NovelToon NovelToon
Mahar Sandiwara Sang Papa

Mahar Sandiwara Sang Papa

Status: tamat
Genre:CEO / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Amira perlahan membuka matanya. Aroma antiseptik yang menyengat dan bunyi detak jantung dari alat monitor yang teratur menemaninya kembali ke alam sadar.

Efek bius sudah hilang, namun kepalanya masih terasa berat, menyisakan pening yang berputar di dalam benaknya.

Di samping ranjangnya, ia melihat Daniel tertidur pulas di kursi sambil masih menggenggam sebelah tangannya.

Wajah Daniel tampak sangat lelah dan penuh kecemasan yang tersisa; kantung mata yang menghitam dan sisa keringat yang mengering di pelipisnya menunjukkan betapa pria itu tidak beranjak sedetik pun dari sisinya.

Kabar mengenai Felia aman datang tak lama kemudian.

Suster rumah sakit masuk dengan suara pelan, mengabarkan bahwa Felia saat ini sedang tidur di kamar sebelah, dijaga ketat oleh suster dan tim keamanan.

Felia baik-baik saja tanpa luka fisik.

Alih-alih merasa lega karena selamat, dada Amira justru terasa sesak.

Kabar baik tentang Felia tidak mampu mengusir badai yang bergemuruh di dalam hatinya. Kata-kata Daniel di gudang tua itu bergaung kembali di kepalanya:

"Aku mencintaimu, Selena. Aku selalu mencintaimu."

Kalimat itu terus berputar, menguliti setiap sudut hatinya yang hancur.

Terjadilah kesadaran yang menghancurkan di dalam keheningan kamar rawat tersebut.

Amira menarik tangannya perlahan dari genggaman Daniel agar pria itu tidak terbangun. Kehangatan tangan Daniel kini terasa seperti duri yang menusuk kulitnya.

Air matanya menetes tanpa suara, membasahi bantal rumah sakit yang dingin.

Ia tersadar bahwa tatapan hangat, perhatian, dan pernikahan mereka selama ini hanyalah fatamorgana.

Semua pelukan hangat dan rasa khawatir yang ditunjukkan Daniel pasca-kecelakaan bukanlah untuk dirinya.

"Aku hanya seorang pengganti," bisik Amira sangat lirih, menatap bayangan dirinya yang samar di kaca jendela kamar.

"Kamu merawatku bukan karena menghargaiku sebagai Amira, tapi karena wajah ini, wajah wanita yang paling kamu cintai."

Rasa sakit karena dijadikan bayang-bayang orang mati terasa jauh lebih membunuh daripada ancaman pisau Selena beberapa jam yang lalu.

Di kamar yang sunyi itu, Amira tahu bahwa pernikahannya telah usai, tepat ketika nyawanya baru saja diselamatkan.

Amira tahu ia tidak bisa bertahan dalam pernikahan yang didasari oleh bayang-bayang wanita lain.

Dengan tubuh yang masih lemas, ia turun dari ranjang secara diam-diam.

Rasa pening di kepalanya diabaikan, digantikan oleh tekad bulat untuk pergi dan menyembuhkan harga dirinya yang telah hancur berkeping-keping.

Amira mengambil selembar kertas dan pulpen yang tergeletak di meja rumah sakit.

Dengan tangan gemetar, ia menuliskan pesan terakhirnya untuk Daniel.

Setiap goresan tinta itu beriringan dengan air mata yang menetes pelan, membasahi sudut kertas.

Mas Daniel, terima kasih atas segalanya. Terima kasih telah menyelamatkanku malam itu, dan terima kasih telah mengizinkanku menjadi bagian dari hidup Felia, walau hanya sesaat.

Mendengar ucapanmu di gudang tadi membuatku sadar di mana tempatku yang sebenarnya. Aku tidak bisa hidup sebagai bayang-bayang Selena. Wajah ini mungkin mirip dengannya, tapi aku adalah Amira. Aku tidak bisa menjadi pengganti untuk hati yang tidak pernah terbuka untukku.

Tolong jangan cari aku. Rawatlah Felia dengan baik. Aku mengembalikan kebebasanmu.

Amira meletakkan surat itu di samping ponsel Daniel.

Menggunakan pakaian kasual yang ada di lemari rumah sakit, ia melangkah keluar kamar dengan mengendap-endap, menghindari penjagaan anak buah Daniel di koridor utama. Beruntung, fokus para penjaga sedang terbagi ke kamar Felia di sebelah, memudahkan Amira menyelinap melalui tangga darurat menuju lobi belakang.

Sebelum melangkah lebih jauh, Amira merogoh ponselnya.

Ia mengirim pesan ke Mama untuk berpamitan dan jangan memberitahukan Daniel kalau ia pindah ke Belanda.

Di negeri kincir angin itu, ia akan melanjutkan studinya yang sempat tertunda, membangun kembali hidupnya dari nol dengan identitasnya sendiri sebagai Amira, bukan sebagai duplikat Selena.

Amira menghentikan taksi di luar rumah sakit. Tujuannya hanya satu: Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Di dalam mobil, ia menyandarkan kepalanya ke kaca yang dingin.

Ia ingin pergi sejauh mungkin dari Jakarta, dari Daniel, dan dari semua sandiwara yang telah menghancurkan hatinya.

Taksi melaju membelah fajar yang mulai menyingsing, meninggalkan Daniel yang masih terlelap, tidak tahu bahwa ia baru saja kehilangan wanita yang sebenarnya mulai mengisi hatinya tanpa ia sadari.

Daniel mengira kata-kata cintanya di gudang tua itu hanyalah taktik untuk mengecoh Selena, tanpa menyadari bahwa kebohongan demi menyelamatkan nyawa itu justru menjadi belati paling tajam yang mengusir Amira dari hidupnya untuk selamanya.

Matahari pagi mulai menerobos masuk melalui celah gorden kamar rumah sakit, menyorot langsung ke wajah Daniel.

Daniel membuka matanya dan melihat ranjang yang kosong.

Kesadarannya seketika terkumpul penuh. Rasa kantuknya hilang menguap digantikan oleh kepanikan yang mendadak menyerang dadanya.

"Amira...?" panggilnya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

Tidak ada sahutan. Ia bangkit mencari Amira ke kamar mandi. Nihil.

Kamar mandi itu terbuka lebar dan tidak ada siapa-siapa di dalam.

Saat melangkah kembali ke samping ranjang, ia melihat selang infus yang dilepas dengan paksa, menyisakan bercak darah kering di atas seprai.

Tepat di samping ponselnya yang tergeletak di atas meja, ada surat terlipat rapi.

Jantung Daniel berdebar kencang saat meraih kertas tersebut.

Dengan tangan gemetar, ia membacanya kata demi kata.

Setiap kalimat yang ditulis Amira laksana hantaman gada yang meremukkan dada Daniel. Surat itu berisi keputusasaan Amira yang merasa hanya dijadikan bayang-bayang Selena.

"Tidak... tidak, Amira. Kamu salah paham..." bisik Daniel, napasnya memburu.

Cengkeramannya pada kertas itu mengencang. Air mata Daniel menetes, membasahi tinta tulisan tangan Amira.

"Amira, apa yang kamu lakukan? Aku mencintaimu, Amira. Kamu bukan bayang-bayang Selena!" teriak Daniel frustrasi di dalam kamar yang sunyi itu.

Daniel menjambak rambutnya sendiri dengan penuh penyesalan.Ucapan cintanya di gudang tua itu murni taktik sandiwara untuk mengulur waktu dan menyelamatkan nyawa Felia serta Amira dari kegilaan Selena.

Rasa cinta Daniel pada Selena sudah lama mati sejak ia tahu wanita itu memalsukan kematiannya demi uang.

Justru selama satu bulan ini, kelembutan dan ketulusan Amira lah yang berhasil menyembuhkan hatinya.

Daniel benar-benar telah jatuh cinta pada Amira sebagai dirinya sendiri, bukan karena wajahnya.

Tanpa membuang waktu, Daniel langsung menyambar ponselnya dan berlari keluar kamar.

Ia harus menemukan istrinya, menjelaskan semua kesalahpahaman ini sebelum semuanya benar-benar terlambat.

Dari balik jendela kecil kabin, Jakarta perlahan mengecil, berubah menjadi hamparan lampu dan gedung yang kian samar tertutup awan abu-abu.

Deru mesin jet bergetar konstan, membawa tubuhnya menjauh ribuan kilometer per jam dari semua luka yang menggores hatinya.

Pesawat lepas landas dan menuju ke Belanda.

Amira menyandarkan kepalanya pada bantalan kursi.

Di dalam genggamannya, paspor dan dokumen universitasnya tercengkeram erat—simbol dari lembaran baru yang harus ia tata kembali di negeri yang asing.

Tidak ada lagi ketakutan akan Selena, tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu, dan yang paling menyakitkan: tidak ada lagi Daniel.

"Selamat tinggal semuanya," ucap Amira lirih, suaranya nyaris teredam oleh gemuruh mesin pesawat.

Ia menarik napas dalam-dalam, sambil menghapus air matanya yang mengalir untuk terakhir kali menggunakan ujung jarinya.

Bersamaan dengan tetesan air mata itu, Amira berjanji pada dirinya sendiri untuk mengubur semua kenangan manis yang ternyata semu.

Mulai detik ini, di atas langit yang memisahkan dua benua, ia bukan lagi pengganti siapa pun.

Ia adalah Amira, wanita yang memilih pergi untuk menemukan kembali dirinya yang hilang.

1
falea sezi
lanjut q kasih hadiah
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!