutkan salah satu rumah sakit dimana Syakira ia bawa.
Alex menjelaskan kepada kedua orang tuanya atas apa yang telah terjadi.
Dengan hati kalut Alex melajukan roda empatnya dengan kecepatan tinggi. Rachel mencoba menenangkan sang putra agar berhati-hati.
***
Di ruang ICU, para tim medis sedang melakukan pertolongan pertama kepada Syakira.
"Pasien banyak kehilangan darah!" teriak salah satu dokter.
Setelah di cek ternyata golongan darah Syakira termasuk langka. Bahkan jenis golongan darah ini hanya 0,36 persen orang di seluruh dunia. Ya, golongan darah Syakira adalah AB-.
"Bagaimana ini, Dok? Pasien bergolongan darah AB- dan stok darah di sini tidak ada," ujar seorang perawat panik.
"Hubungi keluarganya. Jika golongan darah AB- tidak ada, cari golongan darah A-, B- dan O-."
Suster itu segera keluar ruangan. "Keluarga pasien!" teriaknya.
Christine yang sedang duduk di kursi tunggu langsung menghampiri.
"Saya temannya Suster. Bagaimana keadaannya?"
Suster itu pun menjelaskan kondisi Syakira dan harus segera mendapatkan transfusi darah.
"Ya, Tuhan. Itu, kan, golongan darah langka, Sus!" tutur Christine terkejut.
"Harap cepat hubungi keluarganya, permisi," ucap suster itu kemudian kembali ke dalam.
Christine tidak tahu harus menghubungi siapa lagi. Ia hanya mondar-mandir dengan gelisah menunggu kedatangan Alex. Pun ia tidak bisa menghubungi para sahabatnya untuk dimintai bantuan karena ponsel miliknya tertinggal di meja.
SheRaz suka smaa ceritanya🤗🤗🤗🤗🤗