NovelToon NovelToon
Suamiku Musuh Bebuyutanku

Suamiku Musuh Bebuyutanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.

Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Sinar matahari pagi membias hangat di balik tirai putih tipis, menembus ruang tengah rumah minimalis yang kini terasa jauh lebih hidup.

Suasana tenang hanya diiringi aroma harum nasi goreng bumbu racikan dan denting halus peralatan dapur.

Kirei berdiri di dekat kompor, membetulkan celemek merah muda yang melingkar di pinggangnya. Rambut panjangnya yang biasa diikat rapi kini dibiarkan terurai bebas, memberikan kesan manis dan alami.

Dari arah belakang, sebuah lengan tegap mendadak melingkar hangat di perutnya.

Arka menyandarkan dagunya di bahu Kirei, menghirup aroma sampo wangi yang amat ia hafal. Cowok itu baru saja selesai mandi, mengenakan kaos polos hitam santai dengan celana training abu-abu. Rambut hitamnya yang masih setengah basah jatuh agak berantakan di dahinya.

"Selamat pagi, Bu Ketua," bisik Arka rendah tepat di dekat telinga Kirei, menyunggingkan senyum hangat.

Kirei menyenggol pelan perut Arka menggunakan sikunya, namun tak menolak pelukan tersebut. "Arka, ini masih pagi... lepas dulu, nanti nasi gorengnya gosong!"

"Gak mau," jawab Arka santai, justru makin mempererat dekapannya dan mendaratkan kecupan lembut di pipi Kirei yang langsung memerah merona. "Aturan rumah tangga nomor satu: suami berhak dapat peluk pagi tanpa alasan denda."

"Mana ada aturan begitu!" tawa Kirei pecah, berbalik hingga mereka berhadapan.

Tatapan mata mereka bertemu. Di dalam iris cokelat pekat Arka, tidak ada lagi bayangan amarah, beban masa lalu, atau rasa bersalah yang dulu selalu menghantuinya. Yang tersisa hanyalah binar kebahagiaan sejati dan rasa cinta yang begitu dalam.

"Terima kasih ya, Kirei," Arka mengusap lembut pipi istrinya, menatapnya penuh ketulusan. "Buat semuanya."

"Gue yang harusnya bilang terima kasih, Arka," balas Kirei manis, menyentuh dada tegap Arka di balik kaos hitamnya. "Gak menyangka ya... perjanjian sembilan belas poin yang tadinya cuma karena paksaan Kakek, sekarang bikin kita berdiri di sini."

Arka terkekeh rendah. "Soal perjanjian itu..." Arka merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar kertas tebal yang sudah dilipat rapi—draf asli Perjanjian Sembilan Belas Poin dengan denda tinta merah yang dulu mereka buat di awal pernikahan.

"Mau diapain drafnya?" tanya Kirei heran.

Arka menyunggingkan senyum miring paling tampan. Ia menarik sebatang pulpen merah dari saku celemek Kirei, lalu mencoret seluruh isi sembilan belas poin di kertas tersebut dengan garis besar, dan menuliskan satu kalimat baru di bagian paling bawah:

"Poin 20: Dibatalkan sepenuhnya. Diganti dengan janji mencintai dan saling melindungi sampai akhir hayat."

Kirei menahan napas, dadanya berdesir hebat dibendung rasa haru yang membuncah. Arka melipat kembali kertas itu, menyimpannya rapat-rapat, lalu menundukkan kepala untuk menyatu dalam ciuman hangat yang lembut dan penuh kepastian.

Pukul 14.00 WIB.

Taman kota Universitas Indonesia tampak asri di bawah naungan pohon-pohon angsana yang rindang. Kelopak bunga berwarna kuning sesekali berguguran diterpa angin sore yang sejuk.

Di salah satu bangku kayu taman, Farhan duduk santai sambil memangku laptopnya. Tak jauh dari sana, Tuan Wijaya duduk di atas kursi roda yang didorong oleh Farhan, tertawa lepas menyaksikan dua cucu kesayangannya berjalan mendekat.

"Kakek!" Kirei berlari kecil, lalu berlutut di samping kursi roda Tuan Wijaya, menggenggam tangan tua sang kakek dengan lembut.

"Gimana kuliahnya hari ini, Kirei, Arka?" tanya Tuan Wijaya, matanya berbinar sehat dan penuh kebanggaan.

"Lancar, Kek," Arka berdiri tegap di samping Kirei, merangkul bahu istrinya dari atas. "Kirei tadi baru dapat nilai A+ buat kuis Hukum Perdata."

"Wah, calon pengacara hebat Keluarga Wijaya!" puji Tuan Wijaya terkekeh. "Arka juga harus imbangin, jangan cuma jago di tim basket kampus."

"Tenang aja, Kek. Arka kan selalu ada Bu Ketua yang galak buat ngawasin," goda Farhan sambil menyeringai, yang langsung mendapat tatapan tajam nan tajam dari Arka.

Di tengah gelak tawa dan kehangatan sore itu, suasana kekeluargaan yang sempat hancur oleh kejahatan dan manipulasi masa lalu, kini telah kembali sepenuhnya. Wijaya Corp sudah kembali stabil di bawah jajaran direksi yang bersih, sementara Paman Hendra dan seluruh konspirasinya kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di balik jeruji besi.

Pukul 18.30 WIB.

Sore berganti malam. Cahaya lampu gantung bergaya hangat menerangi balkon lantai dua rumah minimalis Arka dan Kirei. Angin malam bertiup sepoi-sepoi membawa kesegaran.

Kirei berdiri menyandarkan tubuhnya di pagar balkon, memandangi bintang-bintang yang bertebaran di langit Jakarta yang jarang-jarang terlihat secerah malam ini. Liontin bintang perak pemberian Arka berkilau lembut di lehernya.

Sebuah cangkir cokelat hangat disodorkan ke hadapannya.

Kirei menerima cangkir itu, menatap Arka yang ikut menyandarkan tubuh di sampingnya. Cowok itu menatap langit, lalu beralih menatap wajah cantik Kirei dari samping.

"Mikirin apa, Bu Ketua?" tanya Arka lembut.

"Gak ada," Kirei tersenyum tipis, menyesap cokelat hangatnya. "Cuma mikir... perjalanan kita panjang banget ya. Dari saling benci di OSIS, terpaksa nikah rahasia, kena teror sana-sini... sampai akhirnya kita di sini."

Arka tertawa pelan, merangkul pinggang Kirei dari samping dan menarik tubuh cewek itu makin rapat bersandar di dadanya.

"Tapi worth it kan?" bisik Arka, mengusap bahu Kirei hangat. "Gue gak pernah menyesal sedikit pun pernah terjebak di perjanjian gila itu, kalau akhirnya gue dapat istri kayak lo."

Kirei mendongak, menyandarkan dagunya di dada tegap Arka. "Gue juga, Arka. Gue bahagia banget."

Arka menatap mata Kirei yang berbinar lembut. Tanpa kata-kata lagi, ia menundukkan wajahnya, merengkuh bibir Kirei dalam sebuah ciuman yang sarat akan rasa cinta, ketulusan, dan janji masa depan yang abadi di bawah naungan jutaan bintang malam.

Badai telah usai, rahasia telah terungkap. Dan di atas puing-puing masa lalu, kisah cinta Arka dan Kirei baru saja dimulai sebagai pasangan sejati yang tak terpisahkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!