Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.
Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.
Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.
Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.
Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran
"Bahwa jawaban yang kalian cari selama ini sebenarnya sudah berdiri di tengah ruangan bersama kalian," ujar Gavin sambil menatap lurus ke arah Bintang.
Suasana langsung membeku karena tidak ada seorang pun yang salah memahami maksud kalimat tersebut, tatapan semua orang perlahan beralih ke arah Bintang sedangkan pria itu hanya berdiri diam sambil menggenggam kedua tangannya. Hujan masih terdengar menghantam jendela rumah persembunyian, tetapi suara itu terasa jauh dibandingkan tekanan yang memenuhi ruangan.
"Jangan mulai lagi dengan permainanmu," ujar Bintang sambil menyipitkan mata.
"Aku tidak bermain." Gavin mengangkat bahu santai. "Aku hanya mengatakan apa yang selama ini tidak berani dikatakan oleh mereka."
"Kau terlalu banyak bicara," geram Septian sambil melangkah maju.
"Dan kau terlalu lama diam." Gavin membalas tatapannya tanpa sedikit pun terlihat takut.
Septian hendak mengatakan sesuatu, tetapi Viktor lebih dulu mengangkat tangan.
"Cukup," ujar Viktor sambil mengembuskan napas panjang. "Kita tidak akan mendapatkan apa pun kalau terus seperti ini."
"Aku justru ingin mendapatkan sesuatu." Bintang menatap Viktor tajam. "Aku ingin kebenaran.
"Kalau begitu dengarkan baik-baik," ujar Leonard sambil menyandarkan tubuhnya ke meja.
Wajah pria tua itu terlihat jauh lebih serius dibanding biasanya karena ia sadar tidak mungkin lagi menyembunyikan semuanya.
"Dua puluh lima tahun lalu terjadi perebutan yang membuat banyak orang mati. Bukan karena uang, bukan karena kekuasaan, tetapi karena tiga anak," lanjut Leonard.
"Tiga anak itu kami?" tanya Rania sambil mengernyit.
"Ya." Leonard mengangguk pelan.
"Kenapa?" tanya Raka sambil melangkah maju.
"Karena sejak lahir kalian sudah menjadi target."
Kalimat itu membuat Rania langsung mengepalkan tangannya, sedangkan Bintang hanya memandang Leonard tanpa berkedip.
"Itu masih belum menjelaskan apa pun," ujar Bintang sambil menggeleng pelan.
Leonard mengembuskan napas panjang sebelum kembali berbicara.
"Ayah kalian adalah salah satu orang paling berpengaruh dalam organisasi itu."
"Adrian Mahardika?" tanya Arsen sambil mengangkat alis.
"Bukan." Leonard menggeleng pelan.
Ruangan langsung kembali sunyi.
"Bukan?" ulang Damar sambil mengernyit.
"Adrian hanya sahabatnya." Leonard menatap layar yang kini sudah gelap. "Pria yang sebenarnya adalah seseorang yang tidak pernah ditemukan setelah malam kebakaran."
Rania merasakan jantungnya berdegup semakin cepat, setiap jawaban yang muncul selalu membawa mereka ke misteri baru namun kali ini ia bisa merasakan bahwa mereka semakin dekat dengan inti semuanya.
"Siapa namanya?" tanya Rania sambil menatap Leonard.
Leonard terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab.
"Mahesa."
Nama itu terdengar asing bagi hampir semua orang di ruangan tersebut.
"Kau bercanda?" tanya Rangga sambil mengangkat alis.
"Aku berharap begitu." Leonard menggeleng pelan.
"Kalau dia ayah kami, kenapa tidak ada yang pernah menyebut namanya?" tanya Raka sambil menyilangkan tangan.
"Karena semua orang yang mengenalnya diburu." jawab Septian sambil menatap lantai. "Dan sebagian besar dari mereka mati."
Ruangan kembali hening.
Bintang berjalan menuju jendela sambil mencoba menyusun semua informasi yang terus datang bertubi-tubi, kepalanya terasa penuh, nama baru, wajah baru, rahasia baru.
"Aku mulai mengerti kenapa Ezra terlihat begitu menikmati semua ini," ujarnya sambil tertawa hambar.
"Karena dia selalu menikmati kekacauan." jawab Gavin sambil mengangguk.
"Kau mengenalnya cukup baik." Bintang menoleh tajam.
"Cukup untuk membencinya."
"Tunggu." Arsen tiba-tiba mengangkat tangan. "Ada sesuatu yang tidak masuk akal."
"Apa?" tanya Viktor sambil menoleh.
"Kalau kami bertiga memang anak-anak yang dicari sejak dulu, kenapa baru sekarang semua pihak mulai bergerak?" tanya Arsen sambil mengernyit.
Pertanyaan itu membuat beberapa orang saling berpandangan.
"Karena sebelumnya kalian tidak berkumpul." jawab Gavin pelan.
"Apa hubungannya?" tanya Rania.
"Hubungannya sangat besar." Gavin berjalan mendekati layar monitor. "Selama dua puluh lima tahun, kalian tersebar. Tidak ada yang tahu lokasi lengkap ketiga anak itu."
"Lalu?" tanya Bintang.
"Lalu seseorang mulai menemukan jejaknya."
"Ezra?" tanya Damar.
"Bukan." Gavin menggeleng pelan.
Semua orang langsung menoleh.
"Bukan Ezra?" ulang Septian sambil menyipitkan mata.
"Ezra hanya pemain." Gavin tersenyum tipis. "Orang yang sebenarnya berada jauh di atasnya."
Kalimat itu membuat suasana kembali menegang.
Suara ketukan tiba-tiba terdengar dari pintu ruang pemantauan, salah satu penjaga masuk sambil membawa sebuah laptop.
"Tuan Viktor, kami berhasil memulihkan sebagian video yang terputus tadi," lapornya sambil meletakkan laptop di atas meja.
"Putar sekarang," ujar Viktor sambil mendekat.
Semua orang segera berkumpul di depan layar.
Video kembali berjalan beberapa detik sebelum terputus, wajah Adrian Mahardika muncul lagi kali ini lebih dekat dan lebih jelas dibanding sebelumnya.
"Kalau kalian sedang melihat bagian ini," ujar Adrian sambil menatap kamera, "berarti seseorang mencoba menghentikan pesan yang ingin kusampaikan."
Ruangan langsung sunyi.
"Ternyata benar." gumam Leonard sambil menyilangkan tangan.
"Kebenaran selalu membuat seseorang panik." Gavin tersenyum tipis.
"Orang yang paling berbahaya bukanlah Ezra." Adrian kembali berbicara dalam video itu.
Semua orang langsung memperhatikan lebih saksama.
"Dan bukan pula organisasi yang selama ini kalian takuti." Jantung Rania berdegup semakin cepat.
"Kalau begitu siapa?" gumamnya pelan.
"Orang yang paling berbahaya adalah seseorang yang selama ini berada sangat dekat dengan kalian." Adrian dalam video itu seolah mendengar pertanyaannya.
Ruangan langsung dipenuhi tatapan curiga, Viktor menoleh ke arah Leonard dan Leonard menoleh ke arah Septian sedangkan Damar terlihat semakin tegang.
"Aku mulai tidak menyukai arah pembicaraan ini," ujar Rangga sambil mengusap tengkuknya.
"Aku sudah tidak menyukainya sejak tiga bab lalu." balas Bintang sambil mendengus pelan.
Meski situasinya tegang, beberapa orang hampir tertawa mendengar ucapan itu.
Video terus berjalan.
"Orang itu telah menyembunyikan sesuatu selama dua puluh lima tahun." Adrian berhenti sesaat sebelum melanjutkan. "Dan orang itu tahu persis siapa anak ketiga sebenarnya."
Jantung Bintang terasa seperti dipukul, Rania langsung menoleh ke arah Viktor sedangkan Raka tanpa sadar mengepalkan tangannya.
"Siapa?" tanya Rania sambil menatap layar.
Video kembali terganggu beberapa detik, gambar bergetar, suara berdesis, namun kali ini tidak terputus. Kemudian Adrian mengangkat sebuah foto, foto yang sama, foto tiga bayi.
"Aku tidak punya banyak waktu." Adrian menatap kamera dengan serius. "Karena itu dengarkan baik-baik."
Tidak ada seorang pun yang bergerak, tidak ada seorang pun yang berbicara karena semua perhatian tertuju pada layar.
"Anak ketiga..." lanjut Adrian sambil menarik napas panjang.
Tiba-tiba lampu di seluruh rumah padam, ruangan langsung gelap gulita.
"Apa yang terjadi?" tanya Rania sambil menahan napas.
"Listrik mati!" seru salah satu penjaga dari luar.
"Itu bukan kebetulan." ujar Septian sambil mencabut pistolnya.
Beberapa detik kemudian alarm darurat berbunyi di seluruh rumah.
Wiuuuuu
Wiuuuuu
Wiuuuuu
"Tuan Viktor!" teriak seorang penjaga dari luar ruangan. "Perimeter timur ditembus!"
"Berapa orang?" tanya Viktor sambil berjalan cepat ke arah pintu.
"Belasan!"
"Sial!" umpat Leonard sambil mengambil senjatanya.
"Kita diserang lagi?" tanya Rangga sambil menggeleng tidak percaya.
"Sepertinya seseorang benar-benar tidak ingin kita mendengar sisa video itu." jawab Bintang sambil mengepalkan tangannya.
Suara tembakan mulai terdengar dari luar rumah.
Dor
Dor
Dor
Dan saat semua orang bersiap menghadapi serangan, tidak ada yang menyadari bahwa Gavin yang sejak tadi berdiri di dekat pintu perlahan tersenyum. Senyum yang terlalu tenang untuk seseorang yang berada di tengah kekacauan.