NovelToon NovelToon
Dari Selir Yang Diabaikan Menjadi Permaisuri

Dari Selir Yang Diabaikan Menjadi Permaisuri

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Aliansi Pernikahan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Yang baca Author do'akan semoga kalian lancar rezekinya😍😍 up dijam yang sama


Dari Selir yang Diabaikan menjadi Permaisuri

👑 Kaisar Tang Xuanze (唐玄泽)
👸 Permaisuri Mu Qingran (慕清然)
🌸 Gelar: Permaisuri Xianhe (贤和皇后)
🏯 Istana: Istana Ziyun
📜 Era Pemerintahan: Zhengzhou (正州)

Mu Qingran hanyalah seorang selir yang hidup dalam bayang-bayang istana. Diabaikan Kaisar Tang Xuanze, dihina para selir, dan dijadikan pion dalam perebutan kekuasaan, ia memilih bertahan dengan kecerdasan dan kesabarannya. Saat berbagai intrik mengancam takhta, Qingran membuktikan kesetiaan serta keberaniannya hingga perlahan merebut kepercayaan sang kaisar. Namun, jalan menuju singgasana permaisuri dipenuhi pengkhianatan, fitnah, dan pengorbanan. Mampukah seorang wanita yang pernah dianggap tak berharga mengubah nasibnya menjadi Permaisuri Xianhe yang dihormati seluruh negeri? Ataukah ambisi istana akan menghancurkan cinta dan harapan yang akhirnya ia temukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Pasukan Besi di Lembah Liao

Malam di perbatasan timur laut Kekaisaran Zhengzhou tidak pernah ramah. Di Lembah Sungai Liao, angin malam berembus kencang, membawa aroma lembap lumpur sungai yang bercampur dengan bau minyak kuda dan besi berkarat dari puluhan ribu tenda pasukan Kekaisaran Jin. Di balik kegelapan bukit batu karang, sekelompok bayangan bergerak tanpa suara, memanfaatkan kontur tanah yang curam untuk menghindari sorot obor dari pos-pos pengawas musuh.

Mu Qingran berjongkok di atas dahan pohon pinus yang merunduk, jubah gelapnya menyatu sempurna dengan pekatnya malam. Di sampingnya, Jenderal Lu memegang busur panah bertali ganda, matanya mengawasi formasi perkemahan utama musuh yang terbentang luas di lembah bawah.

"Jumlah mereka melampaui estimasi awal kita, Yang Mulia," bisik Jenderal Lu nyaris tak terdengar, napasnya mengepulkan uap putih di udara dingin. "Kavaleri berat Wanyan Aguda menempati sisi utara, sementara mesin pengepung dan kereta logistik ditempatkan di celah ngarai barat. Jika kita menyerang secara frontal, kita akan langsung masuk ke dalam kantong pembantaian."

Qingran tidak mengalihkan pandangannya dari tenda komando besar berwarna hitam di tengah perkemahan. "Kita tidak akan menyerang frontal, Jenderal. Pasukan Jin bergantung sepenuhnya pada jalur suplai logistik yang melewati celah ngarai barat. Bakar gudang makanan mereka terlebih dahulu, lalu sebarkan kekacauan di sayap utara agar mereka mengira pasukan utama kita telah mengepung dari segala penjuru."

Jenderal Lu mengangguk tegas. "Perintah dilaksanakan, Yang Mulia. Pasukan bayangan bergerak saat hitungan ketiga."

Tanpa membuang waktu, Qingran melompat turun dari dahan pohon. Gerakannya begitu ringan, bagaikan bulu yang jatuh tanpa menyentuh ranting kering. Belati giok putih di pinggangnya bergeming tenang, menunggu saat yang tepat untuk mencabut nyawa para pengkhianat dan musuh kekaisaran.

Di dalam tenda komando utama Kekaisaran Jin, api unggun kecil menyala menerangi peta topografi yang membentang di atas meja kayu kasar. Jenderal Wanyan Aguda duduk bersidekap, wajah kasarnya diterangi cahaya api yang menari-nari. Di hadapannya, beberapa perwira militer senior membungkuk hormat.

"Apakah laporan dari mata-mata kita di ibu kota sudah tiba?" suara Wanyan Aguda berat dan menggelegar. "Kaisar muda Zhengzhou itu seharusnya sedang ketakutan di singgasananya."

Sebelum perwira itu sempat menjawab, suara ledakan kecil yang disusul oleh teriakan panik dari luar tenda memecah kesunyian malam.

Bum!

Cahaya jingga mendadak membubung tinggi di sisi barat perkemahan. Lidah api menjilat-jilat angkasa dengan cepat, melahap tumpukan gerobak gandum dan cadangan minyak milik pasukan Jin.

"Laporan darurat, Jenderal!" seorang prajurit berlari menerobos masuk ke dalam tenda dengan napas terengah-engah dan wajah pucat pasi. "Gudang logistik utama di ngarai barat terbakar habis! Disusul serangan mendadak dari pasukan bayangan tak dikenal di sayap utara! Kavaleri kita mengalami kekacauan!"

Wanyan Aguda melompat berdiri, tinjunya menghantam meja kayu hingga retak berkeping-keping. "Keparat! Siapa yang berani menyabotase jalur suplaiku?!"

"Aku," sebuah suara dingin yang tenang tiba-tiba bergema dari ambang pintu tenda.

Wanyan Aguda dan para perwira di dalam tenda langsung menoleh serentak. Di sana, berdiri seorang wanita berbalut jubah gelap dengan tudung kepala yang separuh tersingkap. Belati giok putih di tangannya memancarkan pendaran cahaya redup yang mematikan.

"Mu Qingran?!" Wanyan Aguda membelalakkan matanya, tidak percaya melihat Permaisuri Zhengzhou berdiri seorang diri di jantung perkemahan militernya. "Kau... wanita jalang! Beraninya kau datang sendiri menyerahkan kepala ke hadapanku!"

Qingran menyunggingkan senyuman tipis yang sangat dingin. "Aku tidak datang untuk menyerahkan kepala, Jenderal Wanyan. Aku datang untuk menutup riwayatmu dan seluruh pasukan besimu di tanah ini."

Wanyan Aguda meraung murka, menghunus pedang besar bermata dua dari pinggangnya. "Bunuh dia! Potong tubuh wanita itu menjadi seribu bagian!"

Puluhan pengawal elit di dalam tenda langsung menghunus pedang mereka secara serentak, menerjang ke arah Qingran tanpa ampun. Namun, Qingran tidak menunjukkan sedikit pun rasa gentar.

Dengan kecepatan yang melampaui batas kemampuan mata manusia, ia melangkah maju. Belati gioknya berkelebat membelah udara, menciptakan lingkaran cahaya putih yang menyilaukan.

Clang! Sret!

Dalam tiga jurus pertama, dua pengawal elit Jin tersungkur bersimbah darah di atas tanah. Gerakan Qingran begitu anggun, seolah ia bukan sedang bertarung di tengah medan perang, melainkan sedang menarikan tarian maut yang menghipnotis. Setiap ayunan belatinya memecah tenaga dalam murni, memecahkan bilah pedang lawan dan merobek pertahanan mereka tanpa kesulitan.

Wanyan Aguda, yang melihat pasukannya dilumpuhkan dengan begitu mudah, kehilangan akal sehatnya karena amarah. Ia mengangkat pedang besarnya dan melompat menerjang secara langsung, mengerahkan seluruh tenaga dalam ke tingkat puncak untuk membelah tubuh Qingran menjadi dua.

"Mati kau!" teriak Wanyan Aguda menggelegar.

Qingran berhenti bergerak. Ia mengangkat belati gioknya tepat di depan dadanya, membiarkan hantaman pedang besar itu menghantam belatinya dengan kekuatan penuh.

Bum!

Gelombang kejut dari benturan tenaga dalam itu meniup tenda komando hingga koyak berkeping-keping. Debu dan salju beterbangan liar. Wanyan Aguda terperangah ketika menyadari bahwa tebasan mautnya tertahan sempurna oleh belati kecil di tangan seorang wanita. Qingran mengalirkan energi murni yang jauh lebih padat, mendorong balik tenaga lawan hingga membuat tangan Wanyan Aguda mati rasa dan pedangnya terpental lepas dari genggamannya.

Sebelum panglima besar Jin itu sempat memulihkan keseimbangannya, Qingran melesat maju. Ujung belati giok putihnya kini menempel tepat di depan tenggorokan Wanyan Aguda, mengalirkan hawa dingin yang membuat sang panglima membeku kaku, keringat dingin bercucuran membasahi lehernya.

"Perang ini belum dimulai di ibu kota, Jenderal," bisik Qingran dingin, suaranya menusuk langsung ke dalam jiwa Wanyan Aguda. "Tetapi malam ini, di Lembah Sungai Liao, riwayatmu telah resmi berakhir."

Sebelum Wanyan Aguda sempat membuka mulut untuk memohon atau memaki, suara derap ribuan pasukan kekaisaran di bawah pimpinan Jenderal Lu memasuki lembah dari segala penjuru, menyapu bersih sisa-sisa pasukan Jin yang kebingungan. Malam itu, di bawah langit timur laut yang membara, kemenangan mutlak kembali berada di tangan Kekaisaran Zhengzhou, membuktikan bahwa takhta yang dijaga oleh seorang permaisuri berhati baja tidak akan pernah bisa diruntuhkan oleh kekuatan sebesar apa pun di dunia ini.

1
Alia Chans
Alurnya menarik banget thor, apalagi karakter Qingran yang tenang tapi penuh strategi.Penulisannya juga bikin penasaran dengan keputusan Kaisar selanjutnya. Semangat terus berkarya thor/Smile/
Xi Yue Qing: siap... terimakasih 🤩
total 1 replies
Nur Yani
lanjut kk
Nur Yani
lanjut kakak
Xi Yue Qing: asiap... ditunggu update nya🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!