Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 HAMIL KEMBAR
SELAMAT MEMBACA !!!
Zafran mengambil napas dalam-dalam, "Apa tak sebaiknya nunggu Bryan dan kita bicarakan baik-baik, Dek. Kamu harus memberitahukan calon anak yang tumbuh di perutmu," ujar Zafran tak ingin adiknya melewati kehamilan sendirian.
Fira menggelengkan kepala mantap, sambil mengusap air matanya yang masih mengalir di kedua pipinya. "Nggak usah memberitahukannya, Bang. Aku sudah memikirkannya, Bang, Ma. Tolong bawa aku pergi dari sini, sekarang tak ada yang aku punya sekalian kalian, Tasya dan Elena hiks...hiks...hiks," tangis Fira lagi.
Nyonya Sintya menatap wajah putranya sambil menganggukan kepalanya.
"Baik, kalau itu keputusanmu, Dek. Sana bereskan baju yang akan kamu bawa, nggak usah bawa banyak-banyak. Jangan lupa bawa barang-barang yang kamu anggap penting, yang tak penting tinggalkan saja, Dek!" pesan Zafran kepada Fira yang sedang melangkah menuju kamarnya.
Fira hanya mengangguk, di sampingnya ada Nyonya Sintya yang memapah tubuhnya Fira.
Zafran mengirimkan chat balasan kepada Tasya dan Elena. Ia mewakili Fira menjawab kekhawatiran mereka yang sedang berapa di luar kota. Tak bisa menemani Fira. Zafran meminta kalau bisa nomor telepon mereka harus diganti jangan pakai nomor yang ini.
Kemudian ia menghubungi Abangnya yang tinggal di Jerman rencananya Fira akan di antarkan ke sana. Lagian Abang dan Kakak iparnya juga menerima Fira sebagai adik angkatnya.
Di dalam kamar, Fira melepaskan cincin di jarinya, lalu menulis surat sebagai salam perpisahan dan meninggalkan dua atm yang diberikan oleh suaminya. Ia hanya mengambil atm nafkahnya rencananya sebelum pergi menjauh, ia akan menguras isinya dulu.
"Selamat tinggal, Mas. Semoga kamu bahagia bersama dia. Maaf aku akan membawa benih yang kau tanam di sini!" serunya lirih sambil mengusap perutnya.
Ia keluar dari kamarnya yang ditinggalinya hampir dua tahun. Ia melangkah keluar rumah tanpa menoleh ke belakang lagi.
"Dek, kamu akan aku antar langsung ke rumah Abang di Jerman ya. Ikutlah tinggal disana! Biar kamu ada yang menemani di saat kehamilanmu. Tapi sebelum pergi naik pesawat, lebih baik kamu periksakan kehamilanmu dulu. Tanya pada dokter aman nggak? Untuk perjalanan jauh. Kamu bawa paspor kamu kan?!" perintah Zafran.
"Iya, Bang. Aku ikut kalian saja. Paspor dan data pentingku sudah aku bawa semua, Bang," jawab Fira pasrah.
Nyonya Sintya tersenyum melihat putra bungsunya sangat perhatian kepada adiknya. "Benar yang dikatakan oleh Abang, Sayang. Tinggallah dengan Bang Haikal dan Kak Amara di sana. Nanti Mommy akan selalu mengunjungimu saat ada waktu luang," ujar Nyonya Sintya juga setuju dengan putranya.
Nyonya Sintya melanjutkan ucapannya, "Fran, kamu sudah menyuruh Abangmu untuk menghapus CCTV di rumah Bryan dan perjalanan kalian nanti?"
Zafran yang sedang fokus kejalanan, "Beres, Mom. Sebelum kalian keluar dari kamar, aku sudah menyuruh Abang untuk menghapus jejak kita. Jangan khawatir, Mom," jawab Zafran sambil membelokkan mobilnya di depan klinik yang lumayan besar.
"Masuklah kalian berdua! Aku akan menunggu kalian di sini!" perintah Zafran tegas, menatap dua wanita yang ia sayangi.
Nyonya Sintya dan Fira saling menatap, kemudian mengangguk pelan. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam klinik.
Sesampainya di dalam, karena tak ada orang mereka langsung disuruh masuk ke dalam ruangan pemeriksaan dokter.
"Selamat siang, Dok," ucap Nyonya Sintya dan Fira.
"Selamat siang Nyonya, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
Nyonya Sintya langsung menjawabnya, "Begini, Dok. Saya ingin memeriksakan keadaan putri saya ini. Dia dari pagi mual dan muntah terus, Dok."
"Baik, sebelum saya periksa. Mohon maaf apa sebelumnya putri, Nyonya sudah menikah?" tanya Dokter itu.
"Sudah, Dok. Putri saya ini sudah menikah selama dua tahun," jawab Nyonya Sintya.
"Baik, Nyonya. Silahkan kita test urine dulu ya, Sus tolong dibantu Nona Fira ke kamar mandi dan kapan haid terakhir anda, Nona !"perintah Dokter itu.
"Saya sudah telat dua minggu, Dok," jawab Fira lirih, menahan debaran jantung yang berdebar kencang.
Fira diantar oleh suster ke kamar mandi yang berada di ruangan itu. Suster itu menjelaskan dengan sabar cara penggunaan tespacknya.
"Setelah selesai taruh saja di atas sini saja ya, Nona. Biar nanti bisa langsung dilihat hasilnya!" perintah Suster itu.
Fira menganggukan kepalanya, ia menengadahkan wajahnya, untuk mencegah keluarnya air matanya lagi.
"Ya Allah berikanlah hamba kekuatan. Jika hasilnya positif, jika benar ada janin yang tumbuh di perut ini. Hamba berjanji akan merawatnya dan membesarkannya dengan kasih sayang dengan penuh keiklasan."
Ia meremas tespack yang berada ditangannya dengan erat, napasnya memburu menahan gemuruh di dadanya. Harapannya begitu kuat, tak peduli apapun yang terjadi ke depannya.
Lima menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi.
Dokter itu langsung berdiri. "Nona Fira, silahkan tidur di ranjang dulu. Kita lihat apa benar dugaan saya bahwa anda hamil!"
Fira mengangguk paham, lalu melangkah ke arah ranjang, Nyonya Sintya juga ikut mendekat dan berdiri di sebelahnya Fira. Sementara Dokter itu masuk dulu ke dalam kamar mandi untuk memeriksa hasil alat tespack.
Tanpa menunggu lama, Dokter itu keluar lagi, lalu menuju ranjang. "Dari hasil pemeriksaan tespacknya, Nona Fira positif hamil. Mari kita lihat sudah berapa minggu usianya!"
Dokter mengoleskan gel dingin ke perutnya Fira, membuatnya sedikit tersentak. Lalu alat pemeriksan digerakkan pelan di atas perutnya Fira.
Mata dokter tertuju pada layar monitor USG. Suasana mendadak hening, mereka menuju layar monitor. Dokter itu tersenyum dan sekaligus kaget. Ia melihat di dalam perutnya Fira ada dua kantong janin.
"Selamat, Nona. Anda positif hamil dan kabar bahagianya lagi...lihatlah di layar ini ada dua kantong janin dan sudah ada titik kecilnya!"
Fira dan Nyonya Sintya bingung dengan ucapannya Dokter itu. "Apa maksudnya, Dok?"
Dokter itu tersenyum, "Di sini ada dua kantong janin dan di dalamnya sudah terisi calon bayinya, Nyonya. Yang berarti Nona Fira mengandung bayi kembar!"
"Masya Allah, Alhamdulillah ya Allah!! Selamat, Sayang. Kamu akan mempunyai bayi sekaligus dua, Sayang!" seru Nyonya Sintya senang, sekaligus sedih dengan nasib putrinya.
Tanpa di sadari, air mata Fira menetes lagi, sambil mengusap perutnya yang masih datar itu. Dalam hatinya berkata, "Lihatlah, Mas. Kita akan mendapatkan dua bayi sekaligus tapi kenapa kamu mengkhianati kepercayaanku, Mas?"
Mereka kembali duduk di kursi tadi. "Dari perhitungan akhir haid dan sudah telat dua minggu, berarti anda sekarang hamil enam minggu, Nona. (Maafkan jika salah ya). Untuk kehamilan kembar biasanya kelahirannya tak sampai sembilan bulan ya, Nona. Kurangi stres dan pekerjaan berat dulu!" seru Dokter sambil berpesan kepada Fira.
Nyonya Sintya yang teringat pesan putranya, segera bertanya, "Maaf, Dok. Kalau kehamilan putri saya sekarang, apakah aman untuk penerbangan ke Jerman, Dok? Kami akan pindah ke Jerman hari ini juga?"
Dokter itu tersenyum, "Dari yang saya lihat, Calon bayinya kuat, Nyonya. Nanti saya kasih vitamin penguat kandungan dan saran saya saat sampai sana. Nona Fira harus memeriksakan ulang di rumah sakit sana ya, Nona," jawab Dokter itu dengan ramah, sambil memberikan resep vitamin untuk ditebus di Apotik depan.
Nyonya Sintya membuka pintu ruangan itu, melihat putranya duduk di kursi tunggu.
"Bagaimana hasil pemeriksaannya, Dek, Ma?" tanya Zafran.
"Alhamdulillah, hasilnya positif hamil, Sayang. Tolong kamu tebus resep obatnya ke Apotik. Mama akan tunggu kamu di mobil!" perintah Nyonya Sintya kepada putranya.
Mereka berdua berlalu dari hadapan Zafran yang masih terpaku di depan pintu pemeriksaan. Saat sadar ia segera pergi ke Apotik untuk menebus obat.