Jeni seorang perempuan yang lemah lembut, sopan dan diberikan kelebihan memiliki paras yang sangat cantik. namun sejak dia berusia 4 tahun ayahnya pergi meninggalkan dia dan juga sang ibu untuk selama - lamanya
yang membuat ibunya harus banting tulang untuk menghidupi Jeni, sejak kecil Jeni terbiasa dengan kehidupan yang sederhana yang membuatnya selalu bersyukur dengan apa yang dia miliki
tapi kehidupannya baru saja dimulai saat dia mulai beranjak dewasa cobaan silih berganti mendatanginya, akan kah Jeni tetap kuat menghadapi cobaan demi cobaan yang datang kepadanya
apa kah Jeni akan bahagia dengan pernikahan yang sangat tidak pernah dia duga sebelumnya, walau pun dia menikah dengan sahabat masa kecilnya namun tetap saja itu berbeda sekarang mereka sudah dewasa sudah tidak sama lagi dengan masa kecil mereka
kalau penasaran dengan ceritanya, silahkan dinikmati ceritanya
mohon maaf jika ada kekurangan didalam cerita ini, karena ini adalah karya pertama say
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jenika Rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita 17
" aku pesan kopi panas tanpa gula " jawab pelanggan itu, sambil membolak balikan buku menu cafe
Tunggu aku kok sepertinya kenal dengan suara perempuan ini
batin pelanggan
pelanggan cafe itu pun mendongakkan kepalanya agar bisa melihat wajah dari orang yang berdiri di samping meja yang ia duduki itu
" Jeni " ujar laki - laki itu, dengan ekspresi kagetnya
" mas Devan kan " jawab Jeni, dengan senyuman ramahnya
" iya aku Devan, kamu kerja di cafe ini " kata devan, ia berusaha untuk mengajak Jeni mengobrol
" iya aku kerja di sini, sudah hampir satu tahun " jawab Jeni
" oh begitu ya, wah sebuah kebetulan bisa ketemu sama kamu lagi " ujar Devan
" ya sudah mas. kalau begitu saya kembali kerja ya " ujar jeni, dengan nada sopan nya
" loh kok buru - buru sih, saya masih pengen ngobrol sama kamu loh " jawab Devan, dengan diiringi dengan senyuman
" bukannya begitu mas, aku nggak enak ini kan masih jam kerja nanti kalau kelihatan sama bos aku nanti bisa gawat " jawab Jeni, berusaha menjelaskan kondisinya
" Iya juga, memangnya kamu pulang kerja jam berapa " sahut Devan
Jeni yang mendengar pertanyaan dari devan, ia merasa agak sedikit bingung mengapa dia tiba - tiba menanyakan jam berapa ia selesai bekerja, namun Jeni tidak mau ambil pusing yah mungkin saja laki - laki itu hanya kepo pikir Jeni
" Setir jam setengah 6 sore mas, kalau begitu saya lanjut kerja ya, silahkan ditunggu pesanannya " ujar jeni, lalu ia pun meninggalkan meja yang diduduki oleh Devan itu
aku sudah berusaha selama beberapa hari ini untuk melupakan wajah kamu dalam pikiran aku, tapi kamu kembali menggagalkannya maka jangan salahkan aku Jeni
batin Devan
################################
Tokk...Tok...Tok....
suara ketukkan pintu terdengar dari luar kamar Sarah
" Sarah " ujar Wati, ia terus mengetuk pintu kamar Sarah
namun Wati sama sekali tidak mendapat respon apa - apa dari orang yang ada didalam kamar itu, dan setelah ia mencoba untuk membuka pintunya ternyata pintunya tidak terkunci
melihat pintunya tidak dikunci Wati pun memutuskan untuk masuk kedalam kamar Sarah, dan alangkah terkejutnya ia setelah melihat
" astaga Sarah " teriak Wati, matanya membulat sempurna, detak jantungnya menjadi sangat cepat
Wati melihat Sarah tergeletak di depan pintu kamar mandi yang ada didalam kamarnya itu, ia benar - benar sangat ketakutan dengan apa yang ia lihat
Wati pun berlari keluar dari kamar Sarah, ia berniat untuk meminta bantuan dari penghuni rumah mewah itu, ia berlari kearah ruang keluarga dan melihat Melinda yang sedang fokus dengan majalah yang ada ditangannya
" nyonya tolong " teriak Wati, dengan nafas yang ter engah - engah sehabis lari
Melinda pun kaget mendengar orang yang memanggil namanya, ia menaruh majalah yang ia baca dan melihat kerah Wati yang terlihat wajahnya sangat pucat
" Ada apa, kamu tenang dulu baru cerita " ujar Melinda, karena ia melihat kondisi wati
" nyonya tadi saat saya ingin mengajak Sarah untuk makan siang, tapi saat saya mengetuk pintu kamarnya tidak ada sahutan sama sekali, dan pintu kamarnya nggak terkunci dan setelah saya masuk saya lihat Sarah pingsan " jelas wati, dengan wajah cemas nya
" apa.... kamu bilang " jawab Melinda, ia benar - benar kaget dengan apa yang baru saja ia dengar itu
Melinda pun langsung berjalan kearah kamar Sarah, diiringi oleh Wati yang beda di belakang nya, setelah sampai di kamar Wati alangkah terkejutnya ia setelah melihat kondisi Sarah
" Wati tolong suruh pak jali untuk siap kan mobil untuk bawa Sarah ke rumah sakit " ujar Melinda, dengan wajah khawatirnya
Melinda dan dibantu beberapa pelayan yang lain mengangkat tubuh Sarah untuk dimasukkan kedalam mobil, untuk segera membawanya ke rumah sakit
dengan perasaan yang campur aduk Melinda menyandarkan kepala Sarah di bahunya, setelah kurang lebih 15 menit mereka pun sampai di rumah sakit
" suster tolong bantu saya bawa pasien ini untuk diperiksa sekarang " ujar Melinda, dengan raut wajah cemas nya
" baik Bu " sahut suster rumah sakit itu
beberapa orang membantu mengangkat sarah dari mobil untuk dipindahkan ke kursi roda, lalu kemudian langsung di bawa masuk kedalam ruang UGD untuk diperiksa oleh dokter
semoga saja Sarah nggak kenapa - kenapa, kalau dia sampai kenapa - kenapa aku nggak akan memaafkan diri aku sendiri, kenapa aku bisa selengah itu majikan macam apa aku
batin Melinda
terlihat raut wajah Melinda sangat kusut ia beberapa kali mondar mandir didepan pintu ruang UGD yang tertutup itu, wajahnya terlihat sangat khawatir sesekali ia menggigit ujung kuku nya
################################
" Dit aku pulang duluan ya " ujar Aira, berpamitan kepada sahabatnya itu iapun berjalan ke arah luar cafe sambil melambaikan tangannya kepada Dita
" iya hati - hati ya " sahut Dita, sambil tersenyum kearah Jeni
setelah itu Jeni pun berjalan kearah pintu untuk keluar dari tempat ia bekerja itu, setelah ia beberapa langkah menginjakkan kakinya di luar cafe tiba - tiba saja ada orang yang memanggil namanya
" Jeni...." ujar Devan, dengan suara beratnya
Jeni yang mendengar namanya dipanggil pun menoleh ke sumber suara itu, siapa kah gerangan orang yang memanggilnya itu pikir Jeni
" ehh.... mas Devan " jawab Jeni, setelah ia melihat orang yang memanggil namanya itu adalah orang yang dia kenal
" kamu sudah selesai kerja " ujar Devan, sambil berjalan untuk mendekat kearah Jeni yang sedang berdiri tidak jauh dari nya
" iya aku sudah selesai kerja, oh ya kok mas Devan bisa disini " jawab Jeni, dengan raut wajah yang penasaran
" kebetulan kantor aku nggak jauh dari sini dan hari ini juga pulang nya emang agak awal, yah nggak sengaja ketemu kamu disini " jawab Devan, sambil tersenyum
tentu saja ia berbohong, ia pulang sebelum pekerjaannya selesai hanya untuk bisa bertemu dengan Jeni karena seperti yang Jeni bilang ia selesai bekerja jam setelah 6 sore. maka ia pun langsung meninggalkan pekerjaannya
" oh begitu ya " jawab Jeni, ia pun membalas senyum dari Devan
" kamu sibuk nggak " kata Devan, dengan sedikit ragu - ragu
" emmmm kayaknya eng......" bicara Jeni terputus oleh suara telpon yang ada di dalam tasnya
Tut....Tutt.....Tut......
suara telpon dari dalam tas jeni, ia pun langsung mengambil dan Melihat siapa orang yang sedang menghubunginya itu
namun ternyata nomer yang menghubunginya itu nomer yang tidak ia kenal, Jeni pun agak ragu untuk mengangkatnya, namun ia berpikir kembali mungkin ini adalah panggilan penting, Jeni pun menerima panggilan telpon itu
TERIMA KASIH😊🙂🌼
JANGAN LUPA UNTUK LIKE, COMEN, VOTE, DAN TAMBAHKAN KE FAVORITE
LOVE YOU GUSYYY❤️👋
bkin rendi mmbenci devina dn kluargax.. trus nikahi jeni dn hidup bahgia
smg ppax rendy tau lngsung hacurkan prusahanx tono