"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.
Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.
Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.
*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*
Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.
Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11: Bersih
Padahal, di tangan Nana, nama Benny Halim baru saja terbuka hanya dalam satu menit.
Nama itu menjadi jalan keluar pertama.
Tetapi sebelum mengejar Benny, Surya harus membersihkan nama Dewi.
Polsek kecil di dekat kawasan industri itu ramai oleh suara kipas tua, kursi plastik, dan orang-orang yang menunggu giliran membuat laporan. Dewi duduk di bangku panjang dengan wajah pucat. Di atas meja penyidik, komponen logam kecil yang dituduhkan sebagai barang curian terbungkus plastik bening.
Begitu melihat Surya masuk, Dewi berdiri.
"Dik..."
"Kakak duduk." Surya menaruh map di meja. "Jangan bicara selain yang ditanya."
Seorang petugas Polsek mengangkat alis. "Saudara keluarga terlapor?"
"Adik kandung. Saya juga membawa pendamping investigasi yang menemukan petunjuk awal."
Wulan masuk beberapa langkah di belakangnya, disusul Lili. Keduanya tidak banyak bicara. Wulan menyerahkan satu amplop berisi salinan foto dan transkrip singkat.
"Ini dari area luar pabrik dan pernyataan dua karyawan," kata Wulan. "Kami tidak menyentuh CCTV internal tanpa izin. Tapi dari warung depan pabrik, ada kamera yang mengarah ke pintu samping."
Petugas membuka amplop.
Foto pertama menunjukkan Bu Wati, rekan kerja Dewi, keluar dari pintu samping beberapa menit sebelum pemeriksaan tas. Foto kedua menunjukkan ia menerima amplop dari seorang pria berjaket hitam di dekat warung. Foto ketiga, hasil pembesaran dari rekaman warung, memperlihatkan pria itu naik motor dengan plat yang sama dengan kendaraan yang semalam terlihat dekat kos Surya sebelum kebakaran.
Dewi menutup mulut.
"Bu Wati?" bisiknya. "Dia yang kemarin bilang mau bantu bawakan tas Kakak..."
Surya menatap petugas. "Kakak saya meminta pemeriksaan CCTV internal pabrik secara resmi. Jika barang itu masuk ke tasnya saat tas berada di ruang ganti, seharusnya terlihat siapa yang menyentuh."
Petugas itu mulai serius. "Kami akan panggil Bu Wati."
"Tolong catat juga bahwa terlapor sejak awal meminta pendamping dan tidak menandatangani pengakuan apa pun."
Tidak sampai satu jam, Bu Wati datang dengan wajah berkeringat. Awalnya ia membantah. Lalu Lili menunjukkan foto amplop. Petugas menyebut kemungkinan laporan palsu dan rekayasa bukti.
Bu Wati menangis.
"Saya cuma disuruh," katanya. "Saya butuh uang buat bayar kontrakan. Ada perempuan yang telepon, bilang cuma taruh barang sebentar. Katanya nanti Dewi cuma ditakut-takuti."
"Nama perempuan itu?"
Bu Wati menunduk.
"Nadia."
Dewi memejamkan mata.
Surya tidak tampak terkejut.
Ia hanya menoleh kepada petugas. "Saya minta status Kakak saya dibersihkan. Kalau perlu pemeriksaan lanjutan, dia hadir sebagai saksi, bukan pencuri."
Petugas Polsek mengangguk, kali ini jauh lebih sopan. "Kami buat berita acara tambahan."
Ketika Dewi akhirnya keluar dari ruang pemeriksaan, kakinya hampir lemas. Surya memegang lengannya.
"Kakak tidak kotor," katanya pelan. "Mereka yang kotor."
Dewi mengangguk. Namun, matanya basah.
Handphone Surya bergetar.
Nana.
"Pak Surya, Benny bergerak."
Suara Nana cepat tetapi rapi. "Ibunya masuk IGD RS Premier Jatinegara dua jam lalu. Ada unggahan keluarga di grup publik gereja lingkungan, lalu saya cocokkan dengan data lama. Benny kemungkinan menuju rumah sakit. Saya sudah kirim lokasi."
"Legal?"
"Sumber publik. Tidak ada akses ilegal."
"Bagus."
Surya menatap Dewi. "Kakak ikut Wulan pulang dulu."
"Kamu mau ke mana?"
"Membersihkan akar masalah."
Di RS Premier Jatinegara, suasana lebih kacau daripada kantor Mega Awan. Keluarga pasien mondar-mandir, perawat mendorong ranjang, dan suara panggilan dokter terdengar dari pengeras. Surya tiba hampir bersamaan dengan mobil Meilu.
Kali ini Meilu memakai jaket lapangan. Dua anggota Dittipideksus ikut di belakangnya.
"Anda yakin Benny di sini?" tanyanya.
"Ibunya masuk IGD. Orang seperti Benny bisa lari dari perusahaan. Namun, sulit lari dari ibunya."
Meilu menatapnya sebentar. "Itu kalimat yang manusiawi untuk orang yang sedang memburu tersangka."
"Saya masih manusia, Bu AKP."
Mereka menemukan Benny di lorong dekat ruang administrasi. Pria itu memakai topi dan masker. Namun, langkah gugupnya membuatnya mudah dikenali. Begitu melihat Surya, ia berbalik.
"Benny Halim!" suara Meilu memotong lorong.
Dua anggota bergerak cepat.
Benny mencoba lari. Namun, tubuhnya terlalu panik. Ia menabrak troli linen, terjatuh, lalu ditahan sebelum sempat bangun.
"Saya tidak salah!" teriaknya. "Saya cuma menjalankan perintah!"
Meilu berdiri di atasnya. "Perintah siapa?"
Benny menatap Surya.
Di mata pria itu, semua kesombongan Bab 9 sudah hilang.
"Kevin," katanya akhirnya. "Kevin Tanuwijaya. Dia yang suruh pakai nama Surya. Nadia yang bawa tanda tangan. Saya cuma disuruh jadi pengurus operasional."
Meilu memberi isyarat kepada anggota untuk membacakan haknya dan membawanya. "Kita bicara di Polda."
Namun Surya belum selesai.
"Brankas kantor Mega Awan," katanya. "Kuncinya di mana?"
Benny gemetar. "Di laci meja saya."
"Ada apa di dalamnya?"
Benny menutup mata. "Kartu ATM. Atas nama Surya. Saya tidak pernah pakai. Kevin yang minta disimpan kalau suatu hari perlu menyambungkan dana ke dia."
Meilu menatap Surya.
Itu potongan terakhir.
Kartu ATM atas namanya di brankas Benny berarti seseorang memang menyiapkan jalur untuk membuat Surya tampak sebagai pengendali dana, padahal kartu itu tidak pernah ia pegang.
Sore itu, tim Dittipideksus membuka brankas Mega Awan dengan berita acara. Di dalamnya ada beberapa kartu ATM, token cadangan, dan amplop berisi fotokopi KTP Surya. Semua disita resmi.
Surya berdiri di sudut ruangan, menyaksikan satu demi satu perangkap berubah menjadi bukti yang membersihkan namanya.
Meilu menandatangani berita acara penyitaan.
"Untuk sementara, posisi Anda sebagai korban jebakan semakin kuat," katanya.
"Untuk sementara?"
"Saya polisi. Saya tidak memberi vonis sebelum berkas lengkap."
"Adil."
Meilu menatap kantor Mega Awan yang kacau: staf ketakutan, dokumen disegel, rekening dibekukan, Benny ditahan. "Apa rencana Anda dengan perusahaan ini?"
Surya mengambil map keputusan internal yang sudah ia siapkan.
"Pembubaran dan likuidasi. Semua transaksi mencurigakan saya serahkan ke penyidikan. Dana legal yang tersisa dipakai membayar kewajiban sah: pajak, gaji karyawan yang tidak terlibat, biaya audit, dan biaya hukum. Setelah itu, Mega Awan selesai."
"Anda yakin? Anda baru saja menguasai perusahaan."
"Perusahaan ini sejak awal dibuat sebagai jerat." Surya melihat papan nama Mega Awan di dinding. "Saya tidak membangun hidup baru dari jerat orang lain. Saya hanya memastikan jerat itu menjerat pemilik aslinya."
Malam turun ketika segel sementara ditempel di ruang arsip Mega Awan.
Dewi menelepon dari kos Wulan.
"Kakak sudah boleh pulang," katanya pelan.
"Aku tahu."
"Dik... terima kasih."
Surya berdiri di depan ruko Mega Awan yang lampunya mulai dimatikan. "Nanti aku jemput. Kita makan."
"Kamu sudah makan?"
Surya tersenyum lelah. "Belum, Kak."
"Dasar."
Telepon itu menutup hari dengan rasa hangat kecil.
Namun sebelum Surya masuk ke mobil pengganti sewaan, ia mengeluarkan flash disk lain dari saku.
Salinan rekaman Nadia dan Kevin.
Kali ini bukan untuk Polda.
Ia menulis surat pendek di laptop, mencetaknya di toko fotokopi sebelah, lalu memasukkan surat dan flash disk ke amplop ekspres.
Tujuan: Budiman Tanuwijaya, Perkasa International.
Isi suratnya hanya satu kalimat.
Tiga hari lagi, rekaman ini akan naik ke internet.