NovelToon NovelToon
"Regresi Sang Ratu SMA: Balas Dendam Di Bangku Sekolah"

"Regresi Sang Ratu SMA: Balas Dendam Di Bangku Sekolah"

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: mejatulis

Rina, pengusaha sukses berusia 28 tahun, tewas akibat pengkhianatan keluarga dan rekan bisnis. Saat sadar, dia regresi ke tubuhnya di kelas 11 SMA — tepat 10 tahun ke belakang.
Dulu Rina adalah gadis pemalu yang sering dibully geng cewek populer, dikhianati pacar pertamanya, dan diabaikan orang tuanya yang sibuk bisnis. Kini dengan semua pengetahuan masa depan, Rina berubah total.
Dia akan balas dendam di sekolah elit Harapan Elite International School, naik menjadi ratu sekolah yang ditakuti dan dikagumi, rebut prestasi akademik & ekstrakurikuler, perbaiki hubungan keluarga, serta hancurkan semua orang yang pernah menyakitinya.
Drama remaja SMA, revenge yang memuaskan, slice-of-life sekolah, intrik keluarga kaya, dan romansa slow-burn dengan Kai — ketua OSIS dingin keturunan konglomerat yang pernah menolongnya di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejatulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI BAWAH ATAP PERPUSTAKAAN

Aroma kertas tua, kayu jati yang dipelitur, dan dinginnya pendingin ruangan menyambut Rina begitu dia melangkah masuk ke dalam perpustakaan pusat Harapan Elite International School. Tempat ini adalah area terluas kedua setelah aula utama, dengan langit-langit tinggi dan deretan rak buku raksasa yang membentang seperti labirin. Di jam istirahat siang seperti ini, perpustakaan adalah tempat paling sepi di seluruh penjuru sekolah. Anak-anak elit lebih memilih menghabiskan waktu mereka di kantin mewah atau lounge bersofa empuk daripada menyentuh lembaran buku.

Rina berjalan menyusuri barisan rak di bagian belakang—sektor hukum dan ekonomi makro. Penampilan barunya yang tanpa kacamata tebal dan poni membuat beberapa petugas perpustakaan sempat pangling, namun Rina hanya melempar senyum tipis formal sebelum melanjutkan langkahnya.

Tujuannya hari ini adalah mencari referensi tambahan mengenai draf regulasi tata ruang wilayah Jabodetabek terbaru tahun 2016. Dia harus memastikan garis waktu penyegelan lahan zona hijau lindung oleh pemerintah berjalan tepat sesuai dengan ingatan masa depannya. Di dalam otak dewasanya, data makro ini adalah jangkar yang akan menenggelamkan keluarga Kevin secara mutlak.

Rina menyusuri rak setinggi tiga meter tersebut, matanya yang hitam pekat bergerak cepat membaca deretan judul di punggung buku. Langkahnya terhenti saat melihat sebuah buku tebal bersampul kulit hitam dengan judul Hukum Agraria dan Tata Ruang Korporasi.

Buku itu terletak di rak paling atas, sedikit di luar jangkauan ujung jemari Rina meskipun dia sudah menjinjitkan kakinya. Rina menghela napas pendek, baru saja hendak berbalik untuk mencari tangga portabel, ketika sebuah bayangan panjang mendadak merapat dari arah belakang tubuhnya.

Sebelum Rina sempat menoleh, sebuah lengan kekar berbalut kemeja putih bersih yang digulung rapi hingga siku terulur dari atas kepalanya. Jemari tangan yang panjang dan bersih itu dengan sangat mudah meraih buku tebal tersebut dari rak tertinggi.

Aroma parfum maskulin beraroma cedarwood yang dingin dan familier langsung menyerbu indra penciuman Rina, memberi tahu otaknya siapa pemilik tubuh di belakangnya bahkan sebelum dia melihat wajahnya.

"Gadis kelas sebelas biasanya menghabiskan waktu di sudut fiksi untuk membaca novel roman atau majalah fesyen, bukan memaksakan diri mengambil buku hukum tata ruang yang membosankan ini," sebuah suara bariton yang rendah, dingin, dan sarat akan wibawa alami berbisik tepat di samping telinganya.

Rina membalikkan tubuhnya perlahan. Jarak di antara mereka begitu dekat, hingga ujung sepatu pantofel mereka hampir bersentuhan. Kai Mahardika berdiri menjulang di depannya, memegang buku tebal itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bertumpu pada rak buku di samping kepala Rina, mengunci posisi gadis itu dalam jarak sosial yang sangat intim.

Sepasang mata hitam pekat milik Kai menatap menembus langsung ke dalam manik mata Rina. Tatapannya datar, namun di dasarnya ada kilat rasa penasaran yang sangat pekat—seolah dia sedang menatap sebuah teka-teki paling rumit yang sangat ingin dia pecahkan.

Rina tidak menunjukkan tanda-tanda gugup atau salah tingkah seperti siswi SMA pada umumnya yang mendadak dipojokkan oleh sang Ketua OSIS tampan. Dia justru menegakkan punggungnya, menatap balik wajah simetris Kai dengan ketenangan mutlak yang tak tergoyahkan.

"Dan Ketua OSIS yang terhormat biasanya sibuk mengurusi berkas razia atribut siswa atau rapat yayasan, bukan mengintai siswi di sudut perpustakaan yang sepi," balas Rina dengan nada suara yang sangat jernih dan sedikit memiringkan kepalanya, memberikan serangan balik verbal yang sangat elegan.

Retak. Untuk kedua kalinya, ekspresi kaku Kai terusik oleh jawaban Rina. Sebuah lengkungan tipis yang sangat samar terukir di sudut bibir tampannya—sebuah gestur yang jika dilihat oleh siswi lain pasti akan memicu kehebohan satu angkatan. Kai menurunkan tangannya dari rak buku, lalu menyerahkan buku tebal bersampul kulit itu ke atas kedua telapak tangan Rina.

"Aku tidak mengintaimu, Rina. Aku hanya sedang mencari ketenangan dari bisingnya ruang OSIS, dan kebetulan melihat sebatang pohon yang sedang berusaha menggapai langit," ucap Kai, menyindir tubuh Rina yang sempat menjinjit tadi.

"Terima kasih atas bantuan fisiknya, Ketua," Rina menerima buku itu dengan anggukan formal, mengabaikan sindiran halus Kai.

"Mari duduk. Aku ingin melihat apa yang sebenarnya sedang dicari oleh otak jenius kelas 11-A di dalam buku seberat ini," Kai berbalik dan berjalan menuju sebuah meja kayu panjang yang terletak di dekat jendela besar perpustakaan, yang menyajikan pemandangan langsung ke arah lapangan sepak bola sekolah yang hijau.

Rina menimbang posisinya selama satu detik, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengikuti langkah Kai. Duduk berhadapan dengan Kai di tempat sepi seperti ini adalah kesempatan bagus untuk mengamati lebih dalam karakter sang pewaris tunggal Grup Mahardika itu.

Mereka duduk berhadapan. Kai mengeluarkan sebuah tablet iPad Pro miliknya untuk memeriksa beberapa draf dokumen sekolah, sementara Rina membuka halaman pertama buku hukum agraria tersebut.

Keheningan yang nyaman mendadak menyelubungi meja mereka selama hampir lima belas menit. Hanya ada suara gesekan lembaran kertas yang dibalik oleh Rina dan ketukan halus jemari Kai di atas layar kaca tabletnya. Sinar matahari siang yang menerobos masuk dari jendela besar menerangi separuh wajah mereka, menciptakan kontras visual yang sangat estetis: Sang Raja dan Sang Ratu tersembunyi yang sedang bergelut dengan pikiran besar mereka masing-masing.

Diam-diam, dari balik layar tabletnya, Kai memperhatikan fokus Rina. Cara gadis itu membaca, menandai beberapa poin penting dengan pensil, dan sesekali mengetukkan jemarinya di atas meja saat berpikir keras—semuanya memancarkan kedewasaan yang sangat matang. Tidak ada satu pun elemen kekanak-kanakan di dalam diri Rina yang baru ini.

"Rina," Kai memecah keheningan, meletakkan tabletnya di atas meja. "Keluarga Wangsa... perusahaan properti milik ayah Kevin... baru saja mengumumkan rencana akuisisi lahan besar-besaran di wilayah Jakarta Timur pagi ini melalui berita koran bisnis."

Jari Rina yang hendak membalik halaman buku mendadak berhenti. Dia mendongak, menatap Kai dengan pandangan mata yang tenang namun waspada. "Lalu? Apa hubungannya berita koran bisnis itu dengan saya, Ketua?"

Kai mencondongkan tubuhnya ke depan, melipat kedua tangannya di atas meja marmer. Tatapannya mengunci Rina dengan intensitas yang tajam. "Wilayah yang mereka akuisisi... koordinat dan detail zonasi pasarnya... persis sama dengan analisis mitigasi risiko lahan fiktif yang kamu tulis di lampiran proposal festival kelasmu sebagai contoh kasus perbandingan modal. Kamu menulis data itu tiga hari yang lalu, dan Keluarga Wangsa mengeksekusinya hari ini."

Kai menjeda kalimatnya, memberikan tekanan psikologis yang berat di udara ruangan. "Bagaimana bisa seorang siswi SMA kelas sebelas bisa memprediksi pergerakan bisnis bernilai miliaran rupiah dari sebuah perusahaan properti besar, bahkan sebelum direksi mereka mengumumkannya ke publik? Atau... kamu sengaja memberikan data itu kepada seseorang?"

Analisis yang luar biasa dari seorang Kai Mahardika. Rina harus mengakui di dalam hati bahwa kecerdasan otaknya di masa SMA ini memang berada di level yang sangat berbeda. Kai bisa menghubungkan titik-titik informasi terkecil yang diabaikan oleh orang dewasa di sekitarnya.

Rina menutup buku tebalnya dengan bunyi ketukan yang pelan. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menatap Kai tanpa ada setitik pun riak kepanikan di wajah cantiknya.

"Ketua OSIS, apakah kamu pernah mendengar tentang teori Game Theory dalam ekonomi?" Rina balik bertanya dengan nada suara yang sangat tenang. "Ketika kamu mempelajari perilaku kompetitor dalam pasar yang terbatas, pergerakan mereka menjadi sangat mudah ditebak seperti algoritma komputer. Keluarga Wangsa terkenal agresif namun ceroboh dalam mengambil risiko modal. Mereka selalu mencari jalan pintas untuk memotong kompas persaingan bisnis dengan perusahaan ayah saya."

Rina memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Kai dengan binar yang sarat akan teka-teki yang dingin. "Saya tidak memprediksi masa depan, Kai. Saya hanya membaca sifat serakah manusia. Dan keserahan selalu menuntun seseorang menuju lubang jebakan yang mereka gali sendiri karena ketidaksabaran mereka. Apakah analisis teori ekonomi seperti itu dilarang untuk dipelajari oleh anak kelas sebelas?"

Kai tertegun. Untuk pertama kalinya, Rina menyebut namanya secara langsung tanpa embel-embel jabatan formal, dan itu terdengar begitu intim sekaligus mengintimidasi. Jawaban Rina bukan sekadar pembelaan diri; itu adalah sebuah pengakuan tersirat yang sangat cerdas bahwa dia memang terlibat, namun tidak meninggalkan satu pun jejak hukum yang bisa disalahkan.

Kai menatap Rina selama beberapa detik yang panjang, sebelum akhirnya sebuah tawa rendah yang sangat jernih dan tulus keluar dari tenggorokannya. Gumpalan es di wajah tampannya mencair sepenuhnya.

"Kamu benar-benar berbahaya, Rina Azalea," ucap Kai dengan suara rendah yang sarat akan kekaguman yang mendalam. Dia berdiri dari kursinya, merapikan kembali kemejanya, dan mengambil tabletnya. "Keserakahan memang selalu menjadi racun terbaik. Aku akan sangat menikmati bagaimana kelanjutan dari 'permainan catur' yang sedang kamu susun ini."

Kai melangkah pergi meninggalkan meja perpustakaan. Namun baru berjalan tiga langkah, dia menghentikan langkahnya tanpa berbalik. "Oh iya, satu hal lagi. Mulai besok, tidak perlu duduk di barisan belakang perpustakaan jika kamu butuh referensi buku tingkat lanjut. Kunci ruang baca khusus OSIS yang memiliki koleksi literatur universitas... ada di bawah vas bunga meja kerjaku. Gunakan sesukamu."

Kai melanjutkan langkahnya keluar dari perpustakaan, meninggalkan Rina yang masih duduk terpaku di kursinya.

Rina menatap pintu kaca perpustakaan yang perlahan menutup. Sebuah senyuman manis yang kali ini benar-benar tulus terukir di bibirnya. Kai tidak hanya menyetujui keberadaannya; pemuda itu baru saja membuka pintu gerbang kekuasaannya untuk membantu Rina berjalan lebih cepat. Hubungan di antara mereka bukan lagi sekadar Ketua OSIS dan siswi kuper, melainkan sebuah aliansi rahasia dua otak jenius yang siap mengguncang fondasi Harapan Elite.

 

1
Hitomaa🇦🇷
ambisius sekali si Rina
Hitomaa🇦🇷
Kok 16 tahun? bukannya harusnya 18 tahun, soalnya dia balik ke 10 tahun yang lalu
Hitomaa🇦🇷
Jejak dulu 👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!