Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu lagi perempuan kuat.
Denny memutuskan untuk tidak mengikuti drama picisan di kantor Rangga sepagi ini, ia mau mampir ke kantornya dulu. Ada beberapa meeting yang harus ia hadiri berkaitan dengan kasus-kasus yang sedang ditangani anak buahnya.
Setelah puas ngomel-ngomel di ruang meeting, ia pun kembali ke ruangannya untuk memeriksa kembali kasus kelima dugaan pelaku ‘perbuatan tidak menyenangkan’ dari para sekretaris Rangga, sambil ia ulang membaca latar belakang Arumi.
Ia menatap foto Arumi saat masih kuliah yang terlampir bersamaan dengan dokumen di atas mejanya. Hasil penyelidikan detektif yang disewa Rangga.
Di awal saat Rangga dan Arumi bertemu, Denny langsung tahu Rangga jatuh cinta pada Arumi.
Secepat itu cinta buta datang.
26 tahun Rangga trauma terhadap wanita. Malah justru di saat ia dibenci si wanita, ia jatuh sejatuh-jatuhnya.
Apakah ia juga akan mengalami hal seperti Rangga?
Menemukan tambatan hati di saat yang tak terduga?
Denny menyalakan blower, menyulut sebatang rokok, dan menghembuskan asapnya ke udara. Di dunia yang penuh pengkhianatan ini, Denny memutuskan setia pada Rangga. Ia tidak akan pernah mengambil pekerjaan yang menentang keputusan Rangga, sesinting apa pun keputusan itu. Sebagai imbalannya, Rangga selalu menyerahkan urusan korporatnya pada Denny—kasus-kasus yang sangat menantang karena mendiang Pak Agung Adiwilaga meninggalkan jejak administrasi yang sangat berantakan dan kotor.
Denny menyandarkan punggung, matanya menerawang ke langit-langit kantornya yang tinggi. Ingatannya tertarik ke belasan tahun silam, ke sebuah koridor kantor polisi yang dingin dan berbau asap rokok murah.
Saat itu, Denny hanyalah seorang remaja yang dunianya baru saja kiamat. Orang tuanya tidak meninggal karena kecelakaan seperti Mas Ary. Mereka "dihabisi" secara brutal oleh sekelompok orang karena urusan hutang-piutang yang gelap. Denny yang yatim piatu dalam semalam, duduk di kursi kantor polisi dengan tatapan kosong, dihujam pertanyaan demi pertanyaan yang tidak sanggup ia jawab.
Sayup-sayup dari luar ia mendengar banyak polisi berteriak-teriak ke sekumpulan remaja yang kabarnya terjaring tawuran. Saat itu Investigator mempersilakannya untuk istirahat namun tidak diizinkan untuk meninggalkan kantor polisi. Jadi Denny menyeruput es teh manisnya dan memutuskan untuk menonton suasana di bawah, tepatnya di halaman gedung kepolisian, dari beranda sambil merefresh otaknya yang mumet.
Ada satu suara teguran, “Yang ini bukan anak sekolah ini! Kamu dari sekolah mana Hah?! Nyamar kamu ya!”
PLAKK!
Suara tamparan keras terdengar menyusul, membuat Denny menoleh kaku ke arah halaman. seorang polisi berwajah garang baru saja mendaratkan tangannya di pipi seorang remaja jangkung berseragam putih abu-abu. Tapi dia tahu, seharusnya anak itu tidak mengenakan seragam sekolah negeri semacam itu. Karena ia hafal wajah itu. Remaja di bawah sana itu adalah Rangga.
"Ngapain tu si Rangga di sana? Seragam sekolah mana yang dia pake?!" gumam Denny terkesima. Karena seragam SMA Kanisius berbeda dengan sekolah negeri.
Alih-alih menangis atau ketakutan seperti anak tawuran pada umumnya, Rangga justru mendongak. Ia menyeka setitik darah di ujung bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap polisi itu dengan sepasang mata yang sedingin es. Tidak ada rasa takut di sana. Hanya ada kalkulasi yang kejam.
"Bapak baru saja melanggar Pasal 80 Undang-Undang Perlindungan Anak nomor 35 tahun 2014," suara Rangga remaja terdengar dingin, bergaung tenang di tengah hiruk-pikuk kantor polisi. "Kekerasan fisik terhadap anak di bawah umur yang dilakukan oleh aparat di dalam lembaga penegak hukum. Ancamannya lima tahun penjara, Pak. Ditambah sanksi etik dari Divisi Propam."
Polisi itu tertegun, wajahnya memerah karena merasa harga dirinya diinjak-injak oleh anak bau kencur. "Kamu menakut-nakuti saya?! Kamu ini pelaku tawuran! Nyamar pakai seragam sekolah lain untuk bersekutu! Kriminal kamu!"
"Status saya saat ini baru terduga atau maksimal pelaku anak, bukan kriminal," sergap Rangga cepat tanpa kedipan mata. "Dan berdasarkan hukum acara, penanganan kekerasan remaja tidak bisa dilakukan secara sepihak atau diintimidasi seperti ini. Bapak wajib memanggil wali sah saya atau penasihat hukum dalam waktu 1x24 jam sebelum melakukan pemeriksaan apa pun. Jika dalam sepuluh menit ke depan pengacara keluarga saya datang dan melihat bekas merah di pipi saya ini... Bapak tahu sendiri ke mana karir kepolisian Bapak akan berakhir siang ini."
Polisi itu langsung bungkam, cengkeramannya di kerah baju Rangga perlahan mengendur karena syok mendengarkan pasal hukum meluncur begitu fasih dari mulut seorang anak SMA yang baru tertangkap di jalanan.
Denny yang menyaksikan kejadian itu dari bangku kayunya langsung terpaku. Di tengah hancurnya dunia akibat kematian orang tuanya, Denny melihat sosok adik kelasnya itu berdiri tegak bak benteng yang tak bisa runtuh. Sejak detik itulah, Denny sadar... jika ia ingin membalas dendam atas kematian orang tuanya secara elegan, ia harus bersekutu dengan anak "setan" berotak taktis ini.
Rangga saat itu adalah adik kelasnya di Kanisius, si bintang sekolah yang populer namun pemberontak. Rangga akhirnya dibebaskan begitu saja karena koneksi ayahnya. Denny, yang saat itu sudah kehilangan segalanya, mengejar Rangga di parkiran. Ia menanggalkan statusnya sebagai kakak kelas dan memohon pada anak konglomerat itu.
"Gimana caranya lo bisa bebas secepat itu? Apa lo punya akses pengacara yang mau dibayar murah buat ngusut kematian orang tua gue?" tanya Denny gemetar waktu itu.
Rangga tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia hanya menatap Denny dengan mata dinginnya, lalu menoleh pada salah satu pengacara keluarga Adiwilaga yang mendampinginya.
Pengacara itulah yang akhirnya membereskan kasus orang tua Denny hingga tuntas tanpa Denny harus membayar sepeser pun.
Belakangan, Denny baru tahu rahasia yang membuatnya bersumpah setia pada Rangga sampai mati. Demi membiayai pengacara elit dan operasional pencarian pembunuh orang tua Denny, Rangga—yang saat itu hubungannya sedang sangat buruk dengan ayahnya—terpaksa meminta bantuan pada Ibu Pramudya Shinta, istri pertama ayahnya yang sangat membenci keberadaan Rangga.
Ibu Shinta memberikan syarat yang sangat menghina. Rangga harus bersujud di bawah kakinya dan mencium kaki wanita itu di depan para pelayan sebagai bentuk pengakuan bahwa Rangga hanyalah "anak haram" yang tak punya harga diri.
Dan Rangga melakukannya. Tanpa mengeluh. Tanpa memberi tahu Denny. Semua itu dilakukan Rangga hanya untuk membantu seorang kakak kelas yang bahkan tidak terlalu akrab dengannya.
Meskipun akhirnya tersangka pembunuh orang tua Denny tidak tertangkap karena melarikan diri ke negara konflik yang tak tersentuh hukum, ia telah bertransformasi menjadi seseorang dengan loyalitas tinggi. Denny menjual seluruh aset peninggalan orang tuanya yang tersisa, lalu belajar sekeras mungkin di bidang hukum. Ia bertekad menjadi "perisai hidup" yang paling kuat bagi Rangga.
Denny tahu Rangga adalah seorang jenius, dan pebisnis dengan otak secerdas Rangga pasti akan memiliki musuh di setiap tikungan.
"Lo emang gila dari dulu, Ngga," gumam Denny sambil menutup map Arumi. “Pas normal aja lu gila, apalagi pas bucin?”
Denny baru saja hendak menyesap kopi hitamnya, ketika interkom di mejanya berbunyi.
"Pak Denny, ada yang mencari bapak di Lobby. Katanya dari Red Desmont. Perempuan. Dia belum ada janji, tapi memaksa ingin bertemu Bapak," lapor sekretarisnya dengan nada ragu.
“Saya sedang tidak ingin diganggu.” Desis Denny, ia berpikir jangan-jangan yang datang adalah salah satu dari pelaku tindak kriminal yang mengerjai Rangga. Mungkin ingin bernegosiasi atau ingin memaki-makinya secara langsung.
“Namanya Aqila, Pak.”
Denny mendesis makin merasa malas. Nama itu malah membuatnya makin ingin mengunci pintu ruangan kerjanya rapat-rapat. Dengan memejamkan mata, ia memijat pelipisnya. "Usir sajalah. Bilang saya sedang rapat dengan Presiden!"
"Tapi Pak, katanya dia menemukan data penting mengenai keterlibatan Corsec dengan sekuriti Oscar Club di malam kejadian Pak Rangga dikerjai."
Mendengar kata 'Oscar Club', Denny langsung mendengus dan menutup mapnya dengan keras. Baginya, kedua kata itu tidak sinkron. Aqila dengan Oscar Club.
Karena Aqila dari awal tidak berhubungan dengan kasus ini. Dia hanya karyawan di kantor Rangga, rekan kerja Tony, satu-satunya wanita yang di hire jadi Personal Assistant gara-gara tingkahnya yang dianggap ‘tidak mengancam iman’-nya Rangga.
Tapi dia sering mengancam Imannya Denny.
Dengan terpaksa, Denny akhirnya beranjak menuju lift, lalu melangkah keluar dari lift dengan wajah masam. Di sudut lobi yang mewah, ia menemukan sosok Aqila.
Wanita itu tinggi, kurus, mengenakan blazer oversized yang nampak terlalu besar untuk tubuhnya, namun terlihat sangat stylish di bawah rambut panjangnya yang tergerai acak. Ada anting perak bertengger di tengah bibirnya, dan Tato di sepanjang lengannya yang kurus.
Gayanya memang nyentrik, tapi kabarnya Aqila ini diberkahi keberuntungan yang diluar nalar.
Aqila sedang asyik menyedot es boba, pipinya kembung mengunyah mutiara tapioka itu. Begitu melihat Denny, ia melambaikan tangan dengan santai.
"Om Bro apa kabar? Gue langsung aja ya Om," ujar Aqila tanpa basa-basi begitu Denny sampai di depannya. "Gue kenal sama operator sistem di kelab itu. Teman lama pas gue masih sering keluyuran di jalanan." Gayanya udah kayak rapper lagi nyerang lawan pakai hujatan, padahal Cuma lagi bahas topik biasa.
Denny melipat tangan di dada, menatap tindik di bibir Aqila dengan tatapan menghakimi. "Terus? Lo dapet apa dari ‘kenalan pas masih jadi anak punk?’ “
Aqila mengeluarkan ponselnya yang layarnya retak di beberapa sudut. "Gue dapet rekaman suara si penelpon misterius yang menghubungi bagian pendaftaran Oscar Club.”
“Yeah, yang itu kita juga udah dapet.” Gerutu Denny.
“Bentar Om, jangan sewot dulu. Gue tahu lo kesengsem sama gue tapi lo jaga profesionalitas dan loyalitas ke Pak Rangga jadi lo anggap gue ini pengganggu kesetiaan lo. Tapi ini penting banget, jangan lo potong dulu.” Aqila mengangkat tangannya ke depan hidung Denny.
“Apa’an coba?!” gumam Denny, kaget sekaligus geli mendengar penurutan Aqila.
Cewek ini bilang siapa suka sama siapa?!
Beuh... Harga diri langsung bergejolak.
“Jadi gini, baru aja ini kejadiannya ya Om Bro. Tadi gue lagi sibuk fotokopi. Terus pas gue hampir jatoh gara-gara kepleset klepon—asli ya, itu tepungnya licin banget—nggak sengaja gue pencet mode rekam di hape gue. Alhasil kerekam lah si Bintang yang lagi orasi tuh buat persiapan demo, di ruangan sebelah yang nggak ada CCTV karena itu ruangan laktasi buat busui yang lagi mompa ASI. Dia-lagi-pake-masker!" kata-kata terakhir diucapkan dengan gaya eminem lagi nyanyi bagian reffrain.
Aqila mendekatkan ponselnya ke telinga Denis. “Pas gue dengerin hasil rekamannya, gue perasaan pernah denger nih suara. Kan biasa tuh ya kalau suara pas asli sama pas direkam tuh kedengeran suka rada beda kan ya? Nah gue inget ada suara yang mirip nih. BOOMMM!! Tebak suara apa? Dari laporannya si Tony tuh!! kan ada rekaman misterius dari penelpon ke operator club?! Nah karena penasaran, isenglah Gue cocokin suaranya sama rekaman instruksi ke sekuriti malam itu. Pake aplikasi berbayar sih bro, namanya pendeteksi kecocokan suara lewat gelombang eketromagnet. Sama, Bro! Valid seratus persen! Frekuensi gelombang suaranya identik. Itu bisa jadi bukti buat nyeret dia ke penjara apa nggak? Kalau iya, nih... bayarin boba gue!"
Denny terdiam, menatap layar ponsel Aqila yang menunjukkan grafik frekuensi suara yang sangat akurat. Ia tidak tahu harus kagum atau ingin menangis. Di tangannya ada bukti kunci yang ia cari selama berminggu-minggu, didapatkan oleh seorang wanita yang hampir jatuh karena klepon.
"Aqila..." Denny menarik napas panjang, mencoba menahan emosinya agar tidak meledak di lobi karena Aqila terlalu berisik untuk telinganya. "Serahkan semua data yang lo punya, demi Boss lo."
“Of Course i do, that’s why i’m here, broo!” tapi alih-alih memberikan ponselnya, Aqila malah menadahkan tangan ke arah Denny.
Denny menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah. Ia baru ingat kata kuncinya: boba di tangan Aqila, belum dibayar. Denny merogoh kantong jasnya, mengeluarkan ponselnya sendiri untuk membuka aplikasi e-banking miliknya. Namun sebelum ia sempat menekan layar, Aqila dengan kecepatan kilat layaknya pencopet profesional sudah menukar ponsel bututnya dengan ponsel milik Denny. Gerakannya begitu halus sampai Denny sendiri tidak menyadari ponsel mahalnya sudah berpindah tangan.
“Pinnya masih sama kan ya Om?” desis Aqila sambil mengutak-atik ponsel Denny. “Sekalian bayarin ojol gue yak!”
“Terserah lu dah,” gerutu Denny ketus, memilih untuk mengabaikan dompet digitalnya yang sedang dipalak, lalu kembali memeriksa grafik data di ponsel Aqila dengan lebih teliti. Dalam hati, ia tak habis pikir. Kenapa bukti digital sedetail ini tidak pernah terpikirkan lebih awal di otaknya yang bergelar magister hukum? Walaupun menurutnya bukti gelombang suara ini masih kurang tajam untuk melenyapkan posisi Bintang secara instan dari Red-Desmont, namun bukti semacam inilah yang ia butuhkan sebagai pemicu awal.
"Kenapa nggak kirim ke Tony saja lewat WhatsApp, Aqila? Kenapa harus repot-repot ke sini kalau duit aja nggak ada?" tanya Denny dengan suara tertahan.
"Yah, si Om nggak ngerti keamanan data!" Aqila mendelik sok pintar. "WhatsApp itu bisa di-hack, bisa di-sadap! Ini data panas, Bro. Harus hand-to-hand. Lagian kalau gue kasih Tony, nanti gue nggak dapet ciuman dari lo sebagai ucapan terima kasih, kan?"
Denny mengangkat kepalanya dengan mata memicing, “Hah? Apa?”
Aqila hanya mesem-mesem dengan mata berbinar.
“Mau dikasih di sini... atau di ruangan Om aja?”
Denny tersenyum tipis dari sebelah sudut bibirnya, dan jarinya menoyor dahi Aqila. “Kalo mimpi harus tidur dulu, Neng.”
“Cewek lain bisa tidur sama lo, Om. Kenapa gue nggak bisa?”
“Oh, lo semurahan itu?”
Senyum di wajah Aqila langsung luntur, ia cemberut kesal. "Yah... Cuma cium doang, pelit amat sih.” Matanya yang seperti mata kucing, memicing ke atas dan terkesan sendu itu menatap tubuh Denny yang berbalik ke arah lift untuk mengopi data dari ponsel retak Aqila.
Kemudian Denny menatap Aqila sambil menahan pintu lift.
“Lo mau berdiri sampe jamuran di sana? Di kantor gue ada cemilan tuh.” ketus Denny.
Senyum Aqila segera mengembang kembali. “Ih, si Om malu-malu sampe alasan cemilan segala... padahal mau tarik ulur.” sahutnya sambil cekikikan.
Denny kini berpikir, ia kurung saja Aqila di lift, atau langsung dia masukan koper, kirim ke Tanjung Priok buat dilarung di laut lepas?
**
Hai Madam....Alhamdulillah nongol lg....hbs liburan ya Madam 💖