Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.
Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.
Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.
Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: PERISAI SENYAP
Malam yang pekat perlahan-lahan mulai memudar di ufuk timur ksatrian Bukit Raya, berganti dengan semburat abu-abu keperakan yang menandakan fajar akan segera menyingsing. Jarum jam dinding di dalam ruang VIP poliklinik baru saja menunjukkan pukul empat dini hari. Suasana asrama militer masih tenggelam dalam kesunyian yang magis, beberapa saat sebelum peleras suara masjid satuan benar-benar berbunyi melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an menjelang adzan subuh.
Kolonel Victor tahu betul bahwa ia harus melangkah mundur sekarang. Karena tidak ingin menimbulkan rumor, desas-desus, ataupun riak spekulasi sekecil apa pun di kalangan anggota jajaran bawah, Victor memilih untuk kembali ke rumah jabatannya lebih awal. Sebagai seorang komandan tertinggi di Pusdikmil, pria raksasa itu sangat paham bagaimana cara melindungi kehormatan dan nama baik Ayu agar wanita itu bebas dari komentar miring atau gunjingan miring di lingkungan ksatrian yang terkenal sangat cepat menyebar laksana api menyiram bensin.
Walau sebenarnya, jika dipikir menggunakan logika manusia biasa, sah-sah saja jika mereka berdua menghabiskan waktu bersama di dalam ruang rawat itu. Toh, status hukum Ayu saat ini sudah resmi menjadi seorang janda, dan Victor sendiri adalah seorang pria lajang yang tidak terikat komitmen pernikahan dengan siapa pun. Secara norma sosial, kedekatan mereka dirasa sangat wajar dan tidak melanggar hukum apa pun.
Namun, dunia militer memiliki ekosistem sosialnya sendiri yang jauh lebih rumit dan kaku. Yang paling Victor khawatirkan dan paling ia takuti adalah jika ada oknum anggota atau keluarga besar ksatrian yang memandang Ayu dengan pandangan hina atau sebelah mata. Apalagi di lingkungan asrama yang semi-tertutup seperti ini, status seorang janda baru sering kali dipandang secara bias dan terlalu rendah di mata orang-orang sekitar.
Victor tahu betul bagaimana dinamika di dalam organisasi persatuan istri prajurit sekarang, setelah status pernikahan Ayu berubah, bukan tidak mungkin para istri perwira lainnya akan seakan-akan merasa ketakutan dan cemas jika suaminya direbut oleh Ayu—sebuah stigma buruk dan stereotip miring yang sering kali dilekatkan pada wanita mandiri yang terpaksa berjuang sendirian sebagai ibu tunggal. Victor tidak akan pernah membiarkan seujung kuku pun kehormatan Ayu diinjak-injak oleh pandangan picik seperti itu.
Victor perlahan bangkit dari sisi ranjang brankar setelah memastikan Arkan kembali terlelap dengan napas yang teratur pasca-diberikan kompres hangat. Langkah kakinya yang besar bergerak tanpa suara menuju sofa panjang tempat Ayu masih meringkuk di bawah selimut jaket loreng tegap miliknya.
Pria raksasa itu menurunkan kembali tubuh kekarnya, mengambil posisi berjongkok tepat di hadapan Ayu yang wajah cantiknya masih tampak begitu pulas dalam dekapan mimpi. Menatap wajah kuyu yang sarat akan sisa lelah itu, seulas senyuman yang teramat lembut dan tulus terukir di wajah tegas sang Kolonel.
"Ayu...?" bisik Victor dengan nada suara bariton yang teramat lembut, hampir menyerupai hembusan angin fajar.
Tangan kanannya yang kekar dan hangat terangkat perlahan, lalu dengan gerakan yang sangat berhati-hati, jemari besarnya mengusap pelan pangkal batang hidung Ayu yang mulus. Sentuhan fisik yang halus dan konstan ini sukses mengusik kesadaran Ayu yang berada di ambang batas tidurnya. Bulu mata lentik wanita itu bergerak pelan, sebelum akhirnya sepasang manik matanya terbuka perlahan, menyesuaikan diri dengan temaram lampu ruangan.
"Komandan...?" ucap Ayu dengan suara yang parau khas orang baru bangun tidur.
Begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya dan menyadari posisi wajah Victor yang berada teramat dekat di hadapannya, Ayu langsung tersentak. Ia terbangun dari posisi berbaringnya, bergegas duduk tegak di atas sofa sembari mengusap matanya perlahan menggunakan ujung jarinya, mencoba mengusir sisa kantuk dan mengembalikan fokus logikanya sebagai seorang perwira intelijen.
"Apa... apa ada masalah, Komandan? Ada situasi darurat di kantor?" tanya Ayu bertubi-tubi dengan nada panik yang tertahan.
Victor masih tetap berada pada posisinya semula—yaitu berjongkok dengan tenang di hadapan Ayu sembari mendongak menatap lekat wajah wanita itu. Ia tersenyum tipis melihat kepanikan profesional Ayu, lalu menggelengkan kepalanya pelan demi menenangkan debaran jantung wanita di depannya.
"Tidak ada. Tidak ada masalah apa pun," jawab Victor lembut, suaranya meneduhkan badai kepanikan di dada Ayu. "Aku harus kembali ke depan sekarang, sebelum ksatrian benar-benar terbangun. Istirahatlah kembali. Aku minta maaf karena sudah lancang membangunkan tidurmu sepagi ini. Tapi bagaimanapun juga, aku harus berpamitan, takutnya nanti kamu bingung saat bangun dan tidak ada yang menjaga Arkan di sini."
Ayu tertegun sejenak, mencerna untaian kalimat yang meluncur dari bibir pria masa lalunya itu. Detik berikutnya, otak taktisnya langsung paham arah maksud dan pertimbangan birokrasi yang dipikirkan Victor demi melindungi posisinya dari fitnah asrama. Ayu menganggukkan kepalanya perlahan dengan patuh.
"Siap, paham Komandan. Terima kasih," jawab Ayu lirih, menundukkan kepalanya sedikit demi menyembunyikan semburat merah yang mendadak muncul di pipinya.
Sebelum benar-benar membalikkan badannya untuk pergi, Victor menatap Ayu sekali lagi dengan sepasang mata kelamnya yang memancarkan tatapan dalam yang teramat sulit untuk diartikan—sebuah tatapan yang sarat akan kerinduan, kepemilikan, dan rasa ingin melindungi yang mutlak. Tangan kekar Victor kembali terangkat, mengusap pelan dan penuh kasih sayang pucuk kepala Ayu yang terbungkus rapi oleh kain jilbab instan tersebut.
"Kalau ada apa-apa, atau jika kondisi Arkan kembali drop, segera hubungi aku lewat jalur pribadi. Oke?" ucap Victor pelan.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Ayu untuk merespons, Victor memajukan tubuh raksasanya, menyentuh lembut pipi Ayu yang hangat dengan punggung jarinya, lalu menundukkan kepala untuk mencium pucuk kepala Ayu kembali dengan kecupan yang lama dan sarat akan penekanan emosional. Sebuah kecupan hangat yang seolah menegaskan bahwa Ayu tidak akan pernah dibiarkan berjalan sendirian lagi menghadapi kerasnya dunia.
Ayu benar-benar hanya bisa tertegun kaku di atas sofa, tubuhnya mendadak membeku dengan dada yang berdegup kencang laksana genderang perang. Ia baru benar-benar tersadar penuh dari keterpakuannya setelah mendengar suara klik halus dari daun pintu yang menutup rapat, menandakan siluet tubuh tegap Kolonel Victor telah melangkah keluar meninggalkan ruangan VIP poliklinik.
Ayu menyentuh pucuk kepalanya yang baru saja dikecup oleh Victor, lalu mengembuskan napas panjang sembari memejamkan matanya rapat-rapat.
"Ah... sial. Aku benar-benar kecolongan lagi di hadapannya," bisik Ayu merutuki benteng pertahanannya yang entah mengapa selalu runtuh tanpa sisa setiap kali berhadapan dengan dominasi sang Kolonel.