Setelah menyelesaikan misi terakhirnya, Aurora Veyra, seorang agen pembunuh bayaran, tewas akibat kecelakaan konyol dan terbangun di dalam novel favoritnya. Sialnya, ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan Shen Yuxin, istri kejam yang gemar menyiksa suaminya, Lu Zhichen, Raja Mafia paling ditakuti di Beijing.
Mengetahui akhir tragis yang menantinya, Aurora bertekad mengubah jalan cerita. Namun, bisakah ia meluluhkan hati suami yang telah terluka, menghindari takdir kematiannya, dan menulis ulang akhir kisah nya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Balas Dendam Lu Zhichen
Peringatan Konten berisikan tentang kekerasan. Yang mungkin membuat pembaca tidak nyaman. Skip bagian akhir untuk menghindari adegan kekerasan.
Kesadaran Shen Yuxin perlahan kembali. Kelopak matanya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka. Langit-langit kamar yang begitu megah langsung menyambut pandangannya. Aroma obat-obatan masih samar tercium di udara, sementara sinar matahari sore menembus tirai putih yang berkibar lembut tertiup angin.
Yuxin mengerjap beberapa kali. Kepalanya masih terasa sedikit berat, tetapi tubuhnya sudah jauh lebih baik dibanding beberapa jam yang lalu.
Ia perlahan bangkit dari tempat tidur.
"Madam akhirnya sadar juga. Ada yang bisa saya bantu, Madam?" tanya seorang pelayan yang ternyata ditugaskan Lu Zhichen untuk menjaga Yuxin selama wanita itu belum sadarkan diri.
"Tolong ambilkan aku air putih," perintah Yuxin dengan suara lemah.
Pelayan tersebut sempat tertegun sesaat. Apakah dia baru saja salah dengar? Nyonya mudanya baru saja mengatakan tolong kepadanya, seorang pelayan rendahan seperti dirinya.
Yuxin mengernyit bingung.
"Mana airnya? Kenapa malah melamun?" kata Yuxin heran. Padahal ia mengatakannya dengan nada biasa saja.
Namun, pelayan itu langsung gemetar. Ia mengira Yuxin sedang marah besar kepadanya.
"Maafkan saya, Madam. Saya akan segera menuangkan air untuk Anda," katanya dengan tangan gemetar sambil mengambilkan segelas air dari nakas di samping ranjang.
Shen Yuxin semakin bingung dengan tingkah pelayan itu yang menurutnya sangat aneh.
Yuxin lupa bahwa dulu pemilik tubuh ini tidak pernah memperlakukan para pelayan dengan baik. Setiap kali kesal kepada Lu Zhichen, bukan hanya pria itu yang menjadi sasaran kemarahannya, tetapi juga para pelayan yang sama sekali tidak bersalah.
Tangan pelayan yang gemetar memegang gelas membuat Yuxin kehilangan kesabaran. Dengan cepat ia mengambil gelas itu, lalu meneguk isinya hingga habis.
Rasa lega langsung memenuhi tenggorokannya.
"Kalian ini kenapa? Aku tidak memakan manusia. Kau tidak perlu setakut itu padaku," kata Yuxin datar.
"Maafkan saya, Madam," jawab pelayan itu sambil menundukkan kepala lebih dalam.
Yuxin kemudian meminta pelayan itu membantu memapah tubuhnya. Ia ingin melihat keadaan Zhichen. Apalagi, lengan pria itu sempat terkena tembakan.
Namun, begitu keluar dari kamarnya, Yuxin tidak mendapati Lu Zhichen di mana pun. Kamar tidurnya kosong. Ruang kerjanya pun kosong.
Yuxin lalu menoleh kepada pelayan yang membantunya.
"Ke mana perginya suamiku bersama cinta sejatinya itu?"
Sang pelayan mengernyit bingung.
"Tuan sedang pergi bersama Tuan Han Mo. Katanya mereka ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan. Tapi... cinta sejati Tuan itu siapa ya, Madam?" tanyanya dengan wajah polos.
Shen Yuxin memutar bola matanya.
"Ya Han Mo itu yang aku maksud. Bukankah mereka berdua tidak pernah terpisahkan?" katanya dengan santai.
Lalu ia berbalik dan berjalan kembali ke kamarnya, meninggalkan sang pelayan yang masih berdiri mematung dalam kebingungan.
Sesampainya di kamar, Yuxin langsung menyalakan televisi dan mencari drama di saluran berbayar langganannya. Hari ini ia sedang malas membaca novel.
Karena terlalu malas beranjak dari tempat tidur, Yuxin segera menghubungi kepala pelayan melalui telepon rumah.
Ia meminta agar berbagai camilan dan soda dingin diantarkan ke kamarnya.
Yuxin segera mengambil bantal, lalu menyandarkannya di belakang punggung. Setelah itu ia menarik selimut hingga menutupi kedua kakinya.
Tak lama kemudian, meja kecil di samping ranjang sudah dipenuhi aneka buah potong, keripik kentang, cokelat, puding, dan beberapa kaleng soda dingin.
Yuxin mengambil sekeping keripik, lalu mengunyahnya sambil tetap fokus menonton drama.
Senyumnya mengembang sempurna.
"Wah... indahnya hidupku. Sekarang aku benar-benar bisa merasakan nikmatnya menjadi istri orang kaya seperti di drama yang ku tonton dan novel yang sering kubaca," serunya puas.
Yuxin terlalu asyik dengan dunianya hingga tidak sadar bahwa Lu Zhichen dan Han Mo belum juga kembali. Padahal hari sudah semakin larut.
*
*
*
Di saat yang sama...
Puluhan mobil hitam melaju cepat membelah jalan pegunungan menuju sebuah kawasan hutan yang sangat terpencil.
Di langit...
Dua helikopter tempur mengawal dari udara.
Baling-balingnya berputar kencang, menggetarkan pepohonan di bawah.
Di dalam mobil paling depan, Lu Zhichen duduk dengan wajah dingin. Tatapannya begitu tajam.
Di sampingnya, Han Mo kembali melaporkan hasil penyelidikan yang diminta Lu Zhichen sejak siang tadi.
"Apa kau benar-benar yakin? Itu tempat persembunyian tikus-tikus itu?" tanya Zhichen dengan nada dingin.
Han Mo mengangguk mantap sembari menyerahkan sebuah tablet berisi data hasil penyelidikan anak buahnya.
Semua bukti mengarah pada satu kesimpulan.
Kemungkinan besar, kelompok itulah dalang di balik penyerangan siang tadi.
"Menurut informasi dari mata-mata yang kita tempatkan selama ini, ketua klan tersebut saat ini juga berada di markas utama mereka yang terletak di pinggir hutan ini."
Lu Zhichen tersenyum miring.
Wajahnya kini benar-benar terlihat mengerikan.
"Hancurkan mereka. Dan tangkap tikus paling besar itu dalam keadaan hidup," perintah Zhichen sambil menatap tajam ke arah hutan di depan mereka.
Puluhan pasukan bersenjata lengkap segera mengepung lokasi itu dari berbagai arah.
Bahkan, pasukan helikopter sudah bersiap dengan para penembak jitu yang membidik dari udara.
Mereka terlebih dahulu melumpuhkan para penjaga dan penembak jitu musuh yang ditempatkan di sekitar gedung.
Peperangan sengit pun tak terhindarkan.
Kedua kubu saling melancarkan serangan tanpa henti.
Satu per satu pasukan musuh tumbang tak bernyawa, memenuhi hampir seluruh area gedung tersebut.
Di tengah kekacauan itu, Lu Zhichen berjalan dengan dagu terangkat.
Mulutnya mengisap santai cerutu mahal.
Senyuman sinis tersungging di bibir tipisnya.
Sepatu kulitnya menginjak genangan darah tanpa sedikit pun mengubah ekspresinya.
Di lantai paling atas, Lu Zhichen menendang keras sebuah pintu hingga roboh.
Ruangan itu diduga merupakan kamar pribadi sang ketua klan.
Tatapan Zhichen semakin tajam. Raut jijik terlihat jelas di wajahnya saat menyaksikan pemandangan di depan mata.
Di dalam ruangan itu, sang ketua klan justru sedang asyik berpesta dengan beberapa wanita penghibur.
Padahal, nyawa anak buahnya sudah melayang satu per satu.
Mata sang ketua klan terbelalak melihat pintu kamarnya roboh, disusul kemunculan Lu Zhichen dan Han Mo yang membuat tubuhnya langsung bergetar.
"Sialan!" pekiknya.
Ia segera bergegas mengambil senjata.
"Aaaah!!"
Jeritan histeris para wanita penghibur memenuhi ruangan dan sangat mengganggu telinga Zhichen.
Sementara itu, Han Mo sudah bergerak cepat meringkus sang ketua klan.
Meski sempat terjadi baku hantam singkat, Han Mo tetap mampu melumpuhkan pria itu dengan mudah.
Salah seorang wanita penghibur justru terpukau oleh ketampanan dan kharisma Lu Zhichen.
Wanita itu merangkak menghampiri Zhichen.
"Tuan... tolong selamatkan aku. Aku akan melakukan apa pun, asal kau membiarkanku hidup," katanya sambil memeluk dan membelai kaki Lu Zhichen dengan gerakan menggoda.
Lu Zhichen memandang wanita itu seolah sedang melihat seekor kuman.
Tanpa sedikit pun rasa belas kasihan, Zhichen Menendang wanita itu hingga tersungkur.
Dor!"
Lu Zhichen meluncurkan timah panas tepat pada kepala wanita tersebut. Hingga dengan seketika wanita tersebut tergeletak tak bernyawa.
"Menjijikkan," serunya sambil memandang jijik celana yang baru saja disentuh oleh wanita itu. Dengan raut wajah dingin, ia menepuk-nepuk bagian celananya seolah hendak menyingkirkan sesuatu yang sangat menjijikkan.
di novel aja ya, kalau di RL hus... hus... jauh" serem
berarti emng dia ga ada perasaan apa" sama zhichen ya...
😁😁😁😁😁