Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.
Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.
Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?
Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 027: Rumah yang Terlalu Mahal
Kevin tidak panik.
Itu yang pertama kali Meilin sadari setelah membaca pesan Bryan.
Wajahnya memang dingin. Tangannya memang mengeras. Tapi matanya tidak kosong. Justru sebaliknya, semua bagian dirinya seperti masuk ke mode kerja yang tajam.
"Screenshot," katanya.
Meilin langsung mengambil ponselnya sendiri. "Aku simpan juga?"
"Simpan. Kirim ke email kita. Jangan cuma di chat."
"Iya."
Kevin menelepon notaris malam itu juga.
Suaranya rendah, sopan, tapi setiap katanya seperti garis batas.
"Bu, mulai malam ini, semua permintaan salinan dokumen YunMei Tech harus lewat email resmi dan konfirmasi ke dua nomor. Nomor saya dan nomor Bu Meilin. Tidak ada pengambilan fisik tanpa surat kuasa asli."
Meilin duduk di sisi meja, mencatat poin-poin yang Kevin ucapkan. Tangan kirinya masih dingin, tapi ujung pulpennya bergerak rapi.
Notaris di seberang telepon terdengar terkejut, lalu buru-buru menyetujui.
Kevin tidak berhenti di sana.
Dia menghubungi Hendry.
Panggilan itu hanya berlangsung enam menit. Hendry tidak banyak bertanya setelah mendengar kalimat "ada pihak luar mencoba meminta dokumen lewat jalur tidak resmi."
"Besok pagi saya cek draft NDA, perjanjian kerja sama, dan akses file," kata Hendry dari speaker. "Untuk sementara semua dokumen saya pindahkan ke folder baru dengan akses terbatas. Pak Kevin, Bu Meilin, hanya tiga orang yang bisa buka. Saya, Anda berdua."
"Bagus," jawab Kevin.
"Perlukah saya tunda pendekatan ke calon klien?"
Kevin melirik Meilin.
Meilin tahu tatapan itu. Dia sedang bertanya tanpa suara.
"Tidak usah tunda," kata Meilin sebelum Kevin bicara. "Tapi semua kontrak harus lewat aku juga."
Hendry diam setengah detik, lalu suaranya terdengar lebih hormat. "Baik, Bu Meilin."
Panggilan berakhir.
Apartemen kembali hening.
Di luar jendela, Jakarta tetap menyala seolah tidak ada keluarga konglomerat yang baru saja mencoba menyentuh kertas hidup mereka.
Meilin menutup buku catatannya. "Kalau aku tidak ada di akta, mereka tidak akan lakukan ini?"
"Mereka akan cari jalan lain."
"Tapi namaku membuat jalannya lebih cepat."
Kevin tidak membantah. Itu yang membuat jawaban berikutnya terasa lebih jujur.
"Iya."
Meilin menarik napas.
Ketakutan memang masih ada. Tapi setelah mencatat nomor, email, akses folder, dan batas tanda tangan, rasa takut itu berubah bentuk. Tidak lagi seperti kabut. Lebih seperti daftar pekerjaan yang bisa dia cek satu-satu.
"Keluarga seperti itu selalu begini?" tanyanya.
Kevin berdiri di depan dapur, mengambil dua gelas air, lalu kembali. Dia memberi satu gelas kepada Meilin sebelum menjawab.
"Di rumah itu, orang tidak perlu berteriak untuk membuat orang lain takut."
Meilin menunggu.
Kevin duduk di lantai, bersandar pada sofa. Meilin ikut turun, duduk di sampingnya. Entah kenapa, percakapan tentang rumah besar lebih mudah dilakukan dari lantai apartemen kecil mereka.
"Mama berasal dari kota kecil di Jawa Tengah," kata Kevin akhirnya. "Keluarga Tionghoa biasa. Bukan miskin sekali, tapi jauh dari dunia Halim. Rumahnya punya halaman, dapur selalu bau bawang putih dan teh panas. Orang-orang bicara pelan. Kalau ada tamu, yang ditanya pertama bukan marganya, tapi sudah makan atau belum."
Suara Kevin berubah saat menyebut tempat itu. Tidak lembut sepenuhnya, tapi lebih hangat daripada saat dia menyebut Menteng.
"Namanya Mingzhu?" tanya Meilin.
Kevin menoleh. "Bryan bilang?"
"Aku lihat di wajahmu tadi saat kamu bilang Mama. Aku hanya menebak dia punya nama yang kamu simpan hati-hati."
Kevin menunduk sedikit.
"Mingzhu. Aku memanggilnya Mama. Orang-orang dekat memanggilnya Mama Zhu."
Meilin mengulang dalam hati. Mama Zhu.
"Opa tidak setuju?" tanyanya.
"Opa tidak pernah benar-benar setuju pada apa pun yang tidak bisa dia atur."
Kevin memutar gelas di tangannya.
"Papa anak tertua. Halim Zhongkai. Di rumah itu, dia seharusnya jadi penerus yang patuh. Tapi Papa jatuh cinta pada Mama. Perempuan dari Jawa Tengah, tidak punya saham, tidak punya keluarga besar yang bisa dipakai untuk aliansi bisnis."
"Jadi Mama dianggap tidak pantas."
"Lebih buruk. Dia dianggap kesalahan yang harus dibersihkan."
Meilin menggenggam gelasnya lebih erat.
Kevin melanjutkan dengan suara datar, tapi Meilin bisa melihat datar itu hanya penutup. "Saat aku kecil, Papa membawa kami keluar. Dia pikir kalau menjauh, rumah itu tidak akan bisa menjangkau kami. Untuk beberapa tahun, kami hidup cukup tenang. Aku sekolah, Mama masak, Papa bekerja apa saja yang bisa dia kerjakan tanpa memakai nama Halim terlalu besar."
"Lalu?"
Kevin terdiam lama.
"Lalu orang seperti Opa tidak suka kehilangan barang yang menurutnya milik keluarga."
Kata barang membuat tenggorokan Meilin sakit.
"Kamu bukan barang," katanya.
Kevin menatapnya.
"Aku tahu sekarang."
"Dulu?"
"Dulu aku anak kecil yang setiap orang dewasa bicarakan seperti angka di silsilah."
Meilin tidak sadar air matanya turun sampai Kevin mengangkat tangan dan menyentuh pipinya dengan punggung jari.
"Jangan menangis untuk masa lalu yang belum selesai kuceritakan."
"Kalau menunggu selesai, mungkin air mataku keburu habis."
Kevin menghela napas pelan. Bukan kesal. Lebih seperti seseorang yang tidak tahu harus meletakkan kelembutan di mana.
"Mama masih di Jawa Tengah?" tanya Meilin.
"Iya."
"Kamu masih menghubunginya?"
"Tidak sesering yang seharusnya."
Jawaban itu keluar terlalu cepat. Ada rasa bersalah di dalamnya.
Meilin menatap sisi wajah Kevin. "Karena Halim?"
"Karena kalau aku terlalu dekat, aku takut mereka mengingat dia lagi."
"Ko."
"Aku tahu itu tidak adil untuk Mama."
Kevin menunduk. Untuk pertama kalinya malam itu, kendali tajamnya retak. Bukan besar, tapi cukup untuk membuat Meilin melihat anak laki-laki yang pernah ditarik dari satu rumah ke rumah lain.
Dia meletakkan gelas, lalu menyentuh lengan Kevin.
"Mungkin sebelum kamu memutuskan harus bertemu Opa atau tidak, kamu perlu bertemu orang yang membuatmu ingat siapa kamu di luar silsilah."
Kevin tidak bergerak.
"Mama Zhu?" katanya pelan.
"Iya."
Di luar, sebuah motor lewat dengan suara knalpot pendek. Di dalam apartemen, ide itu tinggal di antara mereka seperti lampu yang baru dinyalakan.
Kevin menatap tangan Meilin di lengannya.
"Kamu mau ikut?"
Meilin tidak bertanya apakah itu terlalu cepat. Tidak bertanya apakah dia pantas. Setelah malam ini, pertanyaan seperti itu terasa milik orang-orang Menteng, bukan miliknya.
"Kalau kamu mengizinkan," jawabnya.
Kevin menutup matanya sebentar.
Ketika membukanya, keputusan sudah ada di sana.
"Besok aku ambil cuti. Kita ke Jawa Tengah akhir pekan ini."
Ponsel Meilin bergetar di meja.
Pesan dari Jessica masuk, penuh tanda tanya, menanyakan kenapa Meilin belum membalas foto pameran yang baru diunggah.
Meilin melihat layar itu, lalu melihat Kevin.
Untuk pertama kalinya sejak nama Halim muncul, dia tidak merasa hanya sedang ditarik ke rumah besar yang menakutkan.
Dia juga sedang diajak pulang ke rumah kecil tempat Kevin pernah menjadi anak seseorang.