NovelToon NovelToon
Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14.

"Aku harus meninggalkan rumah ini," celetuk Laura penuh tekad, seraya membenarkan bajunya.

Laura menundukkan kepala, jemarinya gemetar saat merapikan kancing bajunya yang terlepas, bajunya terlihat basah oleh air mata.

Nafasnya tersengal, dadanya sesak menahan rasa malu dan takut yang membuncah.

Ia melihat sekeliling. "Mumpung kak Luis nggak ada di rumah, aku harus segera kabur," gumamnya lirih sambil melangkah tergesa menuju kamar.

Di sana, ia dengan canggung memasukkan beberapa helai baju ke dalam ransel sekolahnya, sesekali air mata jatuh membasahi kain yang disentuhnya.

Wajah Laura memerah, matanya sembab dan penuh luka batin yang tak terlihat.

Kenangan pahit saat Luis, kakak tirinya, melecehkannya kembali menghantui, membuat tubuhnya kaku dan jiwa kecilnya nyaris runtuh.

Dengan tangan yang masih bergetar, ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas, menekan nomor yang sudah ia hafal di kepala.

Suara dering terdengar, dan saat Nigel mengangkat, suara Laura terdengar serak, penuh harap.

"Kak Nigel, bolehkah aku tinggal di apartemen milikmu? Aku… aku nggak bisa di rumah sekarang."

Di tempat lain, Nigel yang sedang menikmati secangkir kopi bersama client, tiba-tiba tersedak dan mengeluarkan semprotan kecil kopi ke udara.

Hal itu sedikit membuat client terkejut, tapi karena pengaruh Nigel di pasar bisnis begitu besar.

Ia tatap masih saja dihormati.

Sementara Gio asistennya, langsung mengambil tisu dan mengelapnya di jas mahal milik Nigel.

Matanya membelalak, dadanya berdebar kencang. Kebahagiaan dan kekhawatiran bercampur jadi satu. "Laura…," gumamnya penuh perhatian.

Gio sendiri yang mendengar atasannya menyebut nama 'Laura' sontak hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"Gio sekarang kamu belikan apartemen yang paling mewah untuk Laura," ujar Nigel dengan suara yang terdengar bahagia.

Padahal sebelumnya wajah Nigel begitu murung.

Gio pun langsung menyahut, "tuan nona Laura -kan hilang ingatan. Dia terbiasa hidup sederhana dan mandiri, kalau anda pesan apartemen yang mewah. Takutnya nona Laura akan sungkan dan menolak pemberian anda."

Nigel yang mendengar saran dari asistennya, nampak berpikir keras. "Sepertinya ucapan mu itu benar, Laura saja sangat terkejut saat aku mengatakan membelanjakannya 200 juta ke Disneyland. Bahkan dia juga sempat menolak saat aku memberikannya uang satu juta."

Gio hanya menyimak.

Sementara client didepan Nigel hanya duduk santai dan meminum kopi, mengingat proyek kali ini pihaknya yang lebih membutuhkan.

Nigel menambahkan, "sekarang kamu cari apartemen yang sederhana tapi dekat dengan SMA Bintang. Tapi jangan lupa, pesan dua unit yang bersebelahan."

"Rencananya aku juga akan tinggal bersebelahan dengan Laura."

Gio pun mengangguk mengerti.

Lalu tatapan Nigel beralih menatap ke arah Tofan Thea.

Tofan menatap Nigel dengan tatapan kagum, walaupun Nigel itu masih berumur 19 tahun, sekitar seumuran anak perempuannya.

Tapi kekuatan Nigel dalam dunia bisnis sudah sangat besar.

"Aku sudah membaca proposal anda sekilas, sepertinya aku sedikit berminat." Ujar Nigel, suaranya terdengar jauh lebih ramah di bandikan dengan sebelumnya.

Tofan sedikit bernapas lega.

Gio tiba-tiba kembali, dan membisikkan sesuatu pada Nigel.

"Kita langsung saja pada intinya. Aku setuju dengan penawaran yang kamu berikan," ujar Nigel lalu segera menandatangani dokumen yang ada didepannya.

Tofan senang juga menandatanganinya.

Setelah itu Nigel pamit pergi bersama dengan asistennya.

Gio berkata, "Tuan keluarga Thea sangat terkenal tidak jujur dalam dunia bisnis. Apakah anda yakin ingin bekerja sama dengan mereka?"

Nigel menanggapinya dengen senyuman, "proyek ini hanya bernilai sepuluh miliar, anggap saja aku sedang bersedekah karena Laura sudah mulai percaya padaku."

Gio hanya bisa mengangguk pasrah, bahkan ia terlihat menghembuskan napas berkali-kali.

Karena jika terjadi masalah pada proyek ini, sudah pasti dirinyalah yang harus bertanggungjawab dan menyelesaikannya.

Ponsel Nigel berdering, ternyata itu dari Laura yang meminta untuk dijemput.

"Apakah apartemennya sudah siap?" tanya Nigel.

Lagi-lagi Gio hanya bisa mengelus dada, pesan apartemen seperti pesan krupuk.

Belum satu jam harus sudah ready.

Mungkin kalau dia tidak mengenal pemilik apartemen dekat SMA Bintang. Ia akan kesulitan mewujudkan keinginan atasannya itu.

Mengingat apartemen itu selalu penuh di isi oleh anak-anak sekolah.

Sementara ditempat lain, Tofan Thea sedang mengajak putri dan teman-teman putrinya makan di restoran mewah.

"Ayah, makanan disini enak sekali," ujar Sofia Thea putrinya.

Tofan mengangguk, "Proyek ayah langsung disetujui oleh keluarga Ronan, tapi ayah tidak menyangka kalau tuan muda Ronan seumuran denganmu."

Ivy Gunawan langsung menimpali, "Benarkah itu paman?!" Wajahnya terlihat berbinar, dari dulu ia memang ingin menjadi orang kaya sungguhan.

la

Sementara Sofia Thea nampak berpikir, marga Ronan terdengar sangat tidak asing di telinganya.

Tapi setelah sekian lama berpikir, dan tidak menemukan jawabannya, Sofia memilih acuh dan mengabaikan pikirannya.

Lalu ia menoleh ke arah sahabatnya Emma, yang nampak tak berselera makan dan hanya mengaduk aduk makanannya.

"Emma apa yang terjadi padamu?" Tanya Sofia Thea.

Emma hanya menggeleng.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!