NovelToon NovelToon
Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Teen
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Warning! Reverse Harem!!


Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:

Jangan mencolok.

Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.

Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.

Menahan analisis yang terlalu dalam.

Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.

Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.

Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.

Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tugas Apresiasi Seni

Bel tanda berakhirnya jam pelajaran tiba-tiba menggema melalui speaker yang terpasang di sudut atas kelas. Kira-kira hanya berjarak 60 cm dari foto presiden kedelapan Indonesia. Seketika membuat suara gesekan bolpoin yang masih terdengar mulai sedikit tersendat.

Bu Endang langsung menepuk kedua tangannya beberapa kali. Mencoba untuk mengambilnya alih atensi seluruh kelas kepadanya.

"Sudah, sudah. Tidak boleh ada yang masih menulis."

Beliau berdiri dari kursinya dengan sorot wajah tegas.

"Selesai tidak selesai, ayo cepat dikumpulkan."

Suasana kelas yang semula sunyi mendadak kembali ramai.

Kursi bergeser.

Buku ditutup.

Lembar jawaban mulai berpindah tangan.

Yang paling cepat seperti biasa adalah Melody. Karena bangkunya tepat berada di depan meja guru, gadis dengan jepit rambut berbentuk not musik berwarna pink itu langsung berdiri.

"Aku duluan!"

Baru dua langkah—

Duk!

"Aduhh..."

Kakinya tak sengaja membentur kaki meja. Tubuhnya oleng ke depan. Dan untung saja... tangannya dengan sigap berpegangan pada sudut meja guru. Meski sampai membuat taplak motif batik berwarna merah itu kusut berantakan.

"I-ini, Bu!"

Bu Endang yang sempat terkejut refleks membelai dadanya pelan.

"Makanya hati-hati, Melody. Tidak usah terburu-buru."

Melody hanya nyengir sembari membenarkan jepit rambutnya yang bahkan tidak miring.

"A-anu, Bu... keburu kehabisan nanti aku."

"Kehabisan?"

Angel yang baru saja ikut maju mengumpulkan lembar jawabannya—langsung menyahut.

"Kehabisan bolu pandan kesukaannya, Bu. Soalnya tiap istirahat dia pasti beli itu terus."

"Ssstt! Dem lu!" seru Melody cepat, wajahnya langsung memerah.

Bu Endang yang mendengar penjelasan itu hanya menggeleng kecil sambil tersenyum. Lalu kembali merapikan beberapa lembar jawaban yang sudah tergeletak diatas meja.

Sementara itu di bangku paling belakang dekat jendela, Andito turut ikut merapikan lembar jawabannya.

Namun baru saja hendak bangkit, matanya tanpa sengaja melirik ke samping—mendapati Yuna yang masih menuliskan beberapa kata terakhir.

Tanpa banyak berpikir, Andito mengulurkan tangan.

"Mau titip sekalian nggak?"

Yuna mendongak.

"Eh?"

"Oh iya."

Ia segera merapikan lembar jawabannya, lalu menyerahkannya.

"Terima kasih."

"Santai."

Andito menerima dua lembar jawaban itu sekaligus. Lalu berjalan menuju meja Bu Endang.

Langkahnya terasa jauh lebih ringan dibanding biasanya.

Entah karena...

Untuk pertama kalinya ia mampu mengerjakan ulangan tanpa merasa kewalahan.

Atau...

Karena seseorang yang duduk di sebelahnya, perlahan tak lagi terlihat sekaku hari-hari pertama mereka menjadi teman sebangku.

Bu Endang merapikan lembar-lembar jawaban itu dengan sangat rapi. Memasukkannya kedalam tas map jinjing berwarna hijau muda. Kemudian melenggang keluar sembari berpamitan singkat kepada seluruh anak muridnya.

Andito pun berjalan kembali ke arah bangkunya. Memasukkan buku geografinya ke dalam tas. Kemudian ketika ia hendak berjalan keluar—

"Mau ke kantin bareng nggak?"

Suara itu datang begitu saja dari arah samping. Sontak membuat tangannya yang hendak melakukan sesuatu—berhenti di udara.

"Hah?"

Ia menoleh cepat.

Lalu mendapati Yuna yang sedang menatapnya dengan tatapan biasa dan senyum formal.

"Beneran?"

Yuna mengangguk mantap. Seketika membuat otak Andito mendadak kosong.

"Berdua?"

Dadanya langsung berdebar tak karuan.

"I-iya! Boleh kok! Gue—"

"GAK BOLEH!"

Suara lantang itu menggema dari bangku paling depan. Diikuti sekelebat bayangan oranye menyusup masuk ditengah-tengah Andito dan Yuna.

Meskipun berusaha terlihat sangar, tulang keringnya yang masih nyeri membuatnya sesekali meringis kecil, sambil mengusap kakinya yang tadi sempat menghantam kaki meja.

"Cowo sama cowo aja sana! Nanti malah mintain jajananku lagi!"

"Loh?"

"Heh?"

Andito kembali membeku.

Belum sempat menyusun pembelaan, terdengar kekehan kecil di belakang tubuh Melody.

Untuk sesaat, bahu Yuna berguncang pelan. Mengintip sebentar kearah Melody dari sebalik bahunya. Lalu kembali memandang Andito.

"Mungkin lain kali, Dito."

Nada suaranya terdengar begitu tenang. Seolah memang tak ada masalah apa pun.

Ia kemudian berjalan keluar kelas bersama Melody.

Melody yang berada di sampingnya masih sempat menoleh.

Dengan wajah serius, ia mengangkat kepalan tangannya ke arah Andito. Seolah sedang memberi peringatan.

"Awas aja kalau ngikut."

Andito hanya bisa menggaruk tengkuknya.

"Hadeh..."

Ia mengembuskan napas panjang.

"Gagal deh mau jalan bareng Yuna."

Tak ada pilihan lain, kakinya pun berbelok menuju sudut paling belakang kelas. Tempat yang oleh seluruh penghuni kelas dijuluki pemukiman murid-murid buangan. Persis di samping lemari penyimpanan alat-alat kebersihan.

Di sana, Michel, Rio, dan Rendy masih sibuk berdebat. Atau lebih tepatnya, saling menyalahkan atas tragedi ulangan geografi yang baru saja berlalu.

"Lah gue kan udah bilang jangan nanya jawaban ke gue!"

"Lu juga jawabnya ngaco, Goblok!"

"Udah, udah! Sesama orang goblok jangan saling sindir!"

Andito yang baru datang hanya menggeleng pelan.

"Yah..."

"Pulang ke habitat semula lagi."

.....

Tak lama kemudian, mereka berempat sudah duduk di salah satu meja kantin. Masing-masing membawa makanan dan minuman pilihannya sendiri.

Biasanya, suasana seperti ini adalah waktu yang paling Andito tunggu. Namun entah mengapa, hari ini terasa sedikit berbeda.

Rendy, seperti biasa, kembali dikuasai rasa ingin tahunya yang sulit dipahami manusia normal.

"Mike."

"Hm?"

"Gimana kalau es kopi gue dicampur sama es teh punya lu?"

Michel hanya menatap beberapa detik.

"Es teh gua? Emang enak?"

Rio yang sedari tadi mengunyah gorengan langsung berbinar.

"Gas! Gas! Campur! Siapa tahu jadi resep baru di warungnya Bu Lastri!"

Dengan wajah serius bak seorang barista profesional, Rendy menuangkan sedikit demi sedikit es kopinya ke dalam gelas Michel.

Warna teh perlahan menggelap. Es batu beradu pelan. Bahkan tak ada satu pun dari mereka yang berniat menghentikannya.

"Hahaha! Goblok! Cobain tuh!" seru Rio sudah tak sabar.

Rendy mengangkat gelas itu.

Menyeruput sedikit.

Alisnya langsung bertaut.

"Hmm..."

"Gimana?"

Ia menelan ludah.

"...aneh."

"Aneh gimana? Sini gue coba."

Michel langsung merebut gelas itu.

Sruuup...

Beberapa detik kemudian...

"Pftt! Anjir!"

Michel spontan menjauhkan gelasnya.

"Rasanya kayak... peresan cucian piring!"

"Hahahahaha!"

Rio sampai memukul-mukul meja sambil tertawa.

Rendy ikut nyengir.

Andito yang sedari tadi memperhatikan hanya bisa meringis geli.

"Manusia-manusia aneh..." gumamnya pelan sambil menyeruput es tehnya.

Namun...

Baru seteguk.

Bayangan minuman racikan barusan kembali terlintas di kepalanya.

Ia refleks bergidik.

"Huekk eughh..."

"Sialan nih temen-temen gue..."

Supaya pikirannya teralihkan, ia mengangkat pandangan ke sekeliling kantin. Lalu pandangannya berhenti pada bangku yang ada di depan warung lain.

Di sana, nampak Yuna sedang duduk bersama Melody, Angel, dan Putri. Di tangannya tergenggam segelas minuman berwarna hijau muda.

Entah jus alpukat.

Entah matcha.

Atau mungkin minuman lain yang bahkan belum pernah ia coba.

Yuna nampak sedang mendengarkan celotehan Melody. Dengan senyum yang sesekali muncul. Namun terasa jauh lebih hidup dibanding beberapa minggu yang lalu.

Tatapan Andito tanpa sadar menetap beberapa saat. Lalu sudut bibirnya ikut terangkat.

"Kalau Yuna lihat kelakuan mereka..."

Bayangan itu membuatnya terkekeh pelan.

Tiba-tiba—

"Dit!"

"Hah?"

"Cobain dikit nih!"

Rio sudah kembali menyodorkan gelas eksperimen itu.

Andito langsung memasang wajah jijik.

"Ogah."

"Lah kenapa?"

"Kalo mau cari penyakit jangan ajak-ajak gua, Kocak!"

.....

Bel masuk kembali berbunyi. Empat sekawan itu akhirnya berjalan kembali menuju kelas. Dengan tawa yang masih sesekali pecah di sepanjang koridor.

Rio masih sibuk menertawakan eksperimen minuman Rendy.

Michel sesekali mengomel karena masih merasa lidahnya "dirusak".

Sedangkan Rendy justru bersikeras bahwa racikannya "tinggal kurang gula."

Namun begitu mereka melangkah memasuki ruang kelas, langkah keempatnya serempak melambat. Pandangan mereka tertuju pada papan tulis.

Dengan tulisan besar, rapi, dan terlalu indah untuk ukuran tulisan guru yang biasanya menulis secepat kilat.

TUGAS APRESIASI SENI

Dikerjakan secara berkelompok.

"Tugas apresiasi seni?" gumam mereka hampir bersamaan.

Di depan kelas, Rachel selaku sekretaris kelas berjalan membawa sebuah notebook. Di tangan satunya terdapat sebuah toples plastik bening. Dengan tutupnya berwarna merah hati.

Pada tutupnya terdapat lubang kecil. Sementara di dalamnya, belasan gulungan kertas memenuhi hampir setengah isi toples. Mirip undian arisan.

Andito bergantian melihat tulisan di papan.

Lalu...

Toples di tangan Rachel.

"Mau diapain tuh, Hel?"

Rachel tersenyum kecil.

Lalu tanpa menjawab pertanyaan Andito—

"Oke, Guys! Berhubung sebagian besar udah masuk kelas..."

"Tadi Bu Lia nitip pesan. Kita dapat tugas kelompok yang harus dikumpulkan dua minggu lagi."

Belum sempat suasana kembali tenang, Angga sudah berjalan ke depan menghampiri Rachel.

Ia melihat isi toples itu sebentar.

Lalu mengangguk.

"Makanya biar adil, aku sama Rachel ada usul kalo tiap anggota kelompoknya kita undi pake lot."

Nada bicaranya tetap santai. Lebih terdengar meminta persetujuan daripada memberi perintah.

Beberapa siswa langsung mengangguk.

Namun...

"Tapi..."

Melody mengangkat tangan. Semua mata langsung menoleh kepadanya.

Setelahnya, entah mengapa, pandangan Melody justru memicing ke arah empat murid yang masih berdiri bergerombol di dekat pintu.

Tatapannya bergeser dari Michel...

ke Rio...

ke Rendy...

lalu berhenti pada Andito.

"Kalau aku satu kelompok sama orang-orang itu..."

Ia menyilangkan kedua tangan di depan dada.

"...aku minta diundi ulang."

"WOI!"

Michel langsung protes.

"Mana bisa gitu!"

Rio ikut menunjuk Melody.

"Jangan main-main sama takdir, Mel!"

"Biarin!"

"Kalian tuh kalau kerja kelompok isinya tidur sama numpang nama!"

"Lah fitnah!"

"Itu fakta!" balas Melody cepat.

Suasana kelas yang tadinya mulai tenang kembali ricuh. Protes terdengar dari berbagai sudut.

Rachel di depan kelas hanya tertawa kecil.

Sementara Angga memijat pelipisnya pelan.

"Belum juga dikocok. Udah pada negative thinking duluan mereka..."

Akhirnya ia bertepuk tangan beberapa kali.

"Udah... udah..."

"Tenang dulu."

"Ini cuma kelompok sementara kok."

"Kalau tugasnya udah selesai..."

"...ya kita balik lagi ke sirkel masing-masing."

Kalimat itu cukup ampuh untuk meredakan perdebatan mereka.

Meski Melody, Michel, dan Rio masih saling melotot beberapa detik. Sebelum akhirnya serempak membuang muka ke arah berlawanan.

Di sisi lain...

Andito masih berdiri di depan kelas—di disamping ketiga sahabatnya. Dengan pandangan yang terus tertuju ke bangkunya—tepat kearah Yuna yang masih duduk tegak seperti biasa.

Tatapannya masih terpaku pada tulisan di papan tulis.

Entah sedang membaca instruksi.

Atau...

Sudah mulai menyusun rencana di dalam kepalanya.

Andito menelan ludah.

Selama beberapa minggu terakhir, entah sejak kapan dirinya mulai terbiasa berdiskusi dengan Yuna. Dan jikalau benar nanti mereka berbeda kelompok...

Rasanya akan sedikit aneh.

Pikiran sederhana itu justru membuat dadanya terasa sedikit kosong.

Ia pun tersenyum kecut.

"Semoga... masih bisa satu kelompok sama dia."

Tanpa Andito sadari...

Di depan kelas, jemari Rachel sudah mulai mengocok toples berisi gulungan nama itu. Suara kertas-kertas saling beradu memenuhi ruangan.

Crak.

Gulungan pertama dibuka.

"Kelompok pertama..."

1
Arni Arlinawati pratiwi
gak gitu juga thor.. 😭😭
Arni Arlinawati pratiwi
ya allah.. lucu banget, mana kebayang lagi mereka kayak gimna pindah nya.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
bener lagi kayak bicara sama ai.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
ya ya.. masih menjadi murid SLTA sederajat keseharian mah masih sama.. tumpukan tugas sisa pembelajaran dari guru setiap hari.. adalah makanan sehari hari mereka yang masih sekula, biasa.. /Proud/
Arni Arlinawati pratiwi
cepet nya udah 1 bulan aja nak.. masa masih canggung canggungan sama temen sekelas, gak kan.. 💪
My_Lucia
wihhh ... ternyata paket komplit.. 🤭
My_Lucia
tuh kannn .. ganteng banget tau dia ini /Shy/
My_Lucia
widihh Angga cowok tampan dan berprestasi ini jago olahraga ga ya 🤭
My_Lucia
mau di analisis lagi Bae dia mah 🤣
sebelumnya lebar lapangan
My_Lucia
cowok tengil begini biasanya jadi idola di sekolah sih 🤭
M. T🌻
ihhh baca ini jadi kangen sekolah🤭
kenzi moretti
dito udh terbayang-bayang yuna/Chuckle/
kenzi moretti
duh blak-blakan sekali perkataanmu😌
kenzi moretti
coba lagi besok dito/Chuckle/
kenzi moretti
seseorang ada yg berkata "haremnya yuna nambah"/Sweat/
Moon.: tenang kak. si @Europa. fujoshi udah ku blokir kok dari sini./Smile/
total 1 replies
Europa.
yudi???
Moon.: biarin wlee
total 3 replies
Europa.
ini yuna kalau ngomong nusuk+nyakitin banget, yuda sama najwa aja dulu pernah kena keknya🗿
Europa.: tidak ada yg lolos dari pedang yuna
total 2 replies
Europa.
alasan mau ngerjain sosi inimah, aslinya pengen disamping yuna
Europa.
ughh, sakitnyee
Europa.
wahhh, ini my kisahnya yunaa, akhirnya muncul
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!