NovelToon NovelToon
Dua Garis Waktu

Dua Garis Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.

Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Kasus Penusukan

Di Kedai Makan

 Sesampainya di sana, mereka disambut suasana yang sederhana namun bersih dan terasa hangat. Segera setelah memesan makanan, pemilik kedai dengan sigap menyiapkan pesanan mereka. Sambil menunggu hidangan datang, Eric tersenyum dan berkata, “Memang tempatnya tidak terlalu besar, tapi percayalah, masakan di sini rasanya sangat enak.”

Di sela-sela menunggu, Eric mulai membuka percakapan dengan nada santai namun penuh perhatian. “Oh, ya, selama ini kita sering bekerja sama, tapi aku belum banyak mengetahui tentang kehidupanmu. Kalau boleh tahu, bagaimana masa kecilmu?” tanyanya dengan sopan.

Anqi terdiam sejenak, lalu menatap ke depan seolah mengenang masa lalu. “Ibuku telah meninggal dunia ketika aku masih kecil, sehingga aku dibesarkan oleh ayahku,” jawabnya pelan. “Ayahku adalah orang yang sangat baik, penyayang, dan selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ayahku memiliki seorang saudara laki-laki, yakni pamanku yang sifatnya sangat jahat dan serakah. Demi harta, ia tega membunuh ayahku.”

Wajah Eric berubah serius mendengar kisah yang begitu menyedihkan itu. “Kalau begitu, apakah pamanmu itu sudah ditangkap dan dihukum?” tanyanya dengan nada khawatir.

Anqi hanya menggelengkan kepalanya perlahan, raut wajahnya menunjukkan kepasrahan yang mendalam. “Belum, dan rasanya hal itu sangat sulit terjadi,” ucapnya. “Pamanku sekarang adalah orang yang memiliki kekuasaan dan pengaruh yang besar. Ia memiliki banyak koneksi dan kekayaan yang membuatnya seolah kebal terhadap hukum. Rasanya mustahil untuk bisa menjatuhkannya.”

Eric menatapnya dengan pandangan tegas dan penuh keyakinan. “Tidak ada manusia yang benar-benar kebal dari hukum, sebesar apa pun kekuasaannya. Kita pasti dapat menemukan jalan agar ia dapat bertanggungjawab atas perbuatannya itu. Katakan saja siapa nama pamanmu, kita akan cari tahu langkah apa yang harus kita lakukan sekarang,” ucapnya meyakinkan.

Anqi tertawa kecil, namun tawanya terasa hampa dan penuh kepahitan. “Terima kasih atas niat baikmu, Eric. Namun sejujurnya, saat ini aku sendiri pun tidak mengetahui di mana ia berada dan apa yang sedang ia lakukan.” jawabnya singkat, lalu kembali terdiam.

Eric hanya mengangguk mengerti, merasa heran sekaligus kagum melihat betapa tenangnya Anqi bercerita tentang peristiwa yang seberat itu. Tak lama kemudian, pemilik kedai datang membawa nampan berisi makanan yang masih panas. “Ini makanannya, silakan dinikmati. Selamat makan ya,” ucap ibu itu dengan ramah sambil meletakkan pesanan di hadapan mereka.

Anqi pun mengucapkan terima kasih, lalu keduanya mulai menyantap hidangan mereka. Di tengah makan, Anqi kembali bertanya, “Apakah wanita yang kita temui di restoran itu sudah datang ke lembaga kita?”

Eric menelan makanannya sejenak, lalu menjawab, “Tadi pagi sebelum aku berangkat kerja, dokter di rumah sakit sudah selesai melakukan visum untuknya. Wanita itu juga sudah memutuskan untuk segera mengajukan gugatan cerai terhadap suaminya. Kau tidak perlu khawatir, saat ini dia dan anaknya sudah aman.”

Mereka pun kembali menyantap makanan dengan tenang. Namun, di tengah suasana yang damai itu, tiba-tiba muncul seorang pria berperawakan besar dengan penampilan yang kasar, seolah-olah seorang preman. Ia berjalan mendekati meja kasir dengan langkah berat, dan ternyata ia adalah suami dari pemilik kedai tersebut.

Tanpa basa-basi, pria itu menatap tajam istrinya dan berkata dengan nada kasar, “Cepat berikan aku uang! Aku butuh uang sekarang juga!”

Istrinya yang terlihat ketakutan segera merogoh saku celemeknya dan menyerahkan sejumlah uang yang ia miliki. Namun, setelah menghitungnya sekilas, pria itu justru mengerutkan kening dan wajahnya memerah menahan amarah. “Cuma segini?” bentaknya keras. Tanpa peringatan, ia mengayunkan tangannya dan menampar wajah wanita itu hingga terhuyung mundur.

Beberapa pembeli yang ada di sana seketika terdiam dan mundur sedikit, merasa takut dan tidak berani campur tangan. Namun, amarah pria itu tidak berhenti begitu saja. Ia terus mendekat dan memukuli istrinya berulang kali hingga wanita itu terjatuh ke lantai dan tubuhnya dipenuhi luka.

Melihat kejadian itu, Anqi segera bangkit dari tempat duduknya dan bersiap menghadang pria itu. Namun, sebelum ia sempat melangkah, tiba-tiba seorang remaja laki-laki, muncul dari arah dapur. Dengan wajah yang memucat namun dipenuhi kemarahan mendalam, ia memegang sebuah pisau dan langsung menusukkannya ke arah ayahnya itu.

Pria itu terkejut dan meringis kesakitan. Remaja itu berteriak sekuat tenaga, “Pergilah kau ke neraka! Kau tidak layak hidup di dunia ini!”

Sambil memegang bagian tubuh yang tertusuk, pria itu mendengus kesal dan mengancam, “Berani sekali kau melukai ayahmu sendiri! Tunggu saja kau akan aku…” Namun, sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, kakinya lemas dan tubuhnya jatuh tergeletak di lantai.

Remaja itu terdiam seketika. Tangannya yang memegang benda tajam itu bergetar hebat, lalu benda itu terlepas dan jatuh ke lantai. Ia mulai menangis tersedu-sedu, sementara ibunya segera bangkit dan memeluknya erat berusaha menenangkan. “Nak… Nak, tenanglah,” ucap ibunya sambil menangis.

“Aku… aku sudah membunuhnya…” gumam anak itu terbata-bata, suaranya bergetar ketakutan.

Salah seorang pembeli yang berada di sana segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi polisi serta meminta bantuan medis. Anqi pun perlahan mendekati mereka dengan langkah hati-hati. Melihat Anqi mendekat, remaja itu justru semakin ketakutan dan memeluk ibunya lebih erat, seolah sedang menghadapi bahaya.

Anqi berbicara dengan nada lembut namun tegas, “Mengapa kau melakukan hal itu?”

Remaja itu tidak mampu menjawab. Ia hanya terduduk lemas di lantai, air matanya terus mengalir, dan tubuhnya gemetar menyesali apa yang baru saja ia perbuat.

Tidak lama kemudian, terdengar suara sirine dari kejauhan yang semakin mendekat, hingga akhirnya mobil polisi dan ambulans tiba di depan kedai. Beberapa petugas medis segera turun dan bergegas mendekati pria yang tergeletak di lantai untuk memberikan pertolongan pertama, memeriksa luka dan menstabilkan kondisinya. Sementara itu, petugas polisi mulai mengamankan tempat kejadian dan mendekati remaja laki-laki tersebut untuk memintanya ikut guna dimintai keterangan.

Melihat anaknya akan dibawa pergi, sang ibu langsung berlutut sambil menangis histeris, memegang lengan salah satu petugas dengan tangan gemetar. “Tolong, Pak! Jangan bawa anak saya! Dia tidak bersalah!” teriaknya memohon dengan suara terisak.

Seorang petugas polisi dengan sikap tegas namun tetap berusaha bersikap tenang menjelaskan, “Ibu, kami mengerti perasaan Ibu, tapi ini prosedur. Kami hanya akan memintai keterangan dan menyelidiki kasusnya.”

Mendengar penjelasan itu, sang ibu semakin menangis tersedu-sedu, namun ia tidak bisa berbuat banyak selain memeluk anaknya untuk terakhir kalinya. Remaja itu membalas pelukan ibunya, lalu melepaskan diri perlahan dan berjalan mengikuti petugas. Sebelum masuk ke dalam mobil polisi, ia menoleh ke arah ibunya dengan tatapan yang tenang dan sedikit tersenyum, seolah berusaha menenangkan hati ibunya. Dengan suara yang lantang namun penuh keteguhan hati, ia berkata, “Bu, biarkan saja. Aku tidak akan pernah membiarkan dia menyakiti Ibu lagi, selamanya.”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, ia menundukkan kepala sedikit, lalu melangkah masuk dan duduk di dalam mobil polisi yang kemudian pergi meninggalkan tempat itu.

Anqi mendekati wanita itu dengan langkah perlahan dan bertanya dengan nada lembut, “Apakah pria ini sering memukulimu?”

Wanita itu mengangguk sambil menangis, air mata terus mengalir membasahi pipi yang masih memar. “Ya… dia sering memukuli saya, hampir setiap hari. Kurasa anak saya sudah lelah melihat semua itu, sampai akhirnya dia memilih melakukan ini.”

Anqi menggenggam erat tangan wanita itu untuk menyemangati. “Jangan khawatir, Bu. Hukum akan bertindak dan suaminya akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Jangan khawatirkan anakmu juga, kami yang akan mengurusnya.”

Wanita itu terkejut dan segera memegang tangan Anqi lebih erat, memohon dengan suara terisak, “Tolong… jangan biarkan anak saya dimasukkan ke penjara. Dia hanya membela saya.”

Anqi kemudian memperkenalkan diri, “Nama saya Yu Anqi, saya dari Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak. Dan ini adalah rekan saya, Eric,” ucapnya sambil menoleh ke arah Eric. “Kami akan membantu semaksimal mungkin agar semuanya berjalan dengan baik. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja.”

Setelah itu, Anqi bergegas pergi bersama Eric menuju kantor polisi untuk mengikuti perkembangan kasus anak tersebut.

1
Putri Shalima
Mohon dukungannya ya teman-teman 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!