NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.

Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18. Tameng Harga Diri

Gema pukulan Damian dan pecahan kaca yang berserakan di lantai kamar seolah membekukan waktu di dalam kamar utama. Aksa berdiri tegak, menyeka darah segar yang mengalir di sudut bibirnya dengan punggung tangan, sementara Damian sudah bersiap melayangkan hantaman berikutnya dengan napas yang memburu tajam.

"Cukup! Hentikan, demi Tuhan... Hentikan!"

Jeritan histeris Valerian akhirnya memecah kepungan ego kedua pria bersaudara itu. Dengan sisa kekuatan dan keberaniannya, Valerian berlari menembus pecahan kaca, berdiri tepat di tengah-tengah antara Damian dan Aksa. Tubuhnya yang ramping bergetar hebat, namun sepasang matanya menatap Aksa dengan tatapan yang sarat akan keputusasaan dan ketegasan yang tak terbantahkan.

Aksa menurunkan kepalan tangannya, menatap lekat wanita yang dipujanya. "Valerian, menyingkirlah. Aku ke mari untuk membawamu keluar dari neraka pria ini. Ikut aku sekarang," bisik Aksa parau, sisi posesif dan protektifnya meronta melihat air mata Valerian yang terus mengalir.

Namun, di luar dugaan Aksa, Valerian justru menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ia melangkah mundur, menjauh dari jangkauan tangan Aksa yang hendak meraihnya.

"Tidak, Aksa. Aku tidak akan pergi ke mana pun," ucap Valerian, suaranya bergetar namun terdengar begitu dingin dan mutlak.

Netra gelap Aksa seketika menyempit, dipenuhi oleh rasa tidak percaya yang teramat dalam. "Apa kau bilang? Setelah apa yang dia lakukan padamu semalam, kau memilih untuk tetap bertahan di kamar ini bersama bajingan yang selalu merendahkanmu?!" geram Aksa, cemburu kuadrat kembali membakar dadanya mendengar penolakan tersebut.

Valerian mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik jubah tidurnya. Di dalam lubuk hatinya, ia berteriak ingin berlari ke pelukan Aksa. Namun, sisa akal sehat dan tameng harga dirinya menahan langkah nekat itu.

Valerian tahu, jika malam ini ia melarikan diri bersama sang adik ipar, nama baik keluarganya akan hancur tercoreng di hadapan publik dan lingkaran sosial kalangan atas. Skandal perselingkuhan terlarang ini akan menjadi konsumsi publik yang mematikan bagi bisnis ayahnya yang sedang berada di ujung tanduk.

Valerian tidak mau menjadi wanita lemah yang terus-menerus menjadi beban dan sandera bisnis. Sebelum hari di mana ia benar-benar berpisah dan lepas dari Damian secara sah, ia ingin berdiri di atas kakinya sendiri. Ia ingin bertransformasi menjadi wanita hebat, memiliki karier, pengaruh, dan aset mandiri yang bisa menegakkan kembali martabat keluarganya tanpa perlu mengemis investasi dari Damian ataupun belas kasihan dari Aksa.

"Pergilah, Aksa! Keluar dari kamarku sekarang juga!" bentak Valerian, memaksakan ketegasan di dalam suaranya meski hatinya hancur berkeping-keping melihat kilat terluka di mata Aksa. "Aku adalah istri sah Damian Wardhana. Apa pun yang terjadi di antara kami di dalam kamar ini, itu adalah urusan rumah tangga kami. Kau tidak punya hak untuk ikut campur!"

Damian yang mendengar penolakan telak istrinya terhadap Aksa langsung terkekeh sinis, menyunggingkan senyuman kemenangan yang penuh keangkuhan. Ia melangkah maju, merangkul pinggang Valerian dengan posesif di depan adiknya. "Kau dengar sendiri apa kata istriku, Aksa? Dia memilihku. Sekarang, keluar dari kamarku sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu!"

Aksa mematung, menatap lekat ke dalam bola mata Valerian. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Aksa berbalik dan melangkah pergi menembus pintu balkon yang pecah, menghilang di balik kegelapan malam yang diguyur gerimis.

Keesokan harinya, badai semalam menyisakan keheningan yang canggung di kediaman Wardhana. Damian telah berangkat ke kantor sejak subuh demi mengurus berkas penarikan saham sub-holding Aksa yang mendadak, sementara Clarissa dikabarkan pulang ke rumah orang tuanya dengan kemarahan yang tertahan karena siasatnya belum sepenuhnya berhasil meledakkan pernikahan Damian.

Siang itu, Valerian menerima sebuah pesan singkat dari nomor yang sangat ia kenali. Sebuah alamat kafe privat di sudut kota Jakarta, lengkap dengan sebuah kalimat singkat: "Datanglah sendirian. Aku tahu apa yang kau butuhkan untuk menjadi wanita hebat."

Dengan jantung yang berdegup kencang, Valerian mendatangi kafe tersebut. Di sudut ruangan yang remang dan tersembunyi, Aksa sudah duduk menunggunya dengan setelan jas kasual tanpa dasi. Tidak ada lagi sisa kemarahan semalam di wajah rahang tegasnya; yang ada hanyalah tatapan hangat seorang pria yang siap menyerahkan dunia untuk wanita yang dicintainya.

Valerian duduk di hadapan Aksa dengan canggung. "Aksa, aku sudah bilang semalam—"

"Aku tahu, Valerian," potong Aksa lembut, suaranya berat dan menenangkan. Sisi humorisnya kembali muncul tipis di sudut bibirnya. "Kau menolakku semalam bukan karena kau mencintai Damian, tapi karena kau ingin melindungi orang tuamu dan ingin berdiri di atas kakimu sendiri sebelum berpisah dengannya, kan?"

Valerian tertegun, matanya berkaca-kaca karena Aksa selalu menjadi satu-satunya orang yang bisa membaca isi pikirannya dengan tepat.

Aksa menggeser sebuah map dokumen tebal berwarna hitam ke hadapan Valerian. "Jika kau ingin menjadi wanita hebat yang memiliki aset dan bisa menegakkan keluargamu sendiri, maka mulailah dari sini. Aku memberikanmu pekerjaan."

Valerian membuka map tersebut dengan jemari bergetar. Di dalamnya terdapat surat penunjukan dirinya sebagai Chief Executive Officer (CEO) sekaligus pemegang saham utama di sebuah anak perusahaan properti baru berskala besar yang baru saja dipisahkan Aksa dari Wardhana Group.

"Ini... ini terlalu besar untukku, Aksa. Aku tidak punya pengalaman memimpin perusahaan sebesar ini," bisik Valerian ragu, menatap angka-angka aset yang tertera di dokumen tersebut.

Aksa memajukan tubuhnya, meraih jemari Valerian dan meremasnya dengan kehangatan intens yang meruntuhkan segala pertahanan wanita itu. "Kau tidak perlu takut. Aku tidak akan melepaskanmu sendirian. Aku yang akan membimbingmu langsung dari nol, mengajarimu cara bernegosiasi, mengelola aset, hingga kau benar-benar siap menghancurkan dominasi Damian dengan kekuatanmu sendiri."

Aroma kopi yang pekat dan keheningan di sudut kafe privat itu seolah mengunci mereka dari bisingnya dunia luar. Di atas meja kayu, dokumen-dokumen aset yang baru saja diserahkan Aksa masih terbuka, namun fokus Aksa kini telah beralih sepenuhnya pada wanita di hadapannya.

Melihat mata Valerian yang berkaca-kaca menatap surat penunjukan itu, pertahanan ego Aksa yang sempat membatu akibat kecemburuan semalam runtuh seketika. Sisi protektifnya berganti menjadi kehangatan intens yang mendesak untuk disalurkan.

Aksa berdiri dari kursinya, lalu berpindah duduk di sofa yang sama dengan Valerian, memperkecil jarak di antara mereka hingga tidak ada lagi celah yang memisahkan. Dengan satu gerakan lambat namun penuh kepastian, tangan jangkung Aksa meraih tengkuk Valerian, menarik lembut wajah wanita itu agar menatapnya langsung.

"Kau tidak perlu memikul beban ini sendirian, Valerian," bisik Aksa parau, napasnya yang hangat beraroma kayu manis kembali menyapu permukaan kulit wajah Valerian, membuat seluruh tubuh wanita itu mendadak lemas. "Aku memberikanmu senjata ini agar kau bisa berdiri tegak di depan Damian, dan aku sendiri yang akan menjadi perisaimu."

Valeriaan merasakan sentuhan jemari Aksa yang begitu lembut mengusap air mata di pipinya. Kerinduan yang terlarang itu kembali membakar akal sehatnya.

Tanpa mampu membendung perasaannya lagi, Valerian membiarkan dirinya pasrah saat Aksa menundukkan kepala dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang teramat dalam dan intim.

Valerian melenguh pelan, jemarinya tertanam erat di balik kerah kemeja kasual Aksa, membalas pagutan itu dengan gairah yang kembali tersulut hebat. Di dalam dekapan hangat adik iparnya, Valerian merasakan kembali gairah nyata yang membuatnya merasa diinginkan sebagai seorang wanita utuh, bukan sekadar pajangan atau alat negosiasi bisnis.

Aksa mempererat pelukannya pada pinggang ramping Valerian, membawa tubuh wanita itu semakin merapat ke dada bidangnya sembari terus memperdalam kemesraan mereka di sudut kafe yang senyap tersebut.

1
Unicha
komen dong teman seperjuangan klw suka 😍
Unicha
komen dong teman" seperjuangan klw suka 😍
Unicha
Terimakasih telah membaca ,jangan lupa beri dukungan kalian ya ,,agar aku makin semangat 😍, dukungan kalian sangat berarti untukku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!