Mutiara Bumi: Sang Kucing Putih dan Sang CEO
Bai Xue adalah makhluk asing berwujud kucing berbulu putih cantik yang datang ke Bumi bersama empat temannya. Misi mereka adalah mengumpulkan Mutiara Energi untuk menyelamatkan planet asal mereka yang terancam punah. Mereka semua bisa berubah wujud menjadi manusia kapan saja.
Di Bumi, Bai Xue berubah menjadi gadis cantik berusia 20 tahun yang mungil, ceria, dan baik hati. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, seorang CEO muda kaya raya yang jenaka, tengil, agak ceroboh, dan memiliki keunikan: ia sangat alergi terhadap kucing.
Awalnya pertemuan mereka penuh insiden konyol, namun lama-kelamaan Xiao Chen mengetahui rahasia Bai Xue dan mulai jatuh hati padanya. Bersama teman-teman alien dan orang-orang kepercayaannya, mereka berusaha mengumpulkan energi sambil melawan musuh yang ingin mencuri kekuatan para alien dan menghancurkan perusahaan Xiao Chen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Utusan Dari Hati Nurani
Pesawat kecil yang mengirim sinyal damai itu perlahan mendekat, bergerak dengan hati-hati seolah takut memicu kesalahpahaman. Di dalam pesawat utama, suasana menjadi tegang namun diselimuti sedikit harapan. Semua mata tertuju pada layar yang menampilkan sosok di dalam pesawat itu.
Tak lama kemudian, layar komunikasi menyala, menampilkan wajah seorang pria paruh baya dengan rambut keperakan yang rapi dan mata yang terlihat bijaksana serta penuh kelembutan. Pakaiannya sederhana, tidak seperti seragam militer yang dikenakan pasukan pengepung, melainkan jubah berwarna biru tua yang menjadi lambang para Penjaga Pengetahuan—kelompok yang bertugas menjaga sejarah dan ilmu pengetahuan kuno planet Xing Yun.
"Saya adalah Elion, ketua kelompok Penjaga Pengetahuan," ucapnya dengan suara tenang namun tegas. "Saya mendengar desas-desus tentang cara baru yang kalian bawa. Selama ini kami hanya diperintahkan untuk mematuhi keputusan Dewan, namun hati kami selalu merasa ada yang salah dengan rencana yang mengorbankan dunia lain. Izinkan saya mendengar penjelasan kalian secara langsung."
Komandan Kael mengangguk setuju, lalu menoleh ke arah Xiao Chen dan Bai Xue. "Kesempatan ini mungkin tidak datang dua kali. Tunjukkan padanya apa yang telah kita temukan."
Xiao Chen melangkah maju, berdiri di depan layar komunikasi. Ia menatap Elion dengan tatapan jujur, tanpa rasa takut atau permusuhan. "Terima kasih atas keberanian Anda untuk mendengar kami. Kami datang bukan untuk melawan, tapi untuk menyelamatkan. Selama ribuan tahun, bangsa Xing Yun hanya mengandalkan energi kasar yang diambil dari inti planet atau benda langit lain. Energi itu cepat habis dan meninggalkan kerusakan yang parah."
Ia mengangkat tangannya perlahan, dan cahaya emas lembut mulai memancar dari telapak tangannya. Di sampingnya, Bai Xue mengikuti, memancarkan cahaya putih yang menyatu sempurna hingga membentuk bola cahaya yang hangat dan berdenyut seperti jantung.
"Tapi ada jenis energi lain yang jauh lebih kuat, lebih murni, dan tidak pernah habis," lanjut Xiao Chen. "Ini adalah energi kehidupan—tercipta dari kasih sayang, persahabatan, harapan, dan kenangan indah. Energi ini melimpah di Bumi, dan bisa dikumpulkan tanpa merusak apa pun. Kami telah membawakan contohnya."
Dari dalam kotak kecil yang selalu ia bawa, Xiao Chen mengeluarkan Mutiara Energi yang telah mereka kumpulkan. Cahaya di dalamnya berdenyut lembut, memancarkan kehangatan yang bisa dirasakan bahkan melalui layar komunikasi.
Elion menatap benda itu dengan mata terbelalak tak percaya. Ia bisa merasakan sendiri kekuatan yang memancar—sesuatu yang belum pernah ia alami selama hidupnya. "Ini... ini benar-benar energi murni kuno yang tertulis dalam catatan sejarah! Selama ini kami mengira itu hanya mitos yang hilang ditelan waktu!"
"Benar," tambah Bai Xue. "Energi ini tidak hanya bisa memulihkan sumber daya Xing Yun, tapi juga bisa menyembuhkan kerusakan yang telah terjadi selama ini. Kita bisa bekerja sama dengan Bumi, saling berbagi ilmu dan kekuatan, tanpa ada yang harus dikorbankan."
Namun, sebelum Elion sempat menjawab, suara keras Ketua Dewan kembali bergema di seluruh saluran komunikasi. "Elion! Kau berani memihak pengkhianat?! Segera tinggalkan mereka, atau kau akan dianggap sebagai musuh juga!"
Elion menghela napas panjang, lalu menatap layar dengan tatapan yang tidak lagi ragu. "Maaf, Ketua Dewan. Sebagai Penjaga Pengetahuan, tugas saya bukan hanya mematuhi perintah, tapi juga mencari kebenaran. Saya telah melihat bukti sendiri. Cara yang kalian pilih bukanlah satu-satunya jalan, dan bukan jalan yang benar."
Ia kemudian menoleh kembali ke arah Xiao Chen dan rombongannya. "Saya tidak memiliki kekuatan militer yang besar, tapi saya memiliki pengaruh di antara para peneliti dan penduduk biasa. Banyak dari mereka yang mulai meragukan rencana Dewan. Jika kalian bisa menunjukkan lebih banyak bukti, saya akan membantu menyebarkan kebenaran ini kepada seluruh penduduk Xing Yun."
"Tapi perisai dan pasukan..." kata Wu Gui ragu.
"Perisai itu hanya bisa diaktifkan dan dikendalikan dari pusat komando utama di ibu kota," jelas Elion. "Dan tidak semua orang di sana setuju dengan Dewan. Jika kita bisa mencapai ibu kota dan menyampaikan kebenaran kepada rakyat, dukungan mereka bisa mengubah segalanya."
Tiba-tiba, pesawat-pesawat tempur di sekitar mulai bergerak. Beberapa masih tetap mengarahkan senjata, namun sebagian lain tampak bimbang, seolah dipengaruhi oleh energi penenang yang masih menyebar perlahan.
"Kita tidak bisa menunggu lebih lama," kata Ratu Lien tegas. "Jika kita diam saja, Dewan akan mengirim pasukan yang lebih besar. Kita harus bergerak menuju ibu kota, dengan perlindungan sekuat tenaga tanpa menyerang lebih dulu."
Elion mengangguk setuju. "Saya akan memimpin jalan. Saya tahu jalur tersembunyi yang tidak terdeteksi oleh sistem pertahanan utama. Ikuti saya."
Pesawat kecil Elion berputar perlahan, lalu terbang menuju celah di antara awan energi yang menyelimuti planet. Pesawat utama mereka mengikuti di belakangnya, diikuti oleh beberapa pesawat tempur yang tampak bimbang namun tidak lagi mengarahkan senjata.
Perjalanan menuju permukaan tidaklah mudah. Sesekali mereka harus melewati zona pertahanan yang dijaga ketat, namun setiap kali Xiao Chen dan Bai Xue memancarkan energi gabungan mereka, sistem pertahanan menjadi tidak stabil dan memberi jalan bagi mereka. Banyak prajurit yang melihat dan merasakan energi itu mulai ragu, bertanya-tanya apakah mereka benar-benar sedang melawan musuh atau justru menghalangi harapan baru.
Setelah beberapa jam perjalanan yang menegangkan, akhirnya mereka mulai melihat permukaan planet Xing Yun. Langitnya berwarna ungu lembut, dengan dua matahari kecil yang memancarkan cahaya keemasan. Di kejauhan terlihat ibu kota yang megah, dengan bangunan-bangunan tinggi yang terbuat dari kristal yang berkilauan, namun terlihat redup dan sepi—tanda bahwa energi di planet ini benar-benar semakin menipis.
"Ini ibu kota kita," kata Elion dengan suara sedih. "Dulu tempat ini penuh cahaya dan kehidupan. Sekarang..."
Namun, sebelum mereka bisa melanjutkan perjalanan, sebuah pesawat induk besar yang lebih besar dari sebelumnya muncul di hadapan mereka, menghalangi jalan. Di layar, wajah Ketua Dewan terlihat penuh amarah.
"Cukup! Kalian tidak akan bisa melangkah lebih jauh! Pasukan yang setia pada saya akan memastikan kalian tidak bisa menyebarkan kebohongan ini!"
Puluhan pesawat tempur terbang mengelilingi mereka, kali ini dengan senjata yang diaktifkan sepenuhnya. Suasana menjadi sangat tegang, seolah perang akan meletus kapan saja.
Xiao Chen menggenggam tangan Bai Xue erat-erat. Ia menatap pesawat induk besar itu, lalu menoleh ke arah semua orang di sekelilingnya.
"Kita tidak akan menyerah. Tapi kita juga tidak akan berperang. Kita akan tunjukkan pada mereka bahwa kekuatan terbesar bukanlah senjata, tapi kebenaran dan harapan."
Ia mengangkat tangannya, dan bersama Bai Xue, Ratu Lien, serta seluruh rombongannya, mereka memancarkan energi sekuat tenaga—bukan untuk menyerang, tapi untuk menciptakan cahaya yang terang, murni, dan penuh kehidupan yang bisa dilihat serta dirasakan oleh semua orang di ibu kota.
Cahaya itu menyebar luas, menembus awan gelap dan perisai pertahanan, hingga mencapai setiap sudut kota. Penduduk yang tadinya hidup dalam kegelapan dan keputusasaan mulai menengadah, merasakan kehangatan yang sudah lama hilang, dan melihat harapan yang mulai tumbuh kembali di hati mereka.
Di tengah pertempuran yang belum terjadi namun terasa semakin dekat, nasib planet Xing Yun kini bergantung pada apakah kebenaran bisa mengalahkan kekuasaan, dan apakah hati nurani bisa mengalahkan ketakutan.