NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bubur

Pukul 23.10. Shift selesai.

Cheyrin keluar melalui pintu belakang khusus karyawan, bukan pintu utama. Apron hitam sudah dilepaskannya, rambut diikat seadanya. Lingkaran tipis tampak di bawah matanya. Rasa lelahnya luar biasa, tetapi langkahnya tetap tegak seperti biasa.

Ia berhenti sejenak di trotoar. Napasnya dihembuskan perlahan. Udara malam Eastbridge terasa lebih dingin daripada suhu di dalam dapur.

Dari kejauhan, sekitar lima puluh meter dari pintu masuk L'Evanne, lampu motor Ninja hitam menyala sekali. Klakson pendek: tin.

Jayden tidak menunggu tepat di depan restoran. Ia memarkir motor agak jauh, di bawah pohon angsana yang rindang. Sengaja. Agar tidak menjadi perhatian para valet maupun tamu yang keluar.

Begitu melihat Cheyrin, Jayden segera berdiri dari sandaran motornya. Helm hitam ada di tangannya. Senyumnya muncul seperti biasa. Miring, santai, tetapi matanya lembut.

"Putri es pulang shift," sapanya ringan begitu Cheyrin mendekat. "Gimana? Kaki masih nempel ke badan nggak?"

Cheyrin berhenti di hadapannya. Ia menatap Jayden beberapa detik. Lalu, untuk pertama kalinya setelah enam jam berdiri di depan kompor... sudut bibirnya terangkat.

Senyum lembut. Tipis. Namun tulus. Bukan senyum hambar yang biasa ia gunakan kepada dosen.

"Ya masih," jawab Cheyrin pelan. Suaranya serak karena seharian jarang berbicara. Raut lelahnya jelas terlihat. Kantung matanya sedikit menghitam, tetapi tatapannya tetap tenang.

Jayden tidak langsung memasangkan helm. Kali ini ia memperhatikan terlebih dahulu. Dari cara Cheyrin menopang berat badan ke kaki kiri, dari cara jarinya memijat pergelangan tangan tanpa sadar.

Ia menghela napas kecil. "Laper nggak?"

Cheyrin menggeleng. "Nggak terlalu."

Jayden mengangkat alis. "Bohong. Perut lo bunyi dari sini kedengeran."

Cheyrin langsung menunduk, pipinya sedikit memanas. Ketahuan.

Jayden tertawa pelan. Ia menyodorkan helm kepada Cheyrin, tetapi kali ini tidak langsung dipasangkan. "Udah, makan dulu yuk sebelum pulang. Gue tau warung bubur ayam buka 24 jam. Deket sini. Nggak mewah, tapi anget."

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada datar, "Anggap aja tukang ojek lo ngasih bonus shift malam."

Cheyrin mendongak. Ia menatap mata Jayden cukup lama. Di sana tidak ada rasa kasihan. Tidak ada "kasihan kamu anak bos kerja keras". Yang ada hanya Jayden yang biasa. Jayden yang menjemputnya setiap sore, tanpa peduli ia bekerja di mana.

Akhirnya Cheyrin mengangguk sekali. "Iya. Makan dulu."

Jayden langsung tersenyum lebar. Helm dipasangkan ke kepala Cheyrin. Jarinya tetap hati-hati membetulkan rambut yang terjepit, seperti sore tadi.

"Pegangan ya," kata Jayden sambil menaiki motornya.

Cheyrin duduk di belakang. Kali ini pelukannya lebih erat daripada biasanya. Bukan karena takut jatuh. Namun karena tubuhnya benar-benar lelah.

Motor Ninja hitam melaju perlahan meninggalkan L'Evanne. Meninggalkan lampu kristal dan alunan piano.

Tujuan malam ini bukan kos. Melainkan warung bubur ayam yang lampunya kuning, gerobaknya sedikit penyok, dan bangkunya dari plastik biru.

Pukul 23.25.

Warung bubur ayam "Bang Udin" sudah berdiri sejak tahun 2010. Gerobaknya dicat biru, catnya mengelupas di beberapa sudut. Lampu bohlam kuning menggantung di atas, mengusir gelap malam. Aroma jahe, ayam suwir, dan kerupuk panas bercampur dengan udara dingin.

Jayden memarkir motor di bahu jalan, tidak jauh dari gerobak. Ia menurunkan standar samping, lalu menoleh ke belakang.

Cheyrin turun perlahan. Kakinya sedikit kaku karena seharian berdiri. Ia memegangi ujung jaketnya, menahan angin.

"Udah duduk sana," kata Jayden sambil menunjuk bangku plastik biru yang paling pojok. "Gue pesen. Lo mau polos apa pake telur?"

Cheyrin menatap menu yang ditempel di gerobak menggunakan lakban. Harganya jauh lebih murah daripada satu gelas air mineral di L'Evanne.

"Telur satu," jawabnya pelan.

Jayden mengangguk, lalu melangkah ke depan gerobak. "Bang, dua bubur. Satu pake telur, satu polos. Kerupuknya dua ya."

Bang Udin yang sudah beruban tersenyum lebar. "Siap, Den. Ini anaknya abis kerja ya? Mukanya pucet."

"Abis perang di dapur, Bang," jawab Jayden santai sambil bersandar ke gerobak. "Tolong dibanyakin ayamnya. Dia capek."

Cheyrin yang duduk di bangku langsung menunduk. Telinganya memanas. "Jay... nggak usah."

Jayden kembali ke meja sambil membawa dua gelas teh hangat. Ia meletakkan satu di depan Cheyrin. "Udah, diem. Minum dulu. Biar anget."

Beberapa menit kemudian dua mangkuk bubur diletakkan di atas meja. Uap panasnya mengepul. Jayden langsung mengaduk buburnya cepat, menambahkan sambal, kecap, dan bawang goreng.

Cheyrin menatap mangkuknya. Sendok di tangannya bergerak pelan. Suapan pertama masuk. Hangat. Gurih. Sederhana.

Ia tidak berbicara. Tetapi bahunya yang tadi tegang, perlahan mengendur.

Jayden memperhatikan dari sudut matanya. Ia tidak bertanya "capek ya?". Tidak bertanya "gimana hari pertamanya?". Ia hanya makan dalam diam, sesekali menyodorkan tisu ketika kuah bubur Cheyrin hampir tumpah.

Keheningan di antara mereka tidak canggung. Hanya tenang.

Setelah mangkuk Cheyrin hampir habis, Jayden baru bersuara. "Enak?"

Cheyrin meletakkan sendok. Ia mengangguk sekali. "Enak."

Jayden tersenyum miring. "Tuh kan. Makanan mahal kalah sama bubur 15 ribu."

Cheyrin tidak membantah. Ia meneguk teh hangat terakhir, lalu meletakkan gelasnya perlahan.

Angin malam bertiup lagi. Kali ini tidak sedingin tadi.

Jayden membayar kepada Bang Udin, lalu kembali ke motor. Ia tidak buru-buru menyalakan mesin. Ia menunggu Cheyrin berdiri dan mendekat.

"Udah cukup tenaganya?" tanya Jayden.

Cheyrin mengangguk. Kali ini senyum tipisnya muncul lagi. Lebih lama daripada di depan L'Evanne.

"Udah," jawabnya. "Makasih, Jay."

Jayden terdiam sebentar. Ia memutar kunci motor, tapi tidak langsung dihidupkan. Jari-jarinya mengetuk stang pelan.

Ia menoleh ke Cheyrin. Helm hitam masih di tangannya. Ekspresinya seperti biasa: santai, miring, ada senyum kecil di sudut bibir.

"Gue jujur ya," kata Jayden tiba-tiba. Nada suaranya tetap ringan, tapi matanya tidak bercanda kali ini. "Gue dari jam 5 sore udah muter-muter di area sini. Nunggu lo. Nggak ke mana-mana."

Cheyrin mengangkat wajahnya. Kaget.

Jayden cepat-cepat menambahkan, nadanya dibelokkan lagi jadi candaan. "Tapi bukan karena gue bucin ya. Gue cuma... males aja kalau lo pulang jalan kaki terus kesasar. Ntar yang repot gue juga. Harus nyariin putri es yang beku di pinggir jalan."

Cheyrin tidak langsung menjawab. Ia menatap Jayden lama. Dari cara Jayden menggaruk belakang kepalanya yang kikuk, dari cara ia menghindari tatapan Cheyrin sepersekian detik.

"Gue tau lo capek banget hari ini," lanjut Jayden pelan. Kali ini tanpa candaan. "Muka lo dari tadi datar, tapi mata lo... capeknya keliatan. Makanya gue ajak makan dulu. Biar lo nggak langsung rebahan dengan perut kosong."

Ia jeda, lalu senyum miringnya muncul lagi. "Lagian kalau lo sakit, siapa yang mau gue bully tiap sore? Rugi dong."

Cheyrin menghela napas kecil. Ia menunduk, menendang kerikil di aspal pelan. Pipinya memanas.

"Gue... nggak biasa ada yang nungguin," ucapnya pelan. Jujur.

Jayden memasang helm ke kepala Cheyrin. Jarinya sengaja mengusap poni Cheyrin yang berantakan, lebih lama dari biasanya.

"Ya biasain mulai sekarang," ucap Jayden ringan. "Gratis. Nggak ada biaya admin. Kecuali... pelukan dari belakang tiap gue bawa motor. Itu bayarnya."

Cheyrin mendongak, menatap Jayden tidak percaya. "Jayden."

"Bercanda," Jayden langsung tertawa, menutup visor helmnya. "Udah. Pegang gue. Kita pulang sebelum lo beneran beku di sini."

Motor Ninja hitam kembali melaju.

Di belakang Jayden, Cheyrin terdiam lama. Tapi kali ini pelukannya tidak canggung. Tangannya menggenggam jaket Jayden sedikit lebih erat.

Dan Jayden, tersenyum, di balik helmnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!