NovelToon NovelToon
IBU MAFIA

IBU MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Single Mom
Popularitas:743
Nilai: 5
Nama Author: Princess Catalunya

Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.

Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.

Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.

Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.

Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.

Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah untuk Anak Buangan

Semua orang berpikir masalah keluarga Adrian sudah selesai. Mereka salah. Amara memang membiarkan mereka pulang malam itu. Namun bukan berarti ia memaafkan mereka.

Karena ada satu aturan yang tidak pernah berubah dalam hidup Madam A, Siapa pun yang menyentuh keluarganya, harus membayar. Dan bagi Amara, Kael adalah keluarganya.

Dua minggu setelah pertemuan itu, dunia bisnis internasional mendadak gempar. Saham perusahaan keluarga Adrian jatuh drastis. Beberapa investor besar menarik dana secara tiba-tiba. Serta kontrak internasional dibatalkan.

Media mulai memberitakan dugaan korupsi internal dan manipulasi keuangan.

Dalam waktu singkat, kerajaan bisnis keluarga Adrian mulai retak. Dan yang paling mengerikan, tidak ada yang tahu siapa pelakunya.

Di ruang rapat utama keluarga Adrian, suasana kacau.

“Kita kehilangan pelabuhan timur!”

“Investor Singapura menarik diri!”

“Sistem distribusi lumpuh!”

Ayah Kael memukul meja keras.

“SIAPA YANG BERMAIN?!”

Namun semua orang di ruangan itu sebenarnya sudah tahu jawabannya. Orang itu adalah Madam A. Wanita itu sedang berburu. Dan ketika Amara berburu, ia tidak pernah gagal.

Sementara itu di mansion keluarga Amara, suasana justru tenang. Amara duduk santai mengesap teh hijau favoritnya, sambil membaca laporan keuangan.

Nayla yang sedang memeriksa tekanan darah ibunya menghela napas.

“Ibu belum benar-benar sembuh dan masih sempat menghancurkan perusahaan orang?”

Amara menyesap tehnya pelan.

“Aku multitasking.”

“Ibu menyeramkan.”

“Aku ibu kamu.”

Nayla memijat pelipis pasrah.

Sementara di sudut ruangan, Kael berdiri diam dengan wajah sulit dibaca. Karena ia tahu bahwa semua kekacauan ini terjadi karena dirinya.

Malam itu Kael akhirnya bicara.

“Madam.”

“Hm?”

“Tolong hentikan.”

Amara mengangkat mata perlahan. Kael menunduk sedikit.

“Saya tidak ingin Madam melakukan semua ini demi saya.”

Ruangan menjadi sunyi.

Lalu Amara menutup dokumennya pelan.

“Kael.”

Suara wanita itu tenang.

“Saat mereka menyerangmu… mereka sedang menantangku.”

Kael diam. Amara melanjutkan,

“Dan aku tidak pernah membiarkan siapa pun mengambil milikku.”

Kael masih berdiri diam. Namun kali ini wajahnya tidak lagi hanya menunjukkan rasa terkejut. Ada sesuatu yang lebih dalam.

Rasa bersalah.

“Madam tidak seharusnya ikut menanggung masalah keluarga saya,” katanya pelan.

Amara mengangkat alis.

“Masalah keluargamu?”

Kael menunduk.

“Sejak mereka datang, gudang kita diserang. Pengawal terluka. Mereka mulai mengganggu bisnis Aether. Semua itu terjadi karena saya.”

Amara menatapnya cukup lama. Lalu ia meletakkan cangkir teh di atas meja.

“Kael, dengarkan aku.”

Pria itu mengangkat wajah.

“Orang yang menyerang keluargaku selalu punya pilihan. Mereka bisa pergi dan tidak mengganggu siapa pun.”

Amara menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Tetapi keluarga Adrian memilih mengancam. Mereka memilih membakar gudangku. Mereka memilih melukai orang-orang yang bekerja untukku.”

Tatapannya berubah dingin.

“Jadi jangan pernah menganggap ini hanya tentang dirimu.”

Kael terdiam.

“Ini tentang batas,” lanjut Amara. “Dan mereka sudah melewatinya.”

Untuk beberapa saat, tidak ada suara di ruangan itu. Kemudian Amara berkata pelan,

“Aku membawamu pulang bukan agar suatu hari kau berdiri sendirian menghadapi orang-orang yang pernah membuangmu.”

Tatapan Kael mulai bergetar.

“Kalau kau bagian dari keluarga ini, maka masalahmu juga masalah kami.”

Kael menundukkan kepala. Ia sudah berkali-kali mempertaruhkan nyawanya demi Amara. Namun baru saat itu ia benar-benar mengerti bahwa kesetiaannya bukan hanya berjalan satu arah.

Amara tidak pernah meminta Kael melindunginya sendirian. Amara juga akan melindungi Kael.

Kalimat itu membuat Kael membeku. Karena untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa Amara benar-benar menganggapnya keluarga. Bukan sekadar bawahan.

Malam sebelum pengumuman akuisisi, Amara duduk di ruang kerjanya bersama Leon. Beberapa layar besar menampilkan laporan keuangan keluarga Adrian. Angka-angka merah memenuhi sebagian besar dokumen.

Leon berdiri sambil membaca laporan terakhir.

“Investor terakhir sudah menarik dana.”

“Bagus.”

“Pelabuhan timur juga menghentikan kerja sama.”

Amara mengangguk kecil.

“Bagaimana dengan anak perusahaan mereka?”

“Sudah setuju menjual saham.”

Leon menatap Amara beberapa detik.

“Kau sudah merencanakan semua ini sejak malam mereka menyerang gudang.”

Amara tersenyum tipis.

“Tidak.”

Leon mengernyit.

“Lalu sejak kapan?”

Amara membuka sebuah dokumen lama.

“Sejak mereka membuang seorang anak dan menganggap tidak akan ada konsekuensinya.”

Leon terdiam. Amara menutup map itu perlahan.

“Aku hanya menunggu alasan untuk mengambil semuanya.”

Leon menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.

“Kadang aku lupa kenapa begitu banyak orang takut padamu.”

Amara mengangkat alis.

“Dan sekarang kau ingat?”

“Sekarang aku ingat.”

Amara kembali menatap layar.

“Besok semuanya selesai.”

Leon berdiri di sampingnya. Tatapannya ikut tertuju pada laporan keluarga Adrian.

“Kalau begitu, besok kita pastikan Kael tidak perlu lagi menoleh ke belakang.”

Amara diam beberapa detik. lalu ia menjawab pelan,

“Ya. Sudah cukup lama dia hidup dibayangi masa lalu.”

Sebulan kemudian, Pukulan terakhir datang. Aether Global resmi mengumumkan akuisisi mayoritas saham keluarga Adrian.

Berita itu meledak di seluruh dunia.

“Madam A Takes Over Rival Empire.”

“The Fall of Adrian Group.”

“One of the Largest Corporate Seizures in Modern History.”

Para analis ekonomi menyebutnya sebagai langkah paling brutal namun paling genius dalam sejarah bisnis internasional. Karena Amara tidak menghancurkan perusahaan itu sepenuhnya. Ia hanya mengambil alih dan mengendalikan semuanya. Ia menjadikan keluarga Adrian tidak lebih dari simbol kosong.

Hari penandatanganan final berlangsung dingin. Ayah Kael duduk dengan wajah pucat di ruang konferensi. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria tua itu terlihat kalah.

Pintu ruangan terbuka. Amara masuk bersama Kael, dan semua orang langsung berdiri.

Namun yang membuat seluruh ruangan terkejut adalah Kael duduk di kursi utama, bukan Amara.

Pria itu langsung menatap Amara bingung.

“Madam…”

Amara menyerahkan sebuah map hitam kepadanya.

“Buka.”

Kael perlahan membuka dokumen itu, dan matanya langsung membeku.

Seluruh hak kepemilikan utama perusahaan Adrian, atas namanya. Tangannya sedikit gemetar.

“Ini…”

“Hakmu,” jawab Amara tenang.

Kael menatap wanita itu tak percaya. Ia tidak langsung menjawab. Ia masih membalik beberapa halaman dokumen itu dengan tangan yang perlahan mulai bergetar.

“Madam… saya tidak bisa menerima ini.”

“Kenapa?”

“Saya tidak ingin menjadi seperti mereka.”

Amara menatapnya tenang.

“Maksudmu?”

“Saya tidak ingin memimpin perusahaan dengan ketakutan. Saya tidak ingin membuang orang hanya karena mereka dianggap tidak berguna. Saya tidak ingin membuat anak-anak lain mengalami apa yang saya alami.”

Untuk pertama kalinya, Amara tersenyum lebih lebar.

“Itulah alasan perusahaan ini harus berada di tanganmu.”

Kael terdiam.

“Kau tidak harus menjadi seperti ayahmu hanya karena kau lahir dari darahnya,” lanjut Amara.

“Kau punya pilihan untuk menjadi berbeda.”

Amara menunjuk dokumen di tangannya.

“Perusahaan itu tidak akan menjadi penjara masa lalumu.”

Tatapannya melembut.

“Jadikan tempat itu rumah bagi orang-orang yang selama ini tidak pernah dianggap penting.”

Kael menatap dokumen itu kembali. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat perusahaan Adrian sebagai simbol keluarga yang membuangnya. Ia melihatnya sebagai kesempatan. Kesempatan untuk membangun sesuatu yang berbeda.

“Mereka mengambil masa kecilmu.”

Tatapan Amara berubah dingin ke arah keluarga Adrian.

“Jadi aku mengambil semuanya.”

Sunyi total.

Bahkan Leon yang duduk di belakang hanya tersenyum kecil sambil menggeleng pelan.

“Wanita ini benar-benar iblis…” gumamnya.

Ayah Kael akhirnya berdiri dengan marah.

“Perusahaan itu milik keluarga kami!”

Kael perlahan mengangkat kepala.

Dan untuk pertama kalinya, tatapannya benar-benar mirip Amara. Dingin, tegas dan mematikan.

“Keluarga?” ulang Kael pelan.

Pria tua itu terdiam.

Kael berdiri perlahan sambil menutup map.

“Ketika saya dibuang, kalian kehilangan hak untuk menyebut diri keluarga.”

Sunyi. Dan tidak ada satu pun orang yang mampu membantahnya.

Setelah semuanya selesai, Kael mengikuti Amara keluar gedung.

Langkahnya masih terasa berat.

“Madam…”

Amara menoleh sedikit.

“Saya tidak tahu harus membalas bagaimana.”

Amara tersenyum tipis.

“Kau tetap hidup dengan baik saja sudah cukup.”

Kael menunduk pelan.

Namun sebelum mereka masuk mobil, Amara berkata santai,

“Oh ya.”

Kael mengangkat kepala.

“Itu juga hadiah pertunangan.”

Kael langsung membeku.

Dan dari dalam mobil, Nayla yang mendengar kalimat itu hampir tersedak air minumnya.

“IBU?!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!