Membaca novel ini, bisa menyebabkan shampo di rumah cepat habis.
Kehidupan Natahania berubah total setelah diperistri Elang Adhitama Gunardi, pria yang merupakan pemilik rumah tempatnya bekerja. Nathania yang polos, harus bisa mengimbangi gaya hidup Elang yang jauh berbeda dengannya. Dia kebingungan menentukan rasa, yang tak pernah Elang tunjukan dengan jelas. Kecewa, Nathania memutuskan pergi.
Apa yang Nathania lakukan berhasi membuat Elang sadar. Pria itu berusaha mencari dan membawanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penakluk Keganasan Elang
Ya, sepertinya hanya seorang Elang Adhitama Gunardi yang sanggup mewujudkan sebuah pernikahan dalam jangka waktu yang teramat sangat singkat seperti itu.
Malam ini, adalah pesta pernikahan Elang dan Nathania. Dirayakan di aula istana megah milik Elang. Sebuah ruangan khusus yang memang sengaja Elang siapkan untuk menggelar acara-acara penting, seperti halnya pesta malam ini.
Rahman dan Mely pun ikut ambil bagian dalam pesta itu, meskipun sebenarnya Rahman tidak nyaman berada diantara orang-orang berpakaian rapi dan necis itu. Ia tidak suka berada disana.
Berbeda dengan istrinya, Mely.
Wanita yang sedang hamil tua itu, tampak sangat antusias berada di pesta kalangan atas itu. Ia mencicipi semua makanan yang memang tidak pernah ia dapatkan seumur hidupnya itu. Ia bahkan lupa dengan kedua putra kecilnya yang malam itu dititipkan pada seorang pelayan di kediaman Elang.
"Mel, apa tidak sebaiknya kita pulang saja?" ajak Rahman dengan wajahnya yang terlihat sangat tidak nyaman.
"Apa sih kamu, Mas?" tolak Mely. Ia masih sibuk dengan aneka hidangan yang membuatnya kalap.
Rahman hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan istrinya itu. Sesaat kemudian, tatapannya beralih kepada Nathania.
Gadis itu tampak sangat cantik malam ini. Rambutnya disanggul rapi dengan hiasan rambut yang indah. Gaun malam yang dipakainya pun, membuatnya telihat semakin anggun malam itu.
Gaun panjang dari bahan satin dengan bagian atas berbahan lace. Gaun dengan warna putih, warna kesukaan Elang.
Nathania berdiri dengan anggunnya disebelah pria tampan, dengan setelan jasnya yang sangat rapi. Ia harus terus tersenyum kepada semua tamu yang datang dan menyapa mereka berdua.
Memang tidak sampai ratusan, apalagi ribuan tamu yang Elang undang malam itu. Hanya beberapa rekan sesama pengusaha. Teman-temannya di lapangan golf, lapangan tenis dan beberapa kenalannya yang lain, yang semuanya terlihat sangat rapi malam itu.
"Kenapa sangat mendadak?" bisik seorang pria yang merupakan salah seorang teman bermain golf Elang.
"Karena aku mendadak ingin menikah," jawab Elang, dan sontak membuat pria itu tertawa lebar.
Nathania hanya tersenyum kecil. Ia tidak menyangka jika Elang ternyata dapat bercanda juga seperti orang normal lainnya.
Lalu, bagaimana dengan Nastya? Meskipun ia tidak setuju dengan pernikahan sang kakak, akan tetapi gadis itu tampil sangat cantik malam ini dengan midi dress satin model A line nya. Gaun dengan warna hitam itu membuatnya terlihat sangat bersinar dengan kulit putih mulusnya.
Bola matanya yang berwarna kebiruan, terus menjelajahi seluruh ruangan aula yang luas itu. Ia mencari seseorang yang sedang ia tunggu sejak tadi.
Dean, sang kekasih yang nyatanya tidak juga muncul disana.
Kesal, itulah yang dirasakan Nastya. Rasanya ia sudah benar-benar ingin meledak saja.
Acara pernikahan Elang dan Nathania ini sudah membuat kepalanya seperti mau pecah. Harapan untuk bertemu sang kekasihpun malah berujung suatu kekesalan di hatinya, karena Dean ternyata tidak juga datang. Padahal ia sudah berjanji untuk hadir, di pesta yang Elang selenggarakan itu.
Nastya pun berlalu keluar dari ruangan aula itu dengan wajahnya yang cemberut total. Ia lebih memilih menyendiri di gazebo taman sebelah rumah megah itu.
Duduk sendiri sambil termenung, hingga ia tidak menyadari dengan kehadiran Roni disana.
Pria itu melihat Nastya keluar dengan wajah kesal tadi, karenanya ia mengikuti gadis itu.
Roni pun duduk disebelah gadis itu, dan kehadirannya cukup membuat Nastya terkejut.
"Kenapa malah menyendiri disini?" tanya Roni seraya melirik gadis berwajah imut itu.
Nastya tidak menjawab. Ia hanya memasang wajah cemberut sejak tadi.
"Kamu tidak suka dengan pernikahan kakakmu?" tanya Roni pelan.
Nastya masih terdiam.
Roni menggumam pelan. Ia pun tersenyum kepada gadis manja berambut keriting itu.
"Sejak kapan kamu jadi menyukai rambut keriting?" Roni mengalihkan pembicaraan.
Nastya menoleh. "Sejak kapan kamu perhatian dengan hal seperti itu?" jawab Nastya dengan nada sedikit ketus. Terlihat dengan jelas jika ia sedang dalam kekesalan tingkat tinggi.
"Sejak aku merasa heran karena tiba-tiba rambutmu berubah menjadi keriting," jawab Roni dengan tenangnya.
Nastya terdiam sejenak. Sesaat kemudian ia pun kembali melirik Roni. Pria 30 tahun itu masih setia melajang, padahal secara fisik ia cukup menarik.
Wajahnya memang tidak terlalu tampan. Roni berkulit sawo matang, selain memelihara jenggot tipis, ada juga beberapa bekas jerawat di wajahnya. Tampaknya ia tidak terlalu suka dengan perawatan wajah.
Namun, penampilannya rapi. Pekerjaannya sebagai tangan kanan Elang, membuatnya akrab dengan setelan jas, meskipun ia lebih suka memakai kaos atau turtleneck sebagai baju dalamnya ketimbang memakai kemeja seperti Elang.
Nastya kembali mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Sebaiknya kita masuk. Tidak enak jika tiba-tiba kamu menghilang dari pesta kakakmu sendiri," ajak Roni. Ia pun berdiri dan mengajak Nastya untuk masuk.
Nastya masih terdiam. Wajahnya masih saja cemberut. Dengan terpaksa. Roni pun kembali duduk disebelahnya.
"Jangan cemberut terus! Kalau cemberut, cantikmu hilang," goda Roni diselingi senyuman manisnya. Senyuman khas playboy nya.
Nastya melirik pria itu.
"Aku kesal, Ron," ucap Nastya pelan.
"Sudah kubilang jangan memikirkan pernikahan ini!" jawab Roni.
"Bukan tentang pernikahan ini saja. Tapi ...." Nastya tidak melanjutkan kata-katanya.
"Tapi apa? Kekasihmu itu?" tanya Roni.
Nastya tidak menjawab. Ia juga tidak memberi kode apapaun kepada Roni.
"Dia membuat ulah apalagi?" tanya Roni.
Selama ini, Roni memang menjadi teman bercerita bagi Nastya. Gadis itu kerap mencurahkan semua unek-uneknya terhadap Dean, kekasihnya kepada Roni. Karena itulah, Roni mengetahui masalah percintaan gadis itu dengan kekasihnya.
"Aku sudah sering mengatakan padamu. Jangan memaksa seseorang yang sudah tidak berharap lagi padamu. Tetapi. kamu masih saja mengharapkan dia untuk berubah," Roni tampak kecewa dengan sikap Nastya yang keras kepala.
Sudah hampr 1,5 tahun ini, Nastya menjalin hubungan dengan seorang pemuda bernama Dean.
Dean adalah seorang penyiar radio. Belakangan ia diketahui dekat dengan sesama penyiar wanita lainnya.
Nastya memang belum pernah melihat apa yang diceritakan teman-temannya itu secara langsung. Akan tetapi, perubahan sikap Dean selama ini sudah dapat mewakili semuanya.
Nastya berkali-kali meminta penjelasan kepada pemuda berusia 25 tahun itu. Akan tetapi, pemuda itu lebih memilih untuk menghindarinya.
"Apa yang kamu harapkan dari pengecut seprti dia? Kamu cantik, bahkan sangat cantik. Aku yakin, pasti banyak pemuda yang menyukaimu. Seandainya saja usiamu jauh lebih dewasa sedikit saja, maka akupun mau menjadi pacarmu," Roni tertawa pelan saat Nastya menyeringai padanya, demi menanggapi ucapan konyol pria itu.
"Usiaku 21 tahun," protes Nastya. Ia memang selalu kesal jika Roni sudah menganggapnya sebagai gadis kecil.
"Aku tahu. Tapi lihat sikap dan sifatmu itu! Kamu seperti anak gadis berusia 14 tahun. Manja dan sangat kekanak-kanakan. Jika aku menjadi pacarmu, maka aku pastikan akan menjitak kepalamu setiap hari," celetuk Roni.
Nastya semakin cemberut mendengar ucapan Roni yang terdengar sangat menyebalkan itu.
"Kenapa kamu ini? Bukannya menghiburku, tapi malah bicara seperti itu. Kakakku sekarang sudah menikah. Dia pasti akan sibuk dengan istrinya. Dam aku tidak menyukai gadis itu.
Sementara kekasihku sendiri, entah kemana dia? Seharusnya malam ini dia ada disini, menemaniku," Nastya dengan manjanya.
Roni pun berdiri. Terdengar keluhan panjang dari bibirnya yang berkumis tipis itu.
"Bicara denganmu memang sangat membosankan," keluhnya. Ia pun beranjak darisana.
"Hei, mau kemana kamu?" seru Nastya seraya berdiri.
Roni menoleh. "Lebih baik aku ke dalam. Setidaknya disana ada banyak maknan enak, daripada harus melihat wajahmu yang cemberut terus," jawab Roni dengan tenangnya. Ia pun melanjutkan langkahnya.
"Dasar, makaroni seblak!" umpat Nastya kesal.
Roni tertegun. Ia tersenyum ketika Nastya menyebutnya dengan nama itu. Itu merupakan panggilan 'sayang' Nastya kepadanya.
Roni pun kembali menghampiri gadis itu. Dengan segera ia meraih tangan Nastya dan menuntunnya menuju aula. Merekapun menyusuri lorong dengan lampu tempel berwarna kuning temaram. Lampu yang berjejer rapi dengan jarak yang sudah diatur sedemikian rupa.
Tiba-tiba Nastya menghentikan langkahnya. Roni pun tertegun dan menoleh.
"Ada apa?" tanyanya dengan wajah penasaran.
Nastya tidak menjawab. Ia hanya berdiri mematung.
Roni menatapnya dengan penuh keheranan. Ia pun melepaskan genggaman tangannya dan mendekati gadis itu. "Kenapa?" tanyanya lagi.
Tanpa diduga, Nastya memeluknya dengan erat. Gadis itupun terisak. Roni pun membalas pelukan gadis itu.
"Sudahlah, jangan menangisi pria seperti dia. Simpan air matamu untuk sesuatu yang jauh lebih penting untuk kamu tangisi!" Roni mengelus lembut rambut Nastya.
Pria itu sangat lembut dan dewasa. Wajah tidak beraturan itu, sangat berbanding terbalik dengan sikap dan hatinya.
Perlahan Roni melepaskan pelukannya. Ia menghapus air mata yang menetes di sudut bibir gadis itu.
"Sudahlah, sebaiknya kita kembali ke pesta," ajaknya.
Nastya pun mengangguk pelan.
"Tersenyumlah!" bisik Roni.
Nastya menatapnya.
"Ayo, tersenyumlah!" paksa Roni seraya mencubit kedua pipi Nastya dengan gemasnya.
Nastya diam saja saat Roni memperlakukannya seperti seorang anak kecil. Namun, pada akhirnya ia pun tersenyum.
Melihat gadis itu telah kembali 'pulih', Roni pun kembali menuntunnya masuk ke dalam aula. Dan merekapun menikmati pesta hingga selesai.
Pesta telah usai. Rahman dan Mely, dipersilakan untuk menginap di kediaman milik Elang yang megah itu.
Meskipun pada awalnya Rahman menolak tawaran untuk menginap disana, akan tetapi Mely menerima tawaran itu dengan sangat antusias. Dan ia terlihat sangat bahagia ketika memasuki kamar tamu yang mewah itu. Jiwa miskinnya menangis, ketika menyadari jika kamar tamu yang ia tempati malam itu, berukuran hampir sama dengan luas rumah yang ia tempati bersama Rahman.
Dan sifat noraknyapun akhirnya keluar juga.
Sementara itu, di kamar lain.
Sudah hampir 2 bulan Nathania bekerja di rumah megah itu. Akan tetapi, ini pertama kalinya ia masuk ke dalam kamar milik Elang.
Kamar yang terletak di ujung lorong itu memang sangat mewah dan berukuran sangat besar, untuk ukuran sebuah kamar kamar tidur.
Kamar dengan dinding berwarna abu-abu.
Di ruangan utama kamar itu tidak ada banyak barang yang di pajang. Hanya ada dua buah kursi dan sebuah meja kecil berwarna abu-abu, dan sebuah tempat tidur berukuran besar dengan bed cover berwarna abu-abu pula.
Sementara semua pakaian dan perlengkapan lainnya, terdapat di ruangan lain. Itu seperti sebuah lemari mewah dengan ukuran yang sangat besar.
Malam kian larut. Nathania masih dengan gaun pestanya yang panjang seperti seorang putri raja.
Ia kini berdiri di depan cermin yang sengaja diletakan dengan berdiri setinggi tubuhnya.
Gadis itu terdiam dan mematung, menatap dirinya sendiri dalam balutan gaun seharga jutaan rupiah itu.
Ia masih belum percaya, jika saat ini ia adalah istri dari Elang Adhitama Gunardi.
Haruskah ia merasa bangga dengan status barunya itu? Bahagiakah ia dengan menyandang nama Ny. Adhitama Gunardi?
Nathania sendiri tidak mengerti, kenapa ia bisa sampai bersedia mengikuti permainan dari pria arogan itu.
Nathania masih menatap dirinya dari pantulan cermin itu. Ia kesulitan melepas hiasan rambut yang ada diantara sanggul cantiknya.
Tidak berselang lama, Elang telah muncul di belakangnya. Ia berdiri di dekatnya dan menatap Nathania dari pantulan cermin itu.
Nathania balas menatapnya. Tanpa senyuman ataupun rona bahagia di wajahnya yang cantik dengan riasan yang belum sempat ia bersihkan.
"Aku belum sempat mengatakannya padamu," bisik Elang dari arah belakang Nathania.
"Apa?" tanya gadis itu pelan.
"Kamu sangat cantik malam ini," puji Elang, dengan tatapannya yang terfokus pada wajah Nathania dalam pantulan cermin itu.
Nathania tidak menjawab. Ia bahkan tidak bereaksi apa-apa mendengar pujian dari pria yang kini telah menjadi suaminya itu. Ia hanya menatap Elang dengan datar.
Namun, pada akhirnya Nathania kembali sibuk dengan hiasan di rambutnya. Hiasan yang sejak tadi sulit ia lepaskan.
Melihat sang istri kesulitan dengan hiasan rambutnya, Elang pun membantunya tanpa diminta. Dengan cepat, ia melepaskan hiasan rambut itu. Ia kembali menatap Nathania.
Perlahan Elang memegangi kedua lengan Nathania dengan lembut. Ia pun mencium pundak Nathania dengan perlahan.
Nathania masih terdiam. Ia membiarkan saja apa yang Elang lakukan padanya. Namun, sesaat kemudian ia berkata, "Aku lelah. Aku mau ke kamar mandi dulu," Nathania pun berlalu keluar dari ruang pakaian itu dan meninggalkan Elang dengan wajah sedikit kecewa.
Elang menarik nafas panjang. Ia pun memilih untuk berganti pakaian saja. Setelah itu ia kembali ke ruang utama kamarnya.
Nathania kini tengah sibuk dengan gaun pestanya. Semua yang ia pakai malam ini, benar-benar telah membuatnya kewalahan. Termasuk semua riasan yang menempel di wajahnya.
Elang kembali menghampirinya dan membantu sang istri menurunkan resleting gaunnya yang memanjang dari leher dan berakhir tepat di atas bagian pinggul Nathania. Perlahan Elang pun membuka gaun itu kearah depan.
"Aku bisa melakukannya sendiri," ucap Nathania. Ia menolak bantuan Elang secara halus.
Elang pun menurut. Ia membiarkan Nathania melepas gaunnya sendiri.
Elang hanya memperhatikannya dengan seksama.
Nathania kini telah menjadi istrinya. Gadis itu kini telah benar-benar menjadi miliknya, dan itu sesuatu yang tidak pernah ada dalam rencana hidupnya selama ini.
Ia mengenal banyak wanita cantik dan seksi yang bersedia mememaninya menghabiskan malam, namun ia tidak pernah menyangka, jika ia harus terjebak dalam keperawanan seorang gadis sederhana seperti Nathania.
Dan kini, ia bahkan menjadikan gadis itu sebagai Ny. Adhitama Gunardi. Nyonya muda penguasa istana megahnya.
Nathania mungkin dianggap sebagai gadis yang sangat beruntung, karena dapat menaklukan keganasan seorang Elang yang selama ini menolak sebuah hubungan serius. Apalagi pernikahan.
Mungkinkah Elang memang sudah takluk pada kesederhanaan Nathania yang polos?
Apakah Elang yang bermata tajam itu, telah kalah oleh tatapan teduh Nathania yang sederhana?
Entahlah. Hanya Elang yang tahu dengan apa yang ia rasakan saat ini.
Namun satu yang pasti. Elang kini akan menghabiskan hari-harinya bersama si pemilik mata teduh itu.
semangat selalu dalam menulis
cerita ini bikin baper banget