Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.
Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.
Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.
Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamparan
Darma meneguk wine-nya pelan. Nikmat. Ia sangat puas dengan calon menantunya bukan sembarangan dokter. Devan Adiguna Handaru. Jantung. Bedah thoraks. Nama yang selalu di sebut saat ada seminar. Sama seperti dirinya.
Dinasti keluarga dokter akan terus berjalan dalam silsilah keluarga Pratama. Aman.
Di sebelahnya Felicia Pratama, sedang menikmati salad. Dia adalah dokter kecantikan. Meskipun tidak terlalu memuaskan, tapi setidaknya sang putri bergelar dokter.
Klinik kecantikan nya juga ramai. Dan bagi Darma masih kurang. Tidak seganas dokter bedah jantung. Yang menyelamatkan pasien di OK jam 2 pagi. Berat. Tapi selalu menjadi topik hangat seminar.
Tapi ya sudahlah. Setidaknya di depan namanya masih ada gelar 'dr'. Putrinya bukan menjadi pelukis atau pemain musik.Cukup untuk menjaga nama baik.
Kedepannya ada nama dr. Drama Pratama dan dr. Devan Adiguna Handaru. Kedengaran seimbang saat menghadiri acara gala dinner.
"Tentu saja dokter Chandra. Pertunangan harus dipercepat. Agar orang-orang tahu kalau Feli dan Devan punya ikatan. Dan..." Darma melirik putrinya. Tajam . Sepersekian detik. "...tidak ada lagi yang berani mendekati Feli."
Praak...
Bukan piring pecah. Tapi harga diri Felicia yang retak di meja itu.
Feli langsung menoleh. Pipinya merah. Antara malu dan marah. "Papi, Frans itu rekan kerja. Kan Feli udah bilang. Berkali-kali." katanya memelas. Seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen.
Darma tidak berkedip. "Itu menurut kamu." Katanya datar. Tanpa emosi. "Papi tahu mana yang terbaik untuk kamu...dan keluarga kita."
Matanya geser. Tajam. Menusuk ke ujung meja. Ke Devan yang dari tadi cuma jadi patung. Memandangi gelas air putihnya kayak lagi bedah jantung. "Bukan begitu Devan?"
Semua mata melihat Devan. Chandra menunggu jawaban 'Benar, Pak'. Widia nunggu jawaban 'iya, pak'. Felicia? Gadis itu menunggu jawaban yang bisa menyelamatkan harga dirinya.
Devan mengangkat wajahnya pelan. Tidak tergesa. Matanya tidak melihat ke Darma. Tidak Chandra. Tapi ke Felicia. Satu detik. Datar. Tidak ada kasihan. Bukan benci.
Lalu dia angkat gelas air putihnya. Meneguk. Habis. Gelas dia taruh lagi 'ting' . Suara paling jelas sedetik itu.
"Yang terbaik untuk keluarga..." Suaranya rendah. Sopan. Tapi motong udara ruangan. "...adalah kejujuran, pak." Ia meletakan serbet putih di atas piring wagyu yang tidak ia sentuh.
Rapi. Lipatannya sempurna. Kayak lipatan jahitan arteri pasien. "Saya tidak kenal Nona Felicia. Saya tidak kenal bapak..."
Jeda 2 detik. Sunyi. Sudut bibirnya naik sedikit. Bukan senyum. Itu belati. "... bahkan saya tidak begitu mengenal papa saya."
Praak...
Kali ini beneran ada yang pecah. Bukan piring. Tapi 37 tahun skenario 'keluarga sempurna' Chandra Handaru.
Dokter Chandra mengeraskan rahangnya. Urat-urat di pelipis menonjol. Biru. Seperti kabel yang mau putus menahan tekanan. Ruangan hening. Bahkan helaan napas paling halus pun tidak terdengar.
Lalu Devan mengangkat wajahnya. Datar. Matanya mengunci mata dokter Chandra. Bukan tatapan anak ke ayah. Tapi dokter ke dokter. Dingin. Asing. Hanya sekedar formalitas dan profesional.
"Tapi saya kenal dokter Chandra." Ucapnya pelan. Tegas.
"Saya kenal dokter Chandra yang mengajarkan: pasien di atas meja operasi tidak boleh di bohongi. Tidak boleh di tutup-tutupi. Tidak boleh di paksa 'sempurna' kalau dia sekarat." sambungnya tenang. Setiap kata jatuh pas. Seperti jahitan yang dia bikin sendiri. Rapi. Tidak ada ruang untuk debat.
Ia berhenti. Tidak menunggu jawaban. Karena jawaban itu sudah ia berikan: dirinya sendiri.
Di sebelahnya. Soraya tidak bergerak saat Devan bicara. Wajahnya tetap datar. Anggun. Topeng nyonya Handaru masih melekat sempurna.
Jarinya mulai bergerak pelan. Mengangkat gelas wine merah di depannya. Ia meneguk. Panjang. Tanpa beban. Seperti 35 tahun dahaga akhirnya ketetesan air.
Cairan merah itu turun ke tenggorokannya. Dingin. Legit. Rasanya seperti kemenangan pertama setelah ribuan kekalahan.
Dalam hatinya. Soraya bersorak. Tapi luarnya, dia hanya senyum tipis ke arah Chandra. Senyum yang selama 35 tahun ini menghiasi wajahnya.
"Selamat menghadapi senjata ciptaan mu, suamiku" bisiknya dalam hati. "Kamu tempa dia jadi pisau bedah paling tajam. Kamu lupa... Pisau itu bisa berbalik ke tangan yang megang."
Dokter Chandra tidak berkedip. Dunianya seolah berhenti berputar. Matanya beralih melirik sang istri yang minum wine dengan tenang. Bahkan ia bisa melihat senyum tipisnya. Tanpa sadar ia mengeratkan genggamannya di gelas wine.
Gelas wine di tangan Darma sedikit bergetar. Tapi dia tahu. Dinasti dokter vs dinasti dokter. Semua ada harga yang harus di bayar. Kehidupan konglomerat memang tidak seindah potret keluarga di sampul majalah.
.....
Plakkk.....
Satu tamparan keras mendarat di pipi Devan. Mata dokter Chandra melotot tajam. Merah. Seperti mau keluar dari orbitnya. Tangannya terkepal kuat. Urat di punggung tangannya menonjol seperti kabel baja yang mau putus.
Ia tidak bisa lagi menahan emosinya. Topeng 'dokter paling bijaksana se-Indonesia' lepas. Tinggal ayah yang egonya di injak anaknya sendiri.
Setelah keluarga Pratama menghilang di balik pintu VIP dengan wajah pucat. Chandra langsung menampar sang putra. Pipi kiri Devan miring. Lima jari merah menyala nempel di kulitnya.
Jejak tangan ayah. Warisan yang tidak pernah dia minta. Sunyi. 3 detik. Chandra napasnya berat. Dadanya naik turun. "KAMU!" Suaranya tinggi. "KAMU PERMALUKAN PAPA DI DEPAN MEREKA! 35 TAHUN PAPA JAGA NAMA BAIK KELUARGA! DAN KAMU?!" jari telunjuknya mengacung di depan wajah Devan. Gemetar. 1 cm dari hidung. Seperti pisau yang tidak jadi menusuk.
Devan hanya menatapnya datar. Tidak takut. Tidak ada penyesalan. Dingin. Tenang. Seperti melihat pasien yang sedang delirium abis operasi.
Di sebelah Devan, Soraya masih duduk tenang. Seolah melihat senjata pilihannya (suami) dan senjata ciptaannya (anaknya) sedang beradu. Walau ingin, ia tidak bisa bertindak impulsif dalam perdebatan suami dan anaknya.
Devan menyentuh pipinya dengan jari telunjuk. Ia bisa merasakan perih dan panas di bekas tamparan itu.
"Saya tidak pernah mempermalukan anda, dokter Chandra." katanya formal. Kata 'anda' jatuh seperti batu. Dingin. Jaraknya 1000 km. Bukan 'papa' lagi.
Ia menegakkan tubuhnya. Membersihkan jas hitamnya seolah ada debu yang menempel.
"Berapa banyak nyawa yang saya selamatkan?" Suaranya rendah. Tapi tiap kata jatuh seperti palu godam.
"13 tahun, sejak saya koas. Dari pasien kecelakaan di tol Cipali jam 3 pagi. Sampai pasien VIP gagal jantung yang Anda tolak karena risikonya tinggi." Ia berhenti. Tarik napas. Datar.
"Berapa puluh jam saya berdiri di OK?" Tanya retoris. Tidak menunggu jawaban. "72 jam nonstop waktu gempa Cianjur. Saya tidak pulang. Saya tidak tidur. Karena sumpah dokter saya bilang 'nyawa di atas segala-galanya' sumpah itu yang anda katakan!"
Devan tersenyum tipis. Tidak hangat. "Bahkan dini hari saya masih berdiri di OK dengan pasien VIP. Pasien yang keluarganya bilang 'tolong selamatkan, dok. Berapapun biayanya'. Dan saya selamatkan. Tanpa tanya bayaran."
Devan menunjuk pipinya yang masih merah. "Apa ini mempermalukan, dokter Chandra? Menolak jual diri ke Nona Felicia demi jaga etika...apa itu mempermalukan? Menolak bohong ke keluarga pasien, apa itu mempermalukan?"
Hening. Soraya menatap tak percaya putranya. Selama ini, ia pikir jika Devan sejalan suaminya. Putranya itu terlalu menjaga jarak. Dingin dan datar. Tidak pernah memberinya celah untuk masuk dalam kehidupannya.
Setinggi itu Devan membangun dinding tak kasat mata. Tapi sekarang...Soraya melihat dinding itu retak, memberinya celah untuk masuk.
*
*
*
*
*
To be continued