Kehidupan setiap orang tidak sama, jodoh, maut rezeki. Semua orang mendapatkan kadar yang berbeda.
Syaren, terpaksa menikah dengan Dimas, demi melindungi kakaknya, Yumna. Dia tahu, pernikahan ini bukan hal yang indah, Dimas hanya menginginkanya, hanya untuk bersenang-senang.
Bagaimana nasib Syaren? Apakah dia bisa menua bersama Dimas? Atau garis kehidupannya mengujinya lebih kejam lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Makan Malam Part 2
Syaren sangat takut, namun wajahnya ia paksa mengukir senyuman.
Syaren memandangi wajah empat wanita itu bergantian. "Mental wanita-wanita ini pasti sangat kuat, mereka mampu bertahan hidup dengan laki-laki yang sangat menakutkan." dalam hati Syaren.
Di ruang kerja Dimas.
"Joan! Aku tak sabar untuk bermain lebih dalam lagi dengannya, ternyata seru bermain perasaan seperti ini." seru Dimas.
"Atur Resepsi satu minggu dari sekarang!" Perintah Dimas
Apa? satu minggu? kau kira aku jin apa? Yang adakadabra langsung jadi siap!! Batin Joan.
"Baik Pak!" sahut Joan
"Panggil dia kemari, aku ingin mencicipinya sedikit," seru Dimas.
"Siap pak!" Sahut Joan.
Joan segera keluar untuk memanggil Syaren.
"Nona Syaren! Pak Dimas meminta anda untuk menemuinya di ruang kerja, mari ikut saya." pinta Joan.
Suara joan seketika merubah keadaaan yang tadi ceria dengan canda tawa, menjadi tegang kembali.
Syaren langsung bangkit dari duduknya, dan mengikuti langkah kaki Joan, mereka berjalan menuju ruang kerja Dimas.
"Mah, apakah wanita itu akan di cincang habis-habisan oleh kak Dimas?" Tanya Aira.
"Husshh! Jaga bicara kamu!" Bentak Citra.
Syaren sampai di ruang kerja Dimas.
"Silakan masuk nona." Joan membukakan pintu.
Perlahan Syaren memasuki ruangan itu, sedang Joan kembali menutup pintunya.
Deg deg deg!!!
Rasanya detak jantung Syaren juga ikut melambat berdetak, seiring langkah kakinya.
Pria itu mulai memutar arah kursinya, menghadap ke arah Syaren.
Syaren hanya menunduk.
"Apa lebih tampan meja atau kakimu dari pada wajahku? Sehingga kau lebih suka menatap ke bawah?" Bentak Dimas.
"Emm, ma--maaf, anda sangat tampan, hingga aku tak kuat memandang anda." Syaren membela diri.
*A*staga! Dari mana kata-kata ini? Kenapa aku tidak mati saja kemaren? Batin Syaren
"Kau pandai menggombal ya?" goda Dimas.
"Maaf, itu fakta, aku takut bohong tuan, anda memang benar-benar luar biasa, di luar bayanganku, ternyata anda sangat tampan."
Syaren, seperti nya dosa-dosamu akan penuh dengan tulisan kebohongan, tanggung bohongnya tambah aja lagi.
Dimas berdiri, dia berjalan mendekati Syaren.
Dia berdiri tepat di belakang Syaren, agar dia mudah menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Syaren.
"Aku yakin, kau tengah mengutuki diriku dalam hatimu!"
Waw, dia punya mata batin sepertinya, laki-laki sepertimu memang untuk dihina dan di caci.
"Tidak tuan, saya tidak akan berani, aku hanya merasa ini mimpi, bisa sedekat ini dengan laki-laki tampan seperti anda."
Maafkan aku, aku ingin muntah pelangi rasanya.
Dimas membalikkan tubuh Syaren menghadapnya, ia terus mendekati Syaren, sedang Syaren berusaha mundur, namun ia sudah terpojok karena langkahnya mentok dengan meja kerja Dimas yang tepat di belakangnya.
Dimas sangat dekat di depannya.
"Katamu aku tampan? Kenapa kau takut?"
"Aku tidak takut tuan, namun siapa yang tahan dengan pesona tuan." lirih Syaren
Wajah Syaren memerah, antara takut dan malu. Karena wajah Dimas sangat dekat.tepat di depannya. Dimas langsung menenggelamkan wajanya di leher Syaren tanpa permisi.
"Satu minggu lagi kita menikah!" Dimas terus mendalami aksinya, menyusuri leher jenjang itu dengan ciumannya.
Syaren terdiam, dia merasa aneh dengan kegiatan Dimas. "Apa?? Satu minggu?"
"Iya satu minggu, ku harap kau masih sabar, apa kau sudah tak tahan dengan pesonaku?"
Dimas tidak berhenti dari aktivitasnya.
"Bub-bu--bukan- tapi terlalu cepat!"
"Bilang saja kau mau besokkan? Wajahmu mengatakan itu! Tapi kamu harus sabar, karena besok aku akan makan malam di rumahmu."
"Apa? Di rumahku?"
"Kenapa? Apa kau ingin, aku makan malam bersamamu, didalam kamarmu?"
"Bukan ...."
Dimas berhenti sebentar dari kegiatannya, dia mendongakkan wajahnya. "Mahar apa yang kau ingin kan sayang?"
"Aku tak perlu dan aku tak butuh mahar, cukup dengan pengampunan dan belas kasihan tuan saja, lebih dari cukup."
"Benarkah?"
"Aku hanya ingin tuan melepaskan kakak saya, saya akan setia di samping Anda."
Dimas langsung menyerang bibir Syaren
Namun Syaren hanya diam, tak memberi perlawanan, ia membiarkan bibir Dimas bergerilya didalam mulutnya.
"Kau tak bisa berciuman?"
"Maaf tuan, saya tak pernah berciuman."
*J*ujur pada orang gila ini hanya bunuh diri.
Dimas terus menyerbu bibir Syaren. Tidak memperdulikan Syaren.
Mereka hanyut dalam Cumbuan mesra.
tangan Dimas mulai bergerilya di tubuh Syaren, sebelah tangan nya memegang sisi pan*at Syeren,dan sebelah nya me*emas bagian dada Syaren.
Di luar ruangan Joan melihat jamnya, dia segera membuka pintu itu, karena permintaan Dimas sebelumnya.
Ceklakkk!
Pintu terbuka. Joan masuk ruangan itu, melihat pemandangan yang belangsung.
Syaren berusaha menarik diri, dia malu dilihat Joan ia berciuman dengan Dimas, tapi Dimas tidak membiarkan Syaren menghentikan aksinya.
Dimas memberikan isyarat tangan pada Joan, meminta Joan keluar. Joan mengerti, dia langsung keluar.
Nasib pelayan seorang Penggila Wanita ya gini! Tiap kali aku harus melihat Dimas bermain dengan wanita-wanitanya.
Di dalam sana Dimas terus mendalami aksinya. Ia mengangakat tubuh Syaren, hingga Syaren berbaring di Sofa ruang kerja Dimas.
Dimas mulai membuka jas nya, lalu melepas ikat pinggangnya. Melihat Dimas membuka pakaiannya Syaren bangkit dan langsung berdiri.
"Aku tak mau melakukannya sebelum menikah!" Teriak Syaren
"Berani sekali kau berteriak padaku! Joan!! Antar wanita ini pulang!" Teriak Dimas.
Joan yang mendengar teriakan Dimas, dia langsung masuk kedalam ruang kerja Dimas.
Dimas mencengkram rahang Syaren. "Sekali lagi kau berani padaku! Lihat apa yang akan ku perbuat pada kakak-kakakmu!!" bisik Dimas di telinga Syaren.
Di melepaskan Syaren begitu saja, membuat Syaren langsung tersungkur. Syaren berusaha menahan rasa sakitnya. Joan memberikan tangannya, membantu Syaren untuk bangun.
Ya Tuhan, kasihan sekali wanita ini. Tapi aku tidak berdaya menolongnya. Batin Joan.
gampil bingittt