NovelToon NovelToon
DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CARI AIR MINUM,BERAKHIR JADI PENJAGA SUMUR SEBENTAR

Siang itu matahari bersinar terik banget. Udara terasa panas sampai kulit terasa gatal kalau duduk terlalu lama di tempat terbuka. Padahal baru lewat jam sebelas, tapi rasanya sudah kayak siang bolong.

Bima, Ojak, Sari, dan Rara baru saja selesai bantu Mbah Karso beres-beres tadi. Badan mereka masih berkeringat, tenggorokan terasa kering, dan air minum yang dibawa dari kantor sudah habis semua.

“Wah, panasnya minta ampun! Mulut saya rasanya kayak pasir kering, nggak ada airnya sama sekali,” keluh Ojak sambil mengibaskan baju supaya dapat angin.

“Iya juga, habis kerja berat terus kena matahari begini, pasti cepat haus. Di sekitar sini nggak ada warung atau keran air yang bisa dipakai ya?” tanya Bima sambil melihat ke sekeliling.

Rara mengingat-ingat. “Kalau nggak salah, di ujung sana ada sumur tua yang masih dipakai warga sekitar. Katanya airnya jernih dan sejuk, lebih enak daripada air keran.”

“Baguslah! Kita ke sana saja, ambil air minum sekalian cuci muka biar segar lagi,” usul Sari sambil melangkah lebih dulu.

Mereka pun berjalan menuju tempat yang dimaksud. Jaraknya nggak jauh, cuma sekitar tiga menit jalan kaki. Begitu sampai, terlihat sebuah sumur tua dikelilingi tembok rendah, ada timba dan tali panjang yang sudah terlihat usang tapi masih kuat. Di sampingnya ada bangku panjang dari kayu buat duduk istirahat.

“Nah, ini dia tempatnya. Tenang dan rindang juga di sini,” kata Bima sambil menghela napas lega.

Bima dan Ojak bergantian menurunkan timba ke dalam sumur. Begitu timba terangkat, airnya terlihat jernih sekali, dan uap dinginnya terasa sampai ke wajah.

“Wah, airnya sejuk banget! Pas sekali buat hilangkan dahaga,” seru Ojak sambil menuangkan sedikit ke telapak tangan lalu membasuh wajahnya.

Mereka minum sampai puas, lalu mencuci tangan dan kaki biar debu dan keringat hilang. Rasanya langsung segar kembali, lelah tadi berkurang banyak.

Saat mereka masih asyik duduk-duduk di bangku sambil mengobrol, datanglah seorang ibu-ibu sambil membawa dua buah ember besar. Wajahnya kelihatan agak tergesa-gesa.

“Wah, ada yang lagi di sini ya? Untung saja, saya tadi bingung mau ambil air tapi tangan saya penuh barang, takut nggak kuat narik timbanya,” kata ibu itu sambil tersenyum.

“Silakan Bu, airnya banyak kok. Mau kami bantu angkatkan?” tawar Bima dengan ramah.

“Wah, terima kasih banyak ya Nak. Kalau begitu tolong bantu tarikkan saja, saya tunggu di sini,” jawab ibu itu lega.

Bima langsung menurunkan timba lagi, mengisi penuh, lalu menariknya naik perlahan. Setelah dua ember penuh terisi, ibu itu pamit pulang sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali.

Belum sempat mereka duduk santai lagi, datang lagi seorang bapak tua membawa kendi dan ember kecil. Begitu melihat mereka sudah ada di dekat sumur, dia langsung senang.

“Bagus ada yang muda-muda di sini. Tali timbanya ini agak berat ditarik kalau sudah penuh air, pinggang saya sudah nggak kuat lagi kalau harus angkat sendiri,” katanya sambil meletakkan tempat airnya.

“Siap Pak, kami bantu saja. Santai saja,” jawab Ojak sambil segera mengambil alih tali.

Ternyata begitulah kejadiannya. Satu orang pulang, datang lagi orang lain. Ada yang bawa ember, ada yang bawa gentong, ada yang cuma butuh sedikit buat minum, ada juga yang mau mengisi bak mandi di rumah. Setiap kali ada yang datang, mereka selalu minta tolong karena melihat ada pemuda dan pemudi yang siap membantu.

Awalnya cuma mau istirahat dan minum air sebentar, tapi lama-lama jadinya mereka nggak bisa pergi. Setiap mau berdiri dan pamit, pasti ada saja warga yang lewat dan butuh bantuan.

“Wah, kita datang cari air, eh malah jadi penjaga sumur dadakan ya?” bisik Rara sambil menahan ketawa.

“Iya juga, nggak apa-apa sih, lumayan bantu orang tua yang nggak kuat angkat. Cuma jadinya nggak bisa pulang-pulang,” jawab Sari sambil ikut tersenyum.

Ojak yang tadinya mengeluh haus, sekarang malah terlihat semangat. “Sudah lah, anggap saja ini olahraga tambahan. Tarik tali timba bolak-balik, otot lengan makin kuat nantinya!”

Bima hanya mengangguk setuju. “Betul, daripada cuma duduk melamun, mending bantu orang yang membutuhkan. Lagian airnya juga sejuk, tempatnya rindang, nggak kepanasan juga.”

Lebih dari satu jam mereka bertahan di situ. Tangan mereka jadi terasa agak pegal karena terus menarik tali timba, tapi setiap kali melihat warga yang senang dan berterima kasih, rasanya lelah itu langsung hilang.

Sampai akhirnya, datanglah Mbah pemilik sumur itu sendiri. Dia kaget melihat banyak orang yang sudah terisi airnya, dan melihat Bima beserta kawan-kawannya yang masih sibuk melayani.

“Wah, ada apa ini? Kenapa kalian malah jadi yang sibuk di sini?” tanya Mbah itu sambil tertawa.

“Kami cuma lewat dan minum air sebentar Mbah, eh terus ada yang minta tolong isi air, terus datang lagi dan lagi, jadinya kami nggak sempat pergi,” jawab Bima sambil ikut ketawa.

Mbah itu menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum lebar. “Baguslah kalau begitu. Biasanya saya yang harus jaga kalau banyak orang datang, tapi hari ini kalian sudah gantikan tugas saya dengan baik. Terima kasih banyak ya.”

“Nggak apa-apa Mbah, senang bisa bantu,” jawab mereka serempak.

Setelah arus warga yang datang mengambil air mulai berkurang, barulah mereka berpamitan untuk pulang. Tangan mereka terasa agak kaku dan sedikit lecet karena gesekan tali, tapi hati terasa ringan dan senang.

Di jalan pulang, Ojak masih saja bercanda.

“Tadi rencananya cuma cari air minum, eh malah dapat tugas tambahan jadi penjaga sumur. Kalau begini terus, besok minta gaji saja sama Mbahnya ya!”

“Wkwkwk! Gajinya nggak usah, cukup dapat cerita lucu begini saja sudah cukup,” jawab Bima sambil tertawa.

Sari menimpali, “Setidaknya hari ini kita dapat pelajaran: niat cari air, bisa berubah jadi hal lain yang bermanfaat. Dan untungnya bukan jadi maling lagi kayak kemarin!”

Semua tertawa mendengarnya. Hari itu berakhir dengan cerita baru, yang sederhana tapi tetap terasa menyenangkan dan tak terlupakan.

1
Ananda Anggit
bagus ceritanya 👍
Wulandari Ayuningtyas: makasih😁
total 1 replies
tazayaa
semangat kakk💪💪
Wulandari Ayuningtyas: kakak juga semangat y
total 1 replies
tazayaa
bima udah pesimis aja ni doanya ga dikabulkan🤣🤣
Wulandari Ayuningtyas: wkwk karna pasti ada aja kejadian konyol kak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!