Dua tahun menjalani hubungan rahasia (backstreet) dengan Dimas—pria matang keturunan darah biru—Kirana rela mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia melepaskan masa lalu, melawan restu keluarganya sendiri, hingga meruntuhkan tembok perbedaan besar demi menyamakan arah masa depan dan bersiap melangkah ke jalan yang sama dengan sang kekasih.
Namun, tepat di hari saat ia siap menyerahkan seluruh hidupnya, takdir menghempaskannya tanpa belas kasihan. Di sebuah gedung pesta yang megah, dunia Kirana seolah runtuh. Di atas pelaminan mewah, Dimas justru bersanding dengan wanita lain yang merupakan atasannya sendiri. Tanpa ada kata putus, tanpa perpisahan hangat. Kirana ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan oleh pria yang berjanji menjadi kompas hidupnya.
Sanggupkah Kirana bertahan dan menemukan kembali jati dirinya setelah pengorbanan tulusnya diinjak-injak? Dan bagaimanakah takdir menjemput penyesalan terdalam sang lelaki darah biru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu dari Masa Lalu yang Pengecut
Tiga hari telah berlalu sejak badai pengkhianatan di gedung pertemuan mewah itu meremukkan seluruh sendi kehidupan Kirana. Kota baru ini, dengan segala sudut jalanan asingnya, perlahan-lahan mulai menjadi saksi bisu dari perjuangan seorang wanita ringkih yang mencoba bangkit mengumpulkan kembali serpihan jiwanya yang telah hancur lebur rata dengan tanah.
Kirana tidak lagi menangis sesenggukan seperti hari pertama. Air matanya seolah sudah mengering, menyisakan sepasang mata yang sayu namun memancarkan sebuah ketegasan spiritual yang baru. Setiap untaian doa dan kepasrahan yang dia lakukan di atas hamparan sajadah usai beribadah bersama Aisyah, menjadi obat penawar luka yang sangat mujarab, pelan-pelan mengikis rasa perih yang sempat bersarang di ulu hatinya.
Sore itu, mendung tipis menggelayuti langit kota. Kirana sedang duduk di teras depan rumah kontrakan kecil milik Aisyah, membantu sahabat baiknya itu memilah-milah buku bacaan dan brosur kegiatan spiritual yang baru saja mereka ambil. Angin sore berembus sepoi-sepoi, mempermainkan ujung selendang panjang bernuansa marun yang melekat anggun membungkus kepala Kirana.
"Kirana, ini ada beberapa buku panduan dasar yang kemarin kamu tanyakan. Kamu bisa simpan dan baca-baca dulu di dalam kamar kalau malam hari sedang luang," ujar Aisyah hangat sembari menyodorkan seikat buku bersampul hijau tua.
Kirana mengulas seulas senyuman tipis yang tampak sangat tulus dari bibirnya.
"Terima kasih banyak ya, Aisyah. Kamu tidak pernah berhenti membantuku. Aku tidak tahu harus membalas semua kebaikanmu ini dengan cara apa."
"Astaga, Kirana... kita ini kan sudah seperti saudara sendiri. Jangan bicara seperti itu, ah. Aku ikhlas lahir batin menemanimu di sini," sahut Aisyah tulus sembari menepuk lembut punggung tangan Kirana.
Namun, kedamaian sore yang menenangkan itu seketika sirna dalam hitungan detik. Dari arah ujung jalan gang yang sepi, sebuah mobil sedan hitam yang sangat familier di ingatan Kirana, tampak berjalan perlahan mendekat. Mobil itu merayap pelan, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pagar kayu pembatas rumah kontrakan Aisyah.
Jantung Kirana seketika berdegup kencang dengan ritme yang sangat kacau berantakan. Sepasang manik matanya terkunci mati pada pintu kemudi mobil yang perlahan terbuka. Dan dari dalam sana, keluar sosok pria bertubuh tegap dengan kemeja rapi yang sangat ia kenali sekujur tubuhnya.
Dimas Wijaya.
Pria itu berdiri di sana, menatap ke arah teras dengan raut wajah yang tampak sangat kusut, berantakan, dan dipenuhi oleh gurat kecemasan yang luar biasa hebat. Tidak ada lagi sisa-sisa kegagahan atau keangkuhan seorang pangeran berdarah biru yang tiga hari lalu berdiri membusungkan dada di atas panggung pelaminan mewah bersama Ibu Ratna. Dimas tampak seperti seorang pengecut yang sedang dikejar oleh dosa-dosanya sendiri.
Aisyah yang menyadari perubahan drastis pada raut wajah Kirana, ikut menoleh ke arah pagar. "Kirana... siapa pria itu? Kok mukanya ketakutan begitu?" tanya Aisyah heran.
Kirana tidak menjawab. menarik napas panjang, mencoba menguasai gemuruh emosi yang mendadak kembali bergolak di dalam dadanya. Rasa sakit itu sempat mencubit hatinya, namun ingatan akan sujud murninya di masjid kemarin membuat Kirana berhasil berdiri tegak dengan kepala terangkat.
Dimas melangkah ragu-ragu memasuki halaman rumah, sepasang matanya menatap tajam ke arah penutup kepala panjang yang kini melekat di kepala Kirana. Ada kilat keterkejutan yang benderang di mata pria itu melihat perubahan penampilan Kirana yang kini tampak jauh lebih anggun dan teduh.
"Kirana..." suara Dimas terdengar parau, bergetar, dan sarat akan rasa bersalah saat dia berhenti tepat dua meter di depan teras. "Kirana, akhirnya Mas bisa menemukan kamu di sini. Mas keliling kota ini selama tiga hari penuh cuma buat mencari keberadaan kamu..."
Kirana tetap bungkam membisu. Menatap Dimas dengan pandangan mata yang sangat datar, sedingin es di kutub utara. Tidak ada air mata yang tumpah, tidak ada jeritan histeris, dan tidak ada makian yang keluar dari bibirnya. Ketenangan Kirana membuat Dimas kian merasa terpojok dan ketakutan setengah mati.
"Kirana, tolong dengarkan penjelasan Mas dulu, Sayang..." ucap Dimas nekat melangkah maju satu tapak, mencoba meraih jemari tangan Kirana namun dengan cepat Kirana menarik tangannya ke belakang, menolak disentuh oleh kulit pria yang sudah sah menjadi suami wanita lain itu.
"Pernikahan kemarin... pernikahan itu bukan kemauan Mas, Kirana! Mas dijebak oleh keadaan! Perusahaan papa Mas diambang kebangkrutan, dan hanya keluarga Ibu Ratna yang bisa menyelamatkan aset keluarga kami! Mas terpaksa menerima pernikahan itu demi berbakti pada orang tua Mas!"
Sebuah untaian alasan klasik yang sangat menjijikkan keluar dari mulut manis sang pengkhianat. Kirana hampir ingin tertawa miris mendengar kalimat "berbakti" yang dijadikan tameng untuk menutupi sebuah kerakusan harta benda.
"Lalu?" satu kata keluar dari bibir Kirana, begitu pendek, tajam, dan menghujam telinga Dimas.
Dimas menelan ludahnya yang terasa kelat. Menatap Kirana dengan pandangan memohon, kemudian mengeluarkan kalimat yang tidak punya urat malu. "Mas tidak mencintai Ratna, Kirana! Kamu tahu sendiri hati Mas cuma milik kamu. Mas ke sini mau menawarkan jalan keluar terbaik untuk kita berdua. Mas mau mengajak kamu untuk menikah siri secepatnya!"
Kirana tertegun, bukan karena goyah, melainkan karena tidak menyangka kadar kepengecutan pria di hadapannya bisa sedalam ini.
"Menikah siri?" tanya Kirana dengan nada sedatar permukaan air.
"Iya, Kirana! Kamu tenang saja, Ratna pun sudah menyetujui kalau Mas ingin menikah lagi. Dia sadar diri kalau usianya sudah tidak muda lagi, Kirana. Dia sadar tidak akan bisa mendampingi Mas dengan sempurna secara fisik ke depannya," ucap Dimas tanpa dosa, mengumbar rahasia istri barunya demi mengemis cinta Kirana.
"Mas tidak akan menelantarkan kamu. Mas sudah menyiapkan sebuah rumah yang layak huni untuk kamu tinggali nanti setelah kita sah nikah siri. Semua fasilitas hidupmu di rumah itu akan Mas penuhi. Kamu tidak perlu lagi menumpang di rumah orang lain seperti ini. Ratna tidak akan mengganggu kita, dia sudah mengizinkan!"
Deg!
Aisyah yang sejak tadi menyimak di samping Kirana, seketika membelalakkan matanya lebar-lebar. Rahangnya mengeras menahan amarah yang luar biasa hebat.
"Astagfirullahaladzim! Jadi kamu... kamu pria pengkhianat yang sudah menyiksa batin Kirana?! Dan sekarang, setelah kamu menikmati fasilitas kemewahan dari istri sahmu yang kaya raya itu, kamu datang ke sini membawa izinnya untuk menjadikan sahabatku sebagai istri siri?! Memanfaatkan rahimnya karena istri sahmu sudah tidak muda lagi?! Kurang ajar sekali kamu, tidak punya otak!" pekik Aisyah meradang, tidak bisa lagi menahan emosinya melihat harga diri Kirana hendak diinjak-injak dengan dalih izin menikah lagi dari wanita tua.
Dimas tidak menghiraukan amukan Aisyah. Sepasang matanya masih menatap memohon penuh harap pada Kirana. "Kirana, tolong... Mas mencintaimu. Ini jalan keluar yang paling adil untuk kita!"
Kirana menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan lewat hidung. Ia memajukan langkahnya, berdiri tepat di ujung batas teras lantai, menatap lurus tepat ke dalam kornea mata Dimas yang sarat akan kepalsuan.
"Mas Dimas Wijaya," suara Kirana terdengar sangat tenang, berwibawa, tapi bergetar kuat oleh ketegasan jiwa yang tidak bisa digoyahkan lagi. "Dua tahun penuh, aku menaruh seluruh rasa percaya dan ketulusan cintaku di atas telapak tanganmu. Aku menjaga namamu, menutup rapat hubungan kita dari dunia, bahkan aku berniat membulatkan tekad batin untuk menjemput jalan keyakinan baru... hanya demi bisa bersujud di barisan yang sama di belakang punggungmu suatu hari nanti."
Dimas berbinar mendengar kalimat itu, mengira Kirana mulai luluh. "Kirana, kalau begitu—"
"Tapi sekarang, semuanya sudah selesai, Mas," potong Kirana dengan cepat, membuat binar di mata Dimas seketika padam berganti kegelapan. "Tiga hari lalu, di depan singgasana istana pernikahanmu yang megah, Allah telah menunjukkan padaku wujud aslimu yang paling nyata. Allah menyelamatkanku dari seorang pria pengecut yang tega membagi-bagi cintanya demi mengemis harta kasta."
Kirana menunjuk ke arah hijab marun yang menutupi dadanya dengan jemari yang kokoh tanpa gemetar sedikit pun. "Lihat pakaianku ini, Mas. Aku memang melangkah ke kota baru ini untuk belajar bersujud. Tapi perlu Mas Dimas tahu dan catat di dalam kepalamu, sujudku hari ini... detik ini... dan sampai akhir hayatku nanti, murni hanya aku persembahkan untuk Sang Pencipta! Bukan lagi demi pria penipu dan pengecut sepertimu!"
Kalimat tamparan verbal itu menggema kuat di udara sore. Wajah Dimas seketika langsung berubah menjadi pucat pasi menahan rasa malu, syok, dan hantaman telak yang meruntuhkan seluruh harga dirinya.
"Tawaran nikah siri, rumah layak huni, dan topeng izin dari istri sahmu yang sudah tidak muda lagi itu... teramat sangat murah dan menjijikkan dibandingkan dengan harga diri serta keyakinan suci yang sudah Tuhan titipkan di dalam dadaku!" tegas Kirana lagi, tatapan matanya menghujam habis sisa-sisa keberanian Dimas.
"Pulanglah, Mas. Temui istri sahmu yang kaya raya itu. Jaga pernikahan megahmu yang dibangun dari hasil memeras air mata ketulusanku. Mulai detik ini, jangan pernah menginjakkan kakimu di halaman rumah ini lagi, karena bagiku... sosok Dimas Wijaya sudah mati bersamaan dengan runtuhnya duniaku tiga hari yang lalu!"
Usai mengucapkan untaian kalimat penutup yang teramat berkelas dan menghancurkan mental itu, Kirana langsung memutar tubuhnya dengan anggun. Melangkah masuk ke dalam pintu rumah tanpa menengok ke belakang lagi walau hanya satu senti. Aisyah mengikutinya dari belakang, lalu dengan sentakan keras, langsung membanting pintu kayu depan rumah hingga menimbulkan suara dentuman keras yang menutup akses komunikasi bagi Dimas untuk selamanya.
Di luar pagar, Dimas berdiri mematung layaknya sebuah patung batu yang tak berharga di bawah siraman rintik hujan sore yang mulai turun membasahi bumi. Pria pengkhianat itu harus menelan pil pahit, menyadari bahwa wanita polos yang dahulu bisa dia kendalikan dengan kata-kata manis, kini telah bertransformasi menjadi sosok wanita yang teramat sangat kuat, berkelas, dan tidak akan pernah bisa dia raih lagi. Kirana sudah resmi terbang tinggi meninggalkan kuburan masa lalunya yang kelam.
pasti ada kekecewaan disitu ,wajar sih kalau mereka marah
malahan Ratna lebih peduli kehilangan Dimas,kalau ayahnya Dimas koid,Dimas bebas haha,dsar otak nya 😄
dia yang salah tapi tidak mau disalahkan
hasil merebut itu ga awet bu, inget umur
kamu wanita kaya ,mandiri knp harus merebut hak orang lain. percuma hartamu😄
udah merebut malahan dia merasa korban😄
kan bisa dibicarakan baik" ,kalian sudah mendzolimi kirana
rasakan akibatnya sendiri
setidaknya harus ada omongan, Ratna juga ksian hasil merampas itu ga akan tenang
kalau kamu itu seorang yang tau agama
tidak akua menawarkan nikah siri ,padahal baru 3hari
ayo tetap semangat
tapi semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu iya
cinta beda agama apakah mereka akan bahagia