Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Cindy memberanikan diri untuk datang ke ruangan kakaknya.
Joshua sibuk dengan berkas di hadapannya. Tiada hari tanpa urusan kantor. Di rumah pun, ia masih dihadapkan dengan berkas-berkas perusahaan nya.
Ketukan pintu yang terdengar pelan, membuat ia menghentikan aktivitas nya.
"Apa Arya lupa mengirim jadwal pada Dian. Kenapa pagi ini, dia belum muncul?"
"Masuk saja! Pintunya tidak di kunci."
Cindy memegang gagang pintunya, dan membuka perlahan.
"Permisi kak." Suara Cindy terdengar kecil dan bergetar. Mungkin ia masih merasa gugup.
"Ada apa Cindy? Ingin mengatakan sesuatu?"
Cindy mengangguk perlahan, menjawab tebakan Joshua.
"Katakanlah!"
"Aku ingin meminta maaf karena mengganggu kakak. Tapi kali ini ada hal penting yang harus aku sampaikan."
"Iya?"
"Aku sudah tidak memerlukan bantuan kak Dian lagi. Dia tidak akan mengantarku ke tempat lukis lagi. Aku sudah ditemani sama pak Andi."
"Lalu?"
"Jadi, aku ingin kakak berhenti menekannya. Aku sudah menyuruhnya untuk tidak perlu datang, dan bekerja di kantor kakak lagi. Apakah itu tidak masalah?"
Pantasan dia tidak datang. Ternyata adikku membebaskan dia dari tugasnya. Apa mungkin, dia sengaja tidak kesini, karena adikku akan kemari. Ternyata dia berniat kabur dari tanggung jawabnya.
Dan mungkin saja, dia tidak membaca jadwal yang dikirim pak Arya.
"Sebenarnya tidak masalah. Tapi dik, kakak lakuin itu, karena kakak punya tujuan lain. Kakak ingin lebih dekat dengan kakak ipar mu. Tapi jika kamu mengatakan demikian, berarti kamu tidak ingin melihat kami bersama."
"Apa? Tidak kak, bukan itu maksudku." Cindy merasa bersalah. Ternyata dia keliru dan salah paham pada kakaknya. Dia kira, kakaknya ingin menyiksa mbak Dian. Namun ternyata semua itu, cuman taktik, agar dia lebih dekat dengan mbak Dian.
"Aku tidak tahu kak, kalau kakak berencana ingin lebih akrab pada mbak Dian." Cindy tertunduk dengan wajah yang memelas.
"Sudahlah tidak masalah. Biarkan aku yang mengatur mulai sekarang. Tapi kamu tidak perlu memberitahu nya tentang hal ini. Dan jika ada saat dia meminta mu, untuk memanggilnya menemanimu kembali, kakak harap kamu menolaknya."
Cindy hanya mengangguk dan setuju dengan semua perkataan kakaknya. Ia pamit pergi setelah selesai menyampaikan pesannya.
Joshua terkekeh melihat pesan yang dikirimnya pada Dian tidak dibaca.
"Gadis ini, benar-benar...."
"Arya!" Joshua memanggil Arya, dan pria itu membuka pintu dengan cepat dan masuk ke dalam.
"Apa kamu sudah mengirim jadwalnya semalam pada Dian?"
"Sudah tuan. Tapi seperti nya belum dibaca."
"Bukannya belum dibaca, wanita itu sepertinya sengaja tidak baca. Atau mungkin nomor kita di blokir nya."
"Bukankah dia sudah setuju bekerja jadi asisten anda? Lalu kenapa sekarang?"
"Cindy meminta nya untuk tidak perlu ditemani lagi. Jadi sepertinya dia merasa telah bebas.
Bebas, tidak semudah itu."
Joshua berdiri dari tempatnya.
"Ayo kita berangkat, menjemput ratu kita."
. .......
Dian berjalan ke arah kamar mandi dengan malas. Hari ini ia lumayan kesiangan. Tapi ia tidak mempermasalahkan nya. Tidak ada yang bisa melarang nya, untuk tetap tidur. Di depan cermin, Dian bisa melihat bagaimana kondisi matanya yang sedikit bengkak. Ia teringat pada kejadian kemarin malam. Emil mengizinkannya menangis di bahu pria itu. Tidak ada cerita atau curhatan apapun, Dian hanya perlu menangis. Meluapkan segala emosinya, yang selama ini ia pendam sendiri.
"Mataku jadi jelek. Orang-orang pun akan tahu kalau aku habis menangis. Kalau begitu, lebih baik mengurung diri saja hari ini." Dian mulai membilas mukanya. Berulang kali ia membasuh wajahnya dengan air.
Ding Dong...
"Dian, keluar kamu!" Dian mendengar seseorang seperti memanggilnya. Dari suaranya, Dian tahu itu siapa. Ia berlangkah malas ke arah pintu.
Siapa lagi kalau bukan Pak Edo. Pria itu menatap Dian dengan kesal saat tahu Dian belum bersiap.
"Kau belum siap? Pak Joshua sudah menunggu mu di bawah."
Mendengar nama pria itu membuat nya menjadi kesal.
"Kenapa dia kemari? Aku kan sudah tidak punya urusan dengan nya."
"Kau. Aku sudah peringatkan untuk tidak membuat masalah. Dia meminta mu bekerja padanya, dan kau pun setuju. Lalu kenapa sekarang kau malah mengatakan hal lain."
"Aku tidak pernah setuju. Kalian yang memaksaku dengan segala macam ancaman."
Plakkk. Tamparan keras yang membuat Dian tersungkur ke lantai. Itu bukan kali pertama, tapi itu adalah yang terkuat ia terima. Dian berdiri menatap keras ke arahnya, dengan sudut bibir yang terluka. Pak Edo tidak peduli. Yang ia pedulikan, hanya Dian yang menurut.
"Jika kau tidak turun, dan mengikutinya. Maka, bukan informasi tentang dimana tempat tinggal adikmu yang akan kuberikan. Tapi, dimana adikmu di makamkan."
Ancaman pak Edo terdengar tidak main-main. Ia begitu serius mengatakan nya.
"Turunlah dan bersiap-siap. Jika dalam lima menit kamu tidak kunjung turun. Maka artinya, kamu memang ingin mendengar berita duka dari adikmu."
Pak Edo membanting pintu dengan keras. Meninggalkan Dian yang masih berdiri mematung.
Dian mengepalkan tangannya dengan erat. Mungkin ini jalan satu-satunya. Ia harus segera menerima tawaran menikah itu. Karena itu satu-satunya jalan agar ia tahu dimana adiknya berada.
Dian berjalan mendekat ke arah lemarinya. Ia menyiapkan dirinya dengan cepat. Beberapa sentuhan make up, untuk menutup bekas tamparan di pipinya yang sakitnya masih terasa. Tapi bagi Dian, itu bukan apa-apa. Ia masih bisa menahannya, jika ia tak mampu menahannya, mungkin saat ini ia sudah menangis.
Joshua begitu menikmati perbincangan dengan pak Edo, meskipun dalam hatinya menaruh kebencian yang begitu besar. Ia tahu bagaimana caranya memainkan trik di depan musuh besarnya. Duduk dan menunggu di rumah orang yang telah membunuh kedua orangtuanya, adalah hal yang memuakkan, serta bisa memancing emosinya kapan saja.
"Dian datang." Kata bu Sela dengan suara yang sengaja dilembut-lembutkan.
"Sepertinya itu karena dia kelelahan, makanya telat bangun. Nak Joshua sampai repot menjemputnya seperti ini."
Dian berjalan keluar, tanpa melihat ke arah siapapun.
"Dian, tunggulah nak Joshua."
"Kalau begitu kami berangkat. Permisi, om, Tante."
Joshua bingung melihat Dian yang berjalan dengan tidak peduli, tanpa mengucapkan selamat tinggal pada kedua orang tuanya.
Ada apa dengan wanita ini.
"Dian, kunci mobilmu papa sita. Jadi kamu berangkat bersama dengan pak Joshua saja."
Teriak pak Edo yang ikut keluar mengantar mereka.
"Maaf ya nak Joshua, merepotkan anda. Kami hanya khawatir. Dian jika membawa mobil, selalu saja kebablasan. Kami takut dia kenapa-napa."
Heh, manusia bermuka dua. Sekarang memakai topengnya lagi. Sok manis. Dian hampir mual melihat cara bicara ibu angkatnya yang sengaja dilembut-lembutkan.
"Oh tidak masalah pak Edo. Karena dia adalah asisten saya, dan saya memerlukan dia setiap saat, mungkin saya akan menyewa sopir pribadi untuk menjemputnya."
"Saya sangat setuju dengan perkataan nak Joshua."
Dian tidak peduli dengan obrolan yang menyesakkan telinganya. Ia sudah naik lebih dulu ke dalam mobil, tidak menghiraukan dua orang yang masih berbicara.
"Kami berangkat dulu pak."
"Iya, titip Dian."