NovelToon NovelToon
TAKDIR DI BALIK SORBAN

TAKDIR DI BALIK SORBAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:738
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 — NADIA

Sisa-sisa ketegangan pasca ditemukannya foto lama di dalam kotak kayu berukir itu masih menyisakan hawa dingin di lantai dua kediaman Faruqi.

Senin pagi bergulir dalam keheningan yang serba canggung. Saat sarapan berlangsung di ruang makan bawah, Aurel lebih banyak menunduk memandangi piring nasi gorengnya, hanya menjawab seadanya setiap kali Kiai Abdul Faruqi atau Ummi Kulsum mengajak bicara. Sementara itu, Rasyid tetap bersikap seperti biasa—santai, sopan, dan penuh perhatian—meski ada binar serba salah yang tersembunyi halus di balik ketenangannya.

Usai sarapan, Rasyid pamit berangkat ke luar kota untuk menghadiri undangan silaturahmi pengurus pesantren se-Jawa Barat selama dua hari. Sebelum berangkat, pria itu sempat menatap Aurel cukup lama di teras depan, seolah ingin mengucapkan sesuatu. Namun melihat sikap Aurel yang sengaja membentengi diri dengan wajah datar, Rasyid akhirnya hanya mengatupkan tangan di dada, menguapkan salam, lalu melangkah masuk ke dalam mobil.

Aurel berdiri memandangi mobil SUV hitam milik suaminya merayap keluar dari gerbang pesantren. Ada rasa hampa yang mendadak melingkupi dadanya. Ia jengkel pada Rasyid yang terkesan menyembunyikan rahasia, namun di saat yang sama, ia juga membenci dirinya sendiri karena tidak sanggup membendung gelombang penasaran yang terus menggerogoti pikirannya.

Pukul sepuluh pagi, ketika Aurel sedang duduk bersandar di sofa ruang tengah seraya memangku laptop untuk merapikan draf skripsinya, suara ketukan pintu depan terdengar halus.

"Assalamu’alaikum, Kak Aurel!"

Suara ceria khas milik Salma meluncur masuk. Gadis muda berkerudung instan warna krem itu melangkah masuk membawa sebuah nampan berisi dua cangkir teh krisan hangat dan sepiring bolu kukus pandan.

"Wa'alaikumsalam, Salma," sahut Aurel, mengukir senyum tipis seraya menggeser laptop di pangkuannya. "Sini masuk."

Salma meletakkan nampan di atas meja kayu, lalu duduk santai di samping Aurel. "Ummi tadi bikin bolu pandan, terus nyuruh Salma nganterin ke sini. Kata Ummi, Mas Rasyid kan berangkat luar kota, takutnya Kak Aurel sendirian bosan."

"Makasih ya, Sal. Ummi repot-repot banget," kata Aurel tulus.

Salma memperhatikan raut wajah kakak iparnya yang tampak sedikit kuyu dan kurang bergairah. Dengan sifatnya yang polos dan supel, Salma menyenggol lengan Aurel pelan. "Kak Aurel kok kelihatan lemes gitu? Ditinggal Mas Rasyid dua hari doang udah kangen ya?"

Aurel tertawa kecil, sedikit mendengus. "Ngaco kamu, Sal. Siapa juga yang kangen."

Aurel meraih cangkir teh hangatnya, memutar-mutar permukaan cangkir keramik itu seraya menimbang-nimbang keputusan di dalam kepalanya. Tatapan Salma yang jujur dan hangat memberikannya sedikit keberanian untuk menanyakan hal yang sejak kemarin mengusik tidurnya.

Aurel berdehem pelan. "Sal... boleh tanya sesuatu nggak?"

"Boleh dong, Kak! Tanya apa aja, pasti Salma jawab kalau tahu," balas Salma antusias seraya mengunyah sepotong bolu pandan.

Aurel menelan ludah, menatap cangkir teh di tangannya sebelum memberanikan diri menatap mata Salma. "Kemarin... pas aku lagi rapi-rapi rak buku di kamar atas, kotak kayu tua punya Mas Rasyid nggak sengaja jatuh."

Gerakan mengunyah Salma terhenti sejenak. Binar matanya sedikit berubah. "Kotak kayu berukir itu?"

"Iya," Aurel mengangguk pelan. "Penutupnya terlepas, terus ada foto lama yang jatuh dari dalamnya. Foto Mas Rasyid waktu masih remaja... berdiri sama seorang cewek berkerudung putih. Mukanya cantik banget, anggun gitu."

Suasana di ruang tengah mendadak hening selama beberapa detik. Salma meletakkan bolunya kembali ke piring, menatap Aurel dengan raut wajah yang mencerminkan pemahaman yang amat dalam.

"Terus... Kak Aurel nanya ke Mas Rasyid siapa cewek itu?" panggil Salma pelan.

"Udah," bisik Aurel, menggigit bibir bawahnya. "Tapi Mas Rasyid cuma jawab singkat banget. Dia cuma bilang... cewek itu teman masa kecilnya. Habis itu dia langsung nutup kotaknya rapat-rapat dan nggak mau cerita lagi."

Salma menghela napas pendek. Sebuah senyum samar bercampur rasa haru terukir di bibirnya. Gadis itu memajukan duduknya, menatap lurus ke dalam mata Aurel.

"Wah... Kak Aurel beneran cemburu nih ya?" goda Salma halus, namun intonasinya kali ini tidak bernada mengejek, melainkan penuh dengan empati.

Pipi Aurel memanas seketika. Ia mencoba mengelak. "Nggak! Aku bukan cemburu, Sal! Aku cuma... aneh aja. Kalau cuma teman biasa, kenapa reaksinya sampai se-kaku itu?"

"Karena buat Mas Rasyid, dia memang bukan sekadar teman biasa, Kak," bisik Salma lembut.

Dada Aurel mendadak berdesir dingin. Kalimat Salma menghantam ulu hatinya dengan telak.

Salma menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap lurus ke arah halaman depan seraya mulai bercerita. "Nama cewek di foto itu... Mbak Nadia. Nadia Rahma."

Aurel menahan napasnya di dalam dada. Nama itu... nama yang begitu indah, meluncur dari bibir Salma dengan nada penuh rasa hormat.

"Mbak Nadia itu putri tunggal dari almarhum Kiai Usman, sahabat karib Abah yang memimpin pesantren di Jawa Tengah," lanjut Salma dengan suara rendah dan jernih. "Dari kecil, Mbak Nadia sering berkunjung ke sini kalau ada acara haul atau pengajian agung. Dialah teman masa kecil Mas Rasyid yang paling dekat. Mereka berdua tumbuh bareng, belajar kitab bareng, bahkan sama-sama punya hafalan Al-Qur'an 30 juz di usia muda."

Aurel menyimak setiap detail kalimat Salma tanpa berani menyela. Bayangan perempuan di foto itu—sosok anggun, berilmu, dan sempurna di lingkungan pesantren—makin tergambar jelas di benaknya.

"Semua orang di pesantren ini dulu mikir kalau Mbak Nadia bakal jadi pendamping hidup Mas Rasyid suatu hari nanti," Salma melirik Aurel dengan pandangan teduh. "Abah dan Almarhum Kiai Usman bahkan sudah punya ikatan janji tak tertulis untuk menjodohkan mereka berdua kalau sudah sama-sama selesai menuntut ilmu di Mesir."

Aurel merasakan tenggorokannya mendadak menyempit. Perasaan kian terkerdilkan merayap pelan di dalam hatinya. Nadia adalah jodoh impian semua orang, batin Aurel. Sangat jauh berbeda dengan diriku yang anak kota, tidak berhijab sejak awal, dan sama sekali tidak paham ilmu agama.

"Terus... kenapa mereka nggak nikah?" tanya Aurel pelan, suaranya hampir tak terdengar.

Mata Salma mendadak berkaca-kaca. Gadis itu menunduk memandangi tangannya yang saling bertaut di atas pangkuan.

"Empat tahun lalu... sewaktu Mbak Nadia baru menyelesaikan tahun pertamanya di Universitas Al-Azhar Kairo, beliau jatuh sakit keras," tutur Salma dengan nada duka yang amat nyata. "Kanker darah stadium akhir. Nggak ada yang tahu karena Mbak Nadia selalu menyembunyikan rasa sakitnya dari semua orang. Tiga bulan setelah didiagnosis... Mbak Nadia meninggal dunia di Kairo."

Aurel membeku seketika.

Seluruh kata-kata yang sudah ia susun di dalam kepalanya sirnah tanpa sisa. Ruang tengah kediaman Faruqi terasa begitu hening, hanya ada suara detak jarum jam kayu yang terus berputar.

"Waktu kabar duka itu sampai ke sini... Mas Rasyid hancur banget, Kak," bisik Salma, mengusap sudut matanya pelan. "Salma nggak pernah ngeliat Mas Rasyid menangis se-histeris itu sepanjang hidup Salma. Mas Rasyid mengurung diri di kamar kerja atas selama seminggu penuh. Dia kehilangan kawan terdekatnya, sosok yang selama ini jadi penyemangat studinya. Sejak hari itu... Mas Rasyid berubah jadi pria yang luar biasa tenang, tertutup, dan jarang banget memperlihatkan emosi sedih atau bahagianya secara berlebihan ke orang lain."

Aurel mencengkeram kain celana panjangnya erat-erat. Air mata hangat tanpa sadar menetes membasahi pipinya.

Rasa cemburu, amarah, dan rasa curiga yang sejak kemarin membakar dadanya luntur sepenuhnya—berganti menjadi gelombang rasa bersalah dan simpati yang begitu luar biasa mendalam.

Bukan karena Rasyid masih mencintai wanita lain di balik belakangnya. Bukan karena Rasyid menganggap Aurel sebagai pelampiasan semata.

Namun karena suaminya... pria berpeci hitam yang selalu bersikap begitu tegap dan teduh melindungi Aurel dari segala hal... menyimpan sebuah luka duka yang teramat dalam dan tak pernah menyulitkan siapa pun dengan kesedihannya tersebut.

"Jadi..." suara Aurel bergetar pelan, "Mas Rasyid nyimpen foto itu..."

"Bukan karena Mas Rasyid belum move on dari takdir, Kak," potong Salma lembut seraya menggenggam jemari Aurel yang dingin. "Tapi foto dan surat-surat itu adalah pengingat buat Mas Rasyid tentang sahabat terbaik yang pernah ada dalam hidupnya. Dan Salma tahu pasti... sejak Mas Rasyid menikah sama Kak Aurel, binar mata Mas Rasyid yang dulu hilang pelan-pelan mulai kembali lagi."

Aurel menatap Salma dengan mata yang berkaca-kaca.

"Mas Rasyid sayang banget sama Kak Aurel," pukas Salma mantap seraya tersenyum manis. "Cara Mas Rasyid natap Kak Aurel sekarang... beda banget. Mas Rasyid tidak pernah membandingkan Kak Aurel sama siapa pun. Jadi, jangan merasa cemburu lagi ya, Kak?"

Aurel menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengusap air mata yang menetes di pipinya. Dadanya bergemuruh hebat oleh perasaan haru yang tak terkira.

Malam harinya, pukul 22.00 WIB.

Aurel duduk sendirian di tepi tempat tidur kamar lantai dua. Lampu kamar dinyalakan bernuansa temaram. Di atas meja rias, sebuah cangkir berisi teh krisan hangat yang baru saja diseduh Aurel masih mengepulkan uap tipis.

Suara derak mobil yang memasuki pekarangan depan terdengar dari luar.

Aurel berdiri dengan jantung berdebar kencang. Ia melangkah menuju jendela, melihat mobil SUV hitam Rasyid baru saja terparkir. Pria itu seharusnya menginap dua hari di luar kota, namun entah mengapa malam ini Rasyid memilih kembali lebih cepat.

Beberapa menit kemudian, suara derit pintu kamar yang terbuka memecah keheningan.

Rasyid melangkah masuk ke dalam kamar. Pria itu tampak sangat lelah—kemeja kokonya sedikit kusut di bagian lengan, dan peci hitamnya dipegang di tangan kanan. Namun saat matanya menangkap sosok Aurel yang berdiri di dekat tempat tidur, raut lelah di wajahnya seketika mereda.

"Assalamu’alaikum," panggil Rasyid halus, suaranya sedikit serak karena perjalanan panjang.

"Wa'alaikumsalam," jawab Aurel pelan.

Rasyid meletakkan tas jalannya di sudut meja, lalu menatap Aurel dengan raut rasa bersalah yang amat jujur.

"Maafkan aku, Aurel," ujar Rasyid mendahului, melangkah dua tindak mendekati istrinya. "Soal kejadian kemarin pagi... aku tidak bermaksud menyembunyikan sesuatu dari kamu atau membuat kamu merasa tidak nyaman. Aku hanya..." Rasyid menghela napas panjang, menundukkan pandangannya sejenak, "...belum siap menceritakan masa lalu itu."

Aurel menatap Rasyid lurus-lurus. Melihat pria tegap di depannya yang selalu meminta maaf lebih dulu walau tidak sepenuhnya bersalah, seluruh benteng gengsi di dalam diri Aurel runtuh tanpa sisa.

Aurel melangkah mendekati Rasyid, berhenti tepat di hadapan suaminya.

"Aku yang harusnya minta maaf, Rasyid," bisik Aurel tulus. Suaranya bergetar menahan haru.

Rasyid mendongak, tertegun menatap perubahan sikap istrinya.

"Aku udah tahu semuanya," lanjut Aurel pelan. "Tadi siang Salma cerita sama aku. Soal Mbak Nadia... dan soal semua hal yang pernah terjadi di masa lalu kamu."

Rasyid terpaku di tempatnya. Binar matanya sedikit bergetar mendengarkan nama itu disebut oleh Aurel.

Aurel memberanikan diri mengulurkan tangannya, menyentuh lengan kemeja Rasyid pelan. "Maafkan aku ya? Aku udah berprasangka buruk sama kamu. Aku pikir kamu nyimpen rahasia jahat dari aku... padahal kamu cuma lagi menjaga kenangan sahabat kamu."

Rasyid menatap jemari Aurel di lengannya, lalu beralih menatap netra cokelat terang milik istrinya yang memancarkan kejujuran dan rasa empati yang begitu murni.

Sebuah senyum paling hangat dan lega yang pernah ada terukir perlahan di bibir Rasyid.

"Terima kasih, Aurel," sahut Rasyid dengan intonasi rendah yang amat teduh. Pria itu mengulurkan tangan kanannya, menggenggam jemari Aurel yang berada di lengannya dengan usapan lembut. "Terima kasih karena sudah mau memahami."

"Kamu... nggak apa-apa kalau mau cerita soal Mbak Nadia ke aku," bisik Aurel lagi, menatap Rasyid penuh kesiapan. "Aku janji bakal dengerin. Aku nggak akan cemburu lagi."

Rasyid terkekeh pelan—suara tawa renyah yang amat lega meluncur dari dadanya. Pria itu menatap Aurel dengan pandangan yang begitu dalam dan penuh kasih sayang.

"Nadia adalah bagian dari masa laluku yang sudah selesai dan menjadi doa," ujar Rasyid mantap, menggenggam erat tangan Aurel di dalam genggamannya. "Tapi kamu, Aurel... kamu adalah takdir masa depanku yang ingin aku jaga sampai ke syurga."

Kalimat itu terucap begitu jernih menembus malam yang hening.

Aurel tidak mampu membalas sepatah kata pun. Ia hanya sanggup tersenyum manis dengan mata bertakung air mata bahagia, merapatkan tubuhnya seraya menyandarkan kepalanya di dada tegap sang suami—merasakan detak jantung Rasyid yang berdegup hangat dan jujur di bawah siraman lampu temaram kamar mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!