NovelToon NovelToon
Cahaya Di Jalan Terjauh

Cahaya Di Jalan Terjauh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Penyelamat
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.

Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.

Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Obrolan di Bawah Senja

Hening masih menyelimuti mereka berdua selama beberapa menit. Dika hanya diam, sesekali melirik sekilas ke arah Kirana yang masih menatap permukaan air kolam. Di sana, ikan-ikan kecil berenang pelan, sesekali melompat kecil memecah keheningan. Ia tidak berani memulai pembicaraan lebih dulu, takut dikira lancang atau mengganggu ketenangan gadis itu.

Tiba-tiba, Kirana menghela napas panjang. Suaranya pelan, hampir tidak terdengar jika angin berhembus lebih kencang.

“Kamu pasti merasa aneh, ya?”

Dika menoleh, agak terkejut mendengar gadis itu membuka suara duluan. “Aneh bagaimana, Non?”

Kirana menoleh sedikit, matanya menatap lurus ke depan, ke arah pohon-pohon besar di ujung taman. “Hidup di sini. Rumah besar, semua serba ada, tidak perlu memikirkan uang untuk makan atau obat, tapi rasanya... kosong. Seperti tinggal di dalam kotak kaca yang indah, bersih, dan orang lain iri melihatnya, tapi aku tidak bisa keluar sesuka hati.”

Dika terdiam sejenak. Ia tidak langsung paham sepenuhnya apa yang dirasakan Kirana, tapi ia bisa menangkap kesedihan yang tersembunyi dalam nada bicaranya. “Kalau menurut saya... setiap tempat pasti punya sisi yang tidak terlihat dari luar. Tempat saya tinggal sempit, panas, debu di mana-mana, air kadang susah dapatnya. Tapi setidaknya tetangga bisa sapa-sapaan, tertawa lepas, berbagi makanan kalau ada yang lebih, tanpa harus takut salah bicara atau dinilai.”

Kirana menoleh penuh kali ini, matanya menatap Dika dengan pandangan yang sedikit berubah, tidak sedingin tadi. “Benarkah begitu? Kamu tidak merasa tertekan hidup serba kekurangan? Tidak pernah merasa iri melihat orang yang punya segalanya?”

“Tentu saja ada susahnya,” jawab Dika jujur. “Sering bingung cari uang belanja, takut kalau sakit tidak bisa berobat seperti ibu saya. Saya pun sering berharap bisa sekolah di tempat yang lebih bagus, punya buku lebih banyak. Tapi ya begitulah. Kami bersyukur masih bisa makan dua kali sehari, tidur dengan aman, dan punya orang yang saling menjaga. Kekurangan itu justru membuat kami belajar berbagi dan bersyukur atas hal-hal kecil.”

Kirana terdiam lama, seolah memikirkan kata-kata Dika. Jari-jarinya memainkan ujung gaunnya yang halus. “Di sini... semuanya sudah diatur sejak saya kecil. Saya harus sekolah di tempat mahal yang dianggap bergengsi, harus berpakaian begini, harus berteman dengan anak orang kaya, bahkan nanti harus menikah dengan orang yang disetujui ibu demi memajukan usaha keluarga. Saya tidak tahu rasanya memilih apa yang saya inginkan sendiri.”

Dika mengangguk pelan. Ia mulai mengerti mengapa gadis ini sering terlihat dingin dan menjauh. Ia bukan orang yang sombong, melainkan orang yang terpenjara oleh aturan dan harapan orang lain. “Setiap orang punya beban masing-masing ya. Beban saya mungkin butuh uang dan fasilitas, beban Anda mungkin butuh kebebasan dan bisa menjadi diri sendiri.”

Kirana tersenyum tipis, senyum pertama yang terlihat jelas di wajahnya sejak Dika bertemu dengannya. Senyum itu tipis, tapi membuat wajahnya terlihat lebih hidup. “Bicaramu aneh. Tidak seperti orang lain yang selalu memuji atau memohon bantuan. Tapi ada benarnya juga. Orang di luar mungkin mengira saya hidup paling bahagia, punya segalanya, padahal diam-diam saya iri melihatmu bisa berjalan bebas di jalanan, berbicara dengan siapa saja tanpa memikirkan apakah nama keluarga akan ternoda atau tidak.”

“Bukan begitu juga, Non,” sambung Dika dengan nada sopan. “Saya pun harus menjaga sikap dan bicara. Hanya saja aturannya tidak seketat di sini. Di sana, kalau kita jujur dan baik hati, orang akan menghargai kita. Di sini rasanya orang lebih banyak menilai dari seberapa bagus bajunya, seberapa harum wanginya, dan seberapa banyak uang yang dimiliki.”

Pembicaraan mereka terhenti sesaat saat suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat dari arah teras rumah. Keduanya menoleh bersamaan, melihat seorang pria paruh baya berpakaian rapi, kemeja lengan panjang yang disisir rapi, berjalan menghampiri. Wajahnya tampak ramah dengan senyum yang lebar, tapi sorot matanya mengamati Dika dari atas sampai bawah dengan tajam.

“Wah, rupanya sudah ada teman bicara ya, Kirana,” sapa pria itu, suaranya terdengar ramah namun ada nada yang sulit dijelaskan.

Kirana berdiri perlahan, nadanya sedikit berubah menjadi sopan namun dingin dan berjarak. “Paman Arga. Baru pulang dari kantor?”

“Baru saja sampai. Ada rapat yang agak lama. Ngobrol apa kalian di sini?” tanya Paman Arga, lalu pandangannya beralih penuh ke arah Dika. “Siapa ini? Belum pernah saya lihat sebelumnya.”

“Ini Dika. Dia anak mantan pembantu Ibu, Siti. Sekarang dia membantu pekerjaan di rumah dan menemani saya seperti permintaan Ibu,” jawab Kirana singkat dan jelas.

Dika segera berdiri dan menunduk sopan. “Selamat sore, Pak. Saya Dika.”

Paman Arga tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. Ia melangkah mendekat sedikit, lalu menepuk bahu Dika dengan ringan, tapi tekanannya terasa tidak bersahabat. “Oh, jadi anak Siti. Sudah lama ya ibumu bekerja di sini, sebelum sakit. Semoga kau bisa bekerja dengan baik, jaga sikap, dan tidak menyusahkan Nyonya. Ingat, tempat ini bukan sembarang tempat.”

Nada bicaranya terdengar sopan, tapi ada sindiran halus dan peringatan yang jelas bisa dirasakan Dika. Ia menelan ludah sejenak, lalu menjawab tenang, “Siap, Pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin, jujur dan bertanggung jawab.”

“Baguslah. Nah, Kirana, ibumu mencari kamu di dalam. Katanya ada surat resmi dari sekolah dan juga tamu sebentar lagi akan datang. Sebaiknya kamu bersiap-siap,” kata Paman Arga, matanya masih menatap Dika sekilas sebelum kembali menatap keponakannya.

Kirana mengangguk, lalu melirik sekilas ke arah Dika dengan pandangan yang sulit dibaca—seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa. “Saya masuk dulu. Terima kasih sudah menemani sebentar.” Ia berbalik berjalan masuk, diikuti langkah Paman Arga yang sempat menoleh sekali lagi ke arah Dika sebelum akhirnya menghilang di balik pintu utama.

Dika duduk kembali di bangku itu, menghela napas panjang yang tertahan. Sejak awal ia melihat pria itu, ia sudah merasa ada yang tidak beres. Tatapannya terlalu tajam, senyumnya terlalu dipaksakan, dan nada bicaranya seolah meremehkan. Ia merasa ada rasa curiga dan ketidaksukaan yang jelas ditujukan kepadanya.

Tapi ia berusaha menepis perasaan itu. Ia ada di sini bukan untuk mencari musuh atau masalah, melainkan demi kesembuhan ibunya. Selama ia bersikap jujur, bekerja keras, dan tidak melanggar aturan, ia yakin tidak akan ada masalah yang berarti.

Angin sore berhembus sedikit lebih kencang, menerbangkan beberapa daun kering dari pohon beringin tua di tengah taman. Matahari sudah hampir terbenam sepenuhnya di ufuk barat, meninggalkan langit yang berwarna jingga keunguan yang perlahan memudar menjadi gelap. Lampu taman mulai menyala otomatis, menerangi jalan setapak dengan cahaya kuning yang lembut.

Dika berdiri perlahan, merapikan bajunya yang sedikit kusut. Obrolan singkat tadi membuatnya sedikit lebih paham dengan gadis dingin itu. Di balik kemewahan, pakaian bagus, dan sikapnya yang tertutup, ternyata Kirana juga punya kesepian dan beban yang tidak kalah beratnya.

Ia berjalan perlahan menuju kamar di sayap timur, langkahnya tenang meski pikirannya masih memutar kejadian tadi. Ia berjanji dalam hati akan tetap bersikap apa adanya. Ia tidak akan tergoda dengan gemerlap kemewahan di sekitarnya, tidak akan melupakan siapa dirinya dan dari mana asalnya, serta akan selalu berpegang pada pesan ibunya: kejujuran adalah harta yang paling berharga.

Sesampainya di kamar, ia duduk di tepi tempat tidur, lalu mengeluarkan buku catatan lusuh pemberian ibunya dari dalam tas. Ia membuka halaman kosong, mengambil pulpen, lalu mulai menulis pelan: "Di sini indah, tenang, tapi terasa dingin. Banyak hal yang berbeda, dan tidak semua orang menyukai kehadiran orang asing seperti saya. Tapi saya harus kuat. Demi Ibu, dan demi menjaga janji pada diri sendiri."

Setelah selesai menulis, ia menutup buku itu rapi, meletakkannya di bawah bantal. Malam itu, di tempat tidur yang empuk tapi asing baginya, Dika berdoa semoga ibunya cepat sembuh, dan semoga ia bisa menjalani hari-hari ke depan dengan selamat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!