NovelToon NovelToon
Berlian & Kepala Casper

Berlian & Kepala Casper

Status: tamat
Genre:Komedi / Horor / Contest / Kumpulan Cerita Horror / Tamat
Popularitas:82.4k
Nilai: 5
Nama Author: Novi Artikasari

Tidak akan pernah ada yang mengira, jika sebuah aplikasi menulis dan membaca online bisa menjadi aplikasi paling horor sejagat raya.

Aplikasi apakah itu?

Ya, benar sekali. Aplikasi N.O.V.E.L.T.O.O.N.

Bagaimana jika aplikasi tersebut menjadi sarang beberapa sosok aneh yang bisa membuat seorang penulis bergidik ngeri?

Apakah gerangan penyebabnya? Mengapa mereka berkeliaran di dalam aplikasi tersebut? Benarkah mereka semenakutkan itu? Atau malah ... membuat rongga mulutmu kering karena kehabisan stok gelak tawa?

Jawabannya hanya ada di dalam novel ini. Novel yang mengisahkan tentang seorang gadis cupu, yang bercita-cita menjadi seorang penulis populer di masa yang akan datang. Akankah melalui aplikasi yang menurutnya horor itu, bisa mewujudkan impian kecilnya?

Penasaran? Penasaran tidak? Penasaran ya? Penasaran dong!

Simak kisah lengkapnya👉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fakta Mengejutkan

Kenapa aku harus mengingatnya? Tanya Berlian pada dirinya sendiri. Sepuluh jarinya masih terus menari indah di atas keyboard lappy. Kedua netranya pun menatap tajam layar putih itu, nyaris tanpa kedip. Belum tentu juga dia mengingatku! Sugestinya di dalam hati.

Berlian kembali memokuskan diri dan pikiran pada gawainya. Mulai saat ini, ia tidak ingin memikirkan hal konyol itu lagi.

Cinta?

Perjodohan?

Ahhh ....

B.o.d.o.a.m.a.t!

Lagi pula, bukan itu tujuan utama Berlian. Dia tidak ingin hal itu malah meracuni pikiran dan hatinya.

Beberapa saat kemudian, gadis itu tampak menghela napas panjang. Lalu menghembuskannya perlahan dengan kedua pipi tampak mengembung. Ia kembali menyugesti dirinya sendiri bahwa dia harus tetap berada pada jalan yang sejak awal ia tapaki, yaitu ... menjadi Penulis Profesional dan terkenal.

Tentu saja, terkenal karena tulisannya yang memang berkualitas tinggi, bukan karena menempuh jalan instan.

...💎💎💎...

Hari ini Awan meminta Berlian untuk menemuinya di kantor. Namun, Berlian menyarankan agar mereka bertemu di luar saja. Berhubung dia juga mempunyai janji dengan Gempita. Sebagai sahabat yang baik dan sangat memahami gadis cupu itu, akhirnya Awan menyetujuinya.

"Kalian udah lama di sini?" tanya Awan ketika mendudukkan tubuhnya di atas kursi, tepat di samping Gempita.

Jangan ditanya bagaimana kabarnya jantung gadis Ngapak itu? Tentu saja bertabu-tabu bak kendang dalam pertunjukan orkes gambus.

Oh, Gempita ....

Oh, Awan ....

"Gak kok, Bang Awan. Kita belum lama di sini." Senyum-senyum kelinci ke arah Awan. Ingin rasanya ia bergelayut manja di lengan pria tampan bermata sipit itu. Namun sayangnya, pria itu hanya membalasnya dengan senyuman tipis dan rada keheranan.

Berlian sontak menutup mulut dengan punggung tangannya menahan tawa. "Oya, apa yang ingin kamu bicarakan, Wan?" tanya Berlian setelah tawa kecilnya mereda.

Air muka Awan bermetamorfosis menjadi tidak lagi antusias. "Maaf, Berlian ... untuk naskah yang kemarin, Angin juga belum mau menerbitkannya," tutur Awan dengan wajah penuh iba. Seakan ia sudah bisa menebak seperti apa wajah kecewa Berlian setelah ini.

Namun, di luar dugaan, sahabatnya itu malah tersenyum lapang dada menanggapi pernyataannya tadi. "Gak apa-apa, Wan. Mungkin karyaku belum berjodoh sama perusahaanmu," ujarnya lembut, menciptakan keambiguan di hati Awan. Karena sepengetahuannya, Berlian mempunyai harapan yang sangat besar untuk hal yang satu ini.

"Kamu gak kecewa?" tanya pria itu, penasaran. Gempita hanya menatap dua orang itu secara bergantian, seperti orang yang sedang kebingungan.

Apakah inyong tak terlihat di mata mereka? Batinnya miris. Dengan bibir mencebik dan wajah sok sedihnya, ia masih setia menjadi figuran.

"Gaklah, aku juga gak bisa ngotot, Wan." Menyeruput cappucino hangat yang baru saja diantar oleh pelayan kafe. "Mungkin belum waktunya terbit. Akan aku revisi lagi, dan mencobanya di perusahaan lain." Tersenyum penuh kehangatan, sehangat kopi yang baru saja ia sesap.

Awan tersenyum kikuk, tidak enak hati. Membuat Gempita melirik langsung ke arahnya, mencoba menangkap makna dari raut wajah Abang Tampannya itu. Namun, Awan hanya tertunduk, lalu mencubit cangkir kopi yang bertengger di hadapannya.

Mungkin Awan tidak enak karena ia tidak berhasil membantu Berlian. Namun, ada rasa bangga yang menghangatkan dadanya. Berlian yang biasa terlihat banyak diam itu, ternyata memiliki hati yang sangat luas.

Berlian pun sebenarnya tak merasa kecewa akan Awan, karena ia tahu Awan sudah berusaha menolongnya selama ini. Jadi, sudah sepantasnya ia berterima kasih. Walaupun tujuan yang ia inginkan belum sepenuhnya tercapai.

"Aku sangat berterima kasih, karena sejauh ini kamu udah bersedia bantuin aku, Wan."

Awan tersenyum ikhlas. "Gak perlu berterima kasih, Berlian. Kita ini sahabat, jadi sudah semestinya aku ngelakuin apa yang seharusnya."

Hening sesaat ...!

"Ehem ... ehem ... kalian bikin inyong mewek nih," kelakar Gempita di sela-sela keseriusan dua sahabat itu.

Berlian dan Awan saling melempar pandangan, lalu beberapa detik kemudian mereka tertawa terbahak-bahak, karena melihat wajah Gempita yang sudah bersimbah air mata.

"Kenapa kamu nangis, Gem?" tanya Berlian di sela-sela kekehannya.

Gempita menyela air harunya, lalu menjawab, "Karena inyong kalian kacangin, huhuhu ...," tuturnya kembali tersedu.

Awan kembali tergelak mendengar hal itu. "Ya, udah, sini aku cabein," tawarnya dengan wajah yang sudah memerah karena terlalu lama tertawa.

Gempita nampak mengerucutkan bibirnya. "Emangnya inyong cabe-cabean, Bang? Teganya dirimu yak, teganya ... teganya ...," cebiknya sembari memukuli pundak Awan dengan tonjokan manja.

Tubuh Berlian kembali berguncang, melepaskan tawanya. Sampai akhirnya, kegeliannya menyurut ketika pandangannya menangkap satu sosok yang sangat ia kenali, berjalan ke arahnya.

Ia sontak menunduk di balik buku menu yang sempat ia raih sebelumnya. Mencoba melindungi diri dari pandangan sosok itu. Namun sayang, sudah terlambat.

GRAB

Buku menu itu ditarik, lalu menampakkan seringai yang sudah tidak asing lagi di mata Berlian.

"Cupu!" sapanya dengan panggilan khas bermakna ejekan.

Tentu saja, membuat Awan dan Gempita langsung melempar pandangan kepada sosok pria berambut ikal sebahu, yang berdiri tepat di samping meja mereka.

"Angkasa?!" Nama itu lolos begitu saja dari sepasang bibir milik Awan.

Angkasa baru sadar akan keberadaan Awan di sana. Ia sontak tersenyum ke arah sahabat dari kakaknya itu, dan langsung memposisikan tubuhnya, duduk anteng di samping Berlian. Gadis cupu itu sedikit beringsut menjauh. Jantungnya masih berdegup kencang sejak pandangannya menangkap keberadaan Angkasa tadi.

Takut?

Khawatir?

Ya, begitulah kiranya perasaan Berlian.

"Angkasa, kamu kenal Berlian?" tanya Awan dengan wajah yang masih terkejut.

"Tentu saja aku mengenalnya, karena dia adalah ... tunanganku."

NGEK-NGOK!

...💎💎💎...

Angin baru saja keluar dari ruangannya. Ia berencana keluar sebentar untuk makan siang. Urusan pemasaran dan penerbitan buku baru tinggal menunggu waktu cetak. Sekarang pikirannya sudah sedikit melonggar tak setegang sebelumnya.

"Pelangi ...," panggilnya ketika melewati meja sekretarisnya itu.

"Iya, Pak." Pelangi sontak berdiri dan sedikit membungkukkan tubuhnya, memberi hormat. Gadis tomboi ini, selalu saja bersikap begitu, kaku.

"Temani aku makan siang!" serunya dengan nada datar, kemudian berlalu.

Pelangi yang nampak kelimpungan, hanya bisa menggapai ponselnya, lalu bergegas mengekori atasannya itu, tanpa sempat memberikan tanggapan.

Tiga Puluh Menit Kemudian

"Apa kamu sudah melaksanakan perintahku kemarin?" tanya Angin kepada Pelangi setelah menyumbat mulutnya dengan sepotong daging steak yang sangat lezat.

"Sudah, Pak," respon Pelangi secepat kilat. Lalu meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.

"Apa yang kamu temukan?" tanyanya lagi semakin penasaran.

Setelah membuka sebuah aplikasi, Pelangi menyodorkan ponselnya kepada Angin. Tentu saja pria tampan itu langsung melepaskan apa yang ada di dalam genggamannya, lalu dengan sigap meraih ponsel sekretarisnya itu.

Ketemu! Ucapnya di dalam hati. Namun, air mukanya tampak sedikit memicing ketika menatap layar ponsel itu kembali. Ternyata gadis yang waktu itu .... Lagi-lagi Angin membatin.

"Sebenarnya siapa dia, Pak?" Pelangi memberanikan diri untuk bertanya.

Angin masih bergeming sejenak, lalu kemudian tersadar. "Bukan siapa-siapa," jawab pria itu sekenanya sembari menggeleng pelan.

Pelangi lantas tidak ambil pusing, dan melanjutkan ritual pengisian energinya.

"Aku ingin mengetahui fenomena apa saja yang ada di aplikasi itu."

Belum sempat gadis itu memasukkan suapan ke dalam mulutnya, Angin sudah bertitah kembali. Akhirnya, mau tidak mau, Pelangi meletakkan sendok dan garpunya kembali di atas piring. Lalu menjelaskan apa yang diinginkan atasannya.

"Aplikasi ini dilengkapi banyak fitur, Pak. Selain ...." Belum sempat Pelangi menyelesaikan kalimatnya, Angin sudah memotong penjelasan awal gadis itu.

"Bukan yang itu," katanya sembari menjejalkan kembali sepotong daging ke dalam mulutnya.

Sebagai sekretaris yang baik, tentu saja Pelangi menanggapinya dengan sabar dan patuh. "Lantas?" tanyanya berusaha memperjelas.

"Aku bilang fenomena, Pelangi, FE-NO-ME-NA." Angin menekankan kata itu agar Pelangi lekas memahaminya.

Gadis kaku itu tampak terkekeh kecil, karena sudah salah kaprah. "Maaf, Pak. Saya kehilangan fokus diri," tuturnya seraya menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Pandangannya beralih kepada piring yang masih menampung setengah porsi makan siangnya.

"Sebaiknya selesaikan dulu makan siangmu! Sepertinya kamu masih butuh asupan lebih." Angin berkelakar. Tentu saja membuat Pelangi senyum-senyum tidak enak.

"Baik, Pak."

Mereka meneruskan makan siang yang sempat terpotong tadi.

"Jadi?" Angin meneruskan interogasinya setelah mereka selesai makan.

"Banyak sekali novel bertema cabul yang menempati rangking teratas setiap minggunya, Pak." Pelangi memulai penjelasannya.

"Aku sudah tau itu dari Awan." Angin menghela napas sambil mengetukkan keempat jarinya di atas meja.

Pembunuhan Karakter! Batinnya geram.

"Tapi, Pak, Nona Rindu selalu menduduki peringkat pertama loh," lanjut Pelangi menukaskan.

"Aku juga tau itu, makanya aku tidak berselera untuk menerbitkan karyanya." Angin masih menatap fokus ke arah jarinya. "Ada lagi yang aku belum tau?" tanyanya lagi seraya melirik sekilas ke arah Pelangi.

"Apa Bapak juga sudah tau, jika adik Bapak sudah menjadi Penulis terkenal di aplikasi ini?"

Angin terlonjak hebat. "Apa?"

...💎💎💎...

Ketujuh Kepala Casper sudah tampak melayang-layang di langit kamar Berlian. Sedari tadi mereka menunggu kedatangan gadis cupu itu. Kali ini mereka membawa berita yang pastinya akan membuat Berlian amat sangat terkejut.

CEKLEK

Ketika pintu tersibak, pandangan ketujuh makhluk gaje itu kompak tertuju pada satu arah.

"Kenapa malah cewek genit ini yang dateng, elaah." Kepala Syantik memutar kedua bola matanya malas.

"Sesama genit dilarang mencerca tau," kelakar Kepala Kentang.

"Tau, gak nyadar beut si Roti Sobek," celetuk Kepala Koneng.

"Diam kau! Apa mau aku ospekin?" tantang Kepala Syantik pada Kepala Koneng.

"Siapa berani?!" tantang makhluk cebol berambut kuning sebahu itu.

"Siapa takut, woooi!" sergah teman-temannya yang lain dengan kompak.

"Kalian ngapain di sini?" Suara Berlian tiba-tiba menggelegar seantero ruangan. Membuat Gempita yang sedang selonjoran di tempat tidur pun menatapnya penuh pertanyaan.

"Mereka siapa maksud kamu, Er? Dari tadi inyong sendirian juga." Pandangan ngeri Gempita mulai mengitari seluruh ruangan. Berlian semakin sering berbicara tidak jelas, begitulah kiranya isi hati Gempita.

Berlian tersentak, lalu menghampiri Gempita dengan wajah cengengesan. "Gak papa kok, Gem." Memegangi tengkuknya seperti orang yang sedang gerogi. "Aku ... ke toilet dulu, ya." Ia langsung melompat dan berlari menuju toilet.

Ketujuh Kepala Casper itu melayang mengekori Berlian, lalu menembus pintu toilet yang sudah tertutup rapat.

1
💞 Lily Biru 💞
Kaka... aku juga pengen ngelamar ini😭😭
Ria Diana Santi
Menarik dan unik ... Yuk baca! 😍👍🏻🥰 Semangat kakakku. 😘🤗
Ria Diana Santi: Masama Kakakku sayang. 🥰 🤗
total 2 replies
Ria Diana Santi
Aduhhhhh ngenak banget nih paragraf nya kak. 🙃👍🏻
Ria Diana Santi
Setan aplikasi?🙃 behhh emang ngerinya setannya kak.
Ria Diana Santi
Pedas nih sindiran. Btw, aku dulu sering dapat ucapan 'Like kakak', 'Hadir kak', semangat kakak' dll. Rasanya cuma bisa ngelus dada. Dan aku pun balas dengan hal serupa. 🤦🏻‍♀️
Ria Diana Santi: Alhamdulillah... 😁
total 4 replies
Ria Diana Santi
Banyak amat tuh makhluk halus nya. 🤐
Ria Diana Santi
Bener banget!!!👍🏻🥰
Ria Diana Santi
Setujuuuuu... 🥰👍🏻
Najwa Aini
saya ngakak
Najwa Aini
Benar sekali, Berlian. kamu mewakiliku.
makasih ya
Najwa Aini
perasaan mengatakan, cerita ini bukan hanya bagus. tapi mengandung "sesuatu" lanjut baca. tapi nyicil dulu.
karena tak mengesampingkan kesibukan di dunia nyata
NA_SaRi: wkwkwkwk, jangan menyesal ya kak
total 3 replies
Najwa Aini
Banget. Se7
Najwa Aini
Ini saya banget
👑Nara 👩‍❤️‍💋‍👨 Hansen👑
habis tanda seru or tanya... dialog tag tetep make huruf kecil kaka
👑Nara 👩‍❤️‍💋‍👨 Hansen👑: iya Kaka... semangat revisinya....
total 2 replies
👑Nara 👩‍❤️‍💋‍👨 Hansen👑
suka aku mah kalau kek gini... serasa baca buku yg naskahnya ga awut2an
👑Nara 👩‍❤️‍💋‍👨 Hansen👑: ngeh... sami2
total 2 replies
👑Nara 👩‍❤️‍💋‍👨 Hansen👑
ini artist lokal yaa... siapa?
NA_SaRi: Saya lupa namanya, Kak
total 3 replies
👑Nara 👩‍❤️‍💋‍👨 Hansen👑
nahh bener... disekeliling bnyak banget yg menganggap introver tuh pemalu or g bisa gaul... bnyak yg salah pengertian
NA_SaRi: Betul, Kak
total 1 replies
👑Nara 👩‍❤️‍💋‍👨 Hansen👑
berasa baca Wikipedia aku
NA_SaRi: Wkwkwkwk
total 1 replies
👑Nara 👩‍❤️‍💋‍👨 Hansen👑
buang aja Bu itu suamimu
👑Nara 👩‍❤️‍💋‍👨 Hansen👑: kalau gitu dikendalikan saja
total 2 replies
👑Nara 👩‍❤️‍💋‍👨 Hansen👑
Kaka nopp... dulu anak bahasa kah? atau emg mempelajari kepenulisan.... tulisan kk itu pasti ku suka... rapiii... aku suka banget yg kek gini.... menarik aja gitu buat dipandang
👑Nara 👩‍❤️‍💋‍👨 Hansen👑: wkwkw... gua gitu lohh🤠😎
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!