NovelToon NovelToon
CAMPUS COUPLE

CAMPUS COUPLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Laila

Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LOVE LANGUAGE - Part 3

Di tengah kesibukan kuliah yang kian mencekik, Jay memastikan Gea makan dan minum dengan teratur. Apalagi saat ini, di dalam himpunan mereka juga sedang sibuk menyiapkan agenda pergantian kepengurusan serta beberapa program kerja besar lainnya.

Gea menolehkan wajahnya ke arah kiri saat segelas jus dingin di atas mejanya. Jay sudah berdiri di sana, mengulas senyum lembut sebelum duduk di sebelah Gea. Dengan perasaan hangat, Gea langsung meminum jus kombinasi kiwi dan pisang yang dibawakan oleh pacarnya itu.

Sementara itu, Jay duduk santai, ikut mendengarkan obrolan sang kekasih dengan ketiga sahabatnya di kantin teknik.

“Weekend jalan dulu, yuk, gila stress berat gue,” keluh Nindy sembari meletakkan kepalanya pasrah ke meja.

“Yuuk! Mau banget! Eh… tapi bentar, gak bisa deng sabtu ini. Daniel ada tanding,” sahut Risa menunjukkan pamflet lomba panahan yang diikuti Daniel.

“Ya udah, kita nonton Daniel tanding aja sekalian. Gue juga pengen liat pertandingan panahan kampus kayak gimana. Kayaknya seru deh,” ucap Nindy dengan wajah mendadak berbinar antusias

“Sekalian cuci mata, kan?” ledek Karin.

“Yaaa… kali aja kecantol cowok cakep. Gak nolak juga sih gue,” ucap Nindy, memicu tawa yang langsung meramaikan meja mereka.

Gea ikut tertawa sambil mengaduk jusnya dan berkata, “anyway, jadinya kelompok kita nanti ngerjain tugas pemukiman di tempat siapa?” tanya Gea mengalihkan topik.

“Di apart gue mau?” kata Risa, yang langsung disetujui oleh yang lain. “Lo ikut gak, Jay?” tanya Risa kemudian.

“Ikut aja lah gue. Kalian kalau udah ngerjain tugas kelompok pasti kelar sampai malam. Kasihan ayang gue kalau harus balik malam sendirian nanti,” sahut Jay lancar.

“Idiiiiii, manis bener mulut lo, Jay!” ledek Nindy sembari berlagak ingin muntah.

Gea memberikan pukulan manja di pangkal lengan Jay dengan pipi yang merona merah muda. Ia tersenyum malu, merasa sangat diperhatikan di depan teman-temannya.

Di Seberang meja, layar ponsel Risa masih menyala, menampilkan pamflet digital lomba panahan yang diikuti Daniel. Entah sejak kapan, perhatian Jay ternyata sudah teralih ke sana. Beberapa detik kemudian dia bertanya datar, “yang tanding cowok semua, Ris?”

“Ha?” Risa mengangkat alisnya bingung, lalu mengikuti arah pandangan Jay pada ponselnya, “ooh…, ada ceweknya juga Jay, tapi kategorinya kepisah. Daniel di beregu putra. Yang beregu putri kalo gak salah beda hari deh tandingnya,” Risa menjelaskan. “Kenapa emangnya Jay?”

“Gak, nanya aja,” jawab Jay santai.

Namun, Gea bisa menangkap kilat kesal di matanya. Raut wajah itu... raut yang belakangan ini -atau mungkin baru Gea sadari belakangan ini- selalu menjadi tanda bahaya kecil. Gea langsung tahu, jika suasana hati Jay memburuk, pria itu akan diam dan mendiamkannya lagi sepanjang hari.

Benar saja, saat Nindy mulai heboh sendiri membahas beberapa atlet panahan kampus yang katanya “visualnya kayak idol Korea”, pembawaan Jay perlahan berubah semakin dingin di sebelah Gea.

“Eh Ge,” panggil Karin tiba-tiba, menyodorkan ponselnya. “yang ini lucu juga ya ternyata.”

Gea refleks menoleh ke layar yang disodorkan Karin. “Mana?”

Belum sempat netra Gea benar-benar fokus membaca layar tersebut, sebuah tangan di bawah meja bergerak lebih dulu. Jay menggenggam jemari Gea dengan remasan yang sedikit erat, tidak sampai sakit, namun cukup tegas untuk menghentikan gerakan tubuh Gea dan menahan perempuan itu di tempatnya.

“Minum dulu jusnya, Ya, keburu gak dingin lagi,” potong Jay singkat, suaranya terdengar berat dan beralih menatap Gea lekat, seolah meminta fokus kekasihnya kembali sepenuhnya hanya pada dirinya.

Gea langsung tertegun, menoleh pelan ke arah kekasihnya lalu melirik tangan mereka yang bertautan erat di bawah meja. Jay cemburu. Bahkan di titik di mana Gea sendiri belum sempat melihat foto atlet yang dimaksud Karin.

Nindy yang menyadari perubahan drastis ekspresi Jay langsung menahan tawa, mencoba mencairkan suasana.

“Jay, santai kali. Kita cuma lagi lihat poster lomba.”

“Gue santai kok,” jawab Jay pendek. Namun, rahangnya yang mengeras tipis sama sekali tidak bisa membohongi siapa pun di meja itu.

Sadar atmosfer mejanya mulai tidak enak, Gea segera menggeser duduknya, menempelkan bahu mereka dan mengelus lengan Jay untuk memberikan gestur menenangkan.

“Aku nggak minat sama atlet panahan, Ay,” bisiknya pelan di dekat pundak Jay.

Jay meliriknya cepat, matanya menyipit intimidatif. “Yakin?”

“Iya, yakin.”

“Mereka ganteng loh tadi katanya,” sindir Jay lagi, membalas dengan bisikan yang terasa dingin di telinga Gea.

Gea mengulum senyum tulus, menatap lekat netra kekasihnya, berkata, “cakepan kamu lagi,” puji Gea lembut, validasi penuh yang seketika membuat ketegangan di bahu Jay perlahan mengendur.

...****************...

Minggu tenang akhirnya datang menyapa. Namun, bagi mahasiswa Arsitektur, istilah "minggu tenang" adalah ironi terbesar. Alih-alih dipakai untuk beristirahat, hari-hari itu justru diisi dengan perjuangan tanpa tidur demi menyelesaikan deretan tugas besar yang harus dipresentasikan saat pekan UAS nanti.

Hal yang sama juga tengah dilakukan oleh Gea. Kini ruang tamu penuh dengan potongan kertas, lem, dan bahan-bahan maket yang berserakan. Di dekatnya, Jay duduk menemani sembari fokus menatap layar laptopnya sendiri.

“Kamu udah selesai gambarnya, Ay?” tanya Gea tanpa mengalihkan pandangan dari potongan PVC board di tangannya.

“Ini lagi aku beresin dikit lagi, Ya. Nanti malem atau besok lah aku ke percetakan buat plot gambar. Kamu udah?”

Gea menggeleng lesu. “Aku baru nyelesein gambar untuk studio, tapi tekbangnya belom. Pengennya sih sekalian aja nanti ke percetakannya biar gak mondar mandir,” jawabnya sembari dengan hat-hati menempelkan potongan fasad maketnya. “Kalo maket kamu udah bikin?”

“Gampang kalo maket mah. Dua hari juga selesai,” jawab Jay enteng, terkekeh ringan melihat wajah serius kekasihnya.

“Hiih, sombong banget kamu nih!” cibir Gea gemas.

“Beneran. Masalahnya tugas pemukiman aku yang belom kelar, jadi mau fokus nyelesein itu dulu. Lagian jadwal presentasi Studio kan di hari terakhir juga, masih aman, Ya.”

Gea mendongak, menatap Jay dengan binar tulus, berkata, “nanti aku bantu ya kalo aku udah selesai sama maket aku.”

Mendengar tawaran itu, Jay menghentikan sejenak ketikan jemarinya di atas keyboard. Ia mengulas senyuman teduh, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap lembut puncak kepala Gea sembari berkata, “thank you, Sayang.”

Pipi Gea menghangat.

“Tugas pemukiman kelompok kamu emang masih banyak kurangnya?”

“He-em. Lumayan, sih. Asistensi terakhir masih ada yang perlu di tambah. Anak-anak juga lagi pada fokus ngerjain yang laen dulu. Gampang lah pemukiman, pasti kekejar,” Jay menyengir lebar, terlihat sangat optimis.

Gea mendengus pelan, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ketenangan sang kekasih.

“Anak-anak kamu pada nyantai banget deh. Pak Roy kan keliatannya aja dosen yang nyantai. Padahal aslinya bisa dibantai habis-habisan nanti nanti kalian pas presentasi.”

Jay tertawa lagi, lalu mencubit hidung Gea dengan gemas. “Iya, Sayangku... kamu tenang aja, oke? Semuanya aman di tangan aku.”

Gea akhirnya ikut tersenyum, membiarkan kehangatan malam itu menjalar ke dadanya. Mengamati bagaimana Jay selalu bisa menenangkannya di tengah badai kuliah, Gea kembali meyakinkan dirinya sendiri bahwa riak-riak cemburu kemarin hanyalah kerikil kecil. Selama mereka bisa saling mengisi seperti ini.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!