NovelToon NovelToon
Alea & Adrian

Alea & Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Pernikahan rahasia
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.

Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.

Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Isyarat di Bawah Meja

Restoran mewah bernuansa gothic-modern itu mendadak terasa seperti sebuah kotak kaca yang kedap udara bagi Adrian Hutama.

Di hadapannya, Bianca masih tertawa kecil menceritakan gosip terbaru dari pekan mode Paris, sementara di sisi lain meja, Julian tampak sibuk dengan telaten mengupas kulit udang besar untuk ditaruh di atas piring porselen Alea.

Suasana yang beberapa detik lalu terasa mulai mencair dan mengalir santai, kini kembali membeku secara drastis di mata Adrian.

Tangan kanannya meremas ponsel pintar di balik saku jas arangnya begitu kuat hingga persendian jemarinya memutih dan bergetar menahan gejolak amarah.

Bagaimana bisa bajingan ini ada di sini? Di dalam ruangan privat ini? batin Adrian geram, giginya gemertak menahan ketegangan yang mendadak memuncak.

Matanya kembali menyapu sekeliling ruangan privat itu dengan gerakan sehalus mungkin agar tidak memicu kecurigaan dua tamu lainnya.

Tirai beludru merah marun yang berat di sudut ruangan, celah sempit di antara pilar-pilar marmer hitam yang kokoh, hingga pantulan lampu gantung kristal pada kaca jendela besar yang menghadap jalanan Valerika, semuanya kini terlihat seperti tempat persembunyian yang potensial.

Seseorang di dalam gedung ini sedang mengawasinya secara langsung.

Seseorang baru saja menekan tombol rana kamera ponsel atau kamera profesional, tepat saat mereka berempat mengira bahwa mereka adalah orang-orang paling aman di kota ini.

Alea Corisand, yang memiliki tingkat kepekaan dan intuisi luar biasa tinggi sebagai seorang pemimpin imperium media digital, langsung menangkap perubahan drastis pada gestur tubuh pria di sebelahnya.

Bahu Adrian tampak meninggi dan menegang, rahang tegasnya mengeras seperti pahatan batu, dan tatapan mata elangnya yang tadi malam terlihat santai kini berubah menjadi setajam belati yang siap menghujam siapa saja.

Alea melirik sekilas ke bawah meja bundar yang tertutup taplak kain menjuntai panjang.

Dia menyadari tangan Adrian yang memegang ponsel di atas lututnya bergetar samar.

Tanpa menarik perhatian Julian yang sedang berbicara atau Bianca yang sedang memotong daging steak-nya, Alea menggeser sedikit posisi duduknya ke arah Adrian.

Secara perlahan, dia menurunkan tangan kirinya ke bawah meja dan menyentuh lengan berotot Adrian, memberikan remasan pelan namun sangat tegas di sana.

Sebuah isyarat bisu untuk menuntut penjelasan.

“Ada apa denganmu?” tanya Alea hanya melalui tatapan matanya saat Adrian menoleh ke arahnya dengan napas yang sedikit memburu.

Adrian menatap sepasang mata jernih Alea selama dua detik, menimbang risiko. Kemudian, dengan gerakan yang super hati-after dan presisi, dia mengaktifkan layar ponselnya di bawah lindungan taplak meja bundar yang tebal, memiringkan layarnya sedikit ke arah diagonal agar hanya bisa dibaca oleh Alea.

Pria itu memperlihatkan pesan foto yang baru saja masuk dari nomor tidak dikenal tersebut.

Manik mata cokelat gelap Alea melebar sesaat untuk sepersekian detik.

Sentuhan tangan kirinya di lengan Adrian sempat mengencang tanpa sengaja sebelum dia berhasil menguasai seluruh emosi dan ekspresi wajahnya kembali dengan sangat sempurna.

Sebagai wanita yang sejak kecil terlatih menghadapi jepretan kamera paparazzi dan menyembunyikan emosi di depan kamera pers korporasi, wajah Alea tetap terlihat tenang, halus, dan sedingin air di permukaan danau.

Meskipun jauh di dalam kepalanya, alarm bahaya bersuara nyaring sedang berdering bertubi-tubi.

Foto itu diambil dari sudut atas diagonal kiri mereka, sebuah analisis kilat memberi tahu Alea bahwa sang fotografer berada di area mezanin atau lantai balkon atas restoran yang biasanya dikosongkan dan dikunci untuk tamu VIP umum.

"Adrian? Alea? Kenapa kalian berdua mendadak diam seperti patung begitu?" suara melengking Bianca memecah ketegangan rahasia yang sedang tercipta di bawah meja.

Bianca meletakkan garpunya, menatap mereka berdua dengan dahi berkerut halus.

Matanya yang jeli sempat turun, memperhatikan posisi duduk Alea dan Adrian yang kini entah sejak kapan menjadi semakin rapat dan intim.

Adrian dengan cepat membalikkan ponselnya menghadap ke bawah, lalu mengangkat wajahnya, memasang senyuman paling natural dan menawan yang bisa dia tunjukkan di depan kekasihnya.

"Oh, tidak apa-apa, Bianca. Maafkan aku. Aku baru saja teringat ada beberapa dokumen logistik penting dan laporan audit internal dari Hutama Industries yang lupa kutandatangani sebelum berangkat ke sini tadi. Sekretaris pribadinya baru saja mengirim pesan pengingat yang cukup mendesak."

"Astaga, Adrian! Kita ini sedang menikmati makan siang santai berempat, bisa tidak kamu melupakan urusan bisnis dan sahammu itu sebentar saja?" keluh Bianca sambil mengerucutkan bibirnya dengan gaya manja yang biasa dia tunjukkan jika sedang menuntut perhatian lebih dari Adrian.

"Maafkan aku, Sayang. Sifat buruk seorang Hutama yang gila kerja, kurasa," jawab Adrian dengan nada ringan yang terdengar sangat meyakinkan, lalu dia mengalihkan pandangannya menatap Julian yang duduk di depan Alea.

"Julian, kurasa inti dari pembicaraan kita berempat mengenai batasan dan aturan main selama enam bulan ke depan tadi sudah cukup jelas bagi kita semua, bukan?"

Julian mengangguk perlahan, menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain putih secara perlahan dan elegan.

"Ya, Adrian. Batasannya sudah sangat klir di mataku. Aku memegang kata-katamu sebagai seorang pria terhormat. Dan tentu saja, aku percaya penuh pada Alea." Pria kurator seni itu kemudian melirik jam tangan kulit klasiknya yang melingkar di pergelangan tangan kiri.

"Kebetulan sekali, aku harus segera kembali ke galeri pusat sekarang. Ada kolektor seni besar dari luar kota yang dijadwalkan datang pukul dua siang ini untuk melihat beberapa koleksi lukisan terbaru."

"Ah, benar! Aku juga harus segera kembali ke butik utama," timpal Bianca, ikut bangkit berdiri dari kursinya bersamaan dengan Julian.

Wanita desainer itu berjalan memutari meja bundar, mendekati Adrian, lalu membungkuk sedikit untuk mengecup pipi kanan Adrian dengan mesra dan posesif di depan mata Alea.

"Hubungi aku nanti malam ya, Adrian Sayang. Jangan terlalu sering lembur dan kelelahan di rumah barumu."

"Pasti, Bianca. Aku akan meneleponmu begitu urusanku selesai," jawab Adrian lembut, mengusap lengan Bianca dengan gerakan menenangkan yang biasa dia lakukan.

Alea ikut bangkit berdiri dari kursinya dengan gerakan anggun yang mengalir alami.

Dia memberikan senyuman perpisahan yang sangat sopan dan hangat kepada Bianca, lalu berbalik memberikan pelukan hangat yang singkat kepada Julian.

"Hati-hati di jalan menuju galeri, Julian. Nanti malam setelah jam makan malam berakhir, aku akan meneleponmu."

"Tentu, Alea. Istirahatlah yang cukup dan jangan terlalu memikirkan pekerjaan," bisik Julian dengan suara lembut yang meneduhkan tepat di dekat telinga Alea, sebelum akhirnya dia melangkah mundur.

Kedua kekasih itu berjalan beriringan keluar dari ruangan privat restoran, meninggalkan "pasangan suami-istri baru" tersebut di dalam ruangan yang mendadak berubah menjadi sangat sunyi dan mencekam.

Begitu pintu kayu jati tebal restoran tertutup rapat dengan bunyi deburan halus dan suara langkah kaki kedua kekasih mereka terdengar menjauh di koridor luar, seluruh topeng ramah serta senyuman palsu di wajah Alea dan Adrian runtuh dalam hitungan detik.

Atmosfer di dalam ruangan langsung berubah drastis menjadi dingin dan penuh kalkulasi taktis.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Alea langsung menyambar ponsel pintar milik Adrian yang tergeletak di atas meja marmer.

Jari-jarinya yang lentik bergerak cepat di atas layar, memperbesar resolusi foto yang dikirim oleh nomor misterius tersebut.

Dia memeriksa setiap detail piksel, pencahayaan, hingga bayangan yang tertangkap di dalam gambar dengan kejelian seorang direktur media digital.

"Sudut pengambilan gambar ini tidak salah lagi, Adrian," ujar Alea, suaranya kini terdengar datar, dingin, dan menusuk. "Ini diambil tepat dari koridor lantai dua yang mengarah ke ruang kontrol utilitas dan lampu restoran. Tempat itu seharusnya disterilkan dan dikunci rapat untuk umum oleh pihak manajemen. Siapa pun bajingan ini, dia memiliki akses yang luar biasa atau kemampuan menyelinap yang sangat terlatih."

Adrian tidak membalas ucapan Alea dengan kata-kata.

Dia langsung melangkah lebar menuju pintu keluar, membukanya sedikit, lalu memanggil pengawal pribadi kepercayaannya yang sejak tadi berjaga di luar ruangan.

"Sandi, dengarkan aku baik-baik," bisik Adrian dengan nada rendah yang sarat akan perintah mutlak.

"Periksa seluruh rekaman CCTV restoran ini dalam kurun waktu tiga puluh menit terakhir tanpa kecuali. Fokuskan penyelidikanmu pada area mezanin atas dan koridor ruang kontrol lampu di lantai dua. Cari siapa pun staf restoran maupun tamu asing yang terlihat memegang kamera profesional atau ponsel dengan posisi tubuh yang mencurigakan. Lakukan sekarang juga dengan senyap, jangan sampai pihak manajemen restoran atau media mencium pergerakanmu."

"Dimengerti, Tuan Adrian. Saya akan segera menyelesaikannya," jawab pengawal berbadan tegap itu dengan patuh sebelum berbalik dan bergegas pergi melaksanakan perintah menuju ruang sekuriti gedung.

Adrian kembali melangkah masuk ke dalam ruangan privat, menutup pintu kayu itu rapat-rapat, lalu bersandar pada tepian meja bundar sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Tatapan mata elangnya yang tajam tertuju lurus pada Alea yang masih sibuk menganalisis pesan teks di ponselnya.

"Ini bukan lagi sekadar gertakan sambal atau teror acak dari orang iseng, Alea," ujar Adrian, nada suaranya terdengar berat, dalam, dan menyimpan kecemasan yang ditahannya dengan keras.

"Orang ini benar-benar mengikuti setiap jengkal langkah kaki kita sejak kita keluar dari The Obsidian. Dia tahu kita pergi ke restoran ini, dia tahu kita memesan ruangan privat nomor empat, dan yang paling mengerikan adalah dia tahu persis status hubungan rumit kita berempat dengan Julian dan Bianca. Jika foto ini sampai bocor ke media gosip Valerika atau jatuh ke tangan para dewan komisaris Hutama Industries dan Corisand Group sebelum bulan pertama pernikahan kita selesai, kita berdua akan tamat. Posisi saham kita akan dihancurkan oleh sentimen negatif publik."

Alea perlahan meletakkan ponsel itu kembali ke atas meja marmer hitam dengan ketukan pelan yang bergaung di ruangan yang sepi.

Dia mendongak, menatap Adrian dengan sepasang mata jernih yang kini tidak lagi memancarkan kegelisahan, melainkan kilatan kemarahan taktis yang dingin.

"Aku tahu risikonya, Adrian. Tapi coba gunakan otak bisnismu untuk membedah logikanya. Jika tujuan utama orang ini adalah untuk menghancurkan reputasi kita atau menjatuhkan harga saham perusahaan kita demi keuntungan short-sell, kenapa dia tidak langsung mengirimkan foto semalam di apartemen atau foto makan siang hari ini ke meja redaksi media massa? Mengapa dia justru repot-repot mengirimkannya langsung ke ponsel pribadimu secara instan?"

Adrian terdiam sejenak, mencerna argumen logis yang dilontarkan oleh wanita di hadapannya.

Kerutan di dahinya perlahan mengendur digantikan oleh pemikiran baru.

"Kamu benar... Dia tidak berniat menghancurkan kita detik ini juga. Dia sengaja menahan kartu as itu di tangannya. Bajingan ini sedang bermain-main dengan kesehatan mental kita."

"Tepat sekali. Ini adalah bentuk pemerasan psikologis yang sangat terencana," sahut Alea dingin sambil berjalan perlahan mendekati dinding kaca besar restoran, menatap arus lalu lintas mobil-mobil mewah di jalanan Kota Valerika di bawah sana.

"Dia ingin kita merasa tidak aman ke mana pun kita melangkah. Dia ingin kita panik, saling mencurigai satu sama lain, atau bahkan mencurigai kesetiaan Julian dan Bianca. Dia ingin kita membuat kesalahan fatal dalam mengambil keputusan karena rasa takut yang berlebihan."

Adrian melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka berdua dan berdiri tepat di samping Alea.

Pria itu ikut melemparkan pandangannya ke luar jendela kaca, menatap hamparan gedung pencakar langit kota yang tampak berkilau di bawah terik matahari siang.

Kedekatan fisik mereka kali ini anehnya tidak lagi memicu kecanggungan atau ketegangan primitif seperti yang terjadi di area dapur apartemen pagi tadi.

Alih-alih merasa risih, ada sebuah rasa solidaritas baru yang tak tertulis di antara mereka.

Di tengah-tengah badai misteri yang mengancam reputasi dan masa depan dinasti bisnis mereka, kehadiran satu sama lain di tempat ini mendadak terasa seperti satu-satunya jangkar pertahanan yang bisa diandalkan dan dipercaya sepenuhnya.

"Jadi, apa langkah taktis kita selanjutnya untuk merespons permainan ini, Nona Corisand?" tanya Adrian, sudut bibirnya sedikit terangkat, menampilkan nada menantang sekaligus rasa percaya yang tulus pada kemampuan berpikir wanita di sebelahnya.

Alea membalikkan seluruh tubuhnya, menatap lurus-lurus ke dalam manik mata elang Adrian yang berkilat tajam.

Jarak di antara tubuh mereka begitu dekat hingga ujung sepatu mahal mereka hampir saling bersentuhan di atas lantai.

"Kita ikuti alur permainannya untuk sementara waktu, Tuan Hutama. Kita buat si pengirim misterius itu mengira bahwa rencana terornya berhasil membuat kita panik dan ketakutan. Tapi di balik layar yang gelap, kita akan melacak pemilik nomor sialan ini, memperketat sistem keamanan biometrik di The Obsidian, dan yang paling krusial dari semuanya..." Alea menjeda kalimatnya sejenak, kilatan tekad dan ambisi yang kuat terpancar jelas dari kedua matanya yang indah.

"...mulai detik ini, baik di depan kamera publik, di hadapan keluarga besar, maupun di dalam rumah apartemen kita sendiri, kita harus berakting sebagai pasangan suami-istri yang paling mesra dan tidak bisa dipisahkan oleh apa pun. Kita harus menutup rapat-rapat semua celah sekecil apa pun yang bisa dia gunakan untuk menyerang atau memecah belah kita."

Adrian menatap wajah Alea yang tampak begitu menawan di bawah siraman cahaya matahari siang yang menembus kaca.

Dia menyunggingkan senyuman tipisnya yang khas, membuat lesung pipinya muncul dengan sempurna di wajah tegasnya.

"Berakting mesra dan romantis selama dua puluh empat jam penuh dengan seorang wanita yang begitu sempurna seperti dirimu? Kurasa itu bukan sebuah tugas yang terlalu buruk atau menyiksa untuk dijalani oleh seorang pebisnis yang adaptif seperti diriku, Alea."

Alea mendengus pelan, berusaha sekuat tenaga mengabaikan getaran aneh dan debaran samar yang kembali mengetuk dinding dadanya saat mendengar untaian kalimat setengah menggoda dari pria itu.

Dia memalingkan wajahnya sedikit ke arah pintu keluar.

"Ingat, Adrian. Ini semua murni urusan bisnis dan kelangsungan saham korporasi kita. Jangan pernah sekali-kali melibatkan perasaan pribadimu di dalam pernikahan kontrak ini."

"Tentu saja, itu adalah aturan dasarnya," kekeh Adrian pelan, meskipun jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia mulai menyadari sesuatu yang berbahaya.

Batasan tegas dan garis jarak yang mereka buat tadi pagi di atas lantai marmer hitam The Obsidian perlahan-lahan mulai retak dan terkikis oleh situasi darurat ini.

Permainan misteri dari musuh tak berwajah ini baru saja memaksa dua orang asing yang egois ini untuk saling menggenggam tangan jauh lebih erat dan lebih lama dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya di atas lembaran kertas kontrak putih.

Badai yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan mereka tidak punya pilihan selain menghadapinya bersama-sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!