"Aku tampan dan memiliki banyak harta. Semua wanita akan sangat tertarik pada pria seperti ku. Sebaiknya kamu jangan terlalu curiga dan mengekang ku Adara. Cukup jadi wanita penurut dan tak banyak menuntut!" Ucap Arkan dengan penuh kesombongan. Ia yang tak terima dengan pertanyaan dari sang istri yang meminta kejelasan hubungannya bersama sang sekretaris sekaligus sepupu yang dulu merupakan mantan kekasihnya,mencoba berdalih agar wanita itu diam dan tak lagi bertanya. Namun satu hal yang tak ia sadari,bahwa perkataan nya itu justru menjadi sebuah motivasi bagi Adara untuk kembali bangkit menjadi wanita yang cerdas serta kembali terjun ke dunia bisnis. Adara diam-diam menyusun rencana untuk membalas dendam pada Arkan sang suami yang selama ini selalu mempermainkannya.
Karya ini sangat menarik,bagi readers yang menginginkan hiburan yang tak membosankan,silahkan simak cerita ini hingga selesai. Terima kasih and happy reading 🤗🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinly Secret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 Pesan Ayah Mertua
"Karena kamu sudah membuat para investor sangat tertarik dengan produk yang akan kita luncurkan nanti,otomatis perusahaan Luxury akan mendapatkan banyak keuntungan. Dan semua itu berkat kerja keras kamu. Meskipun masih terbilang baru,aku tetap memberikan bonus sebagai bentuk apresiasi. Dan aku harap,kamu harus tetap bekerja dengan baik dan terus memberikan ide-ide yang segar." Ucap Devan penuh wibawa ketika Adara telah berada ditangannya setelah diantar oleh Jordi.
"Terima kasih Pak. Saya akan selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik." Jawab Adara sambil tersenyum haru. Sungguh sebuah kejutan baginya karena ternyata sang pemilik perusahaan berbicara langsung dengannya dan memberikan dukungan padanya.
"Sama-sama Adara. Jika kamu tak keberatan dan sedang tak terburu-buru,Aku dan Jordi mengajak mu makan siang." Tawar Devan sambil melirik asistennya.
"Terima kasih Pak,kebetulan saya hari ini tak memiliki acara apapun."
"Baik. Jordi,ayok kita berangkat. Ke restoran biasa." Perintah Devan dan langsung dijawab oleh Jordi.
"Siap Pak."
Dan mereka bertiga pun melangkah keluar dari ruangan menuju pintu keluar dengan niat untuk makan siang.
Devan sangat terkesan akan pembawaan Adara yang sederhana. Dalam hati dirinya membenarkan bahwa apa yang dikatakan oleh Jordi benar. Adara sangat berbeda dari wanita yang pernah ia kenal. Meskipun baru sekali berbincang lebih dekat,Devan sudah bisa menebak wanita seperti Adara sangat mandiri dan tak munafik. Semuanya terlihat dari cara wanita itu makan. Tak ja'im namun tetap terlihat anggun. Bahkan saat memesan menu tak banyak maunya. Tanpa disadari Devan mulai tertarik.
Dan makan siang bersama pun berakhir dengan meninggalkan kesan yang baik. Adara pun diantar pulang ke rumah langsung oleh Devan bersama Jordi. Meskipun Adara telah menolak untuk diantar pulang,namun tetap saja Devan memaksa. Pada akhirnya Adara pun mengalah.
Saat dalam perjalanan pulang setelah mengantar Adara,Jordi dan Devan pun berbincang. Lagi-lagi membahas Adara.
"Aku rasa,kamu pun mulai setuju dengan apa yang aku katakan dan seperti nya sangat tertarik pada Adara." Jordi membuka percakapan terlebih dulu.
"Hmmm....sepertinya memang begitu. Dia wanita yang baik-baik." Gumam Devan pelan sambil memandang jalanan.
"Ya,selain wanita baik-baik,Adara pun memiliki paras yang sangat cantik. Menurutku sangat cocok disandingkan dengan mu." Ucap Jordi membuat Devan memandangnya aneh.
"Kenapa melihat ku seperti itu ?" Tanya Jordi masih tetap fokus menyetir.
"Sepertinya kamu sangat bernafsu menjodohkan aku dan Adara." Ujar Devan penuh rasa curiga.
"Tentu saja. Apalagi aku lihat Adara adalah wanita yang baik dan sepadan dengan mu. Aku ingin agar sahabat ku mendapatkan wanita yang baik." Balas Jordi tak memungkiri tuduhan sang bos sekaligus sahabatnya.
"Jangan terburu-buru. Nanti dia takut dan malah pergi." Ucap Devan pelan.
"Nanti keburu diambil orang Dev. Kamu harus lebih lincah. Apalagi dia cantik. Banyak yang melirik nya." Perkataan Jordi kali ini langsung membuat Devan terdiam. Apa yang dikatakan temannya itu bukan hanya sekedar gertakan atau candaan. Dirinya perlu bergerak cepat.
"Baiklah. Tolong kamu selidiki latar belakang Adara. Aku ingin tahu sebelum melangkah lebih jauh.
"Siap. Tunggu saja. Dalam waktu dekat aku akan memberikan informasi yang sangat akurat pada mu." Jordi terlihat begitu semangat. Seolah-olah dirinya yang sedang jatuh cinta.
...****************...
Akhirnya tibalah waktunya Adara untuk pergi ke rumah sang mertua sesuai dengan pesan Arkan sang suami yang menyuruhnya datang karena sang ibu akan mengadakan arisan. Dan Adara pun datang pagi-pagi sekali setelah sarapan di rumahnya. Sedangkan Arkan sang suami telah berangkat ke kantor.
"Tumben datangnya pagi-pagi. Aku pikir kamu sudah lupa sama mertua mu sendiri." Cibir Ratih sambil melangkah melewati Adara yang sedang melepaskan alas kakinya di depan pintu. Wanita paruh baya itu langsung melenggang pergi saat tahu tamu yang baru datang adalah menantunya.
Adara memilih diam karena tak ingin bertengkar. Karena jika dirinya meladeni sang mertua,sudah pasti ia pun tak bisa menahan diri untuk marah. Dirinya bukanlah wanita lemah lembut yang bodoh. Ia bisa saja melabrak atau mencaci maki siapapun yang terus menyakiti hatinya.
"Sana bantuin bibi bikin kue! Kely nggak bisa libur makanya aku titip pesan sama Arkan biar kamu bantu-bantu. Kalau kamu juga bekerja,mungkin aku nggak akan minta bantuan. Tapi mumpung kamu hanya seorang IRT daripada di rumah planga - plongo,kan lebih baik ke sini." Sindir Ratih dengan pandangan meremehkan. Sedangkan Adara hanya tersenyum. Dalam hati dirinya berharap,semoga saja suatu saat jika sang mertua mengetahui bahwa gajinya melebih gaji putranya,ia tak mati pingsan.
"Non,jangan terlalu diambil hati kata-kata ibu. Aku harap semoga nona selalu diberkati dan dilindungi yang Maha Kuasa."
"Amin Bi. Makasih." Adara merasa terharu dengan Bi Surti sang ART yang selalu memperlakukan nya dengan baik di rumah itu,selain ayah mertuanya.
"sama-sama Non. Ayok kita ke belakang biar nggak ketemu ibu lagi." Bisik Surti dan langsung disetujui Adara. Keduanya berlalu dari sana menuju dapur untuk segera membuat berbagai jenis kue untuk sore nanti.
Hingga siang,akhirnya Adara dan Surti berhasil membuat beberapa kue dengan jenis yang berbeda. Keduanya akhirnya bisa istirahat siang dan sedikit bersantai. Dan sesuai dengan permintaan Ratih,Adara hanya boleh pulang setelah acara arisan yang dirinya adakan telah selesai.
"Adara,kapan kamu datang Nak ?" Tiba-tiba Andre masuk ke dapur dan ingin mengambil beberapa kue yang dibuat Adara dan Surti.
"Sudah dari pagi tadi Yah. Kok Ayah baru terlihat ? Aku pikir tadi ayah sedang keluar." Jawab Adara sopan. Ia sangat menghormati ayah mertuanya tersebut.
"Tidak Nak. Ayah sedang di ruang kerja sejak tadi. Bagaimana,apakah Arkan memperlakukanmu dengan baik ? Katakan pada ayah jika dia sudah menyakitimu." Ucap Andre penuh rasa ingin tahu. Karena selama ini sebenarnya dirinya sudah merasakan ada yang tidak beres antara Arkan dan Kely.
"Yah,ke sini dulu bentar." Tiba-tiba saja suara Bu Ratih terdengar memanggil suaminya. Pada akhirnya perbincangan antara Andre dan Adara tak dilanjutkan.
"Ayah ke sana dulu." Pamit Andre yang tak ingin mendengar Omelan istrinya jika dirinya terlambat datang.
"Iya Yah. Jawab Adara.
Akhirnya sore pun tiba. Beberapa teman arisan Ratih sudah datang. Adara pun sudah menyiapkan seluruh cemilan dan beberapa hidangan ringan di atas meja dengan rapi. Tak lama Arkan dan Kely pun tiba. Keduanya terlihat seperti sepasang kekasih. tertawa riang sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Hal ini tak lepas dari pandangan Adara. Ia memilih untuk pura-pura tak memperhatikan. Dan Arkan yang baru menyadari bahwa sang istri ada di rumah nya langsung menjaga jarak. Namun terlambat. Semuanya sudah diketahui Adara.
Ratih kemudian muncul dari dalam kamar dan menemui para tamunya. Wanita itu dengan penampilan glamor nya begitu sangat percaya diri menjamu tamu-tamunya yang merupakan para tetangga dekatnya. Para ibu-ibu sosialita.
Adara hanya bisa melihat semuanya dari kejauhan karena tak diajak oleh sang mertua. Hanya Kely yang setelah mandi dan berganti baju langsung di tarik oleh Ratih untuk ikut berbincang-bincang.
Sebelum bergabung dengan para tamu,Kely sempat berbicara dengan Adara.
"Mbak,minta tolong anterin kopi Om Andre ya ? Aku soalnya sudah diajak sama Tante tu buat gabung. Tolong ya Mbak ?" Mohon Kely.
Dan Adara pun hanya menganggukkan kepala. Menurutnya tak ada salahnya jika Kely meminta tolong padanya untuk membawakan minum untuk ayah mertuanya.
Adara pun mengambil segelas kopi yang ada di atas meja dan membawanya ke ruang kerja sang ayah mertua.
"Tok...tok...masuk Nak." Suara Andre terdengar dari dalam.
"Yah,ini ada kopi." Ujar Adara sambil meletakkan kopi di sebelah meja Andre yang saat itu sedang menatap laptopnya.
"Iya nak,makasih."
"Nak,setelah ini,apapun yang terjadi ikuti saja." Tiba-tiba perkataan Andre membuat Adara tak mengerti.
"Maksud Ayah ?"
"Ayah ingin tahu satu hal,Apa kamu sudah siap untuk bercerai dengan Arkan ?"
Mendengar pertanyaan ayah mertuanya,Adara langsung terdiam. Ia sebenarnya belum memiliki alasan yang tepat untuk bercerai dengan Arkan,namun ia masih tak paham dengan apa yang direncanakan ayah mertuanya.
"Baiklah jika kamu belum yakin Nak. Namun,setelah keluar dari ruangan ini sebentar. Apapun yang akan terjadi,tolong ikuti saja alurnya. Dan ayah yakin setelah ini,kamu akan mengerti. Di sana kamu akan paham,apakah harus mempertahankan pernikahan mu atau tidak." Ucap Andre sambil menatap iba pada menantunya yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.
"Aku percaya pada Ayah." Ucap Adara dengan pasti. Dirinya penasaran apa yang sebenarnya yang akan terjadi sehingga ayah mertuanya sangat yakin bahwa setelah ini dirinya akan bisa memutuskan mempertahankan rumah tangganya atau tidak.
Kok lama tidak up Thoor, jangan berhenti, sayang ceritanya bagus, jika diputus di tengah jalan
mrk tinggal serumah Kan?