NovelToon NovelToon
Dua Bulan Saja, Sayang

Dua Bulan Saja, Sayang

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Kisah cinta masa kecil / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:

Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.

Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.

Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.

Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.

Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."

"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11: Berubah, Memangnya Tidak Boleh?

Kabar bahwa Naomi Liem adalah pacar Kelvin Hartono menyebar lebih cepat daripada jadwal ujian dadakan.

Pagi setelah pesta, Naomi bahkan belum selesai mengikat rambut ketika ponselnya sudah bergetar berkali-kali. Grup angkatan penuh dengan tanda tanya. IG Confessions mengunggah foto buram dari area parkir rooftop lounge, memperlihatkan Kelvin berdiri terlalu dekat dengan seorang gadis bergaun biru gelap.

Wajah Naomi tidak jelas.

Tapi bagi orang-orang yang ingin tahu, ketidakjelasan justru membuat mereka bekerja lebih keras.

Sinta mengirim pesan sejak pukul enam pagi.

"Nao, jangan buka IG dulu."

Lima menit kemudian, pesan lain masuk.

"Terlambat ya? Kamu pasti sudah buka."

Naomi memang sudah buka.

Ia duduk di tepi kasur kos, menatap layar ponsel dengan rambut setengah diikat. Komentar-komentar bergerak seperti semut.

"Serius itu Naomi?"

"Yang kerja di minimarket?"

"Katanya sekarang pacarnya Kelvin Hartono."

"Dari jaga anjing jadi jaga pacar orang kaya."

"Muka boleh juga, tapi kok dulu nggak pernah kelihatan?"

Naomi mematikan layar.

Beberapa detik kemudian, ponsel bergetar lagi.

Kelvin.

"Hari ini ke kampus?"

Naomi menatap pesan itu lama sebelum membalas.

"Iya."

Balasan datang cepat.

"Jangan kabur, Baby."

Naomi menutup wajah dengan kedua tangan.

Satu kata itu seharusnya palsu. Bagian dari perjanjian. Bagian dari akting dua bulan yang akan dibayar setelah selesai. Tapi wajahnya tetap panas seperti orang bodoh.

Ia mengetik, menghapus, lalu akhirnya hanya membalas:

"Saya ada kelas."

Kelvin mengirim satu pesan lagi.

"Aku tahu."

Naomi tidak tahu kalimat itu harus membuatnya tenang atau semakin gugup.

***

Begitu tiba di kampus, Naomi langsung tahu bahwa hari itu akan lebih panjang daripada biasanya.

Tatapan orang-orang mengikuti dari gerbang fakultas sampai koridor kelas. Sebagian terang-terangan menoleh. Sebagian pura-pura sibuk dengan ponsel, tapi layar mereka miring ke arahnya.

Sinta sudah menunggu di depan kelas, wajahnya siap perang.

"Kamu oke?" tanyanya.

Naomi mengangguk. "Oke."

"Bohong."

"Sedikit tidak oke."

"Nah, itu baru jujur."

Sinta menariknya duduk di kursi dekat jendela. Namun sebelum kelas dimulai, tiga mahasiswi dari angkatan lain berhenti tidak jauh dari mereka. Mereka tidak mendekat, tapi suara mereka cukup jelas.

"Aku kira pacar Kelvin bakal kayak Celine."

"Ya mungkin Kelvin bosan yang terlalu high maintenance."

"Tapi Naomi itu berubah banget, nggak sih? Dulu waktu ospek kelihatan biasa saja. Sekarang tiba-tiba..."

"Makeover jalur konglomerat?"

Sinta langsung berdiri. "Kalau mau ngomong, sini. Jangan bisik-bisik kayak suara nyamuk."

Tiga mahasiswi itu terkejut. Salah satunya tertawa canggung. "Kami nggak ngomongin kamu, Sinta."

"Justru karena bukan aku, makanya aku berdiri."

Naomi menarik ujung lengan Sinta. "Sudah."

Tapi suara lain terdengar dari belakang.

"Lagian berubah memangnya salah?"

Naomi menoleh.

Seorang gadis berambut panjang sebahu berdiri di pintu kelas sambil membawa tumbler besar. Matanya tajam, bibirnya melengkung sinis. Naomi mengenalnya sebagai Ayu Lestari, teman kos di lantai bawah yang beberapa kali bertemu di dapur bersama, tapi mereka belum pernah benar-benar dekat.

Ayu berjalan masuk, meletakkan tumbler di meja Naomi dengan bunyi cukup keras.

"Kalian juga berubah tiap pakai filter. Bedanya Naomi tidak perlu caption motivasi."

Sinta menatap Ayu, lalu tersenyum lebar. "Aku suka kamu."

"Aku juga suka orang yang mulutnya dipakai untuk fungsi yang benar." Ayu menoleh pada tiga mahasiswi tadi. "Kalau iri, bilang iri. Jangan sok analisis wajah orang."

Salah satu dari mereka memerah. "Kami cuma bercanda."

"Bercanda itu kalau yang dibicarakan ikut ketawa."

Kelas mendadak sunyi.

Naomi berdiri perlahan. Ia tahu jika Sinta dan Ayu terus melindunginya, masalah bisa semakin ramai. Tapi untuk pertama kalinya sejak komentar-komentar itu muncul, ia tidak ingin hanya menunduk.

"Aku memang berubah," kata Naomi.

Suaranya tidak keras, tapi cukup jelas.

Semua mata beralih padanya.

Naomi merasakan telapak tangannya dingin. Namun ia tetap melanjutkan.

"Dulu tubuhku pernah berubah karena obat yang harus aku minum. Setelah kondisiku membaik, tubuhku berubah lagi. Itu bukan bahan hiburan."

Tiga mahasiswi itu diam.

Naomi menatap mereka satu per satu. "Sekarang aku berubah. Memangnya tidak boleh?"

Tidak ada yang menjawab.

Ayu mengangkat alis. "Nah. Jawab kalau berani."

Dosen masuk sebelum situasi berubah menjadi lebih panas. Tiga mahasiswi itu cepat-cepat pergi, meninggalkan koridor dengan wajah kaku.

Naomi duduk kembali.

Lututnya sedikit lemas.

Sinta meremas tangannya di bawah meja. "Kamu keren."

"Aku hampir pingsan."

"Tapi tetap keren."

Ayu menarik kursi di belakang mereka tanpa minta izin. "Mulai sekarang kalau ada yang ganggu, panggil aku."

Naomi menoleh. "Terima kasih."

"Jangan terima kasih dulu. Aku bukan gratis."

Naomi berkedip.

Ayu menunjuk tumblernya. "Kalau kamu jadi pacar konglomerat beneran, traktir es kopi."

Sinta tertawa.

Naomi juga tertawa kecil, meski dadanya masih berdebar. Untuk beberapa menit, ruang kelas yang tadi penuh tatapan terasa bisa ditahan.

Saat bel selesai berbunyi, Sinta tidak langsung berdiri. Ia menunggu Naomi merapikan buku, sementara Ayu berjalan lebih dulu ke pintu seperti bodyguard yang tidak dibayar.

"Kita lewat kantin bareng," kata Ayu.

"Aku belum lapar."

"Aku tidak tanya lapar. Aku tanya lewat bareng."

Sinta mengangguk serius. "Untuk hari ini, kamu tidak boleh jalan sendirian sambil pura-pura kuat."

Naomi menatap mereka berdua, lalu mengangguk pelan.

Namun setelah kelas selesai, dunia di luar tetap menunggu.

Di kantin, orang-orang masih melihat. Di tangga, dua mahasiswa laki-laki berbisik lalu tertawa. Di depan minimarket, tempat ia biasa berdiri sebagai kasir, seorang pegawai baru menatapnya dari balik kaca seperti tidak yakin apakah harus menyapa.

Naomi berjalan melewati semuanya dengan punggung tegak.

Ponselnya bergetar.

Kelvin mengirim pesan.

"Hebat juga."

Naomi berhenti di bawah pohon.

"Apa?"

"Katanya kamu baru saja membuat satu koridor diam."

Naomi menatap layar. Entah dari mana Kelvin tahu. Mungkin Danny. Mungkin dunia Kelvin memang selalu punya mata di mana-mana.

"Saya cuma menjawab."

"Bagus."

Satu kata itu membuat Naomi lebih sulit bernapas daripada semua komentar buruk pagi tadi.

Ia mengetik "terima kasih", lalu menghapusnya.

Pada akhirnya, ia hanya memasukkan ponsel ke tas.

***

Malam itu, Naomi berdiri di depan cermin kecil di kamar kosnya.

Lampu masih berkedip. Kipas angin masih mati. Di luar pintu, seseorang tertawa keras di lorong, lalu suara langkah menjauh.

Naomi menatap wajahnya sendiri.

Wajah yang katanya berubah.

Wajah yang dulu sering ia sembunyikan saat berjalan melewati gerbang sekolah, karena anak-anak lain lebih dulu melihat tubuhnya, bekal nasi bungkusnya, dan warung Mama Rosa sebelum melihat dirinya.

Ia mengangkat tangan, menyentuh pipi di pantulan cermin.

Sekarang berubah, memangnya tidak boleh?

Kalimat itu terdengar berani di kelas.

Di kamar kecil ini, kalimat itu terdengar seperti seseorang yang sedang belajar mempercayainya.

Lalu dari dasar ingatan yang sudah lama ia tutup rapat, sebuah julukan lama muncul kembali.

Si Anak Warteg.

Naomi memejamkan mata.

Ternyata beberapa suara tidak benar-benar hilang hanya karena tubuh seseorang berubah.

1
Anonim
Kak keren ceritanya 🙏🏼👏🏼
Norma Indah
sepertinya kelvin sudah lama suka sama naomi😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!