Ibarat air susu dibalas dengan air tuba. Itulah yang Mauli dapatkan. Niat hati ingin membantu sahabatnya Naila, Mauli justru mengalami akibatnya.
Mauli yang sudah menjalani hidup berumah tangga selama 7 tahun harus kehilangan suaminya karena Akmal mencintai Naila sahabatnya.
Awalnya Mauli dan Akmal ingin menyelamatkan Naila yang selalu mengalami kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Akan tetapi seiring berjalannya waktu kebaikan dan perhatian Akmal kepada Naila berubah menjadi cinta.
Begitupun sebaliknya, Naila yang selama ini selalu merasakan kesedihan dan kepahitan dalam hidupnya justru menjadi angin segar karena kehadiran Akmal.
Bagaimana kehidupan rumah tangga Mauli dan Akmal selanjutnya?
Bagaimana pula persahabatan antara Mauli dan Naila?
Yuk ikuti kisah mereka selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ERNI HANDAYANI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erni Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergian Naila
Selamat Membaca!
Setelah ke luar dari kamarnya Naila pergi ke kamar mandi. Naila menangis sejadi-jadinya karena teringat kata-kata Mauli yang tidak ingin kehilangan Akmal. Tidak ada seorangpun yang bisa merebut Akmal darinya.
Dibawah derasnya air yang bersumber dari shower, Naila duduk terdiam memikirkan perasaanya pada Akmal. Perasaan yang tidak seharusnya ia rasakan pada Akmal. Entah sejak kapan Naila menyukai Akmal.
Yang jelas karena perhatian dan simpatinya membuat Naila jatuh hati pada Akmal.
Sama seperti halnya Naila, di dalam kamar Akmal masih saja memikirkan Naila. Sedangkan Mauli sudah terlelap sejak tadi. Karena lelah menangis di kamar Naila membuat Mauli tidur lebih awal.
Sesekali Akmal memandang wajah istrinya yang sudah terlelap. Akmal mengusap lembut wajah istrinya, "Maafkan aku sayang. Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu." Pikiran Akmal masih tertuju pada Naila. "Apa kamu sudah makan?" gumam batin Akmal.
Akmal bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan yang akan ia bawakan ke dalam kamar Naila.
Karena sudah larut malam, suasana didalam rumah tampak sepi.
Tok... tok...
Akmal mengetuk pintu kamar Naila. Ceklek..
Naila langsung membuka pintu kamarnya.
"Apa yang terjadi padamu? Kenapa semua bajumu basah saperti ini?" Tanya Akmal yang merasa heran karena keadaan Naila.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedang menghukum diriku sendiri." Lirih Naila.
"Kenapa kamu harus menghukum dirimu sendiri?" Tanya Akmal dengan menautkan kedua halisnya.
"Aku telah bersalah kepada Mauli, karena.."
Naila tidak melanjutkan kata-katanya karena ia malu mengatakan yang sebenarnya.
"Kamu kenapa Naila? Aku tahu, karena aku juga merasakan hal yang sama denganmu."
Jawab Akmal yang mulai mengerti arah pembicaraan Naila.
"Ini bukan salah kita, ini hanya karena keadaan Naila." Akmal mendekati dan menangkup wajah Naila.
"Ini pakailah dan cepat ganti pakaianmu. setelah itu cepat makan." Akmal memakaikan selimut yang ia pakai kan pada Naila.
"Baiklah, tapi aku harus segera pergi dari sini." Lirih Naila.
Akmal tidak berkata apa-apa dan bergegas ke luar kamar karena takut jika ada yang melihatnya.
Setelah Akmal ke luar, Naila cepat-cepat mengganti pakaiannya dan melahap makanan yang dibawa Akmal.
Keesokan paginya..
Di pagi yang begitu cerah. Suasana rumah Akmal sudah ramai. Bu Lastri dan Naila sedang menyiapkan sarapan. Sedangkan nenek Anju sedang menonton tv melihat acara berita dipagi hari.
Di kamar Mauli memanggil Akmal yang minta di ambilkan handuk.
"Sayang.. bisa ambilkan handuku. Aku lupa membawanya."
Pekik Mauli dari dalam kamar mandi.
Tidak lama Akmal segera menyodorkan handuk kepada Mauli tanpa berkata apa-apa.
"Ada apa dengannya? Tidak biasanya dia seperti itu?" Gumam batin Mauli yang merasa ada yang aneh pada tingkah Akmal. Karena biasanya Akmal akan menjahili Mauli ketika dia memberikan handuk padanya.
"Ada apa sayang? Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Mauli.
"Tidak, aku tidak apa-apa." Kilah Akmal.
Setelah selesai bersiap-siap Mauli pergi ke luar kamar untuk menemui ibu mertuanya.
"Oiya bu, sepertinya kejutan kita akan segera selesai. Dan mulai sekarang aku akan melepaskan alat kontrasepsiku." Jelas Mauli dengan wajah yang sumringah.
"Ibu senang mendengarnya nak, terima kasih karena kamu sudah mau repot-repot menyiapkan semua ini untuk Akmal. Ibu juga senang dengan keputusanmu karena sebentar lagi ibu akan menimbang cucu." Ungkap bu Lastri yang tak kalah senang mendengar pernyataan Mauli.
Memang sudah sejak lama Mauli menyiapkan kejutan ini untuk Akmal. Kejutan yang merupakan keinginan terbesar Akmal yaitu memiliki sebuah klinik. Mauli menyiapkan semuanya tanpa sepengetahuan Akmal.
Sekarang klinik itu hampir selesai. Dan memang sudah sejak lama Mauli dan Akmal menunda kehamilannya karena Mauli ingin fokus pada karirnya.
Setelah semua berkumpul di meja makan, mereka menyantap sarapan mereka. Namun tiba-tiba Naila mengatakan jika dirinya akan pergi. Dan mungkin akan pergi jauh.
"Maaf semuanya seperti aku harus membicarakan ini pada kalian semua." Lirih Naila.
"Kenapa Naila?" Tanya Mauli.
"Aku ingin melanjutkan hidup, dan mungkin aku akan pergi dari kota ini." Jelas Naila.
"Tapi kenapa nak? Kamu tinggal di sini saja."
Ungkap bu Lastri.
"Benar nak, kamu tinggal disini saja."
Tambah nenek Anju.
"Lalu bagaimana dengan apartemenmu?"
Tanya Mauli lagi yang akan tak setuju dengan keputusan Naila.
"Mmhh.. aku masih belum tahu. Yang jelas aku harus segera pergi dari sini. Aku tidak mau selalu merepotkan kalian." Lirih Naila.
"Aku tidak merasa direpotkan, aku justru senang bisa membantumu." Jawab Mauli yang langsung memeluk Naila.
Sementara Akmal hanya terdiam mendengar percakapan diantara mereka.
"Jika kamu pergi, nanti akan ada seseorang yang sangat kehilangan kamu Naila?" Teriak Mauli sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Siapa?" Tanya Naila.
"Akmal, tentunya dia akan kehilanganmu. Dia pasti sangat merindukan masakanmu." Kekeh Mauli yang membuat Akmal terpojok.
Dalam hatinya, Akmal memang merasa kehilangan. Akmal tidak menyukai keptusan Naila. Namun Akmal tidak bisa berbuat apa-apa.
Celotehan Mauli justru membuat Naila tersipu malu.
Selesai menyantap sarapannya Mauli pergi ke rumah sakit.
"Kalau begitu aku berangkat ya, aku sudah kesiangan nih. Aku pergi sayang." Pamit Mauli yang berlalu ke luar rumah yang sebelumnya mencium punggung tangan Akmal.
"Hati-hati sayang." Teriak Akmal.
Setelah membereskan meja makan, Naila pamit untuk pergi ke apartemennya. Karena Naila merasa tidak enak sudah menginap beberapa hari di rumah bu Lastri.
Tak lama Naila sampai di apartemennya, Naila langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang miliknya.
"Apa yang harus ku lakukan? Apa aku harus benar-benar pergi dari kota ini?" Gumam Naila yang seolah bermonolog.
Dalam lamunannya Naila tetap memikirkan Akmal. Namun lama-lama Naila teringat bahwa sudah sejak lama Naila ingin membakat surat pernikahan dirinya bersama Abraham. Naila membuang surat-surat itu dan membuangnya ke dalam tempat sampah lalu membakarnya.
"Selamat tinggal Abraham. Terima kasih untuk semua luka yang telah kau berikan padaku. Kini aku akan benar-benar melupakanmu." Gumam batin Naila.
"Mungkin aku memang harus segera pergi dari sini. Aku tidak ingin menghancurkan pernikahan temanku sendiri. Aku tidak mau jika harus menyakiti Mauli. Karena Mauli adalah teman terbaikku. Karena dialah aku bisa seperti ini. Aku bisa terbebas dari Abraham. Aku mungkin akan bekerja dan mungkin akan melanjutkan sekolahku yang dulu sempat tertunda. Cita-cita yang dulu aku impikan, kini aku ingin mewujudkannya."
Gumam batinnya lagi hingga Naila berkaca-kaca.
Di tempat lain Mauli terlihat sumringah karena ia sudah tidak sabar ingin memberikan kejutan untuk Akmal.
"Aku ingin segera tiba di rumah. Aku ingin memberitahukan Akmal jika aku sudah melepas alat kontrasepsiku." gumam batin Mauli.